
Seharian Radit dan Fika tidak pernah keluar lagi dari cafe. Walaupun biasanya mereka makan siang diluar karena Radit tidak bisa menemukan menu yang pas di cafe milik Fika, tapi tidak dengan hari itu.
Radit memesan layanan makanan pesan antar dan makan siang berdua di tempat biasa mereka makan ketika sedang di cafe.
Fika tidak mempertanyakan kenapa Radit enggan pergi kmna pun hari itu karena kebetulan Fika sangat sibuk dengan pengunjung cafe yang lebih ramai dari biasanya.
Radit pun ikut membantu pekerjaan Fika yang bisa ia kerjakan, sementara Rey terlihat sudah menyusun rencana dengan beberapa anak buahnya untuk membawa Fika pergi begitu Fika keluar dari cafe.
Rey hanya membawa 5 orang anak buahnya dalam misinya kali ini, karena ia berpikir jika menculik Fika bukanlah hal yang sulit untuknya.
Ia tidak mengetahui jika sebenarnya ia sendiri telah di kepung oleh orang-orang Radit yang siap untuk menangkap mereka ketika Rey dan anak buahnya bergerak.
Sandy juga telah mengambil posisi tidak jauh dari mobil Rey. Agar tidak mencurigakan, beberapa anak buah Sandy menyamar sebagai pengemis, tukang sol sepatu, dan loper koran.
Beberapa lainnya sebagai pengunjung cafe dan mengambil posisi duduk di bagian depan cafe agar bisa turut berjaga-jaga jika sesuatu terjadi.
Pukul 3 sore suasana pengunjung cafe mulai nampak lengang, Fika pun memutuskan untuk pulang lebih awal. Bagaimanapun juga sebentar lagi Radit akan kembali ke Jakarta.
Fika harus bisa menyediakan waktu luangnya untuk Radit selama ia berada di kota ini. Setelah bersiap dan membereskan barang-barangnya Fika menghampiri Radit yang tengah sibuk berbalas pesan dengan anak buahnya.
"Mas Radit, pulang yuk?" ajak Fika
"Saya akan segera keluar." bisik Radit di telpon kemudian mematikan ponselnya.
"Kamu sudah selesai? Ayo, kita pulang."ucap Radit sambil menggenggam tangan Fika dengan lembut.
Radit menuntun Fika menuju pintu keluar restoran. Beberapa anak buah Radit pun segera membayar tagihan. mereka dan ikut keluar dari cafe berpura-pura hendak pulang.
Radit membukakan pintu mobilnya untuk Fika, lalu Fika pun masuk ke dalam mobil Radit sambil tersenyum. Ia mulai nyaman dengan sikap manis dan perhatian Radit belakangan ini.
Rey pun langsung bersiap melihat Fika keluar dari cafe, namun ia sedikit penasaran dengan pria yang bersama Fika seharian ini. Radit yang memakai pakaian casual sengaja mengenakkan topi untuk mengelabui Rey.
"Semua, bersiap-siap. Kita akan mulai menjalankan rencana A." ucap Rey mengkomandoi anak buahnya.
Di dalam mobil Fika memulai pembicaraan terlebih dahulu. Ia sengaja pulang lebih awal karena ingin pergi ke suatu tempat bersama Radit.
"Mas Radit, kita gak usah pulang dulu ya." ucap Fika membuat Radit sedikit bimbang.
Akan lebih bagus bagi Fika jika ia langsung mengantarkannya pulang ke rumah. Jika pergi ke suatu tempat dulu, situasinya sedikit tidak tepat pikir Radit.
"Mas, kok ngelamun sih? Ayo kita pergi yuk, 3 hari lagi kamu sudah gak ada disini. Jadi aku pengen ngajak kamu ke suatu tempat." jelas Fika dengan bersemangat.
__ADS_1
"Maaf, mas Radit lagi kepikiran sesuatu." kilah Radit.
"Kamu mau kita kemana?" tanya Radit mencoba bersikap setenang mungkin walaupun hatinya sudah cukup di penuhi kegelisahan.
Radit mulai melajukan mobilnya menuju ke arah yang Fika tunjukkan. Setelah 60 menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah taman yang ada di puncak bukit.
"Kita sampai mas." seru Fika dengan girang sambil membuka pintu keluar dari mobil.
Radit pun tersenyum melihat wajah Fika yang di penuhi kegembiraan sesaat setelah sampai disana. Udara cukup dingin disana, karena itu Radit langsung berinisiatif melepas jaketnya dan memakaikannya pada tubuh Fika.
"Disini dingin, pakai ini biar kamu sedikit hangat." ujar Radit sambil memakaikan Fika jaket yang sudah ia lepas.
"Terimakasih." ucap Fika sesaat memandang wajah Radit yang menurutnya memang sudah tampan sejak dulu.
Fika pun mengajak Radit ke sebuah saung yang terbuat dari bambu beratapkan alang-alang terletak di dekat tepian tebing yang memperlihatkan suasana kota Surabaya di bawah sana sangat indah.
Di sekitar ada banyak saung yang di peruntukan bagi pengunjung untuk berisitirahat. Sementara di sekeliling tempat tersebut terbilang cukup ramai dengan pedagang jagung bakar, warung kopi, dan beberapa warung lainnya.
Radit segera memesankan 2 gelas wedang jaselang untuk mereka menghangatkan tubuh. Rey, yang sedang mengikuti mereka belum sadar akan keberadaan orang-orang Radit yang membaur seperti pengunjung biasa.
Pada sore hari, tempat itu memang cukup ramai di kunjungi wisatawan yang ingin menyaksikan pemandangan malam kota Surabaya di atas bukit tersebut.
Radit pun kembali menghampiri Fika yang telah berdiri di depan saung menatap pemandangan sekitar yang menyejukkan mata. Fika akui, ia mulai menyukai suasana di kota tersebut.
"Minumlah, ini cukup hangat dan akan membuat tubuh kamu nyaman." ucap Radit menyerahkan secangkir minuman berisi wedang jaselang.
Wedang jaselang adalah salah satu minuman khas dari Jawa timur yang terbuat dari rempah-rempah berupa jahe, merica, kayu manis, secang dan kapulaga.
"Makasih mas." jawab Fika sambil menyesap minuman hangat tersebut.
Sore itu mereka lewati sebagai kenangan yang indah. Fika terus menebar senyuman merekahnya di tempat tersebut. Ia menikmati setiap detik keberadaannya disana tanpa sadar jika bahaya telah mengintainya.
Radit tidak pernah menurunkan tingkat kewaspadaannya, walaupun kini mereka berada di tempat yang ramai. Tetap saja, ia tidak bisa meremehkan keberadaan Rey dan anak buahnya.
Di sudut lainnya Rey yang tengah sibuk mengawasi mangsanya tersebut mendapatkan telepon dari tuannya.
"Bagaimana Rey? Apa kau sudah melakukan tugasmu dengan baik?" tanya Rendra yang sudah sejak pagi tadi ingin mendengar kabar baik dari Rey yang tak kunjung datang.
"Sebentar lagi tuan, saya menunggu waktu yang tepat untuk bisa membawanya. Seharian ini dia terus bersama seseorang." jawab Rey sambil menatapi Radit dan Fika yang tengah tertawa bersama.
"Tidak perlu membawanya kesini, habisi langsung saja. Cukup bawa kabar kematiannya." ucap ayah Rendra seraya mematikan panggilan ponselnya.
__ADS_1
Rey pun sedikit tertegun, karena awalnya rencananya ia akan menculik dan membawa Fika ke hadapan Rendra agar tuannya tersebut bisa mengontrol putra bungsunya tersebut.
Setelah mendapat perintah dari tuannya itu, pekerjaannya tersebut akan lebih mudah dan berjalan dengan lancar. Bahkan ia bisa menghabisi gadis malang tersebut dengan mata tertutup.
Setelah puas menikmati pemandangan disana, pukul 7 malam Fika mengajak Radit untuk pulang. Cuaca semakin malam menjadi semakin dingin saja.
Radit pun membawa Fika untuk pulang. Ketika mereka baru mengendarai mobilnya selama beberapa menit tiba-tiba saja tanpa Radit duga mobil Rey yang sejak tadi di belakang menabraknya dengan kencang.
Bruuuggh !
Mobil yang Radit kendarai mulai oleng karena mobil Rey di belakangnya menabraknya berkali-kali untuk membuatnya jatuh ke jurang.
"Aaaaa." teriak Radit dan Fika saat mobilnya oleng dan hampir masuk ke jurang.
Radit berakhir dengan menabrak pohon besar yang ada di sisi jurang. Andai ia sedikit terlambat mengerem mobilnya, maka mereka berdua sudah di pastikan akan masuk ke jurang yang sangat curam itu.
Kepala Fika terbentur cukup keras ke dashboard mobil, begitu juga dengan Radit. Darah segar terlihat mengucur di bagian depan kepala Fika.
Sementara Radit hanya mendapat sedikit luka robek di pelipisnya. Karena dada dan lengannya yang terbentur cukup keras.
Anak buah Radit pun yang melihat pergerakan yang begitu tiba-tiba tersebut langsung menghalau mobil Rey. Tanpa Rey ketahui sepanjang jalanan tersebut adalah mobil dari orang-orangnya Radit.
2 mobil Rey dan anak buahnya sudah di kepung oleh Sandy dan beberapa anak buahnya. Mereka pun terlibat baku hantam, sementara Fika dan Radit sudah kehilangan kesadarannya di dalam mobil.
Sandy pun langsung menghampiri mobil Radit dan mencoba membuka pintunya namun tidak berhasil karena terkunci dari dalam. Sandy terus menggedor-gedor kaca mobil sambil memanggil tuan mudanya itu.
"Tuan muda.. buka mata anda, apa anda mendengar saya?" teriak Sandy berusaha menyadarkan Radit.
Kemudian Sandy mencari batu di sekitar mobil yang bisa ia gunakan untuk memecahkan kaca mobil tersebut. Begitu kacanya bisa terpecahkan ia langsung membuka pintu mobil dan mencoba menyadarkan Radit.
"Tuan muda, tolong sadar. Buka mata anda! Tuan apa anda bisa mendengar saya?" tanya Sandy sambil menepuk-nepuk pipi Radit yang sedikit meringis dengan mata terpejam.
Beralih ke sisi sebelahnya, Sandy langsung mengecek keadaan Fika yang sudah tidak sadarkan diri itu dan membawanya keluar dari mobil setelah mengeluarkan Radit lebih dulu.
Rey, yang kalah jumlah orang nya dengan Radit pun mundur dengan terpaksa. Setelah menghabiskan waktu sebentar untuk baku hantam dengan anak buah Radit yang juga merupakan pengawal yang sudah terlatih.
"Sial ! Kita mundur dulu! Lihat saja, aku akan menghabisi mereka berdua dengan tanganku sendiri." Ucap Rey penuh emosi masuk ke dalam mobilnya
Bahkan ia menabrak salah satu mobil yang menghalangi jalannya dengan sangat kencang hingga masuk ke jurang.
Beruntung mobil tersebut dalam keadaan kosong dan tidak ada yang terluka parah karena perkelahian tadi.
__ADS_1
Sandy langsung memanggil anak buahnya untuk membantu membawa Radit dan Fika ke rumah sakit.