
Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam akhirnya Akmal pun sampai di depan gedung kantor Fika. Ia masih mencoba menghubungi nomor Fika namun nihil, ponselnya masih dalam keadaan tidak aktif.
Akmal pun langsung memarkirkan mobilnya di basemant dan menuju ke lobby utama. Karena 30 menit lagi adalah jam masuk kantor, suasana di lobby mulai ramai.
Dan sebelum Akmal menemui resepsionis, ia melihat Dafa dan Alana hendak menuju lift. Ia pun langsung berlari kecil sambil memanggil keduanya tepat sebelum pintu lift terbuka mereka menoleh pada Akmal.
"mas Dafa, mbak Alana tunggu.." panggil Akmal
"Loh, itukan Akmal.. tunggu dulu sayang." ucap Alana sambil menarik lengan Dafa untuk menghampiri Akmal yang sedang berlari menuju ke arahnya.
"Loh Akmal, ada apa? nganterin Fika? Fika nya mana ?" tanya Alana lebih dulu
"Nggak mbak, aku gak nganter Fika. Justru ini pengen ketemu, bisa gak aku minta tolong sama kalian." jelas Akmal
"Boleh lah, gak perlu sungkan kayak gitu ah. emang mau minta tolong apa?" jawab Dafa sambil menepuk pelan bahu Akmal
"Iya ih kamu tuh kayak orang baru kenal aja." timpal Alana dengan ramah
"Bisa gak mbak bawa Fika turun sekarang, aku mau bicara sebentar. Tapi mbak jangan bilang kalau ada akmal disini. please ya?"ucap Akmal sedikit memelas
"Loh, kenapa? kalian lagi ada masalah? lagi berantem ?" cecar Alana heboh.
"Sayang." panggil Dafa sambil menyenggol bahu Alana pelan agar berhenti bertanya.
"Maaf ya mbak gak maksud loh ." ucap Alana sambil cengengesan
"Iyah mbak, gak apa-apa. Iya sebenernya lagi ada masalah dikit. Cuma Afika nya gak mau terus aku ajakin ngomong." jelas Akmal
"Oh, seperti itu. ya sudah mbak naik dulu ya kalau begitu sebentar mbak ajak dia turun." ucap Alana lalu mengajak Dafa langsung menaiki lift
Setelah sampai di ruangannya Alana pun langsung meletakkan tasnya di meja. Ia pun menghampiri Fika untuk mengajaknya ke bawah.
"selamat pagi semuanya." ucap Alana dan Dafa serempak
"pagi ." ucap Radit singkat
__ADS_1
"pagi juga." ucap Fika tersenyum
"Fik, anter mbak yuk ke bawah. Mbak belum sarapan pengen ke kantin nyari camilan." ajak Alana to the point
"Oh, kebetulan sih aku juga belum sarapan. ayok deh." ucap Fika bersemangat sementara Radit melirik sekilas
"Sayang, bentar ya." ucap Alana pamit
Dafa pun hanya mengangguk pelan tanpa menjawab ucapan Alana. Ia langsung menuju mejanya dan menata mejanya yang sedikit berantakan.
Alana langsung membawa Fika turun menuju kantin. Dan ketika sampai di lobby, tampak Akmal tersenyum melihat kedatangan Fika dan Alana.
Fika masih belum menyadari kehadiran Akmal di sana karena fokus dengan obrolannya bersama Alana. Akmal pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut mengikuti mereka ke kantin.
Fika dan Alana langsung duduk di kantin. Mereka pun langsung memesan makanan untuk sarapan. Alana pun memberi isyarat mata pada Akmal agar segera menghampiri mereka.
Dan begitu Akmal menghampiri mereka Fika pun tampak sedikit terkejut namun ia tetap berusaha untuk menekan emosinya dan bersikap tenang.
"Sayang, bisa kita bicara?" tanya Akmal
"Fik, maaf kalau mbak ikut campur. Sebaiknya kamu bicarakan dulu kalau kalian ada masalah. jangan biarkan berlarut-larut, selesaikan dengan baik. kalian sudah dewasa, jangan menuruti emosi sesaat." ucap Alana memberi nasihat
Fika hanya diam tak menjawab, tapi ia seakan sedang memikirkan ucapan Alana.
"baiklah." ucap Fika setelah berfikir beberapa saat
"mbak, pindah ke sebelah sana dulu ya." pamit Alana
"terimakasih mbak." ucap Akmal sambil tersenyum
Akmal pun langsung mengambil posisi duduk berhadapan dengan Fika.
"Sayang, please aku minta maaf. Kamu jangan siksa aku kayak gini, aku benar-benar minta maaf dan menyesal soal kejadian kemarin." ucap Akmal memecah hening
Akmal pun menarik lembut tangan Fika dan menggenggamnya dengan hangat.
__ADS_1
"please sayang, maafkan aku." ucap Akmal lagi mengiba
Fika masih bungkam dan menatap Akmal di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kau tidak mau memaafkan ku? sungguh?" tanya Akmal lagi yang melihat Fika hanya diam membisu
Fika pun menghela nafas cukup dalam sebelum akhirnya mengucapkan sesuatu.
"Bagaimana jika ada laki-laki lain yang mencium kedua pipiku saat kau di sampingku?" tanyanya dengan menatap dalam mata Akmal.
"tentu saja aku akan menghajar laki-laki itu." jawab Akmal dengan penuh emosi
"lalu, kau tidak akan marah padaku karena membiarkannya?" tanya Fika lagi dengan sinis.
Akmal pun termenung sesaat mendengarnya.
"Kesalahan kamu mungkin hanya satu, yaitu membiarkan perempuan itu menyentuhmu tapi jika saja yang terjadi sebaliknya, apakah kamu akan memaafkan aku dengan mudah?" tanya Fika menohok hati Akmal.
"Aku hanya butuh waktu tanpa melihat kamu, sampai rasa kesal ku menguap dengan sendirinya. Jangan terlalu egois, ketika laki-laki lain hanya menatap ku lebih dari 5 detik saja kau sangat marah dan cemburu. Lalu bagaimana denganku yang harus menyaksikan mantan kekasih mu itu menyentuhmu dengan bangga di depan mataku." jelas Fika segera bangkit dari duduknya hendak pergi
"Kamu begitu serakah dengan selalu membatasi ku dengan orang lain, tapi bahkan kamu tidak bisa membatasi diri kamu sendiri." lanjutnya lagi kemudian pergi meninggalkan Akmal yang masih termenung mendengar setiap kata yang Fika ucapkan.
Alana yang melihat Fika pergi dan meninggalkan Akmal pun menghentikan makannya, meletakkan uang di atas meja lalu berlari mengejar Fika .
Fika pun berusaha meyakinkan hatinya kalau dia tidak salah bertindak. Ia harus bisa menegaskan batasan di antara mereka. Ia ingin Akmal bisa menyadari jika sikapnya selama ini sangat tidak adil untuk Fika.
Walaupun kejadian kemarin sudah tidak terlalu membuatnya marah, namun ia ingin mengambil langkah dalam kesempatan ini agar Akmal bisa memberikan sedikit ruang dalam hubungan mereka.
"Aku tidak ingin menyesali hari dimana hubungan kita benar-benar berakhir karena aku muak dengan sikapmu. Karena aku sangat menyadari, hatiku sudah jatuh cukup dalam padamu. Aku ingin kita sama-sama nyaman dalam hubungan kita dan bisa bertahan untuk waktu yang lama." gumam Fika dalam hati.
Akmal masih termenung di kantin dan terus mencerna sedikit demi sedikit kata yang di ucapkan oleh Fika.
Mungkinkah selama ini dirinya terlalu egois dan serakah untuk memiliki Fika? Mungkinkah selama ini kekasihnya itu merasa terbebani oleh sikapnya?
Mungkinkah kekasihnya itu akan meninggalkannya suatu saat nanti karena merasa sangat terkekang dan muak padanya?
__ADS_1
Semua pertanyaan itu satu persatu terus berputar di otakku. Ia benar-benar merasa takut membayangkan jika Fika akan meninggalkannya suatu saat nanti.