My Love Teacher

My Love Teacher
Bahagia Bersamamu


__ADS_3

Aroon terbangun pagi ini dan mendapati istri tertidur nyenyak di sampingnya.


Ia melihat wajah lelah Cyra, bagaimana tidak Aroon benar - benar menginginkan lagi dan lagi. Ia hampir tidak bisa berhenti jika Cyra tidak mengatakan lelah.


Aroon bagaikan harimau kelaparan yang menemukan buruan yang cocok untuk di makan. Ini bukanlah hal asing baginya, berbeda dengan Cyra yang masih polos dan harus banyak belajar. Untuk melihat tubuh suaminya yang tanpa sehelai benang pun ia masih sangat malu.


Aroon mencium Cyra yang tertidur pulas. Mata yang terpejam itu perlahan - lahan terbuka.


"Hei pagi sayang." ucap Cyra sambil menutupi wajahnya dengan selimut. Ia meringkuk ke dada Aroon.


"Kenapa?"


"Aku malu."


"Kenapa malu?"


"Kamu lihat wajahku bangun tidur." Cyra masih menutupi wajahnya dengan dada Aroon.


"Hei, semalam kau memperlihatkan semua tubuhmu saja tidak malu."


"Aroon." teriak Cyra manja. Ia memalingkan muka dan bersembumyi ke dalam selimut.


Aroon dengan lembut memeluk istrinya dari belakang. Ia mencium pundak Cyra dengan lembut. "Maaf aku membangunkanmu."


"Bagaimana aku tidak bangun. Kau tidak berhenti menciumku."


Aroon menyusupkan tangannya ke dalam selimut mencari sesuatu miliknya yang di sembunyikan oleh Cyra. Yah kedua bukit kembar milik istrinya.


"Aroon stop. Kau nakal sekali." Cyra menyingkirkan tangan suaminya yang terus aktif dengan tubuhnya tanpa lelah sekali pun.


"Satu kali lagi." rayu Aroon.


"Aroon kau tahu kan badanku lengket semua." rengek Cyra. "Aku mau mandi dan juga makan."


"Oke.. Oke.. Kalau kau mau mandi." Aroon menyibak selimutnya. Dengan tubuh tanpa sehelai benang pun ia berjalan memutar hingga ke depan Cyra. "Aku akan membantumu mandi."


Cyra terbelalak. "Nggak." tolaknya.


Tapi percuma gerakan tangan Aroon lebih cepat dari ucapannya. Aroon sudah menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan membuangnya ke bawah lantai. Ia segera menggendong tubuh istrinya.


"Aroon sayang... Aku bisa mandi sendiri." tolaknya manja. Itu membuat Aroon tambah bersemangat.


"Nggak Cyra, katanya tadi kau lemas, capek jadi biar aku yang memandikanmu, oke?"


"Aroon please.. Kalau kau yang memandikan pasti lama."


"Sebentar sayang.. Aku jamin sebentar.. Dan aku akan membuat tubuhmu segar kembali. Percaya padaku?"


Cyra hanya bisa menghela napas. Ia pasrah dengan keputusan suaminya. Mau lama mau sebentar terserah kamu tuan Aroon ucap Cyra dalam hati.


Entah apa yang di lakukan oleh Aroon kenapa memandikan Cyra yang hanya butuh waktu lima belas menit bisa menjadi hampir enam puluh menit.


Aroon keluar terlebih dahulu. Entah apa yang di makannya. Tenaganya benar - benar kuat luar biasa, ia tidak lelah sama sekali malah justru bertambah segar. Tak lama kemudian Cyra keluar dengan mengenakan bathrube dengan rambut basah yang di gelung dengan handuk.


"Kau mau makan apa?"

__ADS_1


"Apa saja?" Cyra melirik ke arah jam dinding. "Ya tuhan Aroon ini sudah jam sebelas siang. Kita melewatkan sarapan. Bagaimana kka kkalau Mae bertanya?"


"Ya jawab saja kau sedang melayani suamimu yang kelaparan."


"Jangan bercanda ah. Aku malu."


"Buat apa malu. Kita sudah suami istri."


"Tapi apa masih ada makanan di meja? Atau aku akan memasak."


"Tenang suamimu ini jago masak."


"Baiklah, hari ini aku sepertinya akan membuatmu repot sayang."


Aroon tersenyum dan kemudian segera keluar dari kamar. Cyra sedang mencari baju. Karena memang suasana di Thailand baru panas ia akhirnya mengenakan kaos kebesaran hingga mirip daster dengan bahan yang tidak panas. Ia segera mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Sambil menunggu suaminya ia membuka jendela menikmati kebun kecil milik mertuanya. Suasana kamarnya menjadi lebih terang. Tak lama kemudian Aroon masuk membawa nampan berisi makanan.


Cyra segera menghampirinya dan duduk di sofa. "Hmmm aroma wangi nasi goreng ini membuatku lapar."


"Makanlah."


"Terima kasih sayang." Dengan lahap Cyra menyantap habis makanan buatan suaminya. "Hmm.. Enak.." pujinya


Aroon tersenyum melihat tingkah istrinya yang begitu menikmati masakannya. Sebenarnya masakannya biasa tapi mungkin karena ia lapar jadi terlihat luar biasa. Ia tahu jika istrinya itu tenaganya terkuras habis.


"Kau bertemu dengan Gio?" tanya Cyra sambil mengusap mulutnya yang sedikit belepotan.


"Kata Chai, ia jalan - jalan dengan Mae dan Kannika."


"Belanja. Gio ingin membeli oleh - oleh untuk Omar dan Olif."


"Ah ya.. Aku hampir saja lupa. Pak Uo, bik Tika belum aku belikan apa - apa."


"Sudah tenang saja. Nanti biar di belikan Kannika atau Aom."


Cyra terdiam. Ia kemudian meminum susu hangat yang di bawakan oleh suaminya. Ia duduk bergeser mendekat di samping Aroon. Ia memegang lengan Aroon dan memainkan kaos suaminya.


"Ada apa?"


"Hmmm.. Aku mau tanya?"


"Soal apa?"


"Kannika." jawab Cyra lirih.


Aroon tersenyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan itu. Ternyata di balik sikap tegas dan mandirinya ia ternyata manja. Aroon mengangkat tubuh Cyra dan mendudukkan di pangkuannya. Mereka. Saling berhadapan.


"Tanyalah."


"Aap.. Aappa kau memiliki hubungan yang spesial dengan Kannika?"


"Ya." jawab Aroon tegas.


"Jjjadi kkau dulu kekasih Kannika!" kedua alis Cyra terangkat. Wajahnya tampak terkejut mendengar jawaban suaminya. Ia kemudian memalingkan muka dan memasang wajah masam.

__ADS_1


"Cemburu?"


"Nggak!" jawab Cyra ketus. Ia berusaha turun dari pangkuan suaminya.


"Hei, mau kemana?" Aroon menahan tubuh Cyra dan memencet hidung istrinya. "Jangan marah, aku minta maaf."


"Kalian pacaran kan? Atau mantan pacar? Jangan - jangan cinta lama bersemi kembali."


"Hahahahhh.. Jawabannya tidak untuk semua dugaanmu itu."


"Tadi katanya punya hubungan spesial?"


"Iya, tapi bukan seperti itu." jawab Aroon. Ia menarik napas dan melingkarkan tangannya ke pinggang Cyra. Ia menarik tubuh istrinya lebih mendekat padanya. "Kannika itu adikku Cyra."


"Adik? Bukankah kau tidak punya adik?"


"Iya. Jadi Kannika itu anak dari paman dan bibiku. Mereka berdua meninggal ketika Kannika kecil. Jadi Mae Busara memutuskan untuk merawat dan membesarkannya. Kami tumbuh bersama. Dan perlu kamu ketahui Kannika itu sudah memiliki suami. Cuma suaminya bekerja di Chiang Mai. Ia hanya pulang satu minggu sekali. Dan kau tahu waktu dia pingsan di kuil?"


Cyra mengangguk.


"Dia sedang hamil anak pertama." ucap Aroon. "Aku berharap kita berdua bisa menyusul." Aroon mengecup singkat bibir istrinya.


"Tapi kenapa seolah - olah kalian dekat seperti sepasang kekasih?"


"Aku sengaja." jawab Aroon sambil nyengir.


"Sengaja?"


"Iya. Kannika tahu tentang perjalanan cintaku denganmu. Jadi aku memutuskan untuk mengajakmu datang ke Thailand di samping karena Mae ingin berkenalan denganmu, itu juga saran darinya untuk mengetahui isi hatimu padaku. Dengan membuatmu cemburu. Dan kau lihat sendiri kan ternyata kau mencintaiku."


"Oh.. Jadi kalian selama ini hanya bersandiwara. Kau jahat." Cyra memukul pelan dada suaminya. "Kau tahu cemburu itu membuat dadaku sesak, aku tidak bisa berpikir dengan jernih."


"Aku terpaksa. Kalau tidak seperti itu, aku tidak akan tahu isi hatimu yang sesunguhnya." Aroon membelai lembut pipi Cyra. "Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku Cyra."


Cyra mengalungkan tangannya ke leher Aroon. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Bagaimana bisa aku meninggalkan suami yang baik, yang tampan dan juga perkasa." bisik Cyra. Ia tersenyum nakal ke suaminya.


"Kau menggodaku sayang." Aroon melepas kaos yang di kenakan Cyra.


"Hey, aku sudah mandi. Bisakah nanti malam saja."


"Siapa suruh kau menggodaku." jawab Aroon sambil memainkan 36 C milik istrinya. "Dan juga untuk mewujudkan keinginan Gio."


"Aaacchh.. Keinginan apa? Aaacchh." tanya Cyra yang hampir hilang kesadarannya.


"Gio menginginkan seorang adik. Sebagai orang tua yang baik kita harus berusaha keras mewujudkannya bukan?"


Cyra hanya mengangguk saja. Permainan yang dilakukan oleh suaminya semua hal baru baginya jadi Cyra begitu menikmati.


Yang terjadi selanjutnya Cyra hanya pasrah menyerahkan dirinya untuk di nikmati suaminya toh ia juga suka.


"Cyra aku bahagia bersamamu." ucap Aroon di sela - sela permainannya.


Cyra hanya tersenyum saja tanpa bisa berkata apa - apa. Permainan Aroon membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia memejamkan mata hingga mereka berdua mencapai kenikmatan bersama.


Aroon mencium perut istrinya. "Cepatlah tumbuh."

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2