
Cyra terbangun pagi ini dengan tidak mendapati suami di sebelahnya.
"Semalam dia tidak pulang." gumamnya. Apa dia marah karena aku tolak pikir Cyra.
Cyra beranjak dari tidurnya. Ia mencoba mengecek keluar siapa tahu Aroon sudah bangun dan sedang di luar. Ternyata hasilnya nihil. Ia tidak menemukan suaminya di mana - mana.
Apa mungkin pergi bersama Gio ya main ke sungai pikirnya lagi. Ia aegera menuju ke kamar Gio dan ternyata anak itu masih tidur di temani Omar dan Olif.
Karena tidak menemukan apa - apa. Ia memutuskan ke dapur membuat sarapan.
"Sudah bangun?"
"Iya bu." jawab Cyra.
"Suamimu masih tidur? Sudah kamu temani sana. Biar ibu yang memasak."
"Eee.." Cyra bingung menjawab. "Ibu lihat Aroon?"
"Loh kok malah nanya ibu. Ya mana ibu tahu dia itu kan suamimu. Kalau nanya ayah ya ibi jawab tahu." jawab ibu.
Cyra terdiam.
"Kalian bertengkar?"
"Tidak bu. Hanya saja pagi ini aku tidak menemukannya di tempat tidur."
"Jalan - jalan ke sawah mungkin. Kan kalau pagi begini udaranya segar." ibu mengiris beberapa sayuran. "Telepon saja handphone nya."
Ah benar juga. Aku telepon saja handphonenya. Cuma bisa malu aku nanti. Malamnya sudah nolak eh paginya malah di cari. "Nanti saja bu. Aku bantu ibu masak dulu."
"Ya sudah." jawab ibu. Mereka berdua memasak tapi sepertinya Cyra banyak melamun dan terkadang ibu mengingatkan hampir saja goreng tempenya gosong.
Cyra membawa piring berisi lauk ke meja makan. Dilihatnya Aroon masuk ke dalam rumah.
"Sudah pulang?"
"Iya."
"Aku siapkan air hangat buat kamu mandi."
"Tidak usah. Aku pakai air dingin saja. Kau bantu ibu di dapur."
"Hmm.. Baiklah."
Cyra agak kecewa karena Aroon lebih banyak diam dan tidak mau dia layani. Padahal Cyra suka melayani Aroon.
"Eh tuh suamimu sudah pulang."
"Iya bu."
"Tidak kamu siapkan air hangat seperti biasa?"
"Tidak mau bu. Aroon pengen mandi air dingin."
"Nah sudah jelas ini." ucap ibu.
"Sudah jelas apa bu? Aku kok nggak ngerti."
"Ya jelas kalau kalian pasti habis bertengkar. Sudah nggak usah bohong sama ibu. Ibu itu sudah lama menikah dengan bapakmu, sudah dua puluh lima tahun. Jadi ibu itu ngerti gelagat - gelagat para suami marah dengan istri. Ya kayak kamu itu."
"Nggak marahan bu. Hanya salah paham saja."
"Ra, orang rumah tangga itu kalau tidak masalah ekonomi ya masalah ranjang. Kamu sebagai istri ya harus melayani suamimu. Dan juga menerima rejeki yang di berikan padamu. Sabar dan iklas."
Cyra terdiam sepertinya nasehat dari ibu mengena di hatinya. "Iya bu."
"Ya sudah sana. Baikan sama suamimu. Minta maaflah."
Cyra kembali masuk ke dalam kamar menunggu suaminya selesai mandi. Tak lama kemudian Aroon masuk dengan sebuah handuk di lehernya.
"Aroon."
__ADS_1
"Ya."
"Aku minta maaf soal semalam."
"Tidak perlu minta maaf. Aku yang salah. Aku tidak sabar dan melanggar perjanjian yang sudah kita sepakati."
"Tapi___."
"Sudah tidak usah di bahas lagi."
"Hmmm.. Semalam kau tidak tidur di rumah?" tanya Cyra hati - hati.
"Fredric ingin mengobrol denganku. Jadi aku datang ke hotelnya."
"Oh."
"Kami hanya ngobrol biasa. Kamu jangan khawatir kalau ada perempuan di sana."
"Syukurlah." gumam Cyra. Walaupun pelan tapi Aroon mendengarnya.
"Aku mau sarapan."
"Ayo." Cyra keluar kamar. Ia mengambilkan nasi dan lauk untuknya. "Gio belum bangun." Cyra berusaha membuka obrolan.
"Oh." hanya itu kata - kata yang keluar dari mulut Aroon. Ia terus menyuapkan nasi ke dalam mulutnya sesuap demi sesuap.
"Aku akan membangunkannya dulu."
Aroon hanya mengangguk.
Duh kenapa dia jadi pendiam. Bukankah tadi aku sudah minta maaf dengannya. Cyra jadi bingung sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk membangunkan Gio.
Siang nanti mereka akan kembali ke Bogor, Cyra menyibukkan diri dengan oleh - oleh dan mengemas pakaiannya. Seperti biasa ibu membuatkan jenang untuk orang - orang di perkebunan. Sedangkan suami tampannya itu sedang menjadi rebutan ibu - ibu di kampung.
Cyra sangat heran kenapa suaminya bisa ramah dengan para ibu itu. Meladeni semua pertanyaan - pertanyaan konyol yang di keluarkan oleh mereka. Sedangkan dengannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya. Cyra sedikit cemburu.
🍀🍀🍀🍀
Sudah satu minggu ini Aroon hanya komunikasi secara singkat. Mereka juga tidak tidur satu ranjang lagi. Dan sepertinya Aroon mulai nyaman tidur di sofa. Cyra menjadi tidak tenang. Ia sudah terlalu nyaman dengan Aroon di sisinya.
"Hari ini kita berkemas." Aroon memulai pembicaraan.
"Berkemas? Memang kita mau kemana?"
"Pulang ke Thailand. Ibu memintaku pulang."
"Ke Thailand?"
"Kau tahu kan aku masih memiliki seorang ibu di Thailand. Dia ingin mengenalmu."
"Maaf."
"Buat apa?"
"Aku sama sekali tisak peduli dengan kehidupan pribadimu. Aku bahkan tidak pernah menanyakan keadaan ibumu di sana."
"It's okay." jawab Aroon singkat.
"Aku akan belajar mengenalmu lebih dalam." ucap Cyra.
"Jangan terlalu memaksakan diri kalau alasannya adalah sungkan."
"Tidak. Aku betul - betul mau mengenalmu lagi, mengenal keluargamu juga." suara Cyra bergetar.
"Terserah." jawab Aroon. "Besok kita berangkat pagi. Gio sudah tahu."
"Berapa lama kita di sana?"
"Satu minggu."
Cyra kembali ke kamar. Ia mulai menyiapkan baju yang akan di bawanya. Di tengah kesibukannya Gio masuk ke kamar.
__ADS_1
"Aku sudah selesai berkemas."
"Hmm.. Anak pintar." puji Cyra. "Oya Gio siapa nama nenek?"
"Namanya Busarakham. Aku biasa memanggilnya nenek Busara."
"Disana nenek tinggal bersama siapa?"
"Ada pembantu seperti Omar dan Olif. Hmm namanya Aom dan Chai. Mereka sudah lama ikut nenek."
"Kenapa nenek tidak tinggal di sini?"
"Nenek tidak bisa meninggalkan kampung halamannya."
"Berapa kali Phoo pulang ke Thailand?"
"Setiap setahun sekali."
"Baiklah." ucap Cyra. Entah kenapa ia tiba - tiba saja jadi gugup.
"Mae tidak ucah gugup. Tenang ada aku."
"Terima kasih Gio sayang. Mae senang ada kamu." Cyra memeluk Gio.
🍀🍀🍀🍀
Pagi ini hampir saja Cyra bangun terlambat. Aroon sudah bangun dan tidak membangunkannya. Beruntung ada alarm ia bisa bangun tepat waktu. Semalam Cyra tidak bisa tidur nyenyak, banyak sekali hal yang dia pikirkan. Aroon yang sekarang cuek padanya, tentang pendapat ibu mertuanya nanti tentang dirinya. Ah semua itu ternyata melelahkan.
Mereka naik pesawat. Tujuannya adalah Phuket. Ini penerbangan pertama Cyra ke luar negeri. Setelah menempuh perjalanan hampir lima jam akhirnya mereka sampai juga. Mereka sudah di jemput oleh Chai. Orang yang menjaga nenek Busara.
Dan di luar dugaan mereka bisa sedikit bahasa indonesia.
"Selamat datang nyonya Aroon."
"Terima kasih penyambutannya. Namamu Chai kan?" Cyra mengulurkan tangannya
"Ya betul." Chai menyambut jabat tangan Cyra.
"Hi rea klab ban." (Ayo kita pulang).
"Krab (baik)." jawab Chai. Kemudian ia berbisik ke arah Aroon sambil melirik Cyra. "Miia koon suay (istri anda cantik)." pujinya
Aroon kemudian tersenyum. Itu membuat Cyra agak bingung. Aduh apa yang mereka bicarakan. "Gio apa yang mereka bicarakan?"
"Aku juga tidak tahu." jawab Gio. "Tapi Mae tenang saja. Nenek Busara bisa bahasa Indonesia kok."
"Benarkah?"
"Iya benar."
Cyra bernapas sedikit lega. Jadi tidak sulit untuknya berkomunikasi.
Cyra menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. Hampir sama dengan Indonesia, mungkin budayanya yang membedakan. Setelah menempuh hampir empat puluh lima menit akhirnya mereka sampai. Rumah yang terbilang sederhana tapi sangat luas halamannya.
"Mae." sapa Aroon sambil memeluk nenek Busara.
"Luuk Chai (anak laki - lakiku)." sambut nenek Busara. Ia kemudian memeluk Gio. Pandangannya beralih ke Cyra. Dengan cepat Aroon memperkenalkan.
"Praya khong phom (Istriku)." ucap Aroon.
"Sawaddee krab Mae Busara." ucap Cyra. Ia sudah latihan itu berkali - kali dan aekarang gurunya adalah Gio.
Nenek Busara tersenyum. "Menantuku." peluknya erat. Berulang kali ia membelai pipi Cyra. "Hmm cantik. Kau pintar cari istri, Aroon." puji nenek Busara. "Ayo masuk. Kau pasti lelah."
Mereka masuk ke halaman yang cukup luas. Banyak tanaman berupa sayuran dan beberapa buah. Oh rupanya keahlian Aroon di bidang pertanian menurun dari nenek Busara.
Tiba - tiba ada suara perempuan yang memanggil Aroon.
"Aroon!" teriaknya.
Aroon menoleh. "Kannika." ucapnya sambil tersenyum. Perempuan berambut pendek dengan wajah cantik itu berlari dan memeluk Aroon dengan erat.
__ADS_1
"Chan khidthung. Aku rindu." ucap perempuan itu. Cyra yang mendengar terbelalak tidak percaya. Siapa perempuan ini. Kenapa ia begitu akrab dengan suaminya. Apakah ia mantan pacarnya atau apa. Oh pelukan itu membuat darah Cyra mendidih. Baru kali ini ingin rasanya ia menjambak rambut perempuan itu dan mengatakan jangan rebut suamiku! Aku cemburu!
🍀🍀🍀🍀