
Bunda Rania sudah lebih baik dari ketika ia datang semalam. Bi Minah dan mang Asep juga selalu menghibur dan menguatkannya mengenai masalah yang kini sedang menimpa majikannya tersebut.
Suasana di kota kelahirannya memang selalu mampu menyejukkan hati dan menenangkan pikirannya. Setiap bunda Rania mengalami sesuatu hal yang berat maka ia akan pulang untuk mencari ketenangan disana.
Rumah masa kecilnya itu masih bagus dan terawat meskipun sudah hampir 5 tahun di tinggal pergi oleh pemiliknya. Ya, kakek dan nenek Akmal meninggal beberapa tahun silam.
Dan jaraknya hanya selisih 1 tahun, nenek Akmal yang lebih dulu menghadap sang pencipta. Akhtar dan Akmal sangat dekat dengan kakeknya ketika beliau masih hidup.
Karena itu, jika Akhtar memilih tinggal dan menetap di Bandung ketika ia meninggalkan rumah. Ia memilih untuk menemani kakeknya dan meneruskan perusahaannya.
Karena bunda Rania anak tunggal, maka tidak ada pewaris lain selain dirinya. Ketika Akhtar datang padanya, kakeknya merasa sangat bahagia memiliki seseorang di sisinya di saat-saat terakhirnya.
Dan semua aset dan perusahaan kakeknya tersebut diwariskan untuk Akhtar dan Akmal. Karena Akmal belum cukup umur dan ia tak terlalu berminat dengan dunia bisnis maka Akmal membebankan semuanya untuk di kelola oleh Akhtar sementara waktu.
Namun 2 tahun belakangan atas desakan suaminya, bunda Rania meminta Akhtar untuk kembali dan mulai bekerja untuk perusahaan ayah Rendra.
Akhtar tidak bisa menolak permintaan bundanya, karena itu ia kembali ke Jakarta dan menetap disana. Namun ketika Sabtu-minggu ia akan ke Bandung untuk mengontrol perusahaan kakeknya yang di kelola sementara oleh orang kepercayaannya.
Yang tidak lain adalah sepupu dari bunda Rania, yang bernama Handi wirawan. Akhtar percaya betul kepada omnya tersebut karena beliau adalah orang yang jujur dan tekun dalam bekerja.
Bahkan bunda Rania pun sangat mempercayainya . Bunda Rania hanya memiliki Handi sebagai keluarga terdekatnya.
Sehingga keluarga mereka sangatlah dekat.
Akmal dan Akhtar mempunyai kamarnya masing-masing di rumah tersebut ketika mereka pulang kesana. Rumah yang berdiri di pinggiran kota Bandung tersebut berdiri di atas tanah seluas 1000m².
Rumah yang terdiri atas 2 lantai tersebut memiliki fasilitas kolam renang sendiri dan kebun bunga yang indah milik almarhumah nenek Akmal .
Rumah bergaya Eropa klasik tersebut di bangun ketika bunda Rania masih kecil namun tetap berdiri kokoh sampai sekarang. Ada Bi Minah dan mang Asep yang sudah bekerja disana selama puluhan tahun.
Mereka berdua lah yang mengatur rumah tersebut tetap terawat dan juga bersih meskipun di tinggal pemiliknya. Ada beberapa pelayan yang bertugas untuk membersihkan rumah tersebut di bawah pengawasan bi Minah dan mang Asep.
Mereka pasutri yang masih setia bekerja pada almarhum kakek Akmal meskipun kini beliau sudah tidak ada. Namun karena usia mereka yang sudah renta, bunda Rania tetap meminta mereka bekerja disana hanya untuk menjaganya.
__ADS_1
Bunda Rania sangat menyayangi mereka seperti keluarga sendiri. Dan karena mereka berdua pun tak memiliki sanak saudara lagi mereka pun setuju untuk tetap tinggal dan menjaga rumah tersebut.
Ting tong, bel berbunyi.
Ceklek, pintu terbuka setelah beberapa saat seorang pelayan membukakan pintu. Akhtar dan Akmal pun langsung menanyakan keberadaan bunda mereka pada pelayan tersebut.
Pelayan tersebut pun mengajak mereka untuk ke halaman belakang, bunda Rania tengah duduk sambil meminum teh sambil berbincang-bincang dengan bi Minah dan mang Asep.
"Assalamualaikum." ucap Akmal dan Akhtar serempak
"Waalaikum salam." jawab mereka bertiga bersamaan
"Neneeeek." teriak Akmal begitu bersemangat melihat seseorang yang sudah di anggap nenek ketiga olehnya lalu mencium punggung tangannya dan memeluknya hangat.
"Ya ampun si Aden teh meuni kasep pisan, meuni gagah euy nenek sampai pangling." ujar bi Minah sambil membalas pelukan Akmal yang sudah 3 tahun tidak bertemu.
Hanya Akhtar yang setiap Minggu datang berkunjung dan menginap disana. Bi Minah pun tahu jika Akmal sudah lama pergi dari rumah. Namun Akmal tidak pernah pergi ke Bandung.
"Iyah dong, aku ganteng kan gak kalah sama Abang Akhtar." bisik Akmal ketika sudah mengurai pelukannya
Bi Minah dan mang Asep memang tidak memiliki anak karena itu baginya majikannya tersebut sudah seperti keluarganya sendiri. Dan seluruh keluarga majikannya pun selalu memperlakukannya dengan baik.
Setelah itu Akmal langsung menghampiri mang Asep mencium punggung tangannya sebelum akhirnya memeluknya. Mereka bertiga pun tampak melepas rindu sesaat sampai melupakan keberadaan yang lainnya.
Sementara Akhtar menghampiri bundanya untuk menyapa dan mencium punggung tangan ibu yang telah melahirkannya tersebut lalu memeluknya menyalurkan kehangatan.
"Eheum." Akhtar pun berdehem pelan melihat Akmal yang sedang asyik bercerita.
"Apaan sih bang? elu kan sering ketemu sama mereka. Gue udah 3 tahun loh bang baru ketemu. Ganggu aja !" sengit Akmal merasa kakaknya tersebut selalu terlihat menyebalkan
"Jadi kamu cuma kangen sama kakek dan nenek. Gak kangen sama bunda juga." ucap bunda Rania menginterupsi Akhtar yang akan menjawab
"Enggak dong, bunda kan kesayangan aku banget." ucap Akmal berbalik menghampiri bundanya memeluknya serta mencium kedua pipinya berusaha menggoda
__ADS_1
Beberapa saat mereka hanyut dalam suasana yang begitu menghangatkan hati mereka untuk melepas rindu bersama orang terkasih.
Bunda Rania pun mengajak semuanya untuk makan siang bersama. Mereka memang belum makan siang karena sengaja menunggu kedua putranya itu tiba disana.
"Nak, kamu kenapa gak ajak Fika? Bunda kangen loh sama dia, ini juga kan weekend." tanya bunda yang membuat senyuman di wajah sang anak menyurut perlahan
"Kenapa? apa kalian masih belum berbaikan karena masalah yang di buat ayah kemarin?" tanya bunda dengan hati-hati
"Hem, awalnya Fika tetap pada pendiriannya untuk putus sama aku sih. Tapi bunda tenang aja, aku gak bakal nyerah gitu aja kok." ucap Akmal tersenyum meyakinkan bundanya
Bunda Rania pun merasa semakin merasa bersalah pada putranya tersebut. Seandainya sejak dulu ia memutuskan untuk bercerai dengan suaminya, pasti tidak akan terjadi hal seperti itu pada putra bungsunya tersebut.
"Maaf ya nak, ini semua karena ayah kamu." ucap bunda penuh penyesalan
"Loh, kok bunda yang minta maaf sih. Lagi pula, bunda gak salah apa-apa dan bunda tenang aja aku gak mungkin gitu aja ngebiarin hubungan aku sama Fika ." ucap Akmal meyakinkan dan mencoba menghibur bundanya.
Ia tahu jika bundanya juga tidak baik-baik saja. Sampai bundanya pulang ke Bandung pastilah ia bertengkar besar dengan ayahnya tersebut.
"Iyah, nak nanti bunda pasti bantu bujuk Fika supaya kalian bisa cepat berbaikan. Bunda tuh udah ngerasa nyaman dan cocok banget sama Fika. Dia perempuan yang baik, begitu juga dengan keluarganya." ucap bunda jujur, karena menurutnya Fika sangat pas untuk putranya.
"Nenek juga berdoa semoga kamu bisa segera bawa pacar kamu itu kesini. Nenek penasaran siapa gadis beruntung yang bisa mendapatkan hati cucu nenek ini." ucap bi Minah tersenyum
"Ah, makasih bunda dan nenek. Aku sayang kalian." ucap Akmal
"Abang, lihat tuh adik kamu sekarang sudah dewasa dan ingin menikah. Lalu kamu kapan bisa membawa dan mengenalkan calon istri kamu?" tanya bunda Rania yang memang dibuat penasaran dengan Akhtar yang tidak pernah membawa perempuan untuk dikenalkan padanya .
Akhtar hanya tersenyum tipis tidak menanggapi ucapan ibunya tersebut memilih melanjutkan makan siangnya. Ia tidak meras terganggu dengan pertanyaan mengenai pasangan hidupnya itu.
Hanya saja, ia merasa belum menemukan seseorang yang pas untuk di jadikannya calon istri. Usianya sudah cukup matang untuk memikirkan tentang pernikahan tapi ia juga tidak mau terburu-buru dan salah pilih nantinya.
" Calon istri ya? Mungkin aku harus segera menemukannya." batin Akhtar
Kedua sudut bibirnya terangkat ketika ia tiba-tiba seseorang terlintas dalam pikirannya.
__ADS_1
"Tuh kan bunda, Abang senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Di tanya bukan jawab malah senyum-senyum gak jelas." sindir Akmal
Akhtar tidak mau menanggapi perkataan adiknya yang hanya akan memancing pertengkaran kecil di meja makan. Ia lebih suka mengabaikannya dan memikirkan hal yang sejak tadi tiba-tiba mengganggunya.