
Malam telah datang menggantikan cerahnya sinar mentari yang terik di siang hari. Suasana di cafe tidak seramai seperti biasanya.
Entah karena sudah memasuki tanggal tua, atau karena cuaca malam itu yang terus di guyur hujan sepanjang sore hingga malam.
Membuat semua orang terjaga di rumahnya masing-masing dan malas untuk keluar rumah hanya untuk sekedar nongkrong di cafe.
Radit masih menunggui Fika yang tengah bersiap-siap untuk pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya. Karena semenjak ada Radit, Fika selalu pulang lebih awal dari biasanya.
Karena Fika tidak ingin Radit merasa bosan selama menghabiskan liburan di kota tempat tinggalnya yang sekarang ini.
Bagaimanapun juga Radit adalah temannya yang sudah lama tidak ia temui. Radit adalah seseorang yang dulu pernah dekat dengannya walaupun hanya sebatas rekan kerja.
Afika tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan tentang hatinya sendiri yang bahkan masih terasa abu-abu baginya.
Jika pun pada akhirnya ia harus membuka hatinya lagi untuk seseorang, maka ia akan membiarkan semuanya terjadi secara alami.
Ia tidak ingin memaksakan perasaannya untuk menyukai seseorang. Karena baginya, mencintai seseorang itu haruslah tulus dari dalam hatinya sendiri.
Ia ingin mencintai seseorang karena hatinya sendiri, ia ingin mencintai seseorang untuk kebahagiaannya sendiri.
Sejak tadi Radit sudah menyelesaikan semua pekerjaannya dan membalas semua email dari sekretarisnya mengenai pekerjaan kantor yang sudah ia tinggalkan selama beberapa hari.
Radit hanya duduk memandangi rintik hujan yang turun dari balik kaca sambil menyesap secangkir kopi di tangannya.
"Mas Radit ngapain?" tanya Fika membuat Radit menoleh ke arahnya.
"Kamu sudah selesai?" tanya Radit sambil meletakkan cangkir kopinya di meja.
"Iya mas, mau pulang sekarang?" tanya Fika balik.
Radit hanya mengangguk kecil sambil tersenyum lembut. Mereka berdua langsung menuju keluar cafe untuk pulang.
Fika dan Radit langsung berjalan ke arah mobil menggunakan payung yang ada di cafe. Setelah menaiki mobilnya, Radit langsung mengemudikan mobilnya untuk mengantar Fika pulang.
"Mas kamu gak ngerasa repot nganterin aku pulang tiap hari?" tanya Fika memulai percakapan di mobil.
__ADS_1
"Di Jakarta nanti ketika aku kembali, aku gak bisa lagi antar kamu pulang atau pergi kemanapun walau aku ingin." jawab Radit tanpa ragu membuat Fika sedikit tertegun.
"Kamu tuh."cebik Fika sebal karena berpikir jika Radit tidak menanggapinya dengan benar.
"Kenapa? Kan aku ngomong bener loh." jawab Radit asal kalau menghentikan laju mobilnya.
Fika pun melihati sekitarnya ke kanan dan kiri, melihat dimana mereka berhenti.
"Mas Radit, kenapa berhenti disini?" tanya Fika bingung.
"Ada sesuatu yang mau aku beli sebentar, kamu tunggu disini." ucap Radit kemudian keluar dari mobilnya menggunakan payung menjauh dari mobil.
"Kemana lagi mas Radit? Kenapa coba berhenti disini."gumam Fika melihati deretan toko bernuansa vintage tidak jauh dari tempatnya.
Tak lama setelah beberapa lama Radit pun datang kembali membawa sebuah paper bag dan sebuket bunga. Di tengah hujan deras, Radit bergegas kembali ke dalam mobil dimana Fika tengah menunggunya.
Begitu Radit masuk ke mobil, ia memberikan sebuket bunga baby birth pada Fika dengan senyuman paling menawan yang pernah ia tunjukkan.
"Buat aku?" tanya Fika tiba-tiba menjadi sedikit gugup.
"Ambil." ucapnya.
Fika pun tangan Fika pun tergerak tanpa sadar mengambil buket bunga baby birth yang besar itu kemudian menciumi aromanya yang lembut.
"Suka?" tanya Radit menatap Fika dengan memiringkan tubuhnya menghadap ke samping.
"Terimakasih." ucap Fika setelah memberikan anggukan kecil pada Fika.
"Apa kamu tahu apa makna dari bunga ini?" tanya Radit mengubah ekspresi wajahnya lebih serius.
"Apa?" tanya Fika acuh sambil terus menyentuh setiap kelopak kecil bunganya sesekali menyesap aromanya yang begitu ia sukai.
Radit tidak menjawab, ia hanya tersenyum mendengar jawaban Fika. Dalam hatinya ada sedikit rasa gelisah yang tiba-tiba bertautan.
__ADS_1
"Mungkinkah kamu akan tetap menerimanya setelah tahu makna dari bunga ini?"gumam Radit dalam hati.
"Sebaiknya kita langsung pulang, aku sudah sangat lapar. Ibu kamu pasti sudah membuat masakan yang enak di rumah." kilah Radit mencoba untuk bersikap seperti biasa.
Ia tidak ingin Fika menyadari tentang kegelisahan hatinya saat itu. Ia bisa memendam semua perasaanya dalam-dalam karena tidak ingin merusak suasana yang baik.
Bunga baby birth memiliki makna yang begitu mendalam. Bunga tersebut melambangkan cinta sejati, ketulusan dan kemurnian dari cinta abadi.
Bagi Radit hanya bunga tersebut yang bisa menggambarkan seluruh isi hatinya untuk Fika.
**
Setelah 30 menit akhirnya mereka sampai di rumah. Ibu berseloroh heboh melihat Fika membawa buket bunga cukup besar di tangannya.
Namun karena tidak ingin menanggapi kehebohan ibunya di depan Radit, Fika memilih untuk langsung pergi ke kamarnya menaruh buket bunga yang Radit berikan.
"Dit, Radit? sini. Ibu mau kepo." ujar ibu heboh membuat ayah menggelengkan kepala melihat kehebohan istrinya tersebut.
Radit pun hanya bisa tersenyum sedikit malu jika ibu Fika meminta penjelasan tentang bunga tersebut. Padahal Radit belum mengatakan apapun pada Fika mengenai perasaannya.
Ia mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaannya pada Fika tadi karena Fika sendiri tidak mengetahui apa makna dari bunga yang ia terima.
Walaupun belakangan ini sikap Fika sangat baik padanya dan mereka tidak pernah bertengkar seperti dulu, Radit tetap merasa takut jika pada akhirnya Fika akan menolaknya.
"Kamu udah nembak Fika? terus gimana? Fika terima kamu atau enggak dit?" tanya ibu langsung to the point membuat kedua bola mata sang suami melotot tajam.
"Ibu, sudah. Tidak baik mencampuri urusan anak muda. Lebih baik ibu do'akan saja supaya Radit ini bisa segera menjadi menantu kita." jawab ayah santai membuat ibu balik memberikan tatapan tajam pada suaminya.
"Bapak ini, tadi aja sampe mau keluar itu mata ternyata harapannya sama aja tok kaya ibu." cibir ibu Fika sebal pada suaminya.
Sementara kedua orangtua Fika berdebat Radit hanya bisa tersenyum kikuk melihat pasutri lanjut usia yang tengah berdebat seperti anak kecil berebut mainan.
"Om, Tante. Radit minta doanya aja dari om dan Tante supaya Fika bisa segera membuka hatinya untuk saya." jelas Radit menengahi perdebatan kedua orangtua Fika.
"Bu, ayah ayo kita makan. Fika sama mas Radit udah laper nih dari tadi." teriak Fika dari ruang makan.
__ADS_1
Setelah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, Fika langsung menuju ruang makan tanpa menghampiri semua orang yang sedang berkumpul di ruang tamu.
Mereka pun akhirnya mengakhiri perdebatan sengit mereka dan mengambil langkah menuju ruang makan di ikuti Radit di belakangnya.