My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Pantai


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sarapan pagi, aku dan mas Radit bersiap untuk pergi ke pantai. Kami berencana untuk jalan-jalan ke pantai sebelum besok pagi berangkat ke Jakarta.


Rencananya kami berdua akan menginap di salah satu resort yang ada di pesisir pantai yang akan kami kunjungi tersebut.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih hampir 3 jam, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Matahari terlihat sudah cukup terik untuk membakar kulit.


Aku dan masa Radit bergegas masuk karena cuaca diluar begitu panas. Setelah mendapatkan kunci, kami langsung di antar menuju kamar.


Resort ini sangat indah, bahkan kamar kami di lengkapi dengan kolam renang pribadi yang menghadap ke pantai.


Dari kolam kami bisa langsung berjalan menuju pantai, hanya dengan jarak kurang dari 50 meter saja.


Sementara mas Radit langsung berbaring merebahkan tubuhnya di atas kasur, aku memilih untuk berdiri di pintu kaca yang menghubungkan kamar dan kolam renang untuk menikmati semilir angin yang berhembus.


Ku lihat mas Radit tampak memejamkan matanya, sepertinya ia kelelahan setelah menyetir selama 3 jam lebih tanpa istirahat. Padahal ia sendiri sudah memesan makanan untuk makan siang tadi.


Aku akan membiarkannya terlelap selama beberapa saat sampai nanti makanan pesanannya datang. Barulah nanti aku akan membangunkannya.


Sebelum itu, aku akan mandi terlebih dahulu. Kurang lebih selama 15 menit aku mandi dan berganti pakaian, setelah selesai aku pun keluar dari kamar mandi.


Ketika aku sedang mengenakan daily skincare yang biasa aku gunakan, terlihat ada pergerakan dari mas Radit. Ku lihat ia sudah membuka matanya sambil berbaring menatap ke arahku.


"Kamu sudah bangun mas?" tanyaku.


"Hem." jawabnya singkat.


"Kemarilah." ucapnya lagi.


Aku pun langsung meletakkan beberapa alat make up yang akan aku pakai siang ini di meja rias dan langsung menghampirinya yang masih berbaring menyamping di atas ranjang.


"Kenapa mas?" tanya ku sambil berdiri menghadapnya.


"Duduk sini." ucapnya menepuk tempat kosong di sisi ranjang.


Aku pun langsung menurut dan duduk di sisinya. Ia pun langsung menarik tubuhku sehingga posisiku berada tepat di atasnya.

__ADS_1


"Mas, kamu mau ngapain?" tanyaku sedikit gugup.


"Kenapa kamu terlihat cantik sekali? Kamu lagi apa tadi?" tanyanya tiba-tiba.


"A.. aku lagi pakai make up mas." ucapku terbata.


"Make up? untuk apa? kamu sudah terlihat sempurna sayang." ucapnya membuatku termenung mengingat seseorang.


Ya untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu ini aku benar-benar tidak mengingatnya. Tapi sikap posesif mas Radit mengingatkan aku dengannya.


"Sayang." panggil mas Radit kembali menyadarkan ku.


"Hem." jawabku singkat.


"Kamu kok jadi ngelamun sih?" tanyanya.


"Gak apa-apa, cuma inget sesuatu aja." jawabku asal.


Aku pun berusaha bangkit untuk duduk tapi mas Radit menahan tubuhku dengan tangannya yang ia lilitkan di pinggang ku.


"Aku.. aku mau beresin alat make up aku dulu mas." jelasku berusaha tak gugup dengan tidak menatap langsung ke dalam matanya.


"Kenapa di beresin? Kan kamu belum selesai?" tanyanya membuatku sedikit terkejut.


"Mas gak ngelarang aku buat pakai make up?" tanyaku memastikan.


"Tidak." jawabnya tegas sembari menggelengkan kepalanya.


"Aku suka melihat kamu yang seperti ini, tapi aku juga suka ketika kamu terlihat lebih cantik. Aku akan memandangi kamu sepuas ku sampai kamu tidak memiliki kesempatan untuk pergi." jelasnya tersenyum lembut.


Satu tangannya mencoba merapikan rambutku yang mulai berjatuhan. Jantungku rasanya tidak bisa berhenti berdebar kencang setiap kali kami dalam jarak sedekat ini.


Mata yang tajam, alis yang tebal dan berwarna hitam pekat juga rahang yang tegas, sesaat aku terhipnotis dengan salah satu karya Tuhan yang satu ini.


Setelah menjadi istrinya, aku benar-benar baru menyadari betapa tampannya dia selama ini. Bibirnya yang tebal berwarna merah alami begitu terlihat menggoda.

__ADS_1


Astaga pikiran-pikiran kotor itu mulai berdatangan kembali setiap kami dekat seperti ini. Lembut, ku rasakan tangannya yang mulai bergerak mengusap pelan pipiku dan juga bibirku.


Entah karena terbawa suasana atau apapun itu aku tidak tahu, tubuhku tidak bisa menolak perlakuannya padaku. Saat wajah kami sudah semakin dekat, aku bisa merasakan hembusan nafasnya menerpaku.


"Manis."


Rasanya begitu manis ketika kedua bibir kami bertemu untuk pertama kalinya. Mungkin ini bukan yang pertama bagiku, tapi rasanya benar-benar berbeda.


Tidak ada pagutan liar dan ciuman yang menuntut seperti yang biasa ku lakukan dengan Akmal dulu. Ia begitu lembut dan berhati-hati ketika menyentuhku.


Ini adalah ciuman yang manis. Kami saling menyesap dengan lembut dan penuh perasaan. Dan ketika akhirnya ciuman kami terlepas, ia bisikkan satu kalimat indah di telingaku.


"I love you, my wife." bisik nya.


Aku hanya bisa tersenyum menunduk, menyembunyikan wajah ku yang tersipu malu. Aku pun segera melepaskan diriku darinya dan berlari menuju ke arah kolam renang untuk menghindarinya.


Tak lama dia menyusul ku yang tengah duduk di kursi santai yang ada di pinggir kolam menghadap ke pantai. Mas Radit datang dengan di ikuti seorang pelayan yang membawakan pesanan makan siang kami berdua.


Kami pun menikmati makan siang kami berdua tanpa membahas apapun tentang yang terjadi beberapa saat lalu. Aku hanya bisa bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara aku dan dia.


Setelah selesai menyantap makan siang kami, mas Radit mengajak aku untuk pergi ke tepi pantai. Sudah ada sebuah motor boot disana yang sengaja ia siapkan untuk kami.


Mas Radit benar-benar tahu apa yang aku sukai bahkan tentang apa yang aku sukai ketika bermain di pantai. Ia berusia dengan begitu baik sampai terkadang aku malu karena menjadi seseorang yang tak cukup baik untuk mengerti dirinya.


Selain sangat pengertian, mas Radit merupakan seseorang yang sangat perhatian. Dia selalu memanjakan aku dalam banyak hal yang bahkan terkadang adalah hal-hal yang spele.


Suamiku membuatku benar-benar merasa jika aku adalah istri yang paling beruntung di dunia ini. Bahkan aku tidak pernah berpikir, aku bisa tidak mengingat seseorang yang dulu begitu ku cintai begitu dalamnya.


Perlahan hatiku mulai melupakan nama yang tak pernah tidak aku ucapkan dalam doaku setiap hari. Doaku hari ini masih sama, yaitu agar dia menemukan kebahagiaan yang sama.


Seperti kebahagiaan yang kini ku rasakan bersama suamiku. Aku tidak tahu apakah saat ini aku sudah jatuh cinta kepadanya. Aku hanya tahu jika sampai detik ini, dimana kami mengucapkan janji suci pernikahan hatiku tidak pernah tidak terisi dengan kebahagiaan.


Ia selalu berusaha untuk membahagiakan aku dan membuatku nyaman dengan segala perlakuannya. Aku berjanji setelah ini, seperti kamu yang selalu mencoba membuatku nyaman.


Aku akan selalu berusaha untuk membuat kamu juga seperti itu. Semoga kita selalu di limpahi kebahagiaan seperti hari-hari ini. Takdir membawaku untuk menjadi pendamping kamu, seseorang yang tak pernah menjadi pilihan di hatiku.

__ADS_1


__ADS_2