
Fika menjalani hari-hari nya seperti biasa tanpa merasa terganggu dengan kehadiran Radit. Pagi hari ia akan pergi ke cafe seperti biasa dan pergi ketika siang hari untuk membawa Radit jalan-jalan.
Awalnya Fika merasa sedikit kurang nyaman karena keberadaan Radit di sekitarnya. Namun setelah beberapa hari ia mulai terbiasa, toh Radit hanya sedang liburan di kota tersebut.
Tidak lama lagi, Radit akan segera kembali ke Jakarta. Mungkin baiknya, sebagai satu-satunya orang yang ia kenal di Surabaya Fika patut membantunya.
Sudah tidak ada kecanggungan yang berarti lagi di antara mereka. Berbanding terbalik dengan Radit yang dulu pernah ia kenal, kini sikapnya sangat cair dan hangat.
Bahkan mereka lebih banyak bercanda dan tertawa bersama sekarang. Ketika Fika mengingat dulu bagaimana sikap Radit padanya, ia sedikit merasa tidak percaya jika perubahan Radit akan sedrastis itu.
Bukan hanya padanya, sekarang Radit terlihat sangat dekat dengan semua orang di sekelilingnya. Ketika malam hari, Fika akan membawa Radit ke rumahnya.
Ibu mewajibkan Radit untuk makan malam di rumah mereka setiap hari. Karena ibu punya tujuan dan misi terselubung di baliknya. Ibu merasa Radit akan menjadi laki-laki yang pantas untuk putrinya.
Ini sudah hari ke 5, mereka berdua baru sampai di rumah Fika sesaat sebelum adzan Maghrib berkumandang. Ibu segera menyuruh Radit dan Fika membersihkan diri untuk melakukan shalat berjamaah.
Setelah melakukan shalat berjamaah, mereka pun melanjutkan dengan makan malam. Selama Fika bepergian dengan Radit, Icha yang akan menghandle segala urusan di cafe.
Jadi hanya Icha yang tidak ada di rumah, ialah yang paling bersemangat menawarkan diri untuk mengurus cafe selama Fika pergi. 0
Fika tidak bisa berkutik ketika semua keluarganya tidak memberikan alasan ia untuk menolak menemani Radit selama 10 hari ia berlibur di kota pahlawan tersebut.
Setelah makan Radit dan ayah Fika memutuskan untuk duduk santai di halaman belakang sambil menikmati buah yang telah di siapkan oleh ibu.
Sementara Fika membantu ibunya untuk membereskan bekas makan malam dan mencuci piring.
"Nak Radit, ini sudah hari ke 5 nak Radit tinggal di kota ini. Kapan nak Radit akan kembali ke Jakarta?" tanya ayah Fika
"5 hari lagi saya kembali om." jelas Radit setelah menghembuskan nafas cukup berat.
Ada kesedihan yang terlihat di wajah Radit. Ia masih tidak rela jika ia harus kembali ke Jakarta dan meninggalkan Fika. Seandainya saja ia bisa mendapatkan hati Fika sebelum ia pergi.
Maka Radit bisa kembali dengan tenang, pikirnya. Ayah Fika hanya tersenyum melihat ekspresi Radit dan setelah ia mengeluarkan 1 kalimat pendek itu, tanpa sadar ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Nak Radit." panggil ayah untuk ke sekian kalinya sambil menepuk bahu Radit menyadarkannya.
__ADS_1
"Em, maaf pak saya sedang terpikir sesuatu tadi." jelas Radit merasa tidak enak hati.
"Apa kamu menyukai putri om?" tanya ayah Fika tiba-tiba membuat Radit sedikit terkejut.
"Sangat, om. Saya sangat mencintai putri om sejak dulu. Hanya saja dulu saya terlalu bodoh untuk bisa mendekatinya. Sehingga orang lain bisa lebih dulu mendapatkan hatinya." ucap Radit menjelaskan situasinya setelah terdiam cukup lama.
Ayah Fika hanya menunjukkan wajah datarnya ketika Radit mengatakan hal tersebut membuat Radit sedikit gugup.
Namun tiba-tiba ayah Radit tertawa kencang, sambil menepuk-nepuk punggung Radit membuat Radit semakin kebingungan.
"Berusahalah sebaik mungkin, om akan mendukung kamu sepenuhnya." ucapnya tiba-tiba penuh keseriusan setelah ia tertawa.
"Tidak mudah, untuk mendapatkan hati putri om. Tapi om akan beri kamu dukungan 100% . Om sangat mengenal Fika, ia sangat sulit untuk membuka hatinya untuk orang lain. Tapi jika kamu bisa menunjukkan ketulusan dan keseriusan kamu, om jamin sedikit demi sedikit Fika akan mulai membuka hatinya untuk kamu." jelas ayah Fika memberikan sedikit wejangan untuk Radit.
"Terimakasih om, saya akan berusaha sebaik mungkin. Hanya saja, saya tidak bisa berlama-lama tinggal di kota ini. Waktu saya disini hanya 5 hari lagi untuk meyakinkan putri om." jelas Radit dengan wajah yang terlihat murung.
Ayah Fika tampak berpikir, mendengar penuturan Radit. Waktunya memang sangat singkat untuk bisa merebut hati putrinya.
"Betul sekali, kamu bisa 10 hari berada disini saja sudah hal yang luar biasa untuk ukuran seorang karyawan." ucap ayah Fika sambil terus berpikir.
"Apa itu nak Radit?" tanya ayah penasaran.
"Sebenarnya, saya adalah putra pemilik perusahaan dimana Fika bekerja dulu." ucap Radit jujur walaupun ia sedikit ketakutan di dalam hatinya.
Mengingat pengalaman yang sangat buruk telah mereka lewati karena ayah Akmal. Ia takut ayah Fika akan menolak keras setelah Nini mengetahui siapa dia sebenarnya.
Namun Radit juga tidak mau memulai hubungan dengan kebohongan. Karena setau orangtua Fika, Radit berasal dari keluarga biasa-biasa saja.
Ayah Fika nampak tertegun selama beberapa saat. Wajahnya di penuhi keterkejutan namun ia berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Pantas saja, kamu bisa tahu dimana keberadaan kami. Rupanya kamu kekuatan untuk menyelidiki kami. Apa Fika sudah tahu tentang siapa kamu sebenarnya?" tanya ayah dengan tenang.
"Fika sudah saya beritahu sejak dulu om, hanya saja setelah Fika pergi saya menggantikan papa saya untuk mengelola perusahaan." jelas Radit mencoba tidak menunjukkan kegugupannya.
"Apa papa kamu tahu kamu ada disini dan apa tujuan kamu disini sekarang?" tanya ayah Fika lagi.
__ADS_1
"Tentu saja, om. Sejak awal papa saya tahu bagaimana perasaan saya pada Fika. Beliau bukan orang yang berpikiran sempit, dan bahkan memberikan dukungannya untuk saya kesini sekarang." jelas Radit dengan penuh keyakinan.
"Bagaimana om bisa percaya? Bisa saja kamu berbohong pada om dan ternyata papa kamu tidak tahu apa-apa tentang keberadaan kamu disini?" tanya Ayah Fika lagi.
"Saya bisa menghubungi papa saya sekarang juga, jika memang om memang tidak mempercayai saya." jelas Radit berusaha meyakinkan Radit.
"Telepon sekarang." ucap ayah Fika dengan wajah datarnya.
"Baiklah om." jawab Radit kemudian mengambil ponselnya segera menghubungi papanya.
Radit bahkan langsung mengaktifkan mode speaker agar ayah Fika bisa mendengar percakapan mereka.
Tidak berapa lama, papa Radit menjawab teleponnya.
"Assalamualaikum pa." ucap Radit.
"Waalaikum salam, dit. Kamu sehat disana?"tanya papa Radit.
"Gimana perkembangan hubungan kamu dengan calon mantu papa dit?"tanyanya lagi antusias membuat hati ayah Fika sedikit lega.
"Radit baik-baik saja pa, doain aja semuanya lancar ya pa. Radit butuh dukungan papa." jelas Radit.
"Tentu saja nak, papa akan selalu mendoakan yang terbaik untuk anak papa."ucap papa Radit.
"Terimakasih pa, Radit akan berusaha dengan sebaik-baiknya untuk bisa mendapatkan hati calon mantu papa." jawab Radit sambil tertawa renyah.
Ayah Fika langsung tersenyum lega mendengar isi percakapan Radit dan papanya. Walaupun hanya sekilas, ayah Fika bisa mengetahui jika kepribadian papa Radit berbanding terbalik dengan ayah Akmal.
Seorang Rendra Hutama adalah orang yang sangat angkuh dan sombong. Bahkan ia tidak pernah benar-benar menganggap Akmal sebagai putranya.
Bagi Rendra Hutama , putranya adalah sama seperti boneka yang harus bisa ia kendalikan untuk kepentingannya. Ia tidak pernah peduli bagaimana perasaan putranya sendiri.
Radit pun telah menyelesaikan percakapannya dengan sang papa. Dan rasanya sangat lega setelah ia mengatakan kejujuran tentang dirinya.
"Om harap, kamu bisa membahagiakan putri om. Sudah banyak yang ia lewati, namun ia tidak pernah sedikitpun mengeluh. Tapi om tahu jauh di lubuk hatinya, Fika sangat rapuh dan terluka." jelas ayah Fika.
__ADS_1
"Saya berjanji om, saya akan melakukan semua hal terbaik untuk bisa mendapatkan hati Fika dan membahagiakannya." jelas Radit meyakinkan.