
Fika yang terkejut dengan keberadaan Radit di cafenya pun lantas menarik Radit untuk ke halaman belakang yang bertemakan outdoor.
Ia mempersilakan Radit untuk duduk disana dan menunggunya sebentar. Fika meminta kepada karyawannya agar tidak menerima tamu di tempat outdoor.
"Indah, bawakan apa tamu laki-laki yang bersama ku tadi sudah memesan makanan?" tanya Fika
"Sudah, mbak sebentar lagi saya antar." jawab Indah sopan.
"Baiklah, jangan lupa untuk tutup area outdoor sementara. Kalau ada yang mau pesan meja bilang aja udah di booking ya." pesan Fika pada indah bergegas menemui Radit kembali.
Ketika ia kembali Radit tengah tersenyum lebar menunggunya sejak tadi. Fika pun merasakan keterkejutan dan rasa tidak percaya jika ia akan bertemu kembali dengan rekan kerjanya dahulu.
"Mas Radit kok bisa ada disini? ini kebetulan atau ?" tanya Fika menggantungkan kalimatnya ragu.
"Aku sengaja datang kesini untuk ketemu kamu." jelas Radit dengan jujur setelah menghembuskan nafasnya berat.
Sebenarnya ia sangat gugup setelah lama mereka tidak bertemu. Dan Radit lebih takut Fika akan secara terang-terangan menolaknya jika ia berkata sejujurnya.
"Maksud mas Radit ? Bagaimana mas Radit tahu jika aku ada di kota ini?" cecar Fika mulai curiga.
"Tidak pernah ada yang tahu aku pindah ke kota ini." jelas Fika .
"Em, sebenarnya aku.. aku." belum sempat Radit menjawab tiba-tiba ayah dan ibu Fika menghampiri mereka.
"Loh, siapa ini mbak? Kok gak di ajak ke rumah aja."seru ibu dengan mata berbinar.
Ibu dan ayah Fika baru pulang dari pasar dan memutuskan untuk mampir. Begitu mereka sampai di cafe mereka mendengar gosip yang sedang di perbincangkan seluruh karyawan tentang tamu laki-laki yang di curigai semua orang sebagai pacar bos mereka.
Tentu saja ibu yang memang sedang menantikan hal tersebut menjadi lebih bersemangat untuk menyapa calon menantu barunya.
Ia senang jika Fika sudah mempunyai pacar lagi dan bisa melupakan masa lalunya. Merek berdua lantas menginterupsinya pembicaraan Fika dan Radit.
"Ibu sama ayah kok disini sih?" tanya Fika terkejut melihat keduanya.
"Fika sayang, kok kamu ngomongnya gitu sih sama ibu? Ibu tadi niat mampir abis dari pasar." jelas ibu namun matanya terus menatap Radit dengan senyum merekah.
"Kamu gak mau kenalin pacar baru kamu sama ayah dan ibu ?" ucap ayah yang langsung berdiri di hadapan Radit dengan tatapan tajam berbanding terbalik dengan sang istri.
__ADS_1
"Loh, loh ayah, ibu ini tuh mas Radit bukan pacar aku."ucap Fika dengan segera menjelaskan membuat Radit sedikit kecewa.
Hatinya tiba-tiba merasa sedikit sakit mendengar ucapan Fika. Benteng yang ia pasang cukup tinggi bahkan di hari pertama mereka bertemu setelah sekian lama.
"Om, Tante kenalin saya Radit. Dulu, kami rekan kerja di kantor." sapa Radit memperkenalkan dirinya dengan mencium punggung tangan kedua orangtuanya Fika secara bergantian.
Ayah dan ibu Fika merasakan kesan yang baik terhadap Radit. Mereka pun melihat ekspresi kecewa Radit ketika Fika menegaskan status mereka.
Dari situ pun mereka langsung merasa yakin, jika Radit memiliki perasaan yang lain terhadap putri mereka.
Hanya saja sepertinya Fika belum menyadari hal tersebut. Kedua orangtua Fika langsung ikut duduk di meja Radit membuat Fika menautkan kedua pangkal alisnya kembali bingung.
"Ayah sama ibu kok duduk disini?" tanya Fika sudah mulai gerah dengan tingkah orangtuanya.
"Loh, jadi ayah sama ibu gak boleh duduk sama kalian disini?" tanya ayah Fika pura-pura kesal.
"Enggak kok yah, enggak gitu ." bantah Fika sambil menggelengkan kepalanya cepat.
"Apa-apaan lagi ini ayah sama ibu?" batin Fika mendengus kesal.
"Nak Radit tinggal disini juga atau?" tanya ibu penasaran .
Ternyata menghadapi kedua orangtua Fika terasa lebih membuatnya gugup. Rasanya ia bahkan tidak bisa bernafas dengan nyaman karena takut memberikan kesan yang kurang baik.
"Oh, seperti itu." jawab ibu berseloroh santai
Fika pun merasakan firasat yang tidak cukup baik mengenai kedua orangtuanya. Sepertinya mereka telah salah paham dan berpikir ada sesuatu diantara dirinya dan juga Radit.
Indah pun datang dengan Mega segera menyajikan makanan yang sudah Radit pesan tadi dan juga menyiapkan minuman untuk Fika dan kedua orangtuanya.
"Silahkan mas, mbak sama ibu bapa." ucap indah sambil menata semua makanan dan minuman di meja.
Radit pun langsung melebarkan kedua bola matanya melihat makanan yang tersaji di hadapannya saat ini.
Ia sedikit menyesal karena tidak membuka daftar menunya terlebih dahulu dan berseloroh untuk memesan makanan paling populer di cafe tersebut.
Dan ternyata itu adalah makanan yang tidak bisa ia makan. Menu khas yang terpopuler di cafenya adalah makanan pedas.
__ADS_1
Fika pun sedikit dibuat terkejut melihat menu yang ada di hadapannya.
"Indah, tunggu."panggil Fika ketika indah hendak pergi.
"Kenapa mbak?" tanya Indah.
"Kamu gak salah bawa makanan?" tanya Fika lagi.
"Enggak kok mbak. Mas ini tadi bilang mau pesen makanan paling andalan di cafe kita. Yang paling populer emang ini kan mbak?" jelas Indah seketika merasa bingung.
Fika pun hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya. Lalu menatap Radit yang hanya bisa tersenyum lebar menatap Fika.
"Kenapa sih mbak?" tanya ayah sambil menikmati camilan yang dibawakan Mega.
"Ini yah, mas Radit tuh salah pesen makanan. Dia kan paling gak bisa makan-makanan yang pedes kayak gini." jelas Fika yang membuat ayah dan ibu tersenyum serempak.
"Kalian pasti sudah sangat dekat bisa tahu apa yang di sukai atau tidak satu sama lain." jelas ibu menggoda keduanya.
"Ibu, apaan sih?" tanya Fika semakin tidak nyaman dengan suasananya.
"Indah, bilang ke Arsya siapin makanan yang tidak pedas untuk teman saya." jelas Fika
Indah pun sedikit mengkerutkan keningnya kembali, hari ini benar-benar banyak hal yang membingungkan dirinya.
"Mbak disini menu kita kan makanan pedas semua." jelas Indah yang bingung melihat bosnya bersikap aneh sejak tadi.
Bukankah cafe ini adalah milik bosnya, dan bosnya sendiri yang menyusun menu yang ada di cafe tersebut.
"Ah ya, saya lupa. Lain kali saya akan menambah menu disini dengan makanan yang tidak pedas. Karena tidak semua orang menyukai pedas. Kenapa aku bisa lupa." gumam Fika nampak berpikir yang masih bisa di dengar semua orang di meja tersebut.
"Nak Radit, apa nak Radit tidak keberatan jika ibu mengundang nak Radit untuk makan siang di rumah kami." ajak ibu Fika membuat Fika tersentak kaget begitu juga dengan Radit.
Radit pikir ini kesempatan yang bagus untuk memikat hati kedua orangtua Fika . Ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tidak akan datang 2 kali .
"Benar nak Radit, rumah kami kebetulan tidak jauh dari sini. Ibu tadi sudah masak sebelum kami pergi ke pasar untuk membeli beberapa barang." ucap ayah Fika menyetujui ide istrinya tersebut.
Fika pun hanya bisa menggelengkan kepalanya merasa percuma jika ia harus menentang ide dari kedua orangtuanya.
__ADS_1
Sepertinya hal tersebut memang sangat tak bisa di hindari. Maka dari itu Fika terlihat pasrah dan tidak lagi membantah sementara Radit langsung menyetujuinya dengan senyuman yang merekah.