
Setelah makan siang selesai dan mereka berempat sudah kembali ke kantor, Radit langsung menuju ke ruangan papanya untuk menanyakan mengenai kepindahan Fika .
Sedangkan Fika langsung menuju ruangan Aksa selaku atasannya setelah pergi ke ruangannya untuk mengambil surat pengunduran dirinya yang sudah ia buat.
Tok tok tok,
"Masuk." ucap Aksa mempersilahkan Fika untuk masuk.
Ceklek, pintu di buka.
Fika langsung menghampiri Aksa yang tengah sibuk dengan layar PC nya . Ia terlihat fokus dengan pekerjaannya sementara Fika masih berdiri di depan mejanya menunggu.
Setelah beberapa saat akhirnya Aksa menoleh ke arah Fika dan segera mempersilahkan Fika untuk duduk.
"Maaf Fika, silahkan duduk." ucapnya
tersenyum ramah.
"Baik, pak." jawab Fika seraya mendudukan dirinya di kursi.
"Ada apa Fika?" tanya Aksa ramah.
"Saya ingin menyerahkan surat pengunduran diri saya pak." ucap Fika sambil menyerahkan suratnya.
"Ada apa Fika? apa alasan kamu mengundurkan diri?" tanya Aksa berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Maaf pak, alasan pribadi." jawab Fika tegas.
"Apa kamu benar-benar yakin? Kamu sudah di angkat menjadi karyawan tetap disini dan gaji kamu bukankah sudah cukup besar?" tanya Aksa lagi penasaran.
"Saya berencana pindah ke luar kota bersama keluarga saya secepatnya. Saya rasa itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk saya keluar dari perusahaan ini."jelas Fika.
"Baiklah, Fika jika itu sudah menjadi keputusan final kamu saya tidak bisa melarang." ucap aksa menatap Fika beberapa saat dengan intens dan dalam.
Sore harinya Fika benar-benar berpamitan pada seluruh rekan kerjanya di divisi keuangan. Terutama divisi 1, Fika memeluk satu persatu rekan 1 teamnya itu dengan erat.
Tidak terkecuali dengan Radit, wajahnya menunjukkan bahwa ia nampak tidak rela jika membiarkan Fika keluar dari perusahaan ayahnya tersebut.
Walaupun ia berusaha keras untuk tak menunjukkan perasaan yang sebenarnya. Ia masih ingat betul apa yang papanya ceritakan ketika sesudah makan siang ia menemuinya.
__ADS_1
Radit berjanji bahwa ia akan menjadi lebih kuat agar bisa mengalahkan sahabat papanya tersebut.
Dan ketika hendak berpamitan dengannya Fika pun memeluk Radit sama seperti yang lain namun Radit merasa terlalu nyaman dengan hal tersebut dan tak ingin melepaskannya.
"Hubungi aku kapanpun kamu membutuhkan bantuan."bisik Radit membuat Fika tersenyum sambil mengelus punggung Radit pelan.
Fika pun mengurai pelukannya setelah beberapa saat, ia sudah merapikan barang-barangnya dan bersiap pergi tapi Radit langsung menahannya.
"Biar aku antar kamu pulang."ucap Radit penuh harap.
Fika pun mengkerutkan keningnya sedikit bingung dengan sikap Radit yang seperti enggan untuk kehilangannya. Ia pun menatap Alana dan Dafa untuk meminta saran.
Alana dan Dafa hanya bisa mengangguk menyetujui tawaran Radit tersebut walaupun mereka masih tak mengerti dengan sikap Radit yang sepertinya bermakna lain untuk Fika.
***
Setelah hari itu, Fika benar-benar tidak bekerja lagi. Tidak sampai 1 Minggu ayahnya telah selesai mengurus segala keperluan mereka untuk tinggal di kampung halaman sang ayah.
Rumah mereka sudah di kosongkan dan sudah di pasangi iklan untuk di jual. Sementara mereka sudah berangkat lebih dulu, masalah penjualan rumah di percayakan pada tantenya Fika yang juga tinggal di Jakarta.
Di Surabaya mereka langsung menempati sebuah rumah yang cukup luas dan cukup asri. Rumah tersebut terletak di tengah kota namun lingkungannya sangat bersih.
Karena rumah mereka di Jakarta belum terjual dengan cepat. Icha pun langsung mendaftarkan dirinya di sebuah universitas negeri cukup bergengsi di Surabaya.
Ia sudah bertekad untuk bisa lulus lebih cepat agar bisa membantu keuangan keluarganya yang saat ini belum cukup stabil.
Fika sudah memutuskan untuk tidak bekerja lagi melainkan membuka sebuah cafe sebagai ladang usahanya. Ia menggunakan sedikit tabungan dan sisa uang hasil menjual mobilnya untuk membuka usaha tersebut.
"Ayah, ibu tolong bantu Fika untuk merintis cafe ini dari nol. Fika sudah memikirkan hal ini dengan cukup matang, Fika tidak ingin terus menerus bekerja tanpa hasil yang pasti. Fika mohon, ayah dan ibu mau mendukung Fika saat ini."pinta Fika dengan sungguh-sungguh ketika ia sedang melihat sebuah bangunan yang akan ia sewa sebagai cafe.
Ayah dan ibu hanya bisa tersenyum mendengar setiap kata yang di ucapkan oleh putri mereka.
Awalnya mereka sangat terkejut mendengar penuturan Fika yang dengan yakin menyatakan akan membuka sebuah cafe kecil-kecilan dan memulai bisnisnya itu dari nol.
Ia tidak akan bekerja lagi di perusahaan manapun. Ia ingin mencoba mewujudkan mimpinya lebih awal. Sejak dulu Fika memang bercita-cita untuk membuka sebuah bisnis kecil-kecilan setelah modal yang terkumpul dirasa cukup.
Namun ternyata semua yang terjadi belakangan ini benar-benar diluar kendalinya.
Dan karena ayahnya kini sudah tak bekerja dan ibunya juga sudah tidak mempunyai usaha toko kue lagi maka Fika memutuskan untuk menggandeng kedua orangtuanya itu untuk ikut terlibat.
__ADS_1
Karena ibu Fika sangat pandai memasak, maka ibu Fika lah yang akan menjadi koki di cafe tersebut.
Namun sebelum mereka membuka usaha tersebut Fika mencari refrensi daftar menu makanan untuk di cafenya tersebut dan melakukan uji coba pembuatan bersama ibunya.
Jika makanan tersebut di rasa pas di lidah kalangan masyarakat Surabaya maka otomatis akan masuk ke daftar menu di cafenya.
Fika ingin membuka cafe yang menunya berbeda dengan cafe kebanyakan apalagi di kota tersebut.
Maka ia mulai melakukan uji coba setiap menu makanan yang kira-kira terlihat unik namun rasanya tetap enak.
Fika pun membuat desain cafenya tersebut lebih Instagramable agar bisa menjadi tempat yang nyaman dan banyak di kunjungi oleh kalangan milenial kota Surabaya.
Hari berlalu begitu saja dengan cepat dan ia habiskan untuk mempersiapkan pembukaan cafenya tersebut untuk memulai hidupnya yang baru.
Fika ingin menenggelamkan dirinya dalam kesibukan agar ia bisa melupakan seseorang yang terus ia rindukan dalam hatinya.
Ia tidak ingin terus terpuruk dan terjebak masa lalu sehingga tak bisa melupakan satu-satunya laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya tersebut.
"Selamat datang di Surabaya, selamat menjalani hidupmu yang baru Afika Sasi Kirana" gumam Akmal yang menatap Fika dari kejauhan.
Sejak hari dimana Fika sampai di kota tersebut, Akmal pun sudah tiba disana. Selama ini ia selalu mentap Fika dari kejauhan dan mengawasinya diam-diam.
Akmal tidak akan pernah melupakan dan menghapus Fika dari hati dan ingatannya. Fika akan selalu menjadi satu-satunya wanita yang spesial dan ia cintai sepenuh hatinya.
*****
Perpisahan tidak selalu membawa kita pada hal yang tidak baik.
Adakalanya berpisah membuat kita bisa menyadari tentang seberapa pentingnya seseorang dalam hidup untuk kita.
Adakalanya berpisah, membuat kita mengetahui seberapa besar cinta yang kita miliki untuk seseorang.
Adakalanya berpisah, membuat kita bisa mengerti arti dari cinta yang tak selalu harus saling memiliki.
Adakalanya berpisah, membuat kita menyadari makna dari sebuah ketulusan yang sebenarnya.
Berpisah, tak berarti cinta selalu terhenti.
Berpisah adalah salah satu cara ku untuk selalu mencintaimu.
__ADS_1
Akmal Alfarizi Hutama 💔