
Keesokan harinya, Fika terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Kepalanya terasa benar-benar berat dan pusing. Setelah ia mencoba untuk membuka matanya dengan benar, yang pertama ia lihat adalah ibu dan ayahnya.
Fika pun melepaskan alat bantu pernapasan yang berada di hidungnya pelan dan mencoba memanggil orangtua dan adiknya yang tampak duduk mengobrol bersama di sofa.
"Bu, ayah." panggil Fika dengan suara hampir terdengar seperti bisikkan.
Icha pun menoleh ke arah kakaknya tersebut merasa mendengar ada suara. Barangkali kakaknya sudah siuman, dan benar saja kedua mata Fika yang terpejam sejak semalam sudah terbuka lebar.
"Ayah, ibu, mbak Fika sudah sadar." ucap Icha memberitahukan kedua orangtuanya sambil menunjuk ke arah ranjang.
Mereka bertiga segera berhambur menghampiri Bed pasien dimana Fika tengah terbaring lemah. Ayah pun segera menekan tombol nurse call memanggil perawat dan dokter untuk memeriksa keadaan putrinya.
"Sayang, kamu sudah bangun nak. ibu dan ayah sangat menghawatirkan keadaan kamu." ucap ibu dengan sedikit terisak.
Ibu mana yang tidak merasa sakit melihat putrinya terbaring di ranjang rumah sakit seperti itu.
Ayah pun membelai rambut Fika dengan lembut, walaupun tidak berkata apa-apa tapi Fika jelas melihat kekhawatiran dan kesedihan di wajah ayahnya itu.
"Syukurlah mbak udah sadar, kita semua benar-benar khawatir sama mbak." timpal Icha dengan airmata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Tak lama kemudian datang seorang dokter wanita berhijab bersama 2 orang perawat untuk memeriksa keadaannya.
Ayah, ibu dan adik Fika sedikit menjauh dari bed pasien dan membiarkan dokter untuk memeriksa dan memastikan keadaan Fika yang baru saja tersadar setelah tidur semalaman.
"Maaf ibu, bapak bisa kita bicara sebentar diluar." ucap dokter setelah selesai memeriksa Fika.
"Baik dok, sebentar." jawab ayah sambil memanggil ibu yang tengah berdiri di samping bed Fika.
"Bu, ayo kita keluar sebentar. Icha, jagain mbak mu ya." pesan ayah.
Ibu dan ayah pun keluar mengikuti dokter yang memeriksa Fika tadi.
__ADS_1
"Sebaiknya kita bicara di ruangan saya. Mari pak, bu." ucap dokter mempersilahkan.
Setelah berada di ruangannya, dokter yang menangani Fika itu pun mempersilahkan ayah dan ibu duduk
"Sebelumnya saya ingin memberitahukan jika kondisi pasien alhamdulillah sekarang sudah baik-baik saja dan tidak perlu di khawatirkan lagi. Akan tetapi, kita harus melakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk pasien ini. Kepalanya terbentur sangat keras sehingga menyebabkan pasien mengalami gegar otak ringan. Dan kemungkinan ada patah tulang ataupun keretakan di tangan sebelah kanannya, kita harus melakukan CT scan untuk memastikannya." jelas dokter panjang lebar.
"Lakukan apa saja dok, yang terbaik untuk kesembuhan putri saya." jawab ayah dengan penuh harap.
"Baiklah pak, sebelumnya saya hanya ingin menginformasikan jika hasilnya nanti ternyata ada patah tulang di area lengan, pasien harus menjalani operasi patah tulang."jelas dokter lagi.
"Baiklah dok, lakukan apapun yang terbaik untuk putri kami. Insyaallah kami akan menerima dan mengijinkan selama itu bisa menyembuhkan putri kami seperti semula." ucap ayah dengan yakin.
Mereka pun keluar dari ruangan dokter dan kembali ke kamar putrinya setelah selesai berdiskusi mengenai kondisi Fika.
Begitu ayah dan ibu memasuki ruangan Fika, terlihat Icha sedang membantu Fika untuk minum. Mereka berdua pun segera menghampiri Bed Fika dan menyapanya.
"Sayang, bagaimana kondisi kamu sekarang? Apa terasa sangat sakit nak?" tanya ibu sambil membelai pipi Fika dengan lembut.
"Radit baik-baik saja sayang, kamu tidak perlu khawatir. Lebih baik, kamu banyak istirahat agar cepat pulih." jawab ibu mencoba menutupi keadaan Radit yang sebenarnya.
Fika merasa sedikit janggal dengan jawaban sang ibu yang terkesan menghindari dari pertanyaan mengenai hal tersebut.
Ia pun memandang satu persatu keluarga yang paling ia sayangi tersebut mencari kebohongan disana. Melihat raut wajah sang ayah Fika menjadi lebih tidak tenang
"Ayah, ibu tolong bawa Fika menemui Radit. Fika pengen lihat dan mastiin sendiri kalau mas Radit memang gak apa-apa."Fika pun memohon dengan wajah memelas membuat kedua orangtuanya semakin bimbang.
Bagaimanapun keadaan putri mereka saat ini, benar-benar membuat mereka khawatir. Ayah dan ibu pun berusaha memberikan pengertian untuk Fika agar tidak kemana-mana.
Sebelum dokter memastikan kalau dia benar-benar sudah bisa turun dari bed pasiennya tersebut.
"Sayang, dengarkan ayah nak. Dokter bilang keadaan kamu saat ini belum memungkinkan untuk bisa keluar dari ruangan ini. Tubuh kamu masih sangat butuh istirahat. Ayah janji, jika dokter sudah memberikan izin untuk kamu keluar, ayah sendiri yang akan mengantarkan kamu pada Radit." jelas ayah Fika dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Benar nak, ibu dan ayah bukan ingin melarang kamu menemui Radit. Untuk saat ini kamu dan Radit sama-sama butuh waktu untuk berisitirahat." timpal ibu meyakinkan.
Fika yang mendengar nasihat dari kedua orangtuanya, hanya bisa mendesah pelan dan mencoba untuk menurutinya.
Walaupun dalam hatinya, ia sungguh-sungguh merasa khawatir dan gelisah memikirkan keadaan Radit. Ia takut kalau Radit sedang tidak baik-baik saja.
"Tapi benar kan yah, bu kalau mas Radit baik-baik aja? Dia gak terluka parah kan? Ayah dan ibu gak bohong kan sama aku?" tanya Fika sekali lagi.
Ibu dan ayah hanya bisa saling memandang sampai akhirnya mengangguk kecil seraya tersenyum membelai wajah putrinya itu.
Mereka benar-benar merasa sangat bersalah karena telah membohongi Fika, namun mereka juga tidak mungkin memberi tahukan yang sesungguhnya.
Karena mereka takut jika kondisi Fika akan menurun setelah mengetahui keadaan Radit pasca menjalani operasi.
***
Setelah pingsan di ruangan Fika, ayah dan Sandy langsung membawa Radit ke IGD untuk mendapatkan pertolongan.
Kondisi Radit tiba-tiba menurun, dan sejak semalam ia sudah tak sadarkan diri dan sempat mengalami serangan jantung.
Dokter menjelaskan jika Radit mengalami trauma dada akibat benturan keras ketika mereka kecelakaan. Tampak luar Radit terlihat hanya mengalami luka ringan.
Karena itu, ia tidak mempedulikan dirinya dan hanya fokus pada Fika. Tapi ternyata tanpa dia sadari, ia sendirilah yang mengalami luka yang paling parah.
Ada pendarahan terjadi di organ dalam Radit karena robeknya salah satu pembuluh darah besar. Operasi di lakukan setelah kedua orangtua Radit datang untuk menandatangani surat persetujuan.
Papa dan mama Radit benar-benar merasa cemas melihat kondisi putranya yang ternyata sampai terluka parah dan mengalami koma.
Tuan Mahendra sudah berjanji pada dirinya sendiri, setelah keadaan Radit membaik ia akan membuat perhitungan dengan sahabatnya itu.
Randi tidak akan pernah memaafkan Rendra jika ia sampai harus kehilangan putranya karena ulah licik Rendra.
__ADS_1
Ia akan memberikan pembalasan yang setimpal untuknya bahkan lebih dari pada apa yang telah Rendra lakukan padanya.