My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Mr. posesif


__ADS_3

Setelah berhasil merusak mood ku di pagi hari aku meninggalkannya tanpa mengucapkan apapun.


Bergegas kembali ke rumah, lebih baik aku bersiap untuk pergi ke apartemen Akmal. Aku akan memasakkan sesuatu untuknya dan kami bisa sarapan bersama.


Hari itu aku membawa mobil sendiri, sebelum ke apartemen Akmal aku mampir sebentar untuk pergi ke supermarket.


Aku membeli beberapa bahan makanan dan sayuran untuk aku masak nanti di apartemen Akmal.


"Good morning." ucapnya dengan suara khas bangun tidur yang terdengar sangat lembut


"Good morning too." balasku tersenyum membukakan tirai yang menghalangi cahaya masuk di kamarnya.


"Udah pagi aja." ucapnya sambil mengusap wajahnya mengusir kantuk.


"Udah siang sayang, bukan pagi lagi kalau jam segini." ucapku sambil merapikan kamarnya.


"Mandi dulu gih, abis ini aku masakin sarapan." ucapku


"Siap deh, calon istriku." ucapnya sambil berlalu melewati ku dan pergi ke kamar mandi.


"Sayang bantuin aku buka baju dulu dong." ucapnya santai kembali menghampiri ku


"Ta, tapi kan aku.." membuatku gugup setengah mati.


Aku pun mencoba membantu untuk melepaskan pakaiannya dengan mata tertutup. Sesekali ia menggodaku membuat jantung ku berdebar seperti sehabis lari di tempat.


Setelah selesai mandi ia pun kembali meminta bantuan ku untuk memakai baju karena kirinya masih di gips.


"Yang, apa kamu gak lebih baik pulang aja sementara." ucapku hati-hati.


"Aku gak akan pernah bisa pulang ke rumah itu, ngeliat bunda yang setiap hari menangis diam-diam karena ayah. Sayang, aku harap kamu bisa mengerti dan gak akan pernah bahas ini lagi." jawabnya dengan suara datar dan ketegasan di akhirnya kalimatnya


"Tapi aku kepikiran dari kemaren disini siapa yang bantuin ngurus kamu yang kayak gini. Kemaren kamu makan, mandi dan ganti baju gimana yang?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


Karena kemarin memang aku sempat datang pagi sebelum ke kantor dan datang kembali sepulang dari kantor. Aku hanya menyiapkan sarapan untuknya yang sudah di buatkan oleh ibu.


"Kamu gak usah khawatir kemaren Abang sama bunda aku kesini buat bantuin aku. Bunda juga bikinin makan siang buat aku, dan besok bang Akhtar bakal nginep disini." jelasnya membuatku mengerti.


"Trus siang ini mereka kesini lagi gak?" tanyaku


"Katanya sih mau, kalau gak kesini trus siapa yang bantuin aku mandi? terus ganti pakaian lagi. kamu mau bantu lagi?" tanyanya sedikit menggodaku yang membuat semburat merah menyala di kedua pipiku.


"Ih, kamu apaan sih? yaudah kamu lanjutin aja tidur dulu. Aku lanjut masakin sarapan untuk kamu." ucapku hendak berdiri namun Akmal menarik tanganku untuk menahan ku sesaat.


"Terimakasih, Calon istri." ucapnya tersenyum menggoda ku kembali.


Membuatku salah tingkah, mendengar kata calon istri yang selalu ia banggakan di depan orang lain. Aku bahkan belum bisa memutuskannya, aku bergegas ke dapur meninggalkannya di kamar.


Aku mulai lanjut memasak untuk sarapan kami, menggunakan bahan-bahan yang sebelumnya aku beli.


Setelah berkutat di dapur cukup lama, akhirnya aku pun selesai memasak dan menghidangkan semua masakan di atas meja makan di bantu oleh Icha.


Pagi itu, aku memasak sup ayam, tempe mendoan beserta sambal kecapnya, lalu memasak udang balado dan ayam kecap. Setelah semuanya siap, aku pun pergi ke kamar Akmal untuk membangunkannya.


"Aku gak bisa tidur lagi yang, jadi aku main laptop dari tadi." ucapnya sesaat menatapku.


"Yaudah, kita sarapan sekarang. Aku udah selesai masak tadi." ajak ku.


Pagi itu kami pun sarapan bersama di meja makan dengan sangat khidmat. Tidak ada percakapan selama makan selain suara dentingan suara sendok dan piring yang beradu.


Setelah sarapan, aku langsung membereskan meja makan dan mencuci piring.


Akmal sudah berada di ruang tv dan sedang menerima telpon dari seseorang sejak tadi, mengenai pekerjaannya yang terbengkalai sejak beberapa hari ini. Harusnya Minggu besok adalah launching komik terbarunya.


Awalnya ia adalah seorang author manga online namun seiring karyanya yang diminati banyak orang akhirnya ia di kontrak oleh salah satu perusahaan penerbit buku terbesar di jakarta.


Hingga akhirnya ia bisa mencetak manganya dan ini adalah manga keduanya yang booming dengan angka penjualan yang sangat fantastis.

__ADS_1


Selain sebagai komikus, Akmal juga seorang influencer terkenal di social media mempunyai ratusan ribu pengikut. Banyak pedagang online yang menawarkan produknya untuk bisa di endorse.


Namun ia tak pernah menerimanya, ia beralasan jika ia bukanlah selebgram yang harus menjalankan pekerjaan itu.


Dan yang paling membuatku merasa lucu adalah Akmal hampir setiap hari memposting foto kebersamaan kami, namun tak pernah menampakkan wajahku.


Ia sangat menjaga privasi tentangku, bahkan ia memintaku untuk tidak memposting foto-foto ku di social media kecuali jika aku sedang bersama keluarga atau temanku.


Dan fotonya sangat wajib untuk aku posting di social media ku. Sangat tidak adil, namun aku tidak bisa berdebat dengannya karena baginya itu adalah sesuatu hal yang tidak bisa di tolelir. Ia beralasan tidak ada satupun laki-laki yang boleh menikmati wajahku yang cantik.


"A**hh menyebalkan jika mengingatnya." batinku


Ku buka social media milikku menscroll beranda melihati semua postingan yang ada dan memberikan like disana. Dan begitu ku buka profil, bahkan untuk foto profil ku saja Akmal yang memilihnya.


Ia memilih foto yang hanya terlihat siluet kami berdua saja. Dan dia sudah mengunduh sebelum menghapus semua foto Selfie ku dari sana.


Semua foto ku yang ada di galeri social mediaku adalah foto bersama rekan kantor, keluarga, dan teman-temanku. Orang lain sudah bisa di pastikan tidak akan mengetahui wajahku yang sebenarnya.


"Dasar Mr. posesif" umpatku dalam hati sambil melirik kesal ke arahnya yang masih sibuk berbincang di telepon


Terkadang sikapnya yang seperti itu membuatku tidak nyaman dan juga kesal. Namun semakin lama aku mengenalnya, ia selalu bersikap lembut.


Hanya saja ia terlalu pencemburu dan membuatnya sangat bersikap posesif kepadaku.


Ia memperlakukanku dengan sangat baik selama ini, aku sudah mulai terbiasa dengan perhatiannya.


Sejauh ini semua sikapnya tidak pernah menyakitiku, dan yang paling aku sadari bahwa dia sangat mencintaiku.


Dia selalu membuatku merasa menjadi satu-satunya perempuan yang paling spesial di hidupnya.


"I love my posesif boyfriend." batinku menatapnya berlama-lama.


Semakin hari aku semakin mencintainya, semakin hari aku semakin tidak bisa jauh darinya.

__ADS_1


Bagaimana jika suatu saat kami akhirnya harus berpisah? Bisakah aku menerimanya? pikirku.


__ADS_2