
Di Bandung,
Akmal bersama keluarganya entah menikmati kebersamaan keluarga mereka yang sudah sangat lama tidak mereka rasakan.
Apalagi di tambah kehadiran Zahra dan suaminya, dan hubungan keluarga mereka menjadi semakin baik.
Bunda Rania merasa sangat bahagia, ia bersyukur bisa menikmati waktu bersama semua anak-anaknya tanpa pertikaian lagi.
Akmal mulai bersikap cair lagi dengan kakak perempuannya itu apalagi mengingat Zahra sedang mengandung, Akmal tidak ingin membuat Zahra stress dan banyak pikiran karena masalah keluarga mereka.
Ia tidak pernah lagi mengetahui kabar Fika setelah beberapa hari yang lalu menyuruh semua orang-orang Akhtar untuk berhenti menjaga Fika dari kejauhan.
Ia akan mulai mencoba melepaskan Fika untuk Radit, karena ia sadar jika ia tidak cukup kuat untuk melindunginya.
Ayahnya tidak akan diam begitu saja, jika mengetahui Fika kembali bersamanya. Satu-satunya cara membuat Fika aman adalah bersama laki-laki lain.
Dan orang itu adalah Radit tentunya. Ayahnya tidak akan berani menyentuh kehidupan Fika lagi jika Fika bersama Radit. Setidaknya ayahnya itu mungkin akan segan dengan persahabatan di antaranya dengan tuan Randi.
Dan Akmal merasa sangat lega ketika ia sudah bertemu dengan tuan Randi. Setidaknya beliau bukanlah orang yang selalu menghalalkan segala cara untuk uang dan kekuasaan.
Tentu saja tidak seperti ayah mereka yang haus akan uang dan kekuasaan. Hingga ia di butakan, walaupun harus kehilangan keluarganya sendiri ia tidak peduli.
Akmal tidak akan pernah melupakan Fika dari hatinya. Ia akan selalu menyimpan Fika di hatinya sebagai satu-satunya cinta yang ia punya.
Walaupun suatu hari nanti ia akan bersama seseorang dan mempunyai pasangan, tidak akan mungkin cintanya sebesar ia mencintai Fika selama ini.
Ia sanggup melakukan apapun untuk kebahagiaan Fikanya, ia tidak akan berpikir 2 kali bahkan untuk meninggalkannya.
Begitulah, pikir Akmal selama ini. Kebahagiaan Fika saat ini menjadi prioritasnya yang paling utama.
Semenjak pulang dari Surabaya hatinya selalu merasa gelisah dan tidak tenang. Pikirannya di penuhi tentang Fikanya, yang entah mengapa ia menjadi sangat khawatir.
Namun Akmal mencoba untuk menepis semua perasaan buruknya tersebut. Ia pikir mungkin karena kepergiannya kali ini dari Fika adalah untuk selamanya.
__ADS_1
Mungkin inilah yang membuat hatinya begitu berat dan terus memikirkan Fika. Akmal meneguhkan hatinya, jika ia terus mencari kabar tentang Fika maka ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.
Dalam beberapa hari, Akmal akan pergi dari Indonesia. Ia sudah berbicara dengan keluarganya, jika ia akan tinggal dan menetap di Australia untuk melanjutkan kuliahnya.
Ia akan memulai kehidupannya yang baru disana. Ia tidak akan pulang sebelum ia bisa menyelesaikan pendidikannya.
Akmal akan menyibukkan dirinya agar ia tidak terlalu merindukan Fikanya. Bunda Rania pun mendukung penuh semua keputusan yang Akmal ambil.
Bunda Rania membebaskan Akmal untuk melakukan apapun yang ia inginkan.
***
Di Surabaya,
Ibu dan ayah tampak melamun memikirkan pembicaraan mereka beberapa saat lalu dengan papanya Radit.
Rasanya mereka benar-benar tidak bisa mempercayai apalagi yang dilakukan oleh ayahnya Akmal.
"Ibu sangat yakin pak, hubungan mereka sudah benar-benar berakhir. Bahkan mereka sudah tidak pernah bertemu lzagi setelah kita tinggal di kota ini." ucap ibu tiba-tiba memecah hening.
"Ayah juga tidak tahu bu, apa yang sebenarnya orang itu pikirkan. Belum cukup dia membuat hidup kita selama ini hancur."jawab ayah yang juga merasa kebingungan.
"Kita harus bagaimana yah? Bagaimana kalau orang itu terus menerus mengejar putri kita? Apa yang harus kita lakukan?" tanya ibu lagi sambil memijat pangkal hidungnya naik turun.
"Ayah juga tidak tahu bu. Tapi yang jelas ibu jangan bilang apa-apa dulu ya sama Fika. Kondisi putri kita masih belum stabil bu, jangan sampai nanti Fika banyak pikiran." nasihat ayah yang langsung di angguki oleh ibu.
"Kasihan sekali Akmal loh pak, ibu jadi kepikiran. Dia itu anak yang baik dan sangat mencintai Fika. Kenapa Akmal harus punya ayah sejahat itu yah pak." ucap ibu dengan sedih.
Bagaimana pun ia begitu sangat dekat dengan Akmal. Bahkan ialah orang yang paling keras mendukung hubungan mereka dan berharap jika Akmal lah yang akan jadi menantunya suatu hari nanti.
"Ya sudah bu, sing penting kita doain saja . Semoga ayahnya Akmal segera di berikan hidayah dan kesadaran jika yang ia lakukan pada kita itu benar-benar salah." jelas ayah.
"Dan sebaiknya kita segera kembali, Fika bisa curiga jika kita terlalu lama. Lagian kasihan Icha belum makan, ayo kita ke atas bu." sambung ayah lagi mengajaknya kembali ke ruangan Fika.
__ADS_1
"Yah, ibu jadi keinget Radit. Gimana ya sekarang keadaannya, kasihan sekali yah Radit, demi putri kita dia sampai seperti ini." ucap ibu ketika hendak menaiki lift .
"Nanti kita jenguk ya bu, sekarang kita lihat kondisi Fika dulu." jawab ayah.
Ayah dan ibu pun sampai di ruangan Fika dimana Fika dan Icha sedang berbincang bersama sambil sesekali tertawa.
"Loh, mbakmu kok udah bangun aja cha." ucap ibu sambil melenggang masuk.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabaraakatuh ibuku sayang." ucap icha sedikit menyindir ibunya yang datang tanpa mengucap salam.
"Astaghfirullah, anak ini. Assalamualaikum warahmatullah putri-putri ibu yang cantik." ucap ibu dengan gemas menjawil pipi putri bungsunya itu.
Fika pun tersenyum bahagia melihat kehangatan keluarganya seperti biasa. Sebenarnya semenjak ia siuman sejak pagi, hatinya tidak bisa tenang dan gelisah terus menerus.
Icha langsung berpamitan karena harus pergi ke cafe untuk menggantikan Fika selama ia sedang sakit. Pagi-pagi sekali ia sudah pergi ke cafe untuk memberikan arahan pada para karyawan.
Juga mengabari mereka jika Fika mengalami kecelakaan. Cafe tidak akan tutup dan di urus olehnya sementara waktu sampai Fika benar-benar sembuh.
Hanya saja untuk beberapa hari ini cafe akan buka lebih siang dan tutup lebih cepat. Sampai Fika bisa keluar dari rumah sakit, setelah itu jam operasional akan normal kembali.
Fika tidak bisa berhenti mengkhawatirkan kondisi Radit. Walaupun ayah dan ibunya sudah mengatakan jika Radit baik-baik saja.
Hatinya seolah berkata bahwa Radit tidak dalam kondisi baik-baik saja. Mengingat begitu kerasnya kepala dan dada Radit terbentur stir mobil dan Fika menyaksikan itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Sayang kenapa kamu melamun, apa yang kamu pikirkan?" tanya ayah membuyarkan lamunan Fika.
"Ayah, ibu tolong bawa Fika menemui mas Radit. Fika gak akan bisa tenang sebelum Fika lihat sendiri keadaan mas Radit baik-baik saja." jelas Fika dengan sedih.
Ibu pun hanya bisa menghela nafas pelan, mendengar penuturan putrinya tersebut. Memang sepertinya mereka tidak bisa menyembunyikan keadaan Radit yang sebenarnya lebih lama lagi.
"Sudahlah yah, ayah segera temui dokter saja. Minta izin supaya kita bisa bawa Fika ke ruangan Radit. Ibu juga tidak bisa terus seperti ini." ucap ibu membantu Fika membujuk ayahnya.
"Please yah." timpal Fika memelas memasang wajah sedihnya.
__ADS_1
"Baiklah, tunggu sebentar." ucap ayah singkat lalu melangkah pergi untuk meminta izin pada dokter.