
Sudah lama sekali rasanya terakhir kali Akmal menginjakkan kakinya di club malam seperti ini. Dan yang terasa lebih lucu baginya adalah ia pergi kesana hanya untuk mengikuti seorang gadis yang bahkan tidak ia kenal.
Setelah memesan segelas Vodka, Akmal hanya duduk sambil memainkan gelas berisi minuman tersebut tanpa berniat untuk meminumnya. Sudah lama sekali semenjak ia berhenti minum, ia menerapkan pola hidup sehat walaupun tinggal di luar negeri.
"Gue gak kenal ini cewek. Kenapa gue harus repot-repot ngikutin dia sampe sini?" ucapnya berbicara pada dirinya sendiri merasa terheran.
Ia masih mengawasi Hana yang kini tengah berada di lantai dansa bersama teman-temannya. Sementara di meja mereka terlihat seorang teman laki-laki Hana tengah mencampurkan sesuatu di minuman Hana.
Akmal bisa melihatnya dengan jelas karena Hana adalah satu-satunya gadis yang tidak memesan minuman beralkohol disana. Hana hanya memesan segelas orange juice.
Melihat hal tersebut Akmal tidak bisa tinggal diam begitu saja. Bagiamana jika sesuatu hal yang buruk terjadi pada Hana jika ia tidak berbuat sesuatu, pikirnya.
Hana dan kedua teman perempuannya pun kembali ke mejanya karena haus untuk minum. Akmal yang melihatnya pun bergegas menghampiri Hana dan berpura-pura menabraknya sampai minuman tersebut tumpah ke bajunya.
Hana pun langsung panik, dan meminta maaf karena tak sengaja membuat minumannya tumpah mengenai kemeja yang Akmal kenakan.
"So..rry." ucap Hana tertegun karena begitu terkejut melihat siapa yang kini ada di hadapannya."
Tanpa mengatakan apapun Akmal menarik tangan Hana tanpa permisi untuk segera keluar dari tempat tersebut namun teman lelaki Hana yang tadi tentu tidak tinggal diam melihat Akmal akan membawa mangsanya.
"What you doing dud?" bentak Axel mencengkram lengan Akmal yang tengah menggenggam tangan Hana.
"Axel, stop it. gue kenal sama dia." ucap Hana membuat Akmal sedikit terkejut.
Karena ia memang tidak tahu jika Hana adalah orang Indonesia. Hana memang memiliki wajah blasteran, karena mama Sarah sendiri merupakan keturunan Jerman Manado. Kakek Hana adalah orang Jerman asli, karena itu Akmal tidak mengira jika Hana sama seperti dirinya.
"Denger kan? lepas tangan lo!" ucap Akmal menatap tajam Axel.
Sebenarnya ia sudah gatal sangat ingin menghajarnya atas perbuatannya terhadap Hana, namun karena ia berhasil mencegahnya dan tidak terjadi sesuatu pada gadis tersebut, maka ia memilih untuk membawa Hana pergi dari sana.
Hana pun langsung mengambil mantel dan tasnya dan berpamitan kepada teman-temannya untuk pamit pulang duluan. Kedua teman Hana sangat penasaran dengan siapa Akmal karena di usianya yang kian matang, pesonanya semakin terpancar.
Karena Hana dengan sukarela ikut pergi dengannya tanpa mempertanyakan apapun padanya, Akmal pun tidak lagi menarik tangan Hana seperti sebelumnya.
Namun tanpa ia duga, Hana menyelipkan tangannya di lengan Akmal seakan mereka benar-benar saling mengenal dan sangat akrab. Akmal langsung menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan Hana dari lengannya.
"Kamu bisa jalan dengan benar sendiri, jadi tolong jangan sentuh saya." ucap Akmal dingin tanpa menoleh sedikitpun pada Hana.
__ADS_1
Ia pun berjalan kembali meninggalkan Hana yang sejak tadi hanya bisa tertawa senang. Ia tidak perduli bagaimana Akmal memperlakukannya. Karena ia sudah sangat bahagia dengan hanya ada di dekat cinta pertamanya itu.
Hana pun langsung berlari mengejar Akmal yang kini sudah berjalan meninggalkannya.
"Tunggu, hei." teriak Hana yang tidak Akmal hiraukan.
Begitu sampai di tempat parkir Akmal pun berhenti di depan mobilnya dengan Hana yang sejak tadi mengejar dan mengikutinya.
"Ini sudah malam, lebih baik kamu pulang." ujar Akmal sembari membuka pintu mobilnya.
Hana pun berlari menuju pintu satunya lagi dan ikut masuk ke mobil tanpa permisi membuat Akmal kesal. Ia hanya tersenyum lebar sembari menampilkan deretan giginya yang berbaris rapi.
"Kenapa kamu masuk mobil saya?" tanya Akmal menahan kesal.
"Kata kamu, aku tadi di suruh pulang. Ya sudah ayok, anterin aku pulang." jawab Hana santai sembari memasang sabuk pengaman di tubuhnya.
"Keluar." ujar Akmal kesal.
"Gak mau." jawab Hana santai.
"Enggak mau." jawab Hana lagi bersikukuh.
"Lagian, kamu kan tadi yang ajak aku keluar dari sana dan ajak aku pulang? Ya sekarang kamu harus anterin aku pulang dong ." sambungnya lagi membuat Akmal mengutuk kebodohannya dalam hati.
"Saya sengaja numpahin minuman kamu dan bawa kamu keluar dari sana buat nolongin kamu dari cowok brengsek tadi." ujar Akmal menjelaskan alasannya.
"Cowok brengsek siapa? Axel?" tanya Hana menjadi bingung.
"Dia masukin sesuatu di minuman kamu, dan karena itu saya bawa kamu keluar dari sana. Kamu gak perlu berterimakasih, kamu cukup keluar dari mobil saya sekarang juga." ujar Akmal membuat Hana senang sekaligus terharu karena untuk kedua kalinya Akmal menjadi dewa penyelamatnya.
"Kenapa cuma diem aja? saya udah jelasin semuanya, sekarang kamu tinggal keluar dari mobil saya." ucapnya lagi membuat Hana kembali tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Terimakasih, karena kamu udah nyelamatin aku (baik dulu maupun sekarang)." ucap Hana dengan sungguh-sungguh.
Melihat ekspresi Hana yang terlihat bersungguh-sungguh membuat Akmal sedikit melunak. Ia pun mencoba untuk berbicara dengan lebih lembut dengan Hana.
"Karena kamu sudah tahu alasannya sekarang, lebih baik kamu pulang sekarang. Kamu gak minum kan? Jadi kamu bisa bawa mobil kamu sendiri." ujar Akmal menunjuk sebuah mobil sport berwarna merah yang terparkir tepat di depannya.
__ADS_1
Hana pun merasa aneh, bagaimana Akmal bisa tahu kalau mobil yang ada di depannya itu adalah mobil miliknya dan akhirnya bertanya.
"Kok kamu bisa tahu kalau aku gak minum? Dan tahu juga kalau itu mobil aku?" tanya Hana menyelidik.
"Ya kan ini tumpah di baju saya, jadi saya tahu kalau kamu cuma minum orange juice bukan minuman beralkohol. Kalau soal mobil, pas saya lagi parkir kamu baru turun dari mobil itu, jadi saya tahu." kilah Akmal berpura-pura terlihat meyakinkan.
Dan beruntungnya, Hana mempercayai alasan tersebut. Karena baginya apapun itu, ia sangat senang karena bisa bertemu lagi seperti ini dengan Akmal.
"Oh, gitu." ujar Hana sembari mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Oh iya, kita belum kenalan. Aku Hana, Farhanah." ucap Hana mengulurkan tangannya.
Sementara Akmal hanya bisa terdiam karena berada di situasi yang aneh seperti itu, pikirnya. Apakah tidak masalah, jika ia berkenalan dengan Hana, pikirnya.
Hana yang tak sabar menerima uluran tangan Akmal akhirnya menarik tangan Akmal yang sejak tadi hanya diam saja. Akhirnya mereka berjabat tangan walaupun dengan Hana yang mengambil inisiatif penuh untuk itu.
"Jangan diem aja, sebutin nama kamu siapa?" tanya Hana kembali membuat Akmal kembali pada akal sehatnya dan menarik tangannya dengan cepat.
Hana pun menjadi murung karenanya. Ia sudah berusaha untuk menarik perhatian Akmal, tapi bahkan memberitahukan namanya saja ia tidak mau pikir Hana.
"Akmal. Nama saya Akmal." ujar Akmal.
Hana pun langsung tersenyum lebar mendengarnya. Akhirnya setelah 5 tahun ia bisa mengetahui nama penyelamat dalam hidupnya itu.
"Pinjem handphone kamu dong?" ujar Hana dengan antusias.
"Buat apa?" tanya Akmal keheranan.
"Pinjem aja sih, pelit banget sih." ujar Hana lalu melihat handphone Akmal tergelatak di atas dashboard mobil dan langsung mengambilnya.
"Eh, kamu mau apa?" tanya Akmal terkejut dan berusaha mengambil ponselnya namun Hana langsung membelakanginya.
Ia mengetik nomor handphone nya sendiri dan melakukan panggilan ke handphonenya. Tak lupa, ia juga telah menyimpan nomornya di handphone Akmal.
"Selesai, thankyou. Next time, aku traktir kamu yaa.. Akmal." ucap Hana memberikan kembali handphone Akmal dan memanggilnya dengan sangat menggemaskan membuat Akmal benar-benar tercengang.
Sembari tersenyum puas Hana pun keluar dari mobil Akmal tanpa di minta dan langsung berlari menuju ke mobilnya. Sebelum ia masuk, ia pun melambaikan tangannya berpamitan pada Akmal yang masih terdiam karena shock dengan tingkah ajaib gadis tersebut.
__ADS_1