My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Suami dan istri


__ADS_3

Sore hari kami semua sampai di rumah orangtuaku. Setelah akad nikah kami berencana untuk tinggal di rumah orangtuaku lebih dulu selama 2 hari.


Baru setelah itu mas Radit akan membawaku ke Jakarta karena 3 hari kemudian pesta akan di laksanakan disana.


Sebelum pulang ke rumah kami sudah berpamitan terlebih dahulu dengan keluarga mas Radit. Karena mereka akan segera kembali ke Jakarta hari itu juga.


Mereka harus melakukan persiapan untuk pesta pernikahan kami. Apalagi 2 hari sebelum pesta semua keluarga besar mereka akan datang ke rumah utama.


Sesampainya di rumah aku bergegas untuk pergi ke kamar karena tubuhku sudah merasa kegerahan dan juga sedikit kelelahan.


"Alhamdulillah ya ayah, semuanya sudah selesai sekarang." ucap ibuku


"Iyah Bu, ayah juga sangat lega setelah putri sulung kita menikah. Dan sebentar lagi putri kecil kita yang satu ini akan segera menyusulnya." ujar ayah menggoda Icha .


"Ih ayah, apaan sih? Belum juga sehari mbak Fika menikah, ayah belum dapet cucu tuh." jawab Icha yang memancing gelak tawa semua orang.


"Ih dek, kamu tuh apaan sih." ujar ku merasa sangat malu.


"Ciiee, malu ya." ujar Icha kembali menggoda ku sementara mas Radit hanya bis tersenyum tak berani berkomentar sejak tadi.


"Icha ih, udah ah mbak gerah pengen cepet bersih-bersih. Ayah, ibu Fika ke kamar dulu ya." pamit ku menghindari lebih banyak candaan yang akan keluarga ku lontarkan.


"Loh, nak tunggu dong." ucap ayah menghentikan langkah ku.


"Apalagi yah? Aku capek, pengen istirahat." jawabku sedikit merajuk menahan kesal.


"Suami kamu ajak, masa mau kamu tinggal." ucap ibu mengingatkan aku.


Sontak saja aku teringat jika kini aku sudah menikah dengan mas Radit dan dia sudah menjadi suamiku. Ku lihat wajahnya yang hanya tersenyum menahan tawa melirikku.


"Mas, ayo." ajak ku sedikit malu-malu.


"Iya."


"Ayah, ibu, semuanya saya pamit ke kamar dulu." ujar mas Radit dengan sopan.


Mas Radit berjalan beberapa langkah di belakang ku. Awalnya, aku merasa begitu lelah dan hanya ingin segera mandi dan berendam untuk mengistirahatkan tubuh ku.


Rasa lelah membuatku sesaat terlupa, jika kini aku tidak lagi sendiri. Akan ada mas Radit yang selalu bersamaku.


Degup jantung ku semakin tak beraturan begitu ku lihati pintu kamarku yang mulai terlihat. Ku buka pintu kamar perlahan dan melangkah masuk ke dalamnya.


"Masuk, mas." ajak ku mempersilahkannya masuk.


Sesaat aku sedikit terkejut melihat tampilan kamarku yang kini sudah benar-benar berubah. Bukan hanya desainnya, barang-barangnya pun sudah berubah.


Sepertinya inilah yang ayah katakan kemarin sebagai hadiah kecil. Sejak 2 hari lalu, Icha memintaku untuk tidur di kamarnya karena beralasan kami tidak akan bisa seperti itu lagi setelah aku menikah.


Tapi ternyata mereka merencanakan kejutan manis ini. Aku merasa terharu, dan sepertinya aku akan lebih sering merindukan mereka ketika nanti aku tinggal di Jakarta.


"Kamu kenapa?" tanya mas Radit membuatku menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Gak apa-apa mas, aku cuma lagi mikir aja. Nanti kalau kita di Jakarta, aku pasti bakal kangen banget sama keluarga ku." ucapku jujur.


"Sayang, dengerin aku. Lihat sini." ujar mas Radit menarik tubuhku agar kami saling berhadapan.


"Kita akan sering mengunjungi ayah dan ibu disini. Dan jika nanti ada sesuatu hal yang membuat kita tidak bisa datang, maka aku akan meminta seseorang untuk menjemput ayah dan ibu kapan pun kamu pengen ketemu mereka." ujar mas Radit terdengar begitu sungguh-sungguh.


"Makasih mas, kamu selalu berusaha untuk ngertiin aku." ucapku.


"Kamu adalah sumber kebahagiaanku, ketika kamu bahagia maka aku pun akan bahagia." ucap mas Radit begitu menyentuh hatiku.


Ku tatap dalam matanya yang hanya di penuhi kehangatan dan kasih sayang itu, bentuk mata yang tajam dengan iris berwarna hitam pekat.


Ku rasakan lembut tangannya menyentuh kedua sisi wajahku, hingga membuat jantung ku tak bisa berhenti berdetak begitu kencangnya.


Saat jarak di antara wajah kami semakin menipis aku pun langsung menundukkan pandanganku untuk menstabilkan debaran jantungku yang sudah berdetak tak karuan.


"Mas, aku gerah banget kayaknya mau mandi dulu. Kamu istirahat dulu aja, kalau bosan nyalain aja tv-nya." ucapku sembari menjauh darinya berjalan menuju meja rias untuk membersihkan make up di wajahku.


Dengan cepat aku mengambil langkah untuk menghindarinya. Walaupun aku tahu aku tidak akan bisa terus menghindarinya untuk waktu yang lama.


Tapi saat ini rasanya masih terlalu cepat, aku masih membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan hubungan kami yang baru ini.


Aku harap mas Radit tidak akan marah dan tersinggung dengan sikapku ini. Dari cermin aku bisa melihatnya berjalan menuju tempat tidur.


Sambil menghapus make up di wajahku, aku terus memperhatikannya dari cermin. Aku ingin tahu apakah ia marah dengan sikapku tadi atau tidak.


Ku lihat ia sudah melepas jas dan dasinya. Ia juga membuka beberapa kancing atasnya dan menggulung lengan kemejanya sebelum menghidupkan televisi yang ada di kamarku.


"Ya Allah bagaimana ini, apa mas Radit marah dengan sikapku tadi kenapa ia tampak dingin dan acuh seperti dulu?" batinku sedikit merasa bersalah.


Aku berjalan menuju sebuah lemari kayu besar yang masih tampak baru. Ku ambil sebuah kimono handuk disana, kemudian aku berjalan menuju kamar mandi.


Aku memutuskan untuk berendam air hangat selama 15 menit agar tubuhku menjadi sedikit lebih rileks. Beberapa saat aku mencoba untuk tidak memikirkan hal apapun.


Aku pun memejamkan mataku sejenak menikmati kegiatan yang paling aku sukai ketika akan membersihkan tubuhku itu .


Namun diluar dugaan, aku tertidur selama lebih dari setengah jam. Aku terbangun ketika ku dengar suara mas Radit memanggil namaku sambil mengetuk-ngetuk pintu.


"Ya ampun, aku ketiduran." gumam ku .


"Fika, sayang kamu gak apa-apa? Jawab aku?" teriak mas Radit dari balik pintu.


"Aku gak apa-apa mas, sebentar lagi aku keluar." ucapku sedikit berteriak agar terdengar olehnya.


"Ya udah cepetan keluar ya, aku khawatir dari tadi sama kamu." ucapnya.


Aku pun bergegas membersihkan diriku, setelah selesai ku pakai sebuah kimono handuk yang aku bawa. Sebelum keluar aku berusaha untuk menetralisir kegugupanku dengan mengambil nafas cukup panjang kalau menghembuskannya dengan perlahan.


Ceklek, pintu terbuka.


Mas Radit langsung menghampiri ku begitu aku keluar dari kamar mandi. Wajahnya tampak penuh kekhawatiran sekaligus kelegaan setelah melihatku baik-baik saja.

__ADS_1


"Kamu beneran gak apa-apa?" tanyanya sambil memastikan kondisi tubuhku.


"Gak apa-apa mas, aku baik-baik aja kok. Aku tadi cuma ketiduran di dalem, pas lagi berendam. Maaf udah bikin kamu khawatir." ucapku tulus.


"Gak apa-apa, sayang. Aku justru seneng banget lihat kamu baik-baik aja sekarang." ucapnya sembari membawaku duduk di atas tempat tidur.


Mendengarnya yang begitu mengkhawatirkan ku hatiku manjadi sedikit melunak. Ku beranikan diriku untuk memeluknya, ia pun langsung membalasnya dengan begitu erat.


Rasanya benar-benar hangat dan nyaman berada di pelukan seseorang yang mencintai kita dengan tulus.


"Maaf ya mas, karena sikap aku tadi." ucapku setelah kami terdiam tanpa bersuara.


"Gak apa-apa, aku ngerti kok. Kita bisa memulai semuanya dengan perlahan. Aku tidak akan memaksa kamu sampai kamu benar-benar siap untuk menjadi istri aku. Aku akan menunggu sampai kamu bisa membuka hati kamu untuk aku." ujarnya membuat hatiku semakin lega.


Aku beruntung memilikinya sebagai suamiku.


"Em, tapi kalau kamu terus-terusan meluk aku kayak gini sih aku bisa khilaf sayang." ucapnya membuatku seketika melepaskan pelukan ku dari tubuhnya.


Mas Radit pun langsung tergelak menertawakan ku yang terlihat ketakutan.


"Mas Radit?" rengek ku yang hanya di tertawakan olehnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Halo readers. Sebelumnya author mau mengucapkan terimakasih atas dukungannya selama ini dengan tetap setia membaca karya author. Awalnya sih sebenarnya mau bikin novel ini jadi beberapa season, tapi karena makin kesini yg like komen, dan baca semakin sedikit author memutuskan untuk menamatkan novel ini lebih cepat. Mohon maaf jika, ada beberapa bab yang di rasa kurang pas atau gimana karena author masih dalam tahap belajar.

__ADS_1


Sekali lagi terimakasih untuk semua readers yang selalu mendukung, wassalam 🙏


__ADS_2