My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Akmal dan Fika part 2 "ending the story"


__ADS_3

Akmal pun mencoba untuk terlihat tegar dan baik-baik saja di depan Fika. Ia sentuh tangan Fika dan menggenggamnya dengan lembut. Fika pun sedikit terkejut dengan pergerakan Akmal yang begitu tiba-tiba.


Tapi tidak di pungkiri, ia begitu merindukan genggaman tangan mantan kekasihnya itu yang terasa lembut dan begitu hangat.


Ah bahkan mereka tidak pernah putus, hanya Fika yang meninggalkannya dulu tanpa kata. Akmal pun mencoba mengangkat pandangan Fika yang sejak tadi tertunduk tanpa sekalipun menatap wajahnya.


"Biar aku lihat wajah kamu." ucap Akmal sambil memegang kedua sisi wajah Fika dengan lembut.


Air mata sudah tampak menggenang di kedua bola mata cantik Fika yang berwarna kecoklatan. Tanpa bisa di bendung lagi, air mata Fika pun mengucur dengan deras membasahi wajahnya yang begitu pucat.


"Maaf." ucap Fika dengan suara parau di tengah tangisnya yang sudah pecah.


Fika hanya bisa mengucapkan satu kata itu dan terus menangis dengan tersedu-sedu. Akmal pun langsung mengambil Fika ke dalam pelukannya.


Ia begitu bersikap hati-hati dengan tubuh Fika karena takut membuat Fika kesakitan. Namun ia begitu merindukannya hingga tak sanggup untuk menahan diri tanpa memeluknya.


"Sayang, aku sangat merindukan kamu." ucap Akmal dengan suara beratnya.


Ia terus mendekap tubuh Fika di dadanya, ia tidak ingin Fika melihat wajahnya yang sudah di penuhi airmata. Rasa tersiksanya karena rindu selama 1,5 tahun tidak lagi berarti setelah melihat semua luka yang ada di tubuh kekasihnya.


Mereka hanya bisa saling menumpahkan perasaannya masing-masing tanpa bicara. Mereka tidak butuh kata-kata lagi untuk bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan kini.


Setelah beberapa lama mereka cukup tenang, Akmal pun melepaskan dekapannya, ia hapus air mata dari kedua pipi Fika yang terus berjatuhan tanpa bisa ia tahan.


"Maafkan aku sayang, ini semua terjadi karena aku. Andai saja, aku tidak mencoba menemui secara diam-diam tentunya kamu akan baik-baik saja sampai sekarang." ucap Akmal penuh rasa bersalah.

__ADS_1


Dengan lembut ia usap satu persatu luka di wajah Fika sebelum akhirnya mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Fika dan menahannya selama beberapa saat.


Akmal kembali menarik Fika untuk masuk ke dalam dekapannya. Ia curahkan semua perasaannya yang selama ini ia pendam dengan memeluk Fikanya lebih erat lagi.


Ia begitu takut kehilangan perempuan yang telah membuatnya benar-benar jatuh cinta itu. Tapi ia juga tidak bisa memilikinya dan membiarkan dia dalam keadaan sulit dan berbahaya lagi untuk kedua kalinya.


Akmal harus mengambil keputusan yang berat untuk hubungan mereka saat ini. Ayah Angga berkata benar, jika hubungan mereka sudah berakhir 1,5 tahun lalu dan tidak ada lagi yang tersisa.


Tidak akan ada sedikitpun kebaikan untuk hubungan mereka jika ia memaksakannya. Hubungan mereka sudah berakhir dan tidak ada masa depan yang tersisa untuk mereka berdua.


"Aku tahu dulu kamu pergi tanpa menemui ku karena kamu tidak bisa mengucapkan kalimat perpisahan dengan baik padaku." ucap Akmal membelai rambut Fika lembut.


Fika menyandarkan kepalanya di bahu Akmal saat ini, memandang hamparan taman bunga yang indah di depannya. Mama Sarah sangat menyukai bunga, karena itulah ia mendesain sebuah taman yang di penuhi bunga di halaman belakang rumah sakitnya.


"Karena itu, mari kita ucapkan selamat tinggal dengan baik sekarang." ucap Akmal mencoba tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


"Benar, mari kita bisa berpisah." ucap Fika mencoba tersenyum walaupun airmata terus berjatuhan dari kedua sudut matanya.


"Aku akan selalu mencintai kamu, kamu akan selalu jadi wanita yang paling istimewa di hati aku. Karena itu berbahagialah, walaupun sulit pada awalnya kamu harus tetap bahagia." ucap Akmal yang membuat dada Fika semakin bergemuruh.


"Lanjutkan hidup kamu dengan laki-laki yang bisa mencintai kamu lebih banyak. Lupakan aku, mulailah kehidupan kamu yang baru. Aku tidak akan pernah ada lagi di hidup kamu. Kenanglah aku sebagai mimpi indah di hidup kamu." ucapnya lagi membuat tubuh Fika semakin bergetar menahan isakan tangisnya.


"Apa kamu akan melakukannya humm?" tanya Akmal kembali memegang kedua sisi wajah Fika yang tertunduk menyembunyikan air matanya.


Fika pun mengangguk kepalanya sebagai jawaban karena tak sanggup lagi untuk bicara. Ia hanya bisa menangis karena hatinya yang begitu sakit.

__ADS_1


Hati mereka benar-benar hancur saat itu karena harus mengucapkan perpisahan dengan cinta yang masih tersimpan untuk satu sama lain.


Cinta yang begitu besar yang harus di akhiri karena takdir yang tidak memihak untuk mereka. Akmal tidak ingin melihat Fika kembali terluka dan berada dalam bahaya karena perbuatan ayahnya lagi.


Ia tidak ingin mengambil resiko sekecil apapun untuk keselamatan Fika. Walaupun berat, ia harus meninggalkan Fika saat ini dan membiarkannya memiliki kehidupan yang lebih baik dengan laki-laki yang lebih bisa melindunginya.


Akmal pun melepaskan tubuh Fika ia mulai menata perasaannya berusaha untuk tersenyum untuk terakhir kalinya di depan wanita yang paling ia cintai.


"Selamat tinggal." ucap Akmal tersenyum begitu lebar.


Akmal pun berusaha untuk mengumpulkan ketegaran dan memusatkan dirinya untuk percaya pada keyakinan jika langkah yang ia ambil adalah hal yang paling tepat untuk Fikanya.


Akmal pun melihat ke suatu sudut taman dimana ayah Angga telah menungguinya dan melihat ke arahnya. Akmal pun memberikan sebuah isyarat dengan anggukan kecil ke arah ayah Angga.


Dengan berat hati ia pun mencoba berdiri dan melepaskan genggaman tangannya dengan Fika dengan tetap tersenyum. Ia melangkahkan kakinya perlahan menjauh dari Fika.


Ia terpaksa menulikan telinganya untuk tak mendengar tangis Fika yang pecah ketika ia berbalik dan berjalan menjauh. Ia berusaha untuk tidak melihat lagi ke belakang karena tak ingin menunjukkan wajahnya yang di penuhi airmata.


Fika terus menerus memukul dadanya yang terasa sesak dengan tangis yang begitu memilukan. Ayah Angga pun segera menghampiri putrinya tersebut dan memeluknya dengan hangat.


Ia mencoba menenangkan putrinya dan berusaha menghiburnya agar tak lagi menangis. Sejujurnya ia merasa tidak tega melihat kesedihan di wajah putrinya.


Ia bisa ikut merasakan bagaimana hancurnya hati putrinya, tapi ia pun tak bisa mengabaikan kenyataan jika seorang Rendra Hutama tidak akan dengan mudah melepaskannya begitu saja.


Ia akan terus mencari cara untuk bisa menghancurkannya bahkan melenyapkannya jika ia bersikeras membiarkan hubungan putrinya dengan Akmal tetap terjalin.

__ADS_1


"Kamu bisa melewati ini, sayang. Ayah, ibu dan adik kamu akan selalu bersama kamu. Kamu akan baik-baik saja, ayah sangat menyayangi kamu sayang." ucap ayah menenangkan Fika sembari mencium puncak kepala putrinya itu .


__ADS_2