My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Kembali pulang


__ADS_3

Mas Radit sudah mengurus seluruh administrasi rumah sakit karena sore ini aku sudah bisa keluar dan menjalani rawat jalan dengan melakukan check up setiap 2 minggu 1 kali.


Aku dan ayah sudah bersiap dengan barang-barang kami untuk langsung menuju airport. Dan sesuai kesepakatan, mas Radit sendiri yang akan mengantarkan kami ke Surabaya menggunakan jet pribadi milik keluarga Mahendra.


Awalnya aku merasa keberatan dan menolak tawaran mas Radit tersebut. Sayangnya, om Randi dan tante Sarah juga ikut membujuk ayahku untuk menyetujuinya.


Siang tadi mereka berdua datang ke rumah sakit untuk bertemu denganku dan ayah sebelum kami kembali ke Surabaya.


Tante Sarah juga membawakan aku sesuatu berupa kotak yang sudah terbungkus rapi. Kotak tersebut adalah titipan dari Hana sebagai salam perpisahan.


Ia tidak bisa ikut menemui Fika di rumah sakit di karenakan sedang ada diluar kota untuk acara sekolahnya.


Aku pun sangat senang dengan apa yang Hana berikan tidak peduli apa isi dari kotak tersebut. Hana benar-benar gadis yang sangat bersemangat dan juga ceria.


Kami menjadi cukup dekat setelah ia sering datang untuk mengunjungi mas Radit. Ia sangat manja terhadap Radit si manusia es yang kaku.


Bahkan ia tidak bisa bersikap lebih baik sedikit pun terhadap Hana. Dia memanjakan Hana dengan cara yang berbeda, dan aku melihat hubungan mereka secara emosional begitu dekat.


Awalnya ia dan tante Sarah memintaku dan ayah untuk menginap di rumah mereka selama beberapa hari sebelum pulang kembali ke Surabaya.


Namun sebisa mungkin aku dan ayah menolak ide tersebut. Lagi pula, aku tidak ingin membuat ayah dan diriku sendiri merasa tidak nyaman untuk tinggal di rumah orang lain.


Walaupun itu hanya untuk beberapa hari aku dan ayah tidak setuju. Akhirnya kami bertiga pun pergi ke airport dengan di kawal oleh beberapa orang bodyguard.


Walaupun aku merasa sedikit tidak nyaman, namun aku berusaha untuk mengerti. Om Randi hanya ingin kami baik-baik saja dengan mengirimkan beberapa orang untuk menjaga kami.

__ADS_1


Aku juga harus bisa lebih waspada ketika nanti kembali ke Surabaya tanpa mas Radit. Artinya aku harus bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi apapun.


Karena tidak ada jaminan bahwa om Rendra bisa melepaskan aku begitu saja. Bisa jadi ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mencelakai ku kembali.


Setelah beberapa jam melakukan perjalanan akhirnya aku pun sampai di rumah yang selama hampir 1,5 tahun ini ku tinggali.


Icha dan ibu sudah berdiri menyambut kami di halaman rumah dan langsung mengajak kami semua untuk masuk ke rumah berisitirahat.


Selang 30 menit, Ibu sudah selesai menyiapkan masakan untuk makan malam yang sudah ia buat ketika kami masih dalam perjalanan.


Untuk malam ini ayah meminta Radit untuk tidur dan menginap di rumah kami. Walaupun tidak terlalu besar, tapi rumah kami cukup nyaman untuk di tinggali.


Radit pun menyetujuinya karena ia juga sudah merasa cukup lelah hari ini dan malas untuk melakukan perjalanan lagi ke apartemennya yang keluarga tidak ketahui.


Ayah memintanya menginap karena tidak enak menyuruh mas Radit untuk tinggal di hotel walaupun itu hanya untuk satu malam saja.


"Dit, makan dulu ya. Setelah itu kamu bisa menggunakan kamar Fika untuk berisitirahat. Biar Fika nanti tidur di kamar Icha." ucap ayah yang langsung di setujui ibu.


"Benar tuh kata om, nak Radit tidak perlu menginap di hotel. Walaupun kecil tapi ibu yakin kamu akan nyaman di rumah kami." sambung ibu dengan antusias sambil menyendok nasi ke piring mas Radit.


"Baik om, tante. Saya sangat berterimakasih sudah mengijinkan untuk saya tinggal malam ini. Besok pagi saya harus kembali ke Jakarta." ucap mas Radit menyetujuinya.


Kami pun menikmati makan malam kami dengan riuh canda dan tawa di meja makan. Suasana meja makan kami sekarang selalu seriuh ini.


Tidak seperti dulu, ayah selalu menginginkan kami makan dengan tenang di meja makan tanpa pembicaraan berlebihan apalagi Perdebatan.

__ADS_1


Keluarga ku kini telah banyak berubah dan semakin baik setiap harinya. Aku akui 1,5 tahun lalu adalah titik terberat di dalam keluarga kami.


Namun hal itu jugalah yang membuat keluarga kami bisa saling menguatkan dan bisa saling lebih menghargai setiap momen yang kami lewati.


Setelah makan malam selesai, aku pun mengantarkan Radit ke kamarku untuk berisitirahat dan menunjukkan barang-barang yang ia perlukan yang sudah di siapkan oleh ibuku.


"Malam ini mas Radit tidur di sini. Kamar mandinya disana, kalau mas Radit mau mandi handuk dan pakaian ganti sudah ibu siapkan di kamar mandi. Aku pamit dulu ya, mau istirahat, di kamar Icha." ucapku menjelaskan panjang lebar.


"Terimakasih, aku seneng banget bisa tidur disini. Kamar kamu sangat bersih dan nyaman walaupun sedikit tidak mencerminkan diri kamu yang sebenarnya." ucapnya membuat dahi ku berkerut heran.


"Maksud mas Radit?" tanyaku penasaran.


"Nuansa kamar ini terlalu girly untuk kamu. Dari tata letak barang-barang, wallpaper dinding kamu dan semua aksesoris yang ada disini lebih menggambarkan seorang gadis yang sangat feminim." jelasnya membuatku tersenyum mengerti.


"Ya, karena kamar ini di tata oleh ibuku. Dia itu sangat menginginkan aku untuk menjadi wanita yang feminim dan juga anggun. Sayang sekali, aku sangat bertolakbelakang dengan keinginannya." ucapku sedikit tertawa mengingat perdebatan kami tentang desain kamar ini.


"Sudah ku duga, pasti ini bukan kamu yang mengaturnya. Kamu ini sosok wanita yang tangguh, tegas dan disiplin dalam segala hal. Kamu orang yang terlalu kreatif dan sangat berinisiatif. Walaupun selama ini kamu selalu berpenampilan feminim, tapi aku selalu ingat di hari pertama kita bertemu ketika interview. Itulah kamu yang sesungguhnya, sejak kita masih SMA. Ketika kamu mulai merubah penampilan dan sikap kamu, saat itulah aku sangat tidak menyukainya. Karena itulah, aku selalu memperdebatkan banyak hal sama kamu. Maaf, karena banyak membuat kamu dalam kesulitan." jelasnya terdengar begitu tulus.


"Hem, ya. Dulu aku selalu kesal dengan mas Radit. Mas selalu memasang wajah menyebalkan jika berhadapan denganku tapi selalu baik dengan orang lain. Karena itu aku sangat tidak menyukai mas Radit, tapi di balik itu semua mas Radit tetap menjadi orang pertama yang membantuku ketika aku mengalami kesulitan dalam pekerjaan. Aku sangat berterimakasih untuk itu, manusia es." ucapku dengan jujur dan mencandainya dengan panggilan yang selalu aku sematkan untuknya di belakangnya.


"Manusia es? jadi kamu memanggilku begitu."jawabnya tertawa kemudian mengacak-acak rambutku.


"Ya sudah, sebaiknya mas segera berisitirahat. Sampai jumpa besok pagi." ucapku hendak pamit untuk keluar namun terhenti karena mas Radit yang tiba-tiba menarik tanganku.


"Aku akan merindukan kamu, Jakarta- Surabaya bukanlah jarak yang dekat. Tidak bisakah kita menghabiskan banyak waktu dulu sebelum aku pulang besok?" tanyanya membuatku sedikit berpikir.

__ADS_1


"Baiklah, kamu mandi dulu aja. 15 menit lagi aku tunggu di taman belakang." ucapku kemudian pergi tanpa menunggu dia menjawab ku.


__ADS_2