My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Sang Ketua OSIS


__ADS_3

Hari itu aku merasa benar-benar sakit hati mendengar hinaan demi hinaan yang keluar dari mulut ayah Akmal.


Kedatangannya ke kantorku adalah untuk memenuhi undangan meeting dari direktur utama perusahaan ku.


Sebelumnya aku memang mengetahui jika perusahaan beliau sudah lama menjalin kerjasama dengan perusahaan tempatku bekerja.


Setelah kejadian tersebut aku mengunci rapat-rapat mulutku dan tak menceritakan apapun pada rekan-rekan ku yang kebingungan melihat aku yang seperti itu.


Aku hanya mengatakan jika aku sedang tidak enak badan dan akan pulang lebih dulu. Aku juga tidak mengabari Akmal tentang kejadian tersebut.


Setelah membereskan semua barang-barangku aku pun meminta ijin ke pak Aksa jika aku akan pulang lebih awal tapi sebelumnya aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan yang harus ku serahkan hari ini.


Pak Aksa sempat menawarkan untuk mengantar ku pulang tapi aku langsung menolaknya. Aku sungguh tidak mengerti apa yang ia pikirkan saat ini dengan sikapnya yang seperti itu padaku.


Setelah itu aku meninggalkan kantor menggunakan taksi yang sudah aku pesan sebelumnya


Aku tidak langsung pulang ke rumah dan memilih untuk pergi ke sebuah danau yang terletak di pinggiran kota.


Jika aku langsung pulang ke rumah, pasti Akmal akan segera menemui ku karena tak bisa menghubunginya.


Bukankah kekanakan sekali? tapi bagaimana pun saat ini aku belum siap untuk bertemu dengannya.


Entah apa yang harus aku katakan di hadapannya. Aku hanya ingin menenangkan pikiranku dulu untuk beberapa saat.


Aku ingin menghirup udara segar dan melihat air yang tenang.


Kurang dari 1,5 jam perjalanan akhirnya aku sampai di tempat yang ku tuju. Ini adalah spot terfavorit ku dan Nayla sejak sekolah dulu.


Tempat yang penuh kenangan kami berdua untuk menghilangkan penat dan juga ketika kami benar-benar di hadapkan masalah yang berat.


"kangen, nay. Lo apa kabar disana sekarang?" gumamku pelan lalu menghembuskan nafas kasar


Aku memilih untuk duduk di sebuah kursi panjang yang berada di pinggir danau.


Selama 1 jam lebih, aku hanya duduk disana sambil memandang airl danau yang tenang. Hari sudah mulai gelap seperti akan turun hujan.


Ku lihat jam tanganku sudah menunjukan pukul 4.30 sore . Akmal pasti sudah sampai di kantor untuk menjemput ku .


Ku lihati ponsel yang sejak siang tadi ku non aktifkan, sejenak aku berpikir untuk menghubunginya namun suara ayahnya yang terus terngiang di telingaku membuat niatku urung.


Aku tidak bisa menghubunginya seperti ini sekarang. Lagipula apa yang akan aku katakan padanya jika dia bertanya kenapa aku pulang sejak siang tadi dan tidak mengabarinya.


"Aaarrgghh!" teriakku meluapkan semua rasa yang bercampur mengendap di hatiku saat ini


"kau mendadak gila ya?"tanya seorang pria yang tengah bersandar pada pohon sambil melipat kedua tangannya di dada


Ketika aku melihat wajahnya aku pun terkejut melihat siapa yang sedang berdiri di bawah pohon yang ada di belakang ku itu.


Laki-laki paling menyebalkan di bumi, ia memaksa kemeja putih, celana hitam khas karyawan kantor bagian tangannya di lipat sampai batas siku.

__ADS_1


"ngapain lo disini?" tanya ku jutek


"Ini kan tempat umum, bebas dong gue mau kesini juga." ucapnya santai sambil melangkahkan kakinya menghampiri ku


Sungguh aku sangat tidak ingin melihat wajah siapapun saat ini. Tapi tiba-tiba saja manusia 1 ini entah ia datang dari mana dan ada disini .


"Terserah lo, gue lagi males ngomong sama lo. Kalau lo mau disini silahkan cari tempat duduk yang lain jauh-jauh dari gue." ucapku ketus tanpa menoleh padanya sedikitpun


"Gak ah, gue takut nanti gue tinggal lo malah bunuh diri lagi." ujarnya dengan nada mengejek


"Ih, sumpah ya mas lo tuh super nyebelin banget sekarang. Kenapa mulut lo yang biasanya mingkem ini malah bawel kayak burung beo sekarang?" seruku kesal tak lagi bisa menahan emosiku


"Gue khawatir sama lo. Kenapa lo gak langsung pulang? katanya sakit? kenapa malah jauh-jauh kesini." ucapnya melembut


Ucapannya benar-benar terdiam tak bisa menjawab 1 pun pertanyaan yang Radit berikan.


"Fika, kalau ada masalah hadapi jangan lari. Kamu sangat tidak cocok dengan itu. " ucapnya membuatku mengernyit bingung


"maksud mas Radit apa?" tanyaku


"Kamu tuh bukan tipe cewek melankolis yang sering galau-galau dan gampang sedih karena suatu masalah. kamu gak pernah terlihat lemah di depan siapapun selama ini. Dan kamu bukan tipikal perempuan yang mudah menyerah. ngeliat kamu kayak gini, gak kaya Afika Sasi Kirana yang aku kenal." jelasnya dengan penuh kelembutan


deg,


"dih, si gunung es ini kenapa bisa ngomong lembut kayak gini ke gue. justru gue sekarang yang gak kenal sama lo mas. Lo berubah banget sekarang" batinku


"Apa?" jawabku


"Kita 1 SMA dulu." ucapnya tersenyum tipis


"apa? kita? gak mungkin mas. jangan ngarang deh." ucapku tidak percaya


"SMAN 5 Jakarta." ucapnya sambil berdiri memunggungiku


"Kamu dulu tomboy banget, kamu atlet lari dan basket. kamu gak punya temen deket lain selain Nayla." jelasnya lagi membuatku berjengit kaget


"kok mas Radit bisa tahu?" tanyaku penasaran


"Karena kita memang 1 sekolah dulu. gak percaya banget sih ." ucapnya sedikit kesal


"Tapi kok aku gak kenal mas Radit." tanyaku


"Sekarang aku tanya, selain Nayla apa ada siswa lain yang kamu kenal dan ingat?" tanyanya menuduh


"iya sih, aku dulu cuma sibuk latihan buat tanding dan belajar. Gak punya waktu buat bergaul atau main sama yang lain." ucapku tertunduk lesu


"Tapi kan mas Radit lebih tua dari aku? pasti Kita gak 1 angkatan?" tanya ku


"ah, ya tuhan. Kamu ingat siapa ketua OSIS?" tanyanya gemas

__ADS_1


Aku hanya menggeleng tanda tidak tahu.


"Astaga!" Radit mengehela nafas menahan kesal


Ia pun segera mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Itu adalah selembar foto seorang anak laki-laki mengenakan seragam SMA bersama Nayla sahabatnya.


"Loh kok mas Radit punya foto Nayla sama cowok itu."aku pun tersentak kaget melihat foto tersebut


"Ya, kamu tahu siapa yang di sebelah Nayla? tanya Radit pelan


"Nayla tidak punya mantan pacar seperti itu, siapa ya wajahnya tidak asing." ucapku sambil berpikir


Ku lihati secara seksama foto anak laki-laki berseragam SMA itu, lalu ku lirik wajah Radit. Sekilas wajah mereka terlihat mirip tapi ku tepis semua pikiran itu.


Tidak mungkin itu Radit. Di foto, laki-laki itu tampak memakai kacamata dan penampilannya sangat cupu.


Sedangkan si Radit sangat tampan dan stylish. Sesaat aku tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalaku menepis semua pemikiran konyol tersebut.


"Itu ketua OSIS Fika, kakak kelas kamu." ucap Radit gemas


"oh ketua OSIS, pantas bisa foto sama Nayla. secara Nayla kan wakil ketua OSIS nya." ucap ku sambil terkekeh pelan


"Kamu tahu siapa namanya?" tanya Radit lagi


"Tahu lah, Nayla sering banget ngomongin dia jadi aku hafal kalau nama dia." jawabku santai


"Siapa?" tanyanya lagi


"Adit, namanya kak Adit." jawabku yakin


"Lalu siapa namaku?" tanyanya tersenyum penuh arti


"Raditya Mahendra ." jawabku polos


"Jadi kamu sudah mengerti kan?"ucapnya sambil menatap kedua mataku dengan lekat


"Maksudnya gima.." ucapku menggantung


"Ahh, gak mungkin mas Radit mau bilang mas Radit itu Adit ketua OSIS aku dulu di sekolah? Jangan bercanda deh mas?" tanyaku sambil tertawa garing


Sedangkan Radit hanya diam sambil bersidekap tangannya di dada sambil terus memandang ku.


"Lihat aku baik-baik Fika." ucapnya datar


Sesaat aku terdiam dan begitu aku menyadarinya, aku pun bersorak heboh sambil membolak-balikan tubuh Radit ke samping kanan dan kiri.


"Kenapa mas Radit baru bilaaaang?" rengekku menahan kesal sementara ia tertawa puas terbahak-bahak


"sial !" batinku

__ADS_1


__ADS_2