My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Belajar menerima kenyataan


__ADS_3

Di Bandung,


Akmal terus gelisah sejak pagi karena tak mendapatkan kabar dari Fika sejak kemarin.


Tangannya seolah tak bisa untuk berhenti memainkan benda elektronik multi fungsi tersebut.


Entah sudah berapa ratus pesan dan telepon ia lakukan untuk menghubungi Fika namun tetap tak ada respon sama sekali.


Bahkan menjelang siang nomor ponselnya sudah tidak di aktifkan dan tidak ada satupun orang yang bisa di hubungi.


Semua keluarga Fika bahkan seperti sengaja mengabaikannya. Hati Akmal sudah gusar dan tak menentu memikirkan banyak kemungkinan buruk yang terjadi.


Menjelang sore ia memutuskan untuk pulang ke Jakarta untuk menemui langsung Fika di rumahnya. Namun ketika hendak berangkat Akhtar menahannya dan meminta waktu untuk bicara sebentar.


Mereka berdua duduk di kursi rotan di halaman depan rumah peninggalan kakeknya tersebut. Akhtar pun akhirnya memanggil bundanya untuk bicara mengenai semua hal yang harus Akmal ketahui.


"Bunda, ada apa sih ini kalian sampai nahan aku disini? Aku gak bisa hubungin Fika atau keluarganya sama sekali loh ini. Aku harus buru-buru ke Jakarta sekarang, aku takut mereka lagi kena masalah." ucap Akmal yang sudah tidak bisa lagi bersabar.


"Mereka memang lagi kena masalah." sahut Akhtar dengan wajah yang serius.


"Loh Abang udah tahu kok gak kasih tahu gue sih. Yaudah gue cabut aja kalau gitu." ucap Akmal sembari berdiri merapikan barang bawaannya dan mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja dan melangkahkan menuju mobilnya.


"Masalahnya ada pada kita ! Harusnya Lo udah sadar itu." ucap Akhtar dengan sedikit membentak membuat langkah Akmal terhenti


"Apa maksudnya ini sebenernya ada apa? Jelasin ke gue bang?!"ucap Akmal berbalik langsung menubruk Akhtar dan mencengkram kuat kerah jaketnya.


"Akmal turunkan tangan kamu. Dia kakak kamu, kamu gak beh bersikap seperti itu sama kakak kamu ! Tolong kalian hargai keberadaan bunda disini sebelum kalian bertengkar ." Bunda Rania berucap dengan tegas.

__ADS_1


Akmal pun melepaskan cengkramannya dari baju Akhtar. Ia benar-benar merasa sangat frustasi, otaknya sudah di penuhi oleh pikiran-pikiran buruk tentang kekasihnya.


"Maaf." ucap Akmal lirih setelah ia sedikit lebih tenang.


"Jangan salahkan kakak kamu jika ia tidak memberitahu kamu apapun. Karena memang bunda yang minta Abang Akhtar merahasiakan beberapa hal lebih dulu." jelas bunda Rania lembut.


"Kenapa bunda, sebenarnya apa yang terjadi ?" Tanya Akmal dengan suara paraunya.


"Ada beberapa hal, bunda minta kamu dengarkan semua yang bunda katakan tanpa menyela sedikitpun sampai bunda selesai." pinta bunda Rania yang langsung di angguki setuju oleh Akmal .


"Baiklah."jawab Akmal singkat.


"Pertama, bunda akan memberitahukan keputusan bunda terlebih dahulu. Bunda sudah putuskan bahwa bunda dan Abang Akhtar akan tinggal dan menetap disini mulai sekarang. Bunda akan bercerai dengan ayah kamu." Akmal pun tersentak kaget mendengar kata-kata yang di ucapkan bundanya itu seperti mimpi.


"Yang kedua, ibu sudah berbicara di telepon dengan kedua orangtua Fika kemarin. Ayah kamu sudah membuat ayahnya Fika di berhentikan dari perusahaan dan membeli ruko yang di sewa oleh ibu Fika untuk membuka toko itu. Bunda sudah meminta maaf dengan sebesar-besarnya pada mereka dan mereka pun sudah berbesar hati dan tidak menyalahkan kamu sedikitpun tentang ini.Tapi?" bunda Rania kesulitan untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya pada Akmal.


"Tapi apa bunda?" tanya Akmal yang sudah tak sabar mendengarkan penjelasan bundanya terpaksa menyelanya dan melanggar janjinya.


"Orangtua Fika akan segera pindah ke luar kota. Dan mereka akan memulai hidup baru disana. Ibunya Fika meminta kamu untuk tidak perlu datang lagi ke rumah mereka setelah mendengar penjelasan bunda. Fika sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kalian, begitu pun dengan kedua orangtuanya meminta kamu untuk tidak lagi menemui putri mereka." jelas bunda dengan berurai air mata .


Sebenarnya ia sungguh tidak sampai hati untuk mengatakan semua itu pada putranya. Namun ibunya Fika sudah bersikeras dan memohon agar bunda Rania yang menjelaskan semuanya.


Mereka tidak ingin putri mereka kembali goyah jika harus berhadapan dengan Akmal secara langsung.


Pikiran Akmal mendadak kosong, kepalanya terasa sangat berat serasa di hantam oleh batu besar. Air matanya sudah terjatuh tanpa bisa ia tahan lagi untuk tidak keluar.


"Kamu harus bisa menerima keputusan Fika dan kedua orangtuanya. Ini semua untuk kebaikan mereka, ayah kamu tidak akan membiarkannya mereka hidup dengan baik jika kamu terus memaksakan hubungan kalian untuk bertahan." ucap bunda Rania memberi pengertian untuk putranya.

__ADS_1


Akmal hanya bisa terduduk lesu tanpa bisa mengatakan satu patah katapun. Kali ini ia benar-benar merasakan yang namanya patah hati.


Ia tidak rela melepaskan cintanya pergi, namun jika ia terus bersikap egois dan memaksakan Fika di sisinya maka dia DNA keluarganya bisa terluka lebih dalam lagi.


"Seperti inikah rasanya sakit karena patah hati. Akhirnya tuhan memberikan hukuman yang pantas untuk ku setelah sekian lama aku melupakan dosa-dosa ku yang dengan sengaja mematahkan hati banyak gadis " batin Akmal .


Bunda harap kamu bisa bersikap dewasa dan menyikapinya dengan lebih bijak.


"Bunda dan Abang kamu sudah mengatur beberapa orang untuk menjaga Fika dan keluarganya sementara mereka masih berada di Jakarta. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang keselamatan mereka." jelas bunda lagi yang sejak tadi tidak di tanggapi oleh Akmal.


Namun bunda Rania pun sangat tahu jika Akmal mendengarkannya walaupun mulutnya terkunci rapat sejak beberapa saat lalu.


Tanpa mengatakan apapun lagi Akmal pergi meninggalkan Akhtar dan bundanya untuk segera masuk ke dalam rumah kembali.


Akmal lebih memilih untuk kembali ke kamarnya dan mengurungkan niatnya untuk segera pergi ke Jakarta.


Ia harus bisa belajar untuk merelakan kekasihnya tersebut. Karena semua ini juga untuk kebaikan Fika dan keluarganya.


Ia sangat mencintai Fika, jadi tidak mungkin kalau ia akan tega menghancurkan kehidupan gadis yang telah membuatnya bisa benar-benar merasakan bagaimana tentang cinta yang sesungguhnya.


Akmal membuka galeri di ponselnya yang hanya di penuhi oleh ratusan foto gadis yang sangat cantik itu. Ada beberapa foto juga kebersamaan mereka selama berkencan dan berpacaran.


Sesekali ia tersenyum, lalu tertawa namu. air mata terus menerus mengalir tanpa ingin berhenti.


Air mata tersebut seolah menunjukan jika kesedihan benar-benar tengah berkuasa dalam hidupnya saat ini.


Hanya akan ada kegelapan dalam hidupnya setelah hari itu. Ia sudah berjanji dalam hatinya jika tidak akan ada gadis lain yang bisa menggantikan Fikanya .

__ADS_1


"Lihat saja tua bangka, aku akan mengalahkanmu dan menjadi lebih kuat darimu. Kamu akan menyesali apa yang hari ini aku alami suatu hari nanti " gumam Akmal salam hati sambil menatap foto-fotonya dengan Fika yang hanya akan menjadi kenangan saja kini .


__ADS_2