
Seperti biasa setelah pulang kerja aku langsung membersihkan diriku dan berganti pakaian lalu turun untuk makan malam bersama keluargaku.
Kebetulan malam itu, Icha pulang kuliah di antarkan oleh pacarnya. Ibu pun mengajak Reyhan untuk makan malam bersama kami.
Ibuku bukan tipe ibu yang kuno, dia orang yang berpikiran terbuka. Itulah kenapa ia bisa sangat akrab dengan Reyhan dan Akmal .
Icha dan Reyhan sudah berpacaran sejak mereka kuliah, saat ini Reyhan sedang tahap menyusun skripsi. Walaupun masih kuliah mereka mempunyai komitmen dalam hubungan mereka.
Terkadang melihat hubungan mereka seperti keduanya sudah sama-sama dewasa dan berpengalaman. Tidak sering bertengkar ataupun terdengar masalah seperti hubungan ku yang penuh drama.
Terkadang aku iri ketika melihat mereka, walaupun masih muda mereka sudah merencanakan masa depan mereka berdua dengan sangat sempurna.
Kedua keluarga juga telah saling mengenal masing-masing. Maka dari itu, ibu selalu ketakutan melihatku yang tak pernah berpacaran.
Ia takut jika aku akan di langkahi oleh adikku, Walaupun saat ini mereka masih sama-sama kuliah. Tapi ibu tetap merasa tidak tenang jika aku belum mendapatkan pasangan.
Ibu selalu berusaha menjodohkan aku dengan anak dari temannya, tapi aku belum merasa seputus asa itu untuk menerima sebuah perjodohan.
Dan akhirnya setelah penantian panjang, seseorang laki-laki tampan dan pencemburu menemukanku. Tidak hanya itu, dia pun bisa meluluhkan hatiku yang awalnya ragu.
Kembali ke cerita makan malam.
Kami berlima menikmati makan malam dengan hangat. Suasana ruang makan terdengar lebih hidup dengan candaan dan gurauan di sela makan.
Tidak seperti biasanya yang selalu khusuk dan khidmat. Tidak ada yang boleh bicara ketika sedang makan. Ayah sangat tegas dalam aturan itu, namun ketika ada tamu semua itu tak berlaku.
Kami bisa sedikit bersantai dan sesekali saling bicara. Ayah tidak ingin jika tamunya merasa tidak nyaman dengan suasana hening seperti biasanya.
Setelah makan malam selesai, mereka berempat pindah ke ruang keluarga untuk melanjutkan perbincangan mereka.
Sementara aku memilih lebih dulu pamit ke kamar dengan alasan lelah dan ingin berisitirahat.
Sampai di kamar, aku merebahkan tubuhku di ranjang. Tempat paling favorit bagiku ketika sedang berada di rumah.
Pikiranku sedikit berkelana memikirkan seseorang yang begitu ku rindukan. Aku terjebak dalam lamunan memikirkan semua yang telah datang dan berlalu.
Suara dering ponselku memecah semua bayangan kejadian belakangan ini yang terus berkelebat di dalam kepalaku.
__ADS_1
Ku lihat ada nomor yang tak di kenal tengah menelponku. Panggilan pertama ku abaikan, karena aku takut jika itu hanya perbuatan orang iseng saja.
Tak berselang lama, nomor tersebut kembali menelpon ku membuatku sedikit bingung tentang siapa yang menelpon ku saat ini.
Terakhir kali aku menjawab telepon nomor tak di kenal ternyata adalah ayah Akmal. Aku jadi merasa sedikit takut jika mengingatnya.
"Mungkinkah ayahnya yang kembali menelpon ku?" batinku
Hingga dering ketiga tetap terdengar nyaring, aku pun memutuskan untuk mengangkatnya.
"ya, hallo." sapa ku
"Fika, ini Akhtar kakaknya Akmal." ucapnya to the point
"eh, iya mas Akhtar ada apa?" tanyaku sedikit terkejut
"saya mau bicara sebentar, apa kamu sedang tidak sibuk?" tanyanya lagi
"enggak kok mas, ada apa ya?" tanyaku balik
"ini tentang Akmal, apa kalian sedang bertengkar?" tanyanya kemudian setelah beberapa saat terdiam
"i..iyaa mas." jawabku terbata
"Akmal terlihat sangat kacau, saya harap kalian bisa bersikap dewasa menyikapinya. Jika Akmal berbuat kesalahan, tolong pertimbangkan untuk memaafkannya. Dia sangat mencintai kamu, kamu satu-satunya perempuan yang ia kenalkan pada bunda dan saya." lanjutnya lagi panjang lebar
Untuk pertama kalinya ia bicara panjang lebar, mas Akhtar salah satu tipikal orang yang tidak banyak bicara.
Namun di lihat dari caranya menghubungiku, ia pasti sangat menyayangi Akmal. Di balik kediamannya, ia seorang kakak yang perhatian dan pengertian.
"Iya mas, Fika akan segera menyelesaikan masalah kami dengan baik. Terimakasih mas sudah memberikan saran untuk Fika. Maaf membuat mas mengkhawatirkan Akmal." ucapku dengan penuh penyesalan
Awalnya aku berpikir jika aku bisa memanfaatkan masalah ini untuk bisa sedikit merubah sikap Akmal yang sangat posesif dan pencemburu.
Namun ternyata ini hanya salah satu bentuk keegoisan ku saja. Aku terlalu merasa jika hanya aku yang benar dalam hubungan kami.
"Temuilah Akmal besok sore, ia akan pulang dari luar kota. Sekali lagi maaf jika saya ikut campur atau sedikit menyinggung perasaan kamu. Saya hanya ingin hubungan kalian berjalan dengan baik seperti biasanya." ucapnya lagi terdengar tulus
__ADS_1
"dan Fika." ucapnya menggantung
"kenapa mas?" tanyaku
"Maafkan ayah kami, percayalah Akmal akan memperjuangkan kamu bagaimana pun caranya. Tolong jangan terlalu di pikirkan, jangan biarkan sikap ayah mempengaruhi hubungan kalian." pesannya.
Terdengar sedikit ada kekhawatiran dalam kata-katanya, walaupun ia berusaha menutupinya.
Tidak ada lagi yang kami bicarakan dan telepon pun terputus begitu saja.
Itulah bagaimana awalnya aku memutuskan untuk datang ke apartemen Akmal sore itu.
Aku sudah tahu sandi apartemennya karena itu aku bisa masuk. Bahkan ketika Akmal datang aku sudah ada disana.
Entah Akmal melihatku atau tidak, aku tidak tahu. Karena ia menganggap ku hanya khayalan nya saja ketika ia bangun dari tidurnya.
Ketika Akmal sampai, aku baru selesai memasak untuk makan malam kami. Aku pergi ke supermarket lebih dulu, yang terletak sebelum gedung apartemen Akmal.
Aku ingin kami bisa berbaikan dan meluruskan semua kesalahpahaman di antara kami.
Aku sangat menyesal karena telah bersikap egois padanya. Harusnya aku memintanya dengan baik-baik jika memang dia harus merubah sedikit sikapnya.
Tanpa perlu menyakiti hatinya dengan kata-kata yang menyakitkan.
Ketika ia terlelap di sofa, lama aku berjongkok di depannya. Ku amati wajahnya yang terlihat sangat lusuh. Rahang tegasnya telah di tumbuhi sedikit bulu-bulu halus tanda ia tak lagi mempedulikan penampilannya.
Melihatnya dengan penampilan yang sangat kacau membuatku sangat menyesal dengan semua sikapku tempo hari.
Jika aku benar-benar mencintainya dengan tulus, seharusnya aku bisa memahami kekurangannya.
Ia tidak pernah berpikiran buruk tentang ku barang sedikitpun. Ia selalu mencintai ku dengan sempurna.
Tapi aku malah tidak bisa menyadari dan memahami perasaannya untukku.
Ia selalu memperlakukan ku dengan sangat baik. Ia selalu memprioritaskan aku di atas segalanya.
Ia selalu memberikan yang terbaik dari apa yang mampu ia lakukan. Hanya aku yang tidak pernah melakukan apa-apa untuknya .
__ADS_1
"aku sangat menyesal, maafkan aku." batinku