
Hari ini adalah hari dimana aku sudah bisa meninggalkan rumah sakit. Sudah lebih 2 minggu sejak aku menjalani operasi untuk tanganku yang patah.
Aku bersyukur semua berjalan dengan lancar. Sekarang aku sudah baik-baik saja walaupun masih harus melakukan rawat jalan untuk memastikan operasi sukses dan tanganku bisa di gunakan dengan baik.
Mas Radit sudah lebih dulu meninggalkan rumah sakit namun tetap saja setiap hari ia datang ke rumah sakit untuk menemui ku.
"Yah, bisa gak kita langsung pulang ke Surabaya ?" tanyaku menghentikan kegiatan ayah mengemasi barang-barang ku.
Bruukk,
Terdengar bunyi sesuatu yang jatuh membuatku dan ayah sontak melihat ke arah sumber suara.
Disana sudah berdiri mas Radit mematung di depan pintu yang telah terbuka. Terlihat sekotak makanan terjatuh berserakan di lantai.
Ia pun langsung tersenyum dengan lembut ke arah ku dan ayah yang tengah menatapnya heran. Lalu setelahnya ia meminta seorang perawat untuk memanggil cleaning servis untuk membersihkan makanan yang jatuh tersebut.
Kemudian ia pun masuk menghampiri aku dan ayah yang tengah berkemas. Tanganku masih menggunakan penyangga dan selama beberapa minggu ini tidak boleh di gunakan terlebih dahulu.
Jadi aku hanya bisa melihati ayahku membereskan semua barang-barang kami tanpa bisa membantunya.
"Om kira kamu gak kesini lagi dit hari ini?" tanya ayah kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
"Ah, Fika kan keluar hari ini om. Masa aku gak dateng sih." jawabnya sedikit tertawa hambar.
"Fika, ayah mau ketemu dokter kamu dulu. Dit, om titip Fika sebentar ya." ucap ayah pamit .
"Siap om." jawab Radit tersenyum.
Aku pun hanya bisa tersenyum pasrah mendengar apa yang ayah katakan. Aku tahu yang sebenarnya adalah ayah ingin aku dan Radit bisa berbicara dengan nyaman ketika ia keluar.
__ADS_1
Aku pun mengajak mas Radit untuk duduk di sofa setelah mengambilkan sekaleng minuman dingin yang ada di kulkas.
"Minum mas." tawar ku berbasa-basi.
Mas Radit hanya tersenyum tipis masih menundukkan kepalanya tidak menatapku sekejap pun. Ia bersikap tidak seperti biasanya dan aku pun tahu apa penyebabnya.
Tentu saja ia pasti mendengar apa yang aku katakan pada ayah tentang keinginan ku untuk segera kembali ke Surabaya. Itulah sebabnya ia sedikit terkejut dan menjatuhkan makanan yang ia bawa.
Karena selama ini aku tidak pernah membahas tentang keinginan ku untuk segera pulang di depannya.
"Apa kamu ingin secepatnya pulang ke Surabaya?" tanyanya memulai pembicaraan.
"Em, tentu saja mas. Aku sudah memulai hidupku di kota itu. Keluarga dan bisnis aku ada disana. Tentu aku harus pulang secepatnya." jawabku membuat raut kesedihan diwajahnya semakin terlihat.
"Apa kamu tidak bisa tinggal untuk sebentar saja? Selama beberapa hari sebelum dokter memastikan kamu benar-benar sudah pulih dan bisa kembali ke Surabaya?" tanyanya dengan sedikit ragu.
Ku tarik lembut salah satu tangannya untuk ku genggam membuat ia seketika menatap wajahku yang masih tersenyum menunggunya melihat ke arahku sejak tadi.
"Makasih mas Radit, aku benar-benar terimakasih karena dari awal mas Radit yang udah nolongin aku bawa aku ke rumah sakit walaupun mas juga terluka. Dan aku juga mau ngucapin terimakasih karena mas Radit udah bantu semua biaya pengobatan aku di rumah sakit ini." ucapku dengan tulus membuatnya tersenyum tipis dengan raut wajah yang sedih.
"Aku akan menganggap ini sebagai hutang. Aku juga udah minta ayah minta semua rincian biaya rumah sakit ini selama aku di rawat disini sampai biaya operasi ku. Aku harap mas Radit tidak keberatan jika suatu hari nanti aku membayar semuanya." jelasku membuat seketika raut wajahnya berubah sedikit kesal.
"Baiklah terserah kamu. Kamu akan pulang sekarang kan? Ya sudah, nanti asisten aku yang bakal anter kamu dan ayah ke airport. Aku pamit dulu, hati-hati di jalan." ucapnya melepaskan tanganku yang masih menggenggam nya dan beranjak pergi.
"Kamu gak bisa nganterin aku mas?" tanyaku mencoba mencegahnya pergi.
"Maaf, aku sibuk." ucapnya berjalan menuju pintu.
"Kamu yakin mas beneran sibuk?" tanyaku lagi membuat langkahnya kembali terhenti.
__ADS_1
Kemudian ia pun sempat terdiam tanpa menjawab ku kembali melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruang rawat ku selama 2 minggu ini.
"Kamu yakin kamu gak akan menyesal?" tanyaku lagi mencoba menghentikannya.
"Tidak akan pernah." jawabnya lagi dengan suara datarnya.
Ia terlihat seperti Radit si manusia es yang aku kenal. Entah kenapa, walaupun terlihat dingin, aku sedikit lebih menyukai sikapnya yang dulu.
Radit yang dulu yang senang mengajak ku memperdebatkan segala hal kecil untuk menjadi besar. Manusia es paling menyebalkan yang sering membuatku kesal setengah mati.
Begitulah aku mengenalnya sebagai seseorang. Sikap dan sifatnya yang dingin dan begitu acuh menjadi hal yang paling aku ingat melekat dalam kenangan ku tentangnya.
"Aku enggak akan ke Jakarta lagi mas." ucapku berhasil membuatnya menghentikan gerak tangannya yang sedang memegang gagang pintu hendak membukanya.
Aku pun mengambil langkah untuk mendekatinya yang masih berdiri mematung menatap ke arah pintu yang masih tertutup.
"Aku masih butuh waktu mas. Aku tidak ingin memulai hubungan kita hanya karena keterpaksaan atau pun kepura-puraan. Apa kamu gak bisa menunggu aku sedikit lebih lama lagi?" tanyaku ketika aku sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Aku tahu bagaimana perasaan mas Radit sama aku, aku bukan tak pernah menyadarinya selama ini. Jika saja aku bisa melupakannya dengan mudah sejak dulu, aku akan lebih memilih mas Radit untuk berada di sisiku. Tapi aku gak mau ngebohongin perasaan aku sendiri mas, kalau setengah hati aku masih merindukan orang lain. Aku akan mencoba memberikan mas Radit kesempatan untuk hubungan kita, tapi aku masih butuh sedikit waktu." ujar ku panjang lebar membuatnya tiba-tiba berbalik dan memelukku dengan erat.
Dekapannya begitu hangat di tubuhku. Dengan posisi sedekat ini, aku bisa mendengar detak jantungnya yang begitu cepat.
Dari semua hal yang selama ini ia lakukan untuk ku, aku pun sadar jika ia benar-benar tulus. Tidak ada kepura-puraan bahkan keraguan dalam semua hal yang ia lakukan.
"Terimakasih, terimakasih, aku benar-benar terimakasih sama kamu karena kamu mau kasih aku 1 kesempatan untuk hubungan kita. Aku akan beri kamu waktu sebanyak yang kamu mau, asalkan kamu bisa mempertimbangkan aku untuk selalu berada di sisi kamu." ucapnya dengan suara yang begitu bahagia dan penuh kelegaan.
"Iyaa, mas. Tapi bisa lepasin aku enggak? Tangan aku masih sakit." ucapku membuat tubuhnya seketika menjadi kaku sebelum akhirnya ia menjauhkan tubuhnya dariku.
"Maaf, maaf. Aku gak bermaksud. Aku benar-benar lupa kalau tangan kamu masih belum pulih." ucapnya dengan penuh rasa bersalah namun di mataku begitu menggemaskan.
__ADS_1