
Fika POV
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore dan semua orang sudah bersiap untuk pulang. Mereka mulai merapikan mejanya dan juga barang-barangnya.
Aku pun bergegas agar tak ketinggalan, dan ketika hendak keluar segera ku lihat ponsel yang ada di tas.
Barangkali Akmal sudah menghubungiku sejak tadi siang. Karena aku tak lagi sempat membukanya sejak pak Aksa memberikan banyak pekerjaan untukku hari ini.
Benar-benar hari yang melelahkan, pekerjaanku masih banyak tapi aku memutuskan untuk membawa dan menyelesaikannya nanti di rumah saja.
Aku tidak ingin menghabiskan waktu lembur di kantor seorang diri. Begitu sampai di lobby aku pun mengaktifkan ponselku yang sejak tadi siang mati karena dayanya sempat habis.
Begitu banyak panggilan tak terjawab dari nomor Akmal, dan sekian detik kemudian ponselku berdering kembali masih menampakkan panggilan dari orang yang sama. Orang yang membuatku cemas seharian ini karena tak ada kabar.
“Sayang, aku sudah menunggumu di depan. Cepatlah kemari, nanti ku jelaskan.“ ucapnya terburu-buru langsung mematikan telpon sebelum sempat aku menjawab 1 patah katapun.
Tiba-tiba dari arah belakang mbak Alana menepuk bahuku pelan, ia pamit duluan dan langsung melenggang keluar untuk menemui mas Dafa yang sudah menunggunya sejak tadi di depan kantor.
Kami berjalan ke arah yang sama karena Akmal juga tengah menungguku di tempat yang sama dengan mas Dafa tanpa mereka sadari.
Begitu sampai mbak Alana langsung menaiki mobil mas Dafa, ia tidak menyadari aku yang berjalan di belakangnya sejak tadi karena fokus dengan ponsel di tangannya.
Ku lihati sekitar mencoba mencari dimana kiranya Akmal menungguku. Dan datanglah sebuah mobil Alphard berwarna putih menghampiriku.
Aku tidak mengetahui siapa kiranya yang mengemudikan mobil tersebut karena aku merasa asing dengan wajahnya.
Namun tiba-tiba kaca pintu penumpang pun terbuka sebagian memperlihatkan wajah seseorang yang sejak tadi tengah ku tunggu.
Aku segera menaiki mobil tersebut, dan betapa terkejutnya aku melihat tangan kiri Akmal yang di gips dan ada sedikit luka di pelipisnya yang sudah di plester.
"Sayang, kamu kenapa? kok bisa gini sih? pantes aja perasaan aku tuh gaenak banget hari ini. Semenjak kamu gak ada kasih kabar dan gak bisa di hubungi aku gak enak hati terus." cecarku pada Akmal sambil melihati satu persatu luka di tubuhnya
Melihatku yang panik setengah mati malah membuatnya tersenyum tanpa dosa.
__ADS_1
"*M*enyebalkan" batinku.
"Kamu kok malah senyum-senyum sih bukannya jelasin!" seru ku sambil memukul bahunya pelan.
“Aawww!" teriaknya membuatku spontan kembali panik dan meminta maaf.
"Aduh duh, sayang maaf aku gak sengaja. sakit yaa? apa aja yang sakit dan luka biar aku lebih hati-hati." tanyaku dengan panik dan merasa bersalah.
"Gak apa-apa kok. Maaf sayang, aku gak ada kabar seharian ini. tadi aku ada kecelakaan kecil jadi harus ke rumah sakit dulu." jelasnya dengan penuh kelembutan tangan kanannya mengusap lembut pipiku yang telah di hujani airmata.
"Aku khawatir banget sama kamu, dan benarkan perasaan aku gak salah? Kamu bisa sampe kaya gini." ucapku lagi masih terisak pelan.
“Sayang lihat, aku baik-baik aja dan aku udah ada disini. Jangan nangis lagi yaa. " bujuknya sambil mengangkat wajahku yang tertunduk agar bisa menatap matanya.
Aku memeluknya dengan hati-hati takut jika tak sengaja membuatnya kesakitan. Tidak ada percakapan lagi antara kami sampai akhirnya kami tiba di apartemen Akmal.
"Den, non sudah sampai." ucap pak sopir memberitahu kami yang sejak tadi sibuk dengan pikiran kami masing-masing
"Oh, iyaa pak terimakasih." jawab Akmal lalu mengajakku untuk turun.
"Oia pak, bapak jangan pergi dulu yaa nanti tolong antarkan calon istri saya pulang. Kalau mau jalan sekitar sini dulu gak apa-apa asal jangan jauh-jauh." pesan akmal sebelum masuk ke gedung apartemennya yang menjulang tinggi di hadapan kami.
"Siap den, nanti aden bisa telpon saya saja. Saya parkir mobil dulu den, permisi." jawab pak sopir ramah sambil berpamitan
Aku pun membantu Akmal berjalan untuk memasuki unit apartemennya karena kaki kirinya nya juga di bebat dengan perban sepertinya ada sedikit cedera.
Setelah susah payah membantu Akmal masuk ke kamarnya, Aku pun langsung membantunya untuk duduk di ranjang dengan nyaman.
"Sayang, sebenarnya gimana kamu bisa sampe kayak gini? " tanyaku yang sudah tak lagi bisa menahan untuk menanyakan kronologinya
"Hemm, sebenernya aku abis ketemu ayah tadi siang. Dan karena aku buru-buru mau nemuin kamu, gak sengaja aku kecelakaan. Mobilku nabrak trotoar, tapi untungnya orang-orang langsung nolongin aku dan luka aku gak terlalu parah" jelas akmal.
“Kamu ketemu ayah kamu?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"iyaa." jawabnya singkat membuatku semakin gelisah.
Peringatan beliau padaku waktu itu masih terngiang-ngiang dengan jelas di kepalaku. Tanpa sengaja aku jadi melamun dan itu membuat Akmal sedikit curiga melihat perubahan sikapku.
“Sayang, sayaaang kamu gak apa-apa? " tanya Akmal sambil menepuk pelan bahuku yang membuat ku sedikit terkejut.
"Ahh iyaa." jawabku yang tersadar dari lamunanku
“Kamu kenapa sih sebenernya? kok ekspresi kamu langsung berubah banget denger aku ketemu sama ayah? tolong jujur sama aku apa ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari aku? " tanyanya mulai curiga.
"Eh, e enggak kok yang, aku ga sembunyiin apa-apa dari kamu. Mungkin aku lagi capek aja, kerjaan aku lagi numpuk banget di kantor." jelasku sedikit gugup berusaha menutupinya.
"Sayang, please aku tahu kamu banget. Please bilang sama aku ada apa sebenernya? Aku gak suka kamu ngumpet-ngumpetin sesuatu dari aku." bujuknya lagi sambil menggenggam tanganku mencoba meyakinkan aku.
"*G*ak mungkin kan aku bilang kalau aku udah ketemu ayah kamu dan dia minta kita pisah.. “ batinku.
Sebisa mungkin aku berusaha untuk menutupinya di depan Akmal dengan tersenyum. Walaupun berat namun aku tidak mungkin akan mengatakan semua itu padanya.
Aku tidak ingin hubungan mereka semakin memburuk jika Akmal mengetahui semua ini. Apalagi sepertinya ancaman ayahnya tidak main-main.
Belum sempat aku bicara, tiba-tiba ponsel Akmal berdering dengan kencang. Aku pun memberikan isyarat agar Akmal mengangkatnya terlebih dahulu.
Aku memutuskan untuk keluar dari kamar dan menuju dapur, untuk membuatkan 2 cangkir teh hangat untuk kami . Ketika aku membawa minuman ke kamar Akmal terlihat ia baru selesai berbicara di telepon.
Namun raut wajahnya terlihat sangat kesal dan di penuhi amarah. Sorot matanya yang tajam seperti ingin menguliti ku hidup-hidup membuatku sedikit takut.
Akmal tidak pernah menunjukkan wajah semenakutkan ini. Entah siapa yang menghubunginya tadi membuatku sedikit penasaran.
"Sayang, minum dulu teh nya." ucapku berusaha mencairkan suasana yang terasa mencekam itu sambil memberikan secangkir teh hangat.
"Kenapa kamu nggak pernah cerita ayah nemuin kamu? " tanya Akmal dengan suara parau wajahnya terlihat menahan emosi.
Degg,
__ADS_1
“Jawab ! " ucapnya lagi dengan nada meninggi membuatku tersentak kaget karena ini pertama kalinya Akmal membentakku.