
Aku tidak habis pikir dengan perilaku pak Aksa akhir-akhir ini. Bukannya aku berlagak tidak mengerti, tapi sikapnya memang semakin hari seperti sengaja untuk mendekati ku.
Bagiku, tidak ada lagi perasaan yang tersisa untuknya sekarang. Dan sepertinya perasanku dulu padanya hanya sebatas mengagumi, tidak lebih dari itu.
Jika pun memang dulu pernah ada rasa yang lebih untuknya, itu hanya akan terjadi di masa lalu. Tidak ada lagi yang tersisa dari hatiku untuk dia, di masa kini ataupun yang akan datang.
Akmal sudah menungguku sejak tadi. Ketika aku menghampirinya, wajahnya sudah terlihat sangat masam.
"Maaf sayang, apa kamu sudah lama menunggu?" tanyaku
"Tidak, hanya saja waktu yang ku habiskan untuk menunggumu akan cukup bagiku melakukan perjalanan ke rumahmu." ucapnya merengut kesal
"maaf sayang, ayo kita harus segera bergegas."ucapku sambil terkekeh menarik tangannya perlahan
Tiba di cafe suasananya sudah cukup ramai, kami mencari tempat yang kosong namun semua terlihat berpenghuni.
Ketika kami masih sibuk mencari tempat terlihat mbak Alana dan mas Dafa melambaik-lambaikan tangannya memanggil kami.
"Fika, disini." panggilnya.
"Sayang, kita gabung meja sama temen-temen aku ya?" ajak ku
"Memang udah gak ada meja yang kosong?" tanyanya seperti enggan
"Kenapa ? biasanya juga kita sering gabung sama mereka kan?" tanyaku
"Iya , tapi lihat itu ada si Radit disana." ucapnya menoleh ke meja mereka
"Emang kenapa sayang? mas Radit kan temen aku juga." tanyaku penasaran
"aku gak suka sama dia." ucapnya sambil memandang sengit ke arah Radit yang menatapnya balik tidak suka
"Sayang, aku udah lapar. Nanti keburu habis jam istirahat aku." ujarku menatap penuh harap
"ah, baiklah." ucapnya sambil mendengus kasar menghampiri meja teman-teman ku
Mereka sudah memesan makanan lebih dulu dan sedang akan memulai ritual makan siang mereka ketika kami sampai di mejanya.
__ADS_1
Karena hanya ada 4 buah kursi, yang kosong hanya 1 kursi di samping Radit, Akmal pun mengambil 1 kursi kosong di meja sebelah setelah meminta ijin terlebih dahulu.
"Kamu duduk disini aja sayang." ucap Akmal lembut menggiring ku untuk duduk di sebelah mbak Alana
Sedangkan Akmal duduk di samping Radit dengan acuh. ia menyapa semua orang kecuali Radit. Entah kenapa mereka sangat tidak bersahabat, tatapan mereka saling menajam ketika bertemu seperti ini.
Mereka bertiga telah selesai menyantap makan siang mereka lebih dulu dan memutuskan untuk berpamitan kembali ke kantor.
"Fika, kita duluan ya. kalian gak apa-apa kan kita tinggal?" tanya mbak Alana
"gak apa-apa kok mbak, kalian duluan aja. Sebentar lagi kita selesai kok." jawabku tersenyum
"Baiklah, lekas habiskan makan kalian. Akmal, jangan lupa arah kantor kemana ya? Fika jangan kamu bawa." ujar mas Dafa mengeluarkan candaan
"Duluan." ucap Radit singkat sebelum meninggalkan meja kami
"Aihh, dasar si gunung es !" gerutu mbak Alana melihat kelakuan Radit yang cuek seperti biasa
Sementara aku hanya tertawa kecil melihat kekesalan mbak Alana dan mas Dafa yang terus menggerutu karena sikap Radit sebelum akhirnya mereka pun menyusulnya.
Begitu sampai di depan pintu lift yang hampir tertutup aku menekan tombol agar pintu lift kembali terbuka dan berhasil.
Langkah ku terhenti dengan senyuman yang menyurut ketika ku lihat ada 2 orang laki-laki dengan setelan jas yang terlihat mahal serta sepatu yang mengkilat.
degg,
1 orang laki-laki paruh baya yang pernah ku temui beberapa waktu lalu dan asistennya tengah menatap tajam ke arahku.
Hatiku menjadi ragu tentang bagaimana sebaiknya aku bersikap. Sesaat aku mengumpulkan segenap keberanian ku untuk tetap masuk di lift tersebut tanpa memperdulikan mereka berdua.
Aku memilih untuk berdiri di samping depan mereka tepat di depan pintu lift menjaga jarak dengan mereka berdua.
Berusaha sekuat tenaga untuk terlihat tetap tenang walaupun hatiku sungguh sedang bergemuruh hebat di dalam sana.
"Lihat Hans, tidak ku sangka perempuan tidak tahu diri ini berani untuk memasuki lift yang sama dengan kita." ucapnya sinis melirikku dengan tatapan merendahkan
Sementara sang asisten hanya diam mematung tidak menyahuti perkataan sang atasan. Aku pun terus merapalkan banyak do'a di dalam hatiku agar bisa bertahan sampai akhir.
__ADS_1
"Rupanya selain tidak tahu diri ia juga perempuan yang sombong dan tidak punya sopan santun Hans." ucapnya terkekeh sambil mengeluarkan untaian kata-kata pedas yang terasa menyakitkan
"Maaf tuan, sepertinya ini bukan tempat yang tepat untuk membicarakan hal ini." ucapku sambil sedikit menoleh tanpa membalikkan tubuhku
"Kau terlihat sangat percaya diri nona, padahal kau sangat tahu jika kau bahkan tidak pantas untuk berdiri sejajar dengan putraku." ucapnya lagi membuat mataku perih dan memerah menahan air mata yang ingin segera menerobos keluar
"Tidak ada yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya di mata Tuhan tuan." jawabku lembut
"Kau, sungguh berani nona. Kita lihat saja seberapa lama kau bisa bertahan di samping putraku. Jangan pernah bermimpi terlalu tinggi untuk menjadi bagian dari keluarga kami." ucapnya masih penuh keangkuhan
"Kau belum mengenal bagaimana diriku sebenarnya dan apa saja yang sanggup ku lakukan untuk menyingkirkan wanita ****** sepertimu." lanjutnya lagi membuat kedua tanganku gemetar meremas sedikit rok yang ku pakai
Rasanya sangat menyakitkan seperti ribuan jarum menembus kulitku secara bersamaan. Kata-katanya yang ia ucapkan sangat terdengar kasar saat itu.
Tidak ada hentakkan atau nada tinggi di setiap kata yang ia ucapkan namun mampu memporak-porandakan hatiku dan membuatnya menjerit Pilu.
Ting,
Pintu lift terbuka dengan segera ku melangkah keluar dari tempat yang membuatku tersiksa sejak tadi.
Sebelum pintu tertutup kembali aku menekan tombol lift di sebelah ku masih membelakangi mereka berdua.
"Kita lihat tuan, seberapa besar putramu mencintai ****** ini. Jangan sampai kau menyesal karena malah kehilangannya ketika menyingkirkan ****** yang sangat ia cintai." ucapku menoleh menampilkan senyuman palsu
Dengan cepat ku langkahkan kakiku menuju ruangan ku yang ada di ujung sebelah kanan.
Sesungguhnya kedua kakiku mendadak lemas tak bertenaga sejak tadi namun aku berusaha untuk terus bertahan dan tidak menunjukkan kelemahan ku di depannya.
Brukk,
Tubuhku langsung merosot terduduk di lantai dengan airmata yang perlahan menetes semakin banyak setiap detiknya.
Semua orang berhambur menghampiri ku dan menanyakan keadaan ku saat itu namun tidak ada yang benar-benar bisa aku dengar.
Hanya suara ayah Akmal dengan penuh intimidasi itu terus berkelebat dan terngiang di telingaku.
Tidak ada suara yang keluar dari mulutku selain isakan tertahan dan airmata yang tak berhenti mengalir bagai anak sungai menumpahkan sakit dan sesak secara bersamaan.
__ADS_1