My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Seperti duplikatnya


__ADS_3

Fika di kejutkan dengan suara seorang gadis remaja yang tiba-tiba menyapanya dengan ramah.


"Hai, mbak Fika." sapa Hana dengan ramah.


Fika pun menoleh padanya dan ikut tersenyum seraya membalas sapaan Hana dengan lembut.


"Hai juga, emm."


"Hana mbak, kenalin aku Farhanah adiknya mas Radit yang paling cantik." jelas Hana memutus kebingungan Fika sambil menyerahkan tangannya untuk berjabat.


"Oh, Hana. Nama yang cantik untuk gadis yang cantik dan juga manis." ucap Fika memuji sambil menggapai tangan Hana yang sudah menunggunya.


Mama Sarah pun tersenyum senang melihat reaksi Hana yang ramah terhadap Fika. Karena biasanya ia selalu bersikap hati-hati dan waspada pada setiap gadis yang mencoba dekat dengan kedua kakaknya.


"Lihatlah kelinci putihku yang satu ini, dia tengah beraksi. Entah apa yang akan ia lakukan, semoga keramahannya kali ini bukanlah kepura-puraan. Aku tidak boleh lengah, dia cukup cerdik untuk menyingkirkan orang yang tidak dia sukai." batin Radit sembari terus memperhatikan interaksi antara Fika dan adiknya.


"Oh ya ma, bukannya tadi mama bawain makanan ya buat mas Radit. Kayaknya dia udah laper tuh ma, mending mama suapi mas Radit dulu sekarang." ucap Hana menyarankan mamanya untuk pergi meninggalkannya berdua bersama Fika.


"Oh iya, mama sampai lupa. Sayang, kamu di temani Hana dulu ya, mama mau suapi Radit dulu sebentar. Gak apa-apa kan?" tanya mama Sarah


"Gak apa-apa kok tante." jawab Fika tertawa kecil meyakinkan mama Sarah.


"Tuh kan, apa yang kamu rencanakan kelinci kecil."gumam Radit menahan kesal.


Entah apa yang Hana rencanakan terhadap Fika hanya ia sendiri yang tahu. Radit hanya berharap jika Fika tidak akan terpengaruh dengan apapun yang Hana katakan atau lakukan.


"Aku bisa makan sendiri kok ma, tolong mama ambilkan saja makanannya." ucap Radit sungkan.


"Wah, mas Radit malu yaa sama mbak Fika kalau di suapi mama?" ucap Hana sengaja menggoda kakaknya si manusia es.


"E,enggak kok. Gak ada kayak gitu. Mas Radit udah sehat aja udah bisa makan sendiri." ucap Radit terbata.


Sementara Hana malah menertawakannya karena berbicara terbata-bata seperti orang yang sedang gugup melaksanakan wawancara panggilan kerja.


"Awas aja kamu kelinci kecil. Mas akan bikin perhitungan sama kamu nanti setelah sehat." batin Radit menahan kesal.


"Hana sudah, yang sopan sama mas Radit. Dia kakak kamu, gak boleh seperti itu." ucap mama Sarah memperingatkan putrinya .


"Dit, ini mama masakin masakan kesukaan kamu. Mudah-mudahan rasanya cocok di lidah kamu." ujar mama Sarah menyerahkan beberapa box berisi makanan.


"Makasih ma." ucap Radit tulus.

__ADS_1


Mama Sarah pun sedikit terharu mendengar ucapan hangat dari anak tirinya itu. Karena biasanya Radit hampir tidak pernah berbicara dengannya untuk sesuatu yang tidak penting.


"Sama-sama nak. Semoga kamu suka." ucap mama Sarah dengan tulus.


Tiba-tiba pintu masuk pun terbuka, bersamaan ayah Fika memasuki ruangan. Ia pun terkejut di dalam sudah ada mama Sarah dan seorang gadis yang tidak ia kenal duduk di dekat putrinya.


"Loh Bu Sarah sudah datang ternyata." ucap ayah kemudian menutup pintunya kembali.


"Belum lama pak, ngomong-ngomong bapak dari mana?" tanya mama Sarah .


"Saya habis ketemu dokternya Fika habis diskusi soal operasi tangannya Fika Bu."jelas ayah.


"Oh iya, operasinya siang ini kan?" tanya mama Sarah lagi.


"Iyah Bu, 1 jam lagi perawat akan menjemput Fika untuk ke ruang operasi." jelas ayah lagi.


Ayah pun langsung menghampiri Fika dan membelai sayang wajah putrinya tersebut. Ada kesedihan terlihat dimata putrinya, namun ia mencoba untuk tetap tegar.


"Sayang, kamu sudah siap untuk hari ini?" tanya ayah lembut.


"Sudah yah, ayah gak usah khawatir. Aku baik-baik aja sekarang." jawab Fika mencoba memaksakan senyuman di wajahnya.


Fika sangat dekat dengan ayahnya, karena itu ia selalu tidak bisa menyembunyikan apapun yang ia rasakan di hadapan sang ayah.


Entah apa yang mereka berdua bicarakan, ayah yakin jika itu bukanlah sesuatu yang membuat mereka bahagian satu sama lain.


"Ehem, ehem.. Om ada aku loh disini?" ucap Hana membuyarkan pikiran ayah Fika yang sedang berkelana jauh entah kemana.


"Ah, iyaa.. maafin om ya . Ngomong-ngomong kamu siapa nak? kenapa bersama dengan putri om?" tanya ayah dengan lembut.


"Hem, om gak bisa nebak gitu siapa aku?" tanya Hana memperlihatkan wajah menggemaskan dan imutnya dengan bergaya lucu.


"Sayang, siapa gadis kecil ini? Dia sangat menggemaskan." ucap ayah bertanya pada Fika.


"Ini Hana yah, adiknya mas Radit." jelas Fika sambil tersenyum.


Kehadiran Hana disana benar-benar menghibur hatinya. Tingkah yang Hana lakukan selalu membuatnya tersenyum tanpa sadar terbawa suasana.


Dia sangat ceria dan terlihat begitu cemerlang. Hana membuat Fika rindu dengan Icha. Hanya saja Hana lebih sedikit menyebalkan, pikirnya.


Satu jam pun berlalu begitu saja, ruangan diam dan Radit terasa begitu ramai hanya dengan kehadiran Farhanah. Ia bisa begitu mudah akrab dengan Fika bahkan ayahnya.

__ADS_1


Ayah Fika pun merasa senang dengan pribadi Hana yang cerewet dan periang. Dia benar-benar duplikat dari si bungsu Icha versi remaja.


Ah, memikirkan gadis itu ayah jadi merindukannya. Ia pun memutuskan untuk melakukan panggilan video call.


Sementara Icha kini hari-harinya banyak di sibukkan dengan mengelola operasional cafe milik sang kakak yang sudah di tinggal oleh pemiliknya selama beberapa hari ini.


Ia tidak mengalami kesulitan yang berarti karena sejak awal pembukaan cafe tersebut ayah, ibu dan Icha lah yang menjadi tim di cafe tersebut.


Fika tidak memiliki karyawan sampai sekitar 8 sampai 10 bulanan kecuali 2 orang waiters yang ikut bergabung dengannya sejak 6 bulan cafe di buka.


Itu pun karena semakin hari, pengunjung di cafe tersebut semakin ramai seiring dengan gencarnya ia mempromosikan cafe tersebut melalui beberapa akun social media.


Icha yang tengah mengecek booking list untuk dinner malam itu pun di kejutkan oleh panggilan video dari sang ayah dan dengan cepat menjawabnya.


"Assalamualaikum, putri ayah. Bagaimana kabar kamu sama ibu nak, sehat?" tanya ayah menatap rindu si bungsu.


"Waalaikum salam, aku sama ibu baik kok yah. Kita kangen banget sama ayah dan mbak Fika." ujar Icha jujur.


Mereka selalu bersama dan tidak pernah tinggal terpisah seperti itu. Jadi ketika mereka berjauhan seperti ini, mereka menjadi saling merindukan.


"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Ayah selalu ingat dan khawatir sama ibu dan kamu sayang." ujar ayah.


"Aku nggak apa-apa kok yah, mbak Fika gimana sekarang keadaannya. Ayah aku mau lihat mbak Fika." rengek manja Icha pada ayahnya.


Ayah pun hanya tersenyum gemas dengan rengekan manja putrinya. Biasanya mereka berdua selalu bertengkar setiap waktu, tapi begitu berjauhan mereka saling merindukan, pikir ayah.


"Sebentar ya." ucap ayah langsung menghampiri Fika kembali setelah tadi duduk di sofa karena ada Hana di samping Fika sejak tadi.


"Sayang, lihatlah siapa yang sedang mencari kamu." panggil ayah lembut pada Fika yang sedang berbincang bersama Hana.


"Mbak Fikaaa.." rengek Icha memanggil Fika.


"Apa sih kamu? Yang luka tuh kepala sama tangan mbak, bukan telinga. Gak usah teriak-teriak de." jawab Fika di selingi tawa renyahnya membuat Icha sedikit mencebik.


"Lagian mbak, sombong banget selama di Jakarta gak nelpon aku. Mbak kapan pulang? Aku gak bisa kencan nih karena ngurus cafe mbak terus." keluh Icha dengan bibir mengerucut sebal.


"Kamu tuh jadi pengen mbak cepet pulang bukan karena kangen? tapi karena pacar kamu?" ucap Fika berpura-pura kesal.


"Ya enggak juga sih, hehe makanya mbak Fika cepetan pulang." ujar Icha dengan tulus.


"Iya, de kamu doain aja mbak biar bisa cepat pulang. Siang ini juga mbak harus operasi tangan mbak dulu. Kalau semua lancar mbak pasti bakal cepet pulang." ujar Fika dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Sementara Radit yang mendengar percakapan Fika dengan Icha sempat di buat terdiam. Selera makannya mendadak hilang setelah menyadari jika keberadaan Fika di sisinya hanyalah sementara.


Cepat atau lambat Fika akan kembali ke Surabaya dan mungkin akan melupakannya. Fika tidak akan pernah mengingatnya lagi atau bahkan merindukannya.


__ADS_2