My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Mengambil keputusan (part 1)


__ADS_3

Apa yang Risa ucapkan terus terngiang-ngiang di kepala Fika. Walaupun terkesan angkuh namun ia merasa jika permintaan Risa memang terdengar tulus.


Risa sudah memberitahu jika perempuan yang akan di jodohkan dengan Akmal adalah dirinya. Tentu saja Fika merasa sangat terkejut, namun ia tetap berusaha menyembunyikannya.


Entah kenapa, Fika merasa Risa sepertinya adalah perempuan yang baik. Entah karena sejak awal mungkin Fika merasa nyaman berbicara dengan Risa.


Karena seumur hidupnya ia tidak pernah berteman baik dengan siapapun sebaik dengan Nayla dan Alana. Itupun karena mereka adalah satu team selama bertahun-tahun ini.


Fika adalah orang yang sulit dekat dengan siapapun. Ia jarang merasa nyaman berbicara dan berteman dengan banyak orang.


Hari itu Fika memutuskan tidak membawa mobil. Setelah keluar dari tempat ia bertemu dengan Risa ia melangkahkan kakinya sembarang.


Ia hanya mengikuti arah kemana kakinya melangkah. Pikirannya mendadak penuh dengan semua masalah yang terjadi padanya belakangan ini.


Tak terasa sudah hampir 1 jam ia berjalan tanpa tujuan sampai akhirnya ia tersadar.


Fika pun menoleh ke kanan kirinya mencoba menebak tentang dimana ia berada saat itu.


Namun entah karena pikirannya terlalu penuh dengan hal lain sehingga Fika tidak bisa menebak dimana ia berada.


Ia pun memutuskan untuk menyebrangi jalan menuju sebuah taman yang ada di tengah kota tersebut. Sebelumnya ia tidak pernah pergi kesana.


Entah karena ia tak pernah peduli tentang keberadaan tempat-tempat seperti itu di Jakarta. Atau mungkin karena ia sendiri tidak pernah pergi kemanapun selain rumah dan kantor.


Sebelum bertemu Akmal, Fika tidak pernah pergi ke tempat seperti itu karena ketika sekolah ia sibuk dengan belajar dan latihan sementara setelah bekerja ia sibuk dengan pekerjaannya.


Fika menatap takjub sekeliling tempat tersebut yang terlihat cukup ramai di hari Minggu. Banyak pasangan yang berkencan di taman tersebut serta keluarga yang berpiknik ria disana.


Ada danau kecil ketika kita terus masuk ke dalamnya. Taman tersebut sangat luas, ada beberapa spot untuk tempat bermain anak-anak, skateboard, juga joging track dan lapangan basket.

__ADS_1


Fika pun menyempatkan untuk ke arena lapangan basket melihat beberapa orang anak muda sedang berlatih tanding.


Entah kenapa tiba-tiba ia jadi merindukan saat-saat ia bermain basket dulu. Sudah lama sekali ia tidak memainkan olahraga yang paling ia cintai tersebut.


Setelah memasuki dunia kerja ia benar-benar meninggalkan dunia basketnya. Tiba-tiba saja semua kenangannya ketika masih di sekolah menengah atas sampai kuliah kembali berkelebat.


Dulu ia sangat tomboy sehingga ia kesulitan bergaul dengan perempuan selain Nayla. Semua teman-temannya tidak terlalu menyukai Fika yang dulu lebih terlihat seperti laki-laki dari pada perempuan.


Di tambah dengan ia seorang atlet lari cepat juga jadi ia benar-benar di sibukkan dengan kuliah dan latihannya.


Ia benar-benar baru menyadari jika kehilangan banyak momen ketika ia sekolah dan kuliah. Rasanya ada sedikit penyesalan di hatinya karena dulu tidak benar-benar menikmati masa mudanya.


Bahkan ketika mulai bekerja pun sekarang ia baru bisa menikmati waktu untuk berpacaran setelah 3 tahun.


Ia pun kembali memikirkan pertemuan pertamanya dengan Akmal di pesta pernikahan Nayla hingga akhirnya mereka bisa bersama.


Setelah berjalan-jalan mengelilingi taman tersebut ia pun memutuskan untuk duduk di depan danau buatan yang ada di taman tersebut.


Rasanya ia begitu lelah dengan semua masalah yang datang akhir-akhir ini. Ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.


Pandangannya kosong menatap air yang tenang. Fika takut untuk membuat keputusan yang suatu hari nanti akan ia sesali.


Ia tidak terlalu memikirkan apa yang mungkin akan ayah Rendra lakukan padanya, tapi bagaimana jika keluarganya mendapatkan akibat dari keegoisannya.


Ia tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki dan ketika itu pertama kali terjadi dan dengan niat untuk sesuatu hubungan yang serius, entah kenapa hal itu harus berakhir dengan cepat.


Sebagian dari hatinya merasa tidak rela untuk melepaskan laki-laki yang ia cintai namun sebagian lainnya merasa takut akan menyakiti orang-orang yang ia sayangi.


Dering ponselnya memecah lamunannya yang telah melambung jauh, dan ketika ia melihat siapa yang menelponnya hatinya mendadak merasakan sesak dan sakit secara bersamaan.

__ADS_1


"Assalamualaikum bunda." sapa Fika seceria mungkin untuk tidak membuat bunda Rania curiga.


"Waalaikum salam, Fika gimana kabar kamu sayang?" tanya bunda lembut.


"Alhamdulillah bunda, Fika baik-baik saja. Bunda sendiri apa kabar?" tanya Fika balik.


"Alhamdulillah nak, bunda juga baik. Sekarang bunda, Akmal dan bang Akhtar sedang di Bandung." jelas bunda.


"Fika, bunda sudah tahu semuanya. Sekarang hubungan kamu dan anak bunda sedang kurang baik. Bu da benar-benar minta maaf untuk semua hal yang ayah Rendra katakan sama kamu sayang. Percayalah, mengenai perjodohan itu bunda juga tidak akan membiarkannya begitu saja." lanjut bunda menjelaskan situasinya dan meminta maaf.


"Bunda, bunda gak perlu minta maaf sama Fika karena ini semua gak ada salah bunda sama sekali. Dan Fika juga sadar siapa Fika dan siapa anak bunda. Fika bisa mengerti kenapa om Rendra mau jodohin Akmal dengan perempuan lain yang lebih pantas. Dan Fika mohon sama bunda, tolong dukung apapun yang nanti akan jadi keputusan aku." jelas Fika dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Mungkin Fika tidak berjodoh dengan anak bunda. Tapi Fika harap suatu hari nanti kita masih bisa bertemu dan berhubungan baik." sambungnya lagi dengan menahan sesak di dadanya.


"Fika, nak kenapa kamu bicara seperti itu? Apa kamu sudah tidak mencintai anak bunda? Akmal pasti akan sangat hancur jika kamu meninggalkannya sekarang." tanya bunda sambil terisak pelan.


"Bunda, bunda pasti tahu kalau aku sangat mencintai anak bunda begitu juga dengan bunda. Fika sayang sekali dengan bunda, tapi terkadang gak semua hal yang kita inginkan akan berjalan seperti yang kita harapkan. Fika harap bunda bisa mengerti, ini sudah menjadi keputusan Fika." ucap Fika sambil menghapus air matanya yang meluncur perlahan di pipinya.


"Kenapa harus berakhir seperti ini nak? Apa yang harus bunda katakan pada Akmal nak. Dia sangat mencintai kamu sayang." ucap bunda mengiba


"Bunda mohon nak, pertimbangkan sekali lagi tentang hubungan kalian." sambungnya lagi mencoba membujuk Fika.


"Maafin Fika bunda, maaf." ucap Fika langsung menutup teleponnya tanpa ingin mendengar jawaban dari seberang sana.


Tangisnya langsung pecah, rasanya hatinya benar-benar terasa sangat sesak dan sakit.


Ia menangis sejadi-jadinya mencoba untuk menumpahkan segala perasaannya yang sedang campur aduk.


Sementara bunda terus memanggil-manggil nama Fika. Namun panggilan telepon ternyata sudah di matikanya. Bunda pun mencoba menelpon kembali nomor Fika namun ternyata sudah di non aktifkan.

__ADS_1


__ADS_2