
Tidak terasa malam telah berganti pagi, aku bergegas untuk bangun mandi dan bersiap pergi ke kantor. Hari ini untuk pertama kalinya aku bangun dengan perasaan sangat bahagia.
Sejak pagi sekali akmal sudah mengirimkan pesan padaku mengucapkan selamat pagi. Hal yang terlihat sederhana tapi terasa bermakna, setidaknya akmal adalah orang pertama yang memperlakukanku begitu spesial .
Setelah 1 jam berlalu, aku sudah siap dengan mengenakan dress pendek selutut tanpa lengan berwarna biru langit lalu mengenakan blazer berwarna biru gelap di padupadankan dengan sepatu heels 7cm .
Seperti biasa aku menyempatkan waktu untuk sarapan bersama keluargaku terlebih dahulu. Walaupun harus selalu di bumbui dengan berbagai perdebatan kecil antara kami semua. Terutama aku dan adikku yang bisa di bilang tidak pernah kami bertemu tanpa bertengkar.
Ketika sedang menikmati sarapan pagi, aku mendapatkan pesan jika Akmal sudah sampai di depan rumah ku dan sedang menungguku di mobil. Kini yang tersisa hanya aku dan ibuku karena adikku sudah berangkat kuliah dengan ayahku.
Aku pun segera berpamitan dengan ibuku, karena tak ingin membuat akmal menunggu lebih lama. Namun belum sempat bicara, terdengar suara belum rumahku berbunyi memecah keheningan.
"siapa yang pagi-pagi begini sudah bertamu yaa? " tanya ibuku
Aku pun hanya mengedikkan bahuku asal sebagai tanda bahwa aku pun tak tahu.
"yaudah biar Fika liat dulu bu. " ucapku hendak berdiri
"gak usah, kamu lanjutkan sarapan kamu, nanti telat berangkat ke kantornya." ucap ibuku kemudian beranjak berjalan untuk membukakan pintu
Ceklek, pintu terbuka
Nampak seorang pria tampan berpostur tinggi tegap berbadan atletis dengan setelan kemeja dan celana rapi. Ia tersenyum lembut lalu menyapa ibuku dengan ramah. Beberapa saat ibuku seperti terhipnotis dengan ketampanannya tersebut.
Sampai akhirnya akmal membuyarkan lamunan ibuku yang menatap kagum wajahnya. Entah sudah terbang jauh kemana khayalan ibuku di pagi hari melihat pria tampan di pagi hari.
"selamat pagi tante, tantee, tante? " sapa akmal ramah seraya membuyarkan lamunan ibuku
"ahh, iyaaa selamat pagi. Maaf dengan siapa yaa? cari siapa? “ tanya ibu tak kalah ramah
" kenalin tante, saya akmal temannya Fika. Fikanya ada gak tante? " memperkenalkan dirinya singkat sambil mencium punggung tangan ibu Fika, lalu bertanya tentang keberadaan Fika
"ohh temennya Fika tok, tante kira siapa ? apa salah alamat gitu? kirain ada model nyasar gitu pagi-pagi gini ke rumah tante " ucap Ibuku dengan senyuman lebar dan candaan yang garing
Akmal pun tertawa kecil mendengar penuturan ibuku.
"ehh, iyaaa silahkan masuk nak akmal. Ibu sampe lupa." ibuku mempersilahkan akmal untuk masuk
Aku sudah selesai sarapan dan hendak menyusul ibuku ke ruang depan karena ibuku belum juga kembali. Dan itu artinya ada tamu yang datang ke rumah kami. Dan aku begitu terkejut ketika melihat akmal tengah duduk manis di sofa dengan ibuku yang sedang berbicara dengan mata berbinar melihat akmal .
"lohh, akmal. " seru ku
Akmal pun tersenyum manis menyapaku dengan kata selamat pagi yang terdengar merdu di telingaku.
__ADS_1
"Ahh, kebeneran fik baru aja ibu mau panggilin kamu. eh, kamunya udah keburu kesini. " jelas ibuku dengan senyum penuh arti
"oia, nak akmal sudah sarapan? mari sarapan dulu disini. " tawar ibuku ramah
"maaf tante, saya sudah sarapan. Saya kesini pagi-pagi gini mau jemput Fika tante. Mau nganterin Fika berangkat kerja. bolehkan tante? " tanya akmal dengan senyuman termanisnya merayu ibuku
Ahh sungguh ini diluar dugaanku jika akmal akan memilih untuk mampir dan menyapa ibuku dulu. Bahkan mereka sekarang sudah saling mengenal. Habislah aku, jika ibu mendesakku lagi untuk segera menikah. Ibuku selalu mempunyai semangat 45 jika membahas tentang kisah percintaanku yang belum pernah terjadi menurutnya.
“ohh tentu nak akmal, tentu boleh. " jawab ibuku dengan senyuman selebar mungkin
"yaudah bu, Fika langsung berangkat yaa takut telat.“ ucapku buru-buru mengakhiri interaksi di antara mereka berdua
Aku takut ibu akan lebih banyak bertanya macam-macam pada akmal sementara hubungan kami saja belum 1 hari di mulai .
Aku tak ingin ibuku mengacaukan hubungan kami yang baru di mulai dengan harapan-harapan indahnya tentang pernikahan.
Aku saja bahkan belum tahu akmal memiliki niat untuk menikah atau tidak di usia yang masih sangat muda.
“inilah resiko berpacaran dengan cowok yang lebih muda dari kita, semangat!! “ gumamku dalam hati menyemangati diri sendiri
Kami berdua langsung berpamitan dan berjalan menuju halaman tempat mobil akmal sudah terparkir disana. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 40 menit akhinya kami sampai di kantor.
Sepanjang perjalanan kami tidak membicarakan banyak hal namun akmal yang lebih mendominasi. Ia menciptakan suasana senyaman mungkin untuk mengusir kegugupanku.
Setelah sampai di kantor aku langsung turun dari mobil, akmal memasukkan mobilnya sampai ke depan pintu utama kantor tempatku bekerja.
Aku pun hendak turun dan mengucapkan Terima kasih padanya telah mengantarkanku pagi itu.
"ya sudah, aku langsung masuk ya dan terimakasih kamu udah anterin aku.“ ucapku tulus
"Kok bilang terimakasih, itu udah kewajiban aku kali buat anter dan jemput kamu kemanapun kamu mau. Selama aku mampu dan ada waktu pasti aku lakuin sayang buat kamu." ucap akmal sambil mengelus lembut pipiku sayang
Mendadak kedua pipiku memerah sempurna seperti tomat karena menahan malu dan gugupnya di perlakukan seperti itu oleh akmal. Bahkan tanpa canggung sama sekali akmal memanggilku dengan sebutan sayang.
Hatiku menjadi berdebar berkali-kali lipat dari biasanya. Apalagi ketika melihat senyuman paling manis yang ia berikan padaku. Sungguh rasanya seperti ribuan bunga tengah mekar di hatiku.
“makan siang mau bareng gak? " tanya akmal
"aku hari ini masih sibuk, jadi gapapa kan kalau gak makan siang bareng? gimana kalau di ganti dengan makan malam aja ama aku. okay? tawar dara
" hemm baiklah, tapi dengan satu syarat. " ucap akmal sedikit mengulum senyuman
"apa itu? “ tanyaku
__ADS_1
"jangan bicara dengan canggung lagi denganku dan?“ ucap akmal menggantungkan kalimatnya
“dan apa? " tanyaku lagi penasaran
"dan panggil aku dengan sebutan sayang. bagaimana?" jelas akmal
"**.. tapi?? " ucapku terbata
"tapi apa sayang? " tanyanya
“aku malu, aku gak terbiasa."jelasku menolak sehalus mungkin
“maka dari itu sayang, mulailah untuk terbiasa dari sekarang." timpalnya
“baiklah, ss.. sa.. yang “ ucapku terbata dengan wajah sudah memerah
Rasanya aku benar-benar sangat malu dan ingin sekali menenggelamkan diriku di dalam samudera yang paling dalam dan luas. Sementara terlihat kedua sudut bibirnya terangkat ke atas sangat lebar.
“ahh, akhirnya aku benar-benar punya pacar. sungguh diluar dugaan“ pikirku dalam hati
"baiklah sayang aku harus masuk sekarang juga, jika tidak aku akan terlambat. okee? “ ucapku berpamitan
" hemm, sebenarnya aku sedikit tidak rela melihatmu bekerja. kamu menghabiskan banyak waktu dengan orang lain, tapi enggak sama aku. Mereka bisa lihat kamu sepanjang hari, melihat kamu yang sedang cantik, kamu yang tersenyum, kamu yang terlihat lelah dengan wajah yang masih cantik tentunya. " keluhnya panjang lebar
"woow, wow, wow sepertinya pacarku ini sedikit posesif. humm?“ ucapku sambil tertawa kecil
" karena aku sangat mencintaimu. Kau terlalu berharga untukku bagi dengan orang lain. " ucapnya dengan sedikit serius
"baiklah, aku juga mencintaimu sampai jumpa nanti malam sa yang. " ucapku hendak keluar dari mobil
Namun belum sempat aku keluar akmal menahan tanganku lembut.
"ada apa lagi sa yang? " ucapku yang sebenarnya sudah tidak sabar tapi masih berusaha menahannya
"biarkan aku memelukmu lebih dulu" pintanya
“ahh, baiklah. " ucapku pelan, sebenarnya aku sudah sangat malu saat itu
Perlahan dia pun menarikku ke dalam pelukannya selama beberapa saat. Jantungku berdetak sangat cepat saat itu. Aku harap ia tidak mendengarnya. Sangat memalukan pikirku. sebelum melepaskan pelukannya ia mencium puncak kepalaku lembut.
Sungguh sepertinya jika aku masih berada di dalam mobilnya lebih dari 5 menit lagi jantungku akan benar-benar meledak.
Aku pun sedikit terburu-buru keluar dari mobilnya dan terus menundukkan wajahku.
__ADS_1
"Ahh, malu sekali.. tapi tidak tahu aku harus malu dengan siapa “ gumamku dalam hati