
"Nah ini kamar nona denisha." Omar menjelaskan. "Dan yang agak kecil ini kamar nona Billiy." goda Omar.
"Hei! Jangan sembarangan! Namaku Billy bukan nona Billy."
"Oiy hitam manis sayang jangan marah ya." goda Omar lagi. Sebenarnya ia tidak tahan ingin tertawa. Tapi ngeri juga jika sewaktu - waktu sifat jantan Billy keluar. Kalau nonjok bisa bonyok muka Omar. Walaupun feminin Billy ini memiliki tubuh yang tinggi dan kekar.
Omar membuka pintu kamar yang sudah dipersiapkan untuk Denisha. "Silahkan nona Denisha."
"Eits tunggu dulu." Billy masuk terlebih dahulu sebelum Denisha. Ia memastikan kamar dan keadaan kamar terlebih dahulu. Tak lama kemudian ia keluar dengan muka masam. "Inikah yang disiapkan oleh tuan Aroon?"
"Iya, memang itu kamar untuk nona Denisha." jawab Omar. Tuan sudah menyuruh orang membersihkan kamar itu."
"Tidak.. Tidak.. Nona Denisha tidak bisa tinggal dikamar seperti ini."
"Memangnya kamarnya kenapa?" tanya Olif yang dari tadi menahan emosi.
"Nona Denisha di Perancis tinggal di lingkungan yang memiliki udara yang alami. Dan kau tahu kamar ini sama sekali tidak memiliki sirkulasi udara yang baik."
"Dari mana kamu tahu kalau kamar ini tidak memiliki sirkulasi udara yang baik? Kalian saja belum mencobanya. Dan perlu kamu tahu ya, Kamar tamu di rumah utama memiliki fasilitas yang lebih baik dari hotel." jawab Olif. Tampak wajahnya menegang hingga otot di pelipis wajahnya terlihat keluar.
"Tenang Olif sayang, kalau kamu ladeni si hitam ini bisa - bisa kamu darah tinggi." Omar berusaha menenangkan Olif yang sudah tampak emosi. Karena tamu tuan Aroon ini banyak maunya.
"Sembarangan kamu! Mau aku robek mulutmu?!" Billy tampak marah dipanggil si hitam oleh Omar.
Denisha yang dari tadi diam akhirnya ikut bicara juga. "Kalian berdua ini cuma pembantu disini. Tolong jaga sikap jika tidak ingin aku laporkan pada Aroon. Mau kalian dipecat." ancam Denisha.
"Tuh dengar apa kata nona Denisha kalian jangan macam - macam." Billiy tampak tinggi hati.
Omar dan Olif terdiam, mereka memilih mengalah.
"Dimana kamar tuan Aroon?"
"Kenapa tanya - tanya?"
"Nona Denisha adalah keluarga, jadi harus saling berdekatan."
"Itu yang pintunya paling besar." tunjuk Omar.
"Sebelahnya lagi?"
"Itu kamar tuan muda."
"Nah kalau begitu nona Denisha tidur di kamar bersebelahan dengan kamar tuan muda."
"Tidak bisa, itu kamar bu Cyra."
"Cyra? Guru baru itu?" tanya Denisha keheranan. Bagaimana bisa guru yang tidak memiliki hubungan keluarga bisa tinggal di rumah utama.
"Iya betul." jawab Olif.
Denisha memandang Billy dan sepertinya Billy tahu apa yang harus dia lakukan.
"Suruh guru itu pindah. Nona Denisha mau tidur disana."
"Oh nggak bisa, terus bu Cyra tidur dimana?"
"Yah terserah, dia kan hanya seorang guru. Kenapa harus diperlakukan istimewa?"
"Hei jangan main usir orang dong. Ini harus seijin tuan!" emosi Olif sudah tidak terbendung lagi. Ia mendorong Billy.
"Oh berani kamu ya!" Billy juga tersulut emosi.
"Ada apa ini?" tanya Cyra yang tiba - tiba saja datang karena mendengar keributan.
__ADS_1
"Nih bu Cyra, dia mau tidur di kamar bu Cyra."
Cyra sempat kaget mendengar penjelasan Olif. "Maaf apa ini sepengetahuan tuan?"
"Hei! Jaga bicaramu. Ini nona Denisha adik dari nyonya di rumah ini. Dia bukan orang biasa, mengerti?!"
"Saya tahu, tapi apakah kepindahan ini atas perintah tuan."
"Tidak perlu menunggu perintah tuan Aroon, nona denisha juga memiliki hak yang sama untuk bisa memerintah."
"Eh nggak bisa begitu dong." lagi - lagi Olif tersulut emosi. "Atasan kamu adalah tuan Aroon, kau dengar itu banci!"
"Apa! Kau bilang aku apa?! Banci?! Dasar kurang ajar! Kau harus mendapat pelajaran." dengan spontan Billiy menjambak rambut Olif.
Omar yang tidak terima Olif diperlakukan seperti itu ikut membalas dengan naik ke punggung Billy dan menjambak rambutnya.
Mereka bertiga saling menjambak. Cyra yang melihat hal itu berusaha melerai tapi dicegah oleh Denisha. Ia menarik tangan Cyra dan membenturkannya di tembok.
"Hei apa salahku nona?" teriak Cyra. Denisha hanya tersenyum sinis\, itu membuat Cyra juga terbakar emosi. Ia mengangkat tangannya untuk membalas perbuatan Denisha akan tetapi___.
"Apa yang kalian lakukan! Hentikan semua!" teriak Aroon.
Denisha langsung berlari mendekati Aroon. Dengan sikapnya yang manja dan wajah tak bersalah ia mencoba mengadu pada Aroon dan menjadi pihak yang teraniaya. "Aroon, lihat para pembantumu. Mereka berani bertindak kurang ajar padaku."
"Bohong! Itu bohong tuan!" teriak Olif yang saat ini rambutnya acak - acakan.
"Diam! Diam Olif!" teriak Aroon.
"Tuan, lihat keadaan saya. Rambut saya acak - acakan dan kulit saya terluka juga karena ulah mereka." adu Billy. Ia berakting seolah - olah benar - benar lemah dan terluka.
Omar yang melihat mencibir. "Heleh. Dasar banci!" umpatnya.
"Tuh, tuan dengan sendiri kan."
"Jangan percaya dengan mereka tuan!" teriak Olif
"Sesuai perintah tuan kami membawa nona Denisha ke kamar tamu yang sudah dibersihkan. Akan tetapi Banci hitam ini meminta agar nona Denisha tidur di kamar itu." tunjuk Omar. "Kamar itu milik bu Cyra\, tapi banci hitam ini___."
"Jangan sebut aku banci!" Billy menaikkan tangannya siap memukul Omar.
"Omar! Hargai tamuku!" teriak Aroon.
"Maaf tuan."
"Lanjutkan."
"Tapi Billy bersikukuh kalau nona Denisha harus tidur di kamar itu. Karena itu kami mulai bertengkar."
"Kenapa kamu minta pindah Denis? Bukankah kamar yang sudah aku siapkan sesuai dengan seleramu."
"Selama aku tinggal di Perancis selalu menghirup udara yang bersih. Dan kamar yang kau siapkan untukku sirkulasi udaranya kurang bagus dan sedikit pengap. Billy sangat memperhatikan kesehatanku jadi ia meminta kamar yang sirkulasi udaranya bagus dan itu ada di kamar Cyra. Salah aku minta pindah?"
Aroon tampak terdiam cukup lama. "Baiklah kamu bisa pindah ke kamar Cyra."
"Tapi tuan___." ucap Cyra yang terpotong karena Aroon memberinya tanda untuk tidak membantah.
Denisha dan Billy tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Omar dan Olif tampak geram akan keputusan Aroon.
"Kemasi barangmu Cyra." perintah Aroon. "Omar, Olif bantu Cyra berkemas."
"Baik tuan." jawab mereka bersama.
Cyra tampak tidak percaya bahwa Aroon akan berpihak pada Denisha. Tapi pada akhirnya Cyra kembalikan bahwa antara dia dan Denisha tentu tuannya itu akan memilih Denisha. Ia hanya seorang guru dan tidak seharusnya mendapat perlakuan istimewa.
__ADS_1
"Permisi tuan, saya akan berkemas." Cyra melewati Aroon dengan menunduk. Ia takut matamya yang berkaca - kaca akan terlihat olehnya. Karena barang - barang Cyra tidak begitu banyak, tentu saja tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berkemas.
"Terima kasih Omar, Olif sudah membelaku."
"Aku tidak habis pikir dengan tuan. Bisa - bisanya membela nenek sihir dan banci itu."
"Ssssttt, kecilkan suaramu Olif. Aku tidak mau kamu mendapat hukuman dari tuan."
"Terus bu Cyra tidur dimana?" tanya Omar.
"Tenang saja Omar, kan ada Pak Uo ku. Aku bisa tinggal dengannya."
"Ya sudah kamu akan antar ibu kesana."
Mereka keluar dari kamar dengan membawa dua koper. Satu berisi pakaian dan satu lagi barang - barang pribadi Cyra.
"Sudah tuan." Cyra kembali menghadap Aroon yang masih ada disana.
Aroon hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Kalau begitu saya permisi." pamit Cyra. Ia sedikit kecewa dengan sikap Aroon yang tidak seperti biasanya yang akan selalu membelanya.
Cyra dibanti Omar dan Olif pergi dari rumah utama.
Denisha yang melihat itu tersenyum bangga. Jangan melawanku gadis kecil ucap Denisha dalam hati. "Terima kasih Aroon sudah membelaku. Ternyata sikapmu padaku tidak berubah."
"Masukkan barang - barangmu, istirahatlah. Kamu pasti lelah. Aku pergi dulu." pamit Aroon.
Sementara itu....
Tampak Omar, Olif dan Cyra yang membawa koper berjalan keluar dari rumah besar. Mereka duduk sebentar di bangku taman untuk mengatur napas. Ternyata koper Cyra lumayan berat, sedangkan jalan diperkebunan yang naik turun membuat mereka harus menjinjing koper karena kalau di gledek akan rusak rodanya.
"Kalian membantuku sampai sini saja. Rumah Pak Uo agak jauh dari sini."
"Nggak bu Cyra, kami akan tetap mengantar bu Cyra."
"Tasku berat Omar, lihat itu." tunjuk Cyra. "Tangan Olif berdarah, mungkin terkena kuku Billy yang panjang."
"Tidak apa - apa bu Cyra. Luka ini tidak sakit, tapi ini yang lebih sakit." ucapnya sambil menepuk - nepuk dadanya.
"Tidak perlu sakit hati Olif. Ingat nona Denisha adalah keluarga tuan Aroon kita harus menghormatinya."
"Tapi disini yang jadi korban bu Cyra. Tuan Aroon benar - benar tega." tampak perkataan Olif yang masih emosi.
"Ya sudah ayo kita lanjut lagi." ucap cyra.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Syamsudin yang ada dalam perkebunan. Syamsudin dan Sulaiman mendapat perlakuan istimewa karena dedikasi mereka yang tinggi terhadap perkebunan. Aroon membuatkan mereka rumah di dalam perkebunan.
"Mau kemana kalian?" tanya Aroon tiba - tba. Ternyata ia menyusul mereka.
"Ke rumah Pak Uo." jawab Cyra tanpa ekspresi.
"Buat apa?"
"Tuan sudah menyuruh saya berkemas dan keluar dari kamar itu. Artinya saya harus pindah, kalau tidak di rumah Pak Uo kemana lagi?"
"Ada. Ikut aku." perintah Aroon. Ia mengambil koper dari tangan Cyra dan membawanya. Mereka bertiga keheranan dengan sikap Aroon.
"Sudah kita ikuti saja." bisik Cyra.
Aroon berjalan melalui sebuah lorong. Lorong itu masih menyatu dengan rumah utama. Cyra, Omar dan Olif tahu ada lorong itu tapi mereka tidak pernah melewatinya. Di ujung lorong ada sebuah pintu besar yang tertutup rapat. Dan ternyata ada sebuah rumah di sana. Rumah itu lumayan besar dan banyak terdapat jendela kaca yang besar pula.
"Rumah siapa itu tuan?" tanya Cyra.
__ADS_1
"Rumah pertamaku." jawab Aroon sambil tersenyum.
🍀🍀🍀🍀