
Pagi itu Cyra, Gio Omar dan Olif disibukkan dengan tema ulang tahun. Omar meminta agar tamu menggunakan dresscode hantu - hantuan, tapi hal itu di tolak oleh Cyra. Tamu yang datang kebanyakan anak - anak sekitar dan yang dulu pernah jadi teman Gio waktu sekolah, tentu saja akan menakuti mereka.
Berbeda dengan Olif ia ingin tema kerajaan, tapi itu juga ditolak Cyra karena mencari kostum nya yang sulit.
"Gio kamu mau dresscode apa?"
"Hmm. Bagaimana kalau koboi?"
"Ah ya. Ide yang bagus. Kita juga tidak kesulitan menata tempat karena di perkebunan ini sudah tersedia semua."
"Betul bu, diperkebunan kita ini ada peternakan Kuda, Ayam." ucap Omar.
"Oke berarti kita setuju tema ulang tahunnya country." Cyra menjelaskan. "Jadi acaranya nanti kita akan naik kereta mini keliling perkebunan dan memetik buah jeruk, setelah itu mereka bisa naik kuda poni. Nah pasti anak - anak sudah capek jadi kita lanjut masak bersama dengan bahan dasar telur yang menjadi kesukaan Gio. Bagaimana?"
"Wah.. Wah.. cocok bu Cyra. Setelah masak bersama kita bisa makan siang bersama."
"Betul Omar Setelah makan siang bersama baru acara inti ulang tahun. Kita potong kue dan pemberian souvenir." lanjut Olif.
"Bagus, semua ide kalian sangat bagus. Tapi yang terpenting adalah persiapan kita jangan sampai ada yang gagal. Aku sudah berjanji pada tuan kalau acara ini harus berjalan dengan lancar tanpa ada masalah." ucap Cyra.
Drrrtt.. Drrrttt.. Drrrtt handphone Cyra berdering.
"Hmmm, sebentar aku angkat telepon dulu." pamitnya sambil berdiri agak menjauh.
"Halo."
"Hai Cyra. Ini aku Sekar."
"Sekar! Apa kabar?"
"Baik sangat baik. Oya sebenarnya kemarin aku mau mampir ke rumahmu, tapi informasi dari teman - teman kamu ada di Bogor."
"Iya aku sekarang kerja di Bogor."
"Ra."
"Ya."
"Aku mau mengantar undangan reunian, bisa kami datang ke tempat kerjamu?"
"Bisa."
"Hmm, aku datang sama Vano."
"Vano?"
"Iya, sekalian aku akan mengantar undangan pertunangan kami."
"Wah, selamat ya. Aku turut bahagia."
"Benarkah? Kau tidak marah pada kami?"
"Buat apa marah? Aku senang kedua sahabatku bisa membina rumah tangga."
"Syukurlah, aku lega." ucap Sekar. "Nanti kirim alamatmu ke kami."
"Oke." panggilan diakhiri.
Cyra menarik napas panjang. Ternyata mereka berdua mau menikah pikir Cyra. Tak terasa sudah enam tahun ia tidak bertemu dengan mereka.
Vano dulu sempat menjadi kekasih Cyra waktu duduk di bangku SMA. Istilahnya cinta monyet. Mereka putus karena Vano berselingkuh dengan Sekar. Semua masa lalu Cyra sudah ia kubur dalam - dalam. Ia hanya ingin menatap masa depan dan tidak mau terjebak dengan masa lalunya.
Cyra kembali bergabung dengan Gio, Omar dan Olif. Mereka melanjutkan rapat perayaan ulang tahun. Hampir dua jam mereka asyik dengan ide - ide karena ini pertama kalinya Gio merayakan ulang tahunnya.
"Akhirnya selesai juga." Omar meregangkan otot ototnya yang kaku.
"Baiklah karena kita sudah selesai, aku akan memberikan rencana kegiatan kita pada tuan Aroon." Cyra berberanjak dari duduknya.
"Semangat bu Cyra, semoga tuan menyetujui rencana kita." ucap Olif.
"Pasti." jawab Cyra.
Cyra segera mencari keberadaan Aroon. Biasanya waktu seperti ini ia berada di perkebunan. Setelah mencari kesana kemari karena perkebunan itu sangat luas. Akhirnya Cyra menemukan keberadaan pria bertubuh kekar itu.
"Tuan."
"Kenapa kemari?"
"Bisa saya bicara sebentar?"
"Kita kesana." Aroon menunjuk ke sebuah gazebo di tengah perkebunan.
Cyra mengikuti Aroon. Duh kenapa tuan terlihat macho, dengan tubuh yang kekar, berpeluhkan keringat puji Cyra dalam hati. Beberapa kali ia terlihat menelan ludah.
"Apa yang mau kau bicarakan?"
"Hmm, ini rencana kegiatan saat perayaan ulang tahun. Saya sengaja memperlihatkan pada tuan, apakah tuan setuju." Cyra menyerahkan berkas itu pada Aroon.
Aroon membacanya. "Sebanyak ini?"
"Iya tuan, kami memanfaatkan apa yang ada di perkebunan. Jadi tidak membutuhkan biaya yang mahal."
"Baiklah aku setuju, tapi ingat jangan ada keributan dan masalah."
"Tidak tuan, saya janji." ucap Cyra. "Oya, besuk tuan bisa mengenakan baju koboi."
"Buat apa?"
"Itu." tunjuk Cyra. "Disitu tertulis dresscode pakai baju koboi."
"Nggak, aku nggak mau."
"Yah, jangan begitu tuan. Ini demi Gio." Cyra memohon. "Apalagi tuan sudah menandatangani proposal."
"Apa hubungannya?"
"Didalam ada peranjian juga bahwa pihak pertama yaitu anda harus mengikuti semua kemauan pihak kedua yaitu Gio." jawab Cyra.
"Kau menjebakku." ucap Aroon lirih. "Jangan - jangan kau tertidur di taman juga pura - pura. Sia - sia aku menggendongmu."
"Oh, jadi tuan yang menggendong saya ke kamar?" wajah Cyra tampak lucu ketika terkejut. Matanya yang bening terbelalak sempurna.
"Hmm."
__ADS_1
"Terima kasih tuan."
"Kau berat."
"Maaf tuan."
"Lain kali hati - hati kalau tidur di luar. Jangan bikin repot orang."
"Baik tuanku yang maha benar."
"Ya sudah kau persiapkan semuanya dengan baik."
"Terimakasih tuan, kalau begitu saya permisi."
Cyra segera meninggalkan Aroon sendiri.
Gadis itu berulang kali membuatku tidak waspada pikir Aroon. Aku harus berhati - hati. Ia memandang kepergian Cyra.
☘️☘️☘️☘️
Tak terasa perayaan ulang tahun Gio tiba. Banyak sekali anak - anak yang datang bahkan orang tua mereka juga ikut mendampingi.
"Wow bu Cyra cantik sekali dengan pakaian koboi seperti itu."
"Ah jangan memuji seperti itu Omar. Itu terlalu berlebihan."
Cyra mengenakan kemeja kotak - kotak warna biru dengan celana jeans belel dan topi koboi.
"Olif kenapa kau memakai celana pendek?"
"Celanaku pendek semua Omar." jawab Olif. "Bukankah ini seksi?" Olif berputar - putar dengan bangga sambil memperlihatkan lekukan tubuhnya.
"Hueekk.. Seksi dari mana. Tuh bu Cyra yang seksi."
"Oh, jadi kau menghinaku." dengan cepat Olif menjitak kepala Omar.
"Eh sudah - sudah jangan bertengkar. Ayo kita sambut tamu." Cyra menarik tangan mereka berdua.
Mereka menyambut tamu dan mempersilahkan untuk naik ke kereta yang sudah di sediakan. Setiap tamu akan diberikan es krim. Mereka masih menunggu kedatangan Gio dan Aroon.
"Bu Cyra, kenapa tuan muda belum keluar. Jangan - jangan tuan Aroon berubah pikiran?"
"Tidak mungkin Omar, Tuan Aroon adalah pria yang selalu memegang kata - katanya. Mungkin dia bingung dengan penampilannya." cibir Cyra.
"Hahahahahhh..." Omar dan Olif tertawa terbahak - bahak. Mereka membayangkan penampilan Aroon yang pasti lucu karena mengenakan dresscode koboi. Akan tetapi tertawa mereka tidak bertahan lama, karena Aroon muncul dengan penampilan yang sangat berbeda.
"Omar siapa pria ganteng itu?" bisik Olif.
"Itu tuan Aroon, bodoh."
"Gila keren banget." puji Olif
"Heh lap air liurmu, memalukan." ucap Omar sambil menutup mulut Olif yang menganga terbuka. "Bu Cyra, tuan ganteng."
"Oh.. Iiya Omar. Tuan Aroon berbeda kali ini." jawab Cyra. Entah kenapa tiba - tiba saja dada Cyra berdetak tak karuan. Aroon mengenakan kemeja kotak - kotak warna merah maroon dengan kancing terbuka hingga dadanya yang bidang dan kekar terlihat sempurna. Dipadukan dengan celana jeans warna hitam dan sepatu boot warna coklat. Tak lupa topi khas koboi sebagai pemanis dengan warna senada dengan sepatunya. "Hmm, Omar ayo kita kesana menyambut mereka."
Cyra, Olif dan Omar menghampiri Gio dan Aroon. Wajah Gio tampak bahagia. Ia selalu tersenyum setiap saat.
"Iya bu Cyra, aku sama dengan Phoo kan?"
"Iya ayahmu tuan Aroon juga terlihat sangat tampan hari ini." Cyra melirik ke arah Aroon yang pura - pura tidak mendengar. "Hmm ayo kita mulai acaranya. Mereka menunggu kamu." Cyra menggandeng tangan Gio untuk naik kereta. Ia juga mempersilahkan Aroon untuk duduk di sebelah Gio. "Silahkan tuan."
Aroon hanya menjawab dengan anggukan. Kereta segera berangkat. Rombongan naik kereta untuk keliling perkebunan milik Aroon yang sangat luas. Mereka akan rehat sejenak sambil memetik buah jeruk yang nanti akan mereka bawa pulang.
Aroon mendampingi Gio memetik buah Jeruk seperti yang lainnya. Gio sangat bahagia karena ayahnya menemaninya di setiap kegiatan.
"Tuan bisakah anda tersenyum sedikit saja." bisik Cyra.
"Tidak perlu."
"Perlu. Lihat itu orang tua dari temannya Gio dari tadi tersenyum bahagia karena acara ini. Orang yang tidak tahu akan mengira anda sakit bisul."
"Hei! Kamu! Berani ya!"
"Dengan tersenyum saya jamin ketampanan anda akan semakin sempurna." bujuk Cyra. Aroon hanya meliriknya saja tanpa mengubah ekspresinya. Karena jengkel Cyra menaruh tangannya di kedua sudut bibir Aroon dan menariknya. "Nah senyum begini dong tuan."
"Hei apa yang kamu lakukan?!"
"Membuat anda tersenyum tentunya." Cyra menjulurkan lidahnya. "Bukankah begitu Gio, kau lebih suka jika Phoo mu tersenyum bukan?"
"He eh bu Cyra." jawab Gio.
Cyra menggendong Gio ke atas agar bisa mengambil jeruk yang sudah siap dipetik. Akan tetapi sebuah tangan besar mengambil alih. "Biar aku saja."
"Terima kasih tuan."
Acara memetik Jeruk selesai, rombongan segera melanjutkan perjalanan menuju ke kandang kuda. Disana mereka bisa menaiki kuda sesuka hati.
"Bu Cyra.. Bu Cyra." panggil Omar.
"Ya Omar."
"Ada yang mencarimu."
"Siapa?"
"Katanya teman sekolah."
Oh iya aku sampai lupa. Kemarin Sekar memberitahu akan kemari pikir Cyra. "Dimana mereka?"
"Itu disana bu."
"Tolong jaga Gio sebentar aku akan kesana."
Cyra menyerahkan kepengawasan Gio pada Omar. Ia bergegas menemui temannya disana.
"Siapa itu?" tanya Aroon.
"Oh, teman sekolahnya bu Cyra."
"Kenapa bisa datang kemari?"
"Saya kurang tahu tuan."
__ADS_1
Aroon memandang tajam pada interaksi antara Cyra dan temannya. Mereka bertiga tampak datang mendekat.
"Maaf tuan perkenalkan ini teman saya. Ini Sekar dan ini Vano." Cyra memperkenalkan mereka berdua. "Mereka datang kesini untuk mengantar undangan reuni sekolah."
Aroon hanya diam tanpa berekspresi.
"Hmm, kalau boleh saya menawarkan mereka untuk ikut makan siang disini."
Aroon hanya mengangguk. "Jangan sampai konsentrasimu terbagi. Disini kau menjaga Gio." ucapnya dan kemudian pergi menghampiri Gio.
"Atasanmu galak amat, Ra." komentar Sekar.
"Eh itu hanya luarnya saja, aslinya dia orang yang baik." bela Cyra. "Sudah ayo duduk sana, kita makan siang bersama."
Setelah acara makan siang sampailah juga pada acara inti yaitu pemotongan kue. Kali ini Cyra membuat kue Stroberry kesukaan Gio. Acara berlangsung sangat meriah dengan musik dan lagu yang mengiringi. Gio memberikan potongan pertama pada Aroon. "Terima kasih Phoo."
"Sama - sama Gio." Aroon tersenyum dan memeluk putranya. Itu senyum termanis yang pernah Cyra lihat.
Cyra segera memotong kue dan membagikannya pada tamu yang datang. Ia dibantu oleh Omar dan Olif.
"Cyra bisa kita bicara sebentar?"
"Vano." Cyra melihat sekeliling dan dia tidak menemukan Sekar. "Tanpa Sekar?"
"Yah, hanya berdua denganmu. Please." mohonnya
"Baiklah sebentar." jawab Cyra. "Olif tolong titip Gio sebentar."
"Siap bu Cyra."
Cyra dan Vano berjalan berdua menjauh dari keramaian. Sepasang mata memperhatikan mereka.
"Ada apa?"
"Hmmm aku___."
"Cepatlah sedikit, aku harus menjaga Gio."
"Oke, aku hanya ingin tahu bagaimana dengan perasaanmu setelah tahu kami akan bertunangan?"
Cyra menghela napas panjang. "Penting bagimu mendengar pendapatku?"
"Tentu saja penting."
"Oke kalau itu maumu." Cyra menghela napas sebentar. "Biasa saja. Dan seribu persen aku mendukung kalian naik kepelaminan."
"Biasa?"
"Yah biasa saja." jawab Cyra. "Kamu maunya aku bagaimana?"
"Kau tidak cemburu?"
"Oh ayolah Van. Kejadian itu sudah sangat lama. Aku bahkan melupakanmu pernah menjadi bagian dari masa remajaku. Apalagi itu terjadi ketika emosi kita masih labil."
"Tapi aku mencintaimu, Ra. Apa kamu tidak merasakan hal yang sama denganku?"
"Dulu aku tertarik denganmu sebagai seorang pria yang cerdas dan bertanggung jawab. Akan tetapi setelah tahu dengan apa yang kau perbuat, membuatku harus berpikir berulang kali."
"Sekar hamil."
Cyra terdiam. Dalam hatinya ia bersyukur bisa lepas dari Vano."Itu bagus, selamat untuk kalian."
"Tidak! Aku tidak mencintai Sekar!" tiba - tiba Vano memeluknya.
"Lepas! Lepaskan aku Van!"
"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu!"
Cyra dengan sekuat tenaga mendorong Vano dan berhasil. "Bagaimana bisa kau mengatakan itu setelah perbuatanmu pada Sekar? Kalian akan membina rumah tangga dan segera memiliki anak. Kau betul - betul pria yang tidak bertanggung jawab!" ucap Cyra emosi. "Menyesal dulu aku pernah tertarik padamu!"
Tiba - tiba..
"Bu Cyra! Bu Cyra!." teriak Omar dari kejauhan. Ia berlari menghampiri Cyra.
"Ada apa Omar?"
"Ituh.. Ituh.." Omar terengah - engah sambil menunjuk ke arah keramaian.
"Ada apa? Bicara yang jelas."
"Itu, tuan muda bertengkar dengan tamu."
"Apa?! Bagaimana bisa terjadi?"
"Saya tidak tahu bu."
"Ayo kita kesana." Cyra berlari menuju kerumunan dan alangkah terkejutnya ia ketika mendapati Aroon sudah disana dengan mata yang menyala.
"Cyra! Cyra! Cyra!" panggilnya berulang - ulang. "Mana Cyra?!"
"Saya.. Saya disini tuan." jawab Cyra menyibak kerumunan.
"Apa yang kau lakukan?! Hingga ini terjadi!"
"Sebentar tuan." Cyra berusaha menenangkan Aroon. Ia melihat baju Gio yang sudah robek dan ada seorang anak laki - laki yang kondisinya juga sama seperti Gio. Mereka seperti habis berkelahi.
"Kemana saja kau? Bagaimana bisa kau lepas pengawasan dari Gio?!"
"Tuan saya____."
"Oh kamu pacaran?!"
"Ttidak tuan."
Aroon mencengkeram rahang Cyra. "Kau disini hanya buruh! Aku membayarmu untuk menjaga anakku! Mana tanggung jawabmu!"
"Ttuan___."
"Kemasi barang - barangmu! Kamu aku pecat!"
Cyra membelalakkan matanya seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aroon.
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1