
Ketika Sandy memindahkan Radit ke mobilnya, akhirnya Radit tersadar. Ia segera menanyakan keberadaan Fika yang tak berselang lama di bawa ke sampingnya.
Radit yang melihat kepala Fika mengeluarkan banyak darah berusaha bangkit dan menarik Fika ke dalam pelukannya. Ia telah gagal menjaga Fika, ia benar-benar sedih melihat kondisinya yang seperti itu.
"Fika, sayang bangunlah. Kamu gak apa-apa kan? Bangun, jangan buat aku takut." ucap Radit sambil menepuk-nepuk pipi lnya dengan pelan.
"Apa yang kalian lakukan ?! Cepat bawa kami ke rumah sakit!" teriak Radit pada anak buahnya yang masih terdiam.
Tanpa menjawab, Sandy langsung mengambil alih kemudi untuk membawa tuan mudanya itu dan Fika ke rumah sakit.
"Bertahanlah. Aku mohon, kamu harus bertahan. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi." racau Radit sambil membelai wajah Fika dengan Airmata yang tak bisa ia tahan.
Untuk pertama kalinya dalam hidup ia benar-benar merasa takut untuk di tinggalkan. Tidak, Radit tidak boleh kehilangan Fika, ia tidak akan bisa.
Bagaimana mungkin ia bisa bertahan tanpa Fika? Semua ketakutan di kepalanya terus bermunculan namun ia berusaha untuk sedikit lebih tenang.
Radit tidak bisa melakukan hal lain dan memikirkan hal apapun saat itu. Ia hanya terus memeluk tubuh Fika yang sudah terkulai lemas di sampingnya.
Setelah sekitar 25 menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit terdekat. Radit langsung membawa Fika keluar dari mobil dengan menggendongnya sendiri.
Ia tidak mengijinkan siapapun untuk menyentuh Fika, dan tetap membawanya sendiri walaupun ia sendiri tengah terluka.
Beberapa perawat yang bertugas di IGD langsung membawa sebuah brankar dorong dan Radit langsung meletakkan Fika di atasnya dengan hati-hati.
Perawat dan dokter langsung melakukan pertolongan pertama untuk Fika dan Radit menunggu di depan pintu masuk ruang tindakan dimana dokter dan perawat sedang mengobatinya.
Sandy yang melihat jika tuan mudanya tersebut tampak kacau langsung pergi sedikit menjauh. Ia melaporkan semua hal yang terjadi pada tuan Randi tentang kecelakaan yang dengan sengaja di sebabkan oleh Rey dan anak buahnya.
Randi yang mendengar laporan dari Sandy pun meradang dan sangat marah besar pada Rendra. Dengan begitu berani Rendra menyuruh orang-orangnya untuk mencelakai Radit dan calon menantunya itu.
Sejak awal Randi susah merestui keinginan Radit untuk meminang Fika sebagai istrinya. Sebelum pergi ke Surabaya, Radit berucap jika ia akan mencoba melamar Fika untuk menjadi istrinya.
Randi pun mendukung penuh atas keputusan putranya karena ia tahu jika putranya begitu mencintai Fika. Jika memang Fika berkenan menerimanya maka ia akan sangat bahagia.
Baginya tidak ada yang lebih penting dari pada keluarganya. Istri dan anak-anaknya jauh lebih penting dari sekedar materi.
__ADS_1
Ia tidak gila kekuasaan maupun uang meskipun sudah berada di puncak teratas sebagai pebisnis sukses di seluruh penjuru negeri.
Randi langsung memberitahukan istrinya jika Radit mengalami kecelakaan. Ia segera menyuruh asistennya untuk menyiapkan jet pribadinya untuk segera pergi ke Surabaya.
Setelah ia melihat kondisi putra dan calon menantunya tersebut dalam keadaan baik, baru ia akan membuat perhitungan dengan sahabatnya itu.
Ia tidak akan memaafkannya walaupun mereka sudah bersahabat cukup lama. Ia akan membuat Rendra benar-benar tidak berdaya lagi untuk bisa mencelakai keluarganya kelak.
Setelah Sandy mengabari tuan besarnya itu ia segera menghampiri Radit kembali yang masih duduk di ruang tunggu.
"Tuan muda, sebaiknya anda segera di obati lebih dulu. Anda juga terluka cukup parah." ucap Sandy mencoba membujuk sang tuan muda.
"Tidak, Sandy bagaimana mungkin. Saya sangat sehat dan tidak apa-apa, saya tidak akan pergi kemanapun sampai dokter datang dan memberikan kabar baik tentang Fika." jelas Radit sambil menatap penuh harap pintu ruang tindakan yang tertutup rapat.
Radit pun teringat dengan orangtua Fika. Ia belum mengabari siapapun. Mereka pasti akan sangat mencemaskan putri mereka jika mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Radit mulai meraba-raba sakunya mencari ponsel. Namun tidak ada, sepertinya ia lupa meninggalkannya di mobil.
"Sandy, bagaimana dengan mobil saya? Handphone saya tertinggal di mobil." tanya Radit.
"Mobil tuan muda sudah di bawa ke bengkel oleh anak buah saya, sementara barang-barang tuan muda dan nona Fika sudah ada di mobil saya." jelas Sandy.
"Baik tuan muda." jawab Sandy kemudian bergegas pergi ke parkiran .
Ia langsung mengambil barang-barang milik Radit dan Fika di mobilnya lalu menyerahkannya pada Radit. Setelah itu ia langsung berangkat menuju rumah orang tua Fika untuk menjemput mereka.
Setelah hampir 1 jam akhirnya seorang dokter laki-laki paruh baya memakai kacamata keluar dari ruangan tersebut. Radit pun langsung berhambur menghampiri dokter tersebut menanyakan bagaimana keadaan Fika.
"Dokter, bagaimana keadaan calon istri saya?" tanya Radit dengan sangat khawatir.
"Pasien sudah dalam keadaan stabil sekarang, hanya saja dia belum sadar karena pengaruh obat. Pendarahannya cukup banyak, beruntungnya pasien sampai disini tempatnya tepat waktu, jika tidak pasti keadaannya akan sangat buruk." jelas dokter membuat Radit sedikit lega.
"Syukurlah, Terimakasih dok. Apa boleh saya menemuinya sekarang?" tanya Radit.
"Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan. Bukankah anda mengalami kecelakaan bersama pasien? Lebih baik kita obati dulu luka anda." ucap dokter melihat pelipis Radit yang terluka dan terlihat darahnya mulai mengering juga kaki Radit yang sepertinya terluka karena Radit berjalan dengan sedikit pincang.
__ADS_1
"Tidak perlu dok, saya tidak apa-apa. Saya hanya ingin memastikan keadaan calon istri saya baik-baik saja."
"Baiklah kalau begitu, saya permisi. Jika ada keluhan, silahkan bapak langsung ke IGD untuk mendapatkan pengobatan." jelas dokter dengan ramah.
Tak lama berselang, perawat keluar dengan mendorong brankar Fika yang akan segera di pindahkan ke ruang perawatan. Sebelum pergi Sandy sudah menyelesaikan masalah administrasi.
Sehingga Fika bisa langsung di pindahkan ke ruang VIP atas perintah Radit. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk Fika. Dengan langkah tertatih ia mengikuti perawat ke ruangan rawat inap.
Setelah perawat pergi, Radit langsung duduk di samping Fika. Ia genggam tangan Fika yang terasa begitu hangat. Sambil menunduk Radit tidak bisa menghentikan air matanya untuk tidak jatuh.
Beberapa saat lalu, ia benar-benar takut dengan apa yang akan terjadi pada Fika. Ia terus berucap syukur dalam hatinya jika kini gadis pujaan hatinya baik-baik saja.
Ayah, ibu dan Icha sampai di rumah sakit dengan di jemput oleh Sandy. Karena ia yang mengurus administrasi untuk biaya rumah sakit Fika maka ia pun sudah tahu di mana Fika akan di pindahkan.
Begitu mereka sampai di ruangan, mereka bertiga tampak shock melihat Fika yang terbaring lemah dengan perban melilit di kepalanya. Juga tangan kanannya yang sudah di perban.
Sementara di sampingnya ada Radit yang terlihat sangat kacau. Kaos yang ia gunakan saja masih penuh dengan darah Fika yang hampir mengering.
Ibu langsung menghampiri Fika dan menangis tersedu-sedu melihat keadaan putrinya yang seperti itu. Sementara ayah terlihat sedikit lebih tenang, ia berjalan menghampiri Radit.
Icha pun mencoba menenangkan ibunya itu, untuk pertama kalinya ia bisa melihat ibu benar-benar terpukul seperti itu.
"Nak Radit, bersihkan dan obati dulu lukamu. Biar kami yang menjaga Fika sekarang, kamu tidak perlu khawatir." ucap ayah sambil menyentuh bahu Radit pelan berusaha membujuknya.
Sandy sudah menceritakan semuanya pada ayah Fika tentang siapa yang mencelakakan mereka berdua. Sandy juga bercerita jika Radit sama-sama terluka, namun ia menolak untuk di obati dan tidak mau meninggalkan putrinya.
Mendengar penuturan Sandy, hati ayah sedikit menghangat. Ia menjadi semakin yakin untuk mempercayakan putrinya tersebut pada Radit.
Terlihat jelas jika Radit sangat mencintai putrinya.
"Om, Tante. Maafkan saya, saya sudah benar-benar gagal menjaga Fika." ucap Radit dengan suara paraunya sedikit bergetar.
"Sudahlah nak, ini semua bukan salah kamu. Justru kalau tidak ada kamu, om tidak tahu apa yang akan terjadi pada putri om ini." jelas ayah sedikit tersenyum menghibur Radit.
"Sebaiknya kamu obati lukamu dulu dan beristirahat lah. Nanti kamu bisa kesini lagi dan menjaga Fika." sambung ayah Fika.
__ADS_1
Radit pun terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan permintaan dari ayahnya Fika. Sebenarnya ia juga sudah merasa sangat lemas dan tak bertenaga, dadanya merasa sesak sejak beberapa waktu tadi.
Sandy pun membantu Radit berdiri dan akan mengantarkannya ke IGD lebih dulu untuk di obati namun belum sampai 5 langkah, Radit sudah jatuh pingsan karena tak bisa menahan rasa sakit di dadanya yang luar biasa .