
Sore hari Fika baru sampai di rumahnya. Tubuhnya terasa lemas seperti tak bertenaga setelah ia pulang dari apartemen Radit untuk menjenguknya.
Sampai di kamar ia langsung membanting tubuhnya ke ranjang yang empuk itu. Matanya terbuka lebar menatap dengan lekat langit-langit kamarnya yang berwarna putih.
Ia tidak pernah menyangka Radit akan mengatakan semua itu. Rasanya ia masih belum percaya dengan apa yang belakangan ini terjadi kepadanya.
Semakin hari rasanya setiap masalah yang datang semakin rumit saja.
*Flashback,
Radit membuatkannya secangkir hot cappucino kesukaan Fika seperti yang sering mereka minum di kantor.
Radit tampak jauh lebih baik, walaupun wajahnya penuh dengan memar biru keunguan dan ujung bibirnya terlihat sedikit sobek.
Fika meringis ngilu sendiri membayangkan bagaimana rasanya ketika makan. Pasti sangat sulit mengunyah dengan keadaan seperti itu.
Semakin di perhatikan Radit terlihat sangat berbeda dengan Radit yang selama ini Fika kenal.
Sejujurnya Radit tampak terlihat lebih baik dengan sikap seperti sekarang ini. Tidak terlihat aura dingin sama sekali di wajahnya melainkan sebuah senyuman yang hangat.
Sesuatu yang hampir tak pernah Fika lihat selama beberapa tahun mereka bekerja bersama.
"Mas Radit tinggal sendiri disini?" tanya Fika memecah hening
"Em, ya." jawab mas Radit tersenyum tipis
"Mas lukanya gimana sekarang? masih sakit?" tanya Fika merasa sangat menyesal
"Maaf ya gara-gara Akmal mas Radit jadi babak belur kaya gini." ucap Fika kemudian
Radit hanya menyinggung senyuman hangat kepada Fika yang sejak tadi berbicara sambil terus menundukkan kepalanya merasa tidak enak dengan Radit.
"Gak apa-apa Fik, aku udah gak apa-apa sekarang." jawab Radit
"Semakin kamu baik padaku, semakin sulit bagiku untuk melepaskan rasa ini di hatiku." batin Radit
"Iya, tapi aku jadi ngerasa gaenak mas. Gimana pun juga semuanya gara-gara aku .as Radit bisaa jadi kayak gini." ucap Fika tulus
__ADS_1
"Sudahlah ini juga bukan salah kamu."ucap Radit tersenyum
Sungguh jika ia harus memilih untuk babak belur seperti itu atau tidak maka ia tidak akan ragu untuk berada di posisi itu lagi .
Karena melihat Fika mencemaskan dan memperhatikannya saja sudah membuatnya senang setengah mati.
Memang ia selalu menyesali sikap dan kediamannya selama ini terhadap Fika hingga akhirnya orang lain pun bisa memilikinya.
Ia sungguh bodoh membiarkan gadis yang telah membuatnya jatuh hati bisa di miliki orang lain dan gadis itu malah tidak pernah bahkan sempat untuk meliriknya selama beberapa tahun.
Ia yang lebih dulu mengenal Afika daripada kekasihnya. Ia punya banyak kesempatan andai saja ia tak sepengecut itu untuk menunjukkan perasaannya .
Sejak kecil Radit di rawat dan di besarkan oleh papanya sendiri sementara mamanya pergi meninggalkannya dan papanya ketika Radit berusia 3 tahun.
Mereka bercerai dan mama Radit memutuskan untuk pindah keluar negeri bersama kekasihnya yang kini menjadi suaminya.
Papa Radit sangat mencintai istrinya itu namun karena tergoda oleh laki-laki yang lebih mapan istrinya pergi meninggalkannya.
Bahkan tak pernah sekalipun ia menanyakan kabar tentang Radit semenjak ia pergi 23 tahun silam.
Radit tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, dan mengetahui alasan mamanya tersebut meninggalkan papanya menjadikan ia takut untuk merasakan cinta.
Ia takut jika ia akan jatuh cinta pada wanita yang tidak mencintainya juga sehingga akan dengan mudah meninggalkannya seperti mamanya.
Ketakutan Radit itu terus berkembang seiring berjalannya waktu dan ia tumbuh dewasa. Ia selalu bersikap dingin terhadap perempuan karena ia takut jika ia akan jatuh cinta.
Papanya baru menikah lagi ketika ia duduk di bangku SMA. Mama tirinya adalah orang yang baik namun tetap saja Radit tidak bisa dekat dengannya.
Mama tirinya juga mempunyai satu anak laki-laki yang saat ini duduk di bangku kuliah.
Hubungan mereka terbilang baik walaupun mereka tidak dekat.
Mama tiri Radit sangat mengerti kenapa Radit begitu membatasi diri dengannya. Papa Radit sudah menceritakan semuanya tentang mama Radit sebelum mereka menikah.
Maka dari itu, mama tiri Radit selalu memaklumi sikap Radit yang dingin padanya. Setidaknya Radit tidak bersikap tidak baik padanya dan juga anaknya.
Sejak 3 tahun silam Radit memutuskan untuk keluar dari rumah orangtuanya dan tinggal sendiri di apartemen.
__ADS_1
Walaupun papanya adalah seorang pengusaha besar termasuk jajaran 5 orang terkaya di Indonesia, namun Radit tidak pernah menyombongkan statusnya.
Ia bahkan bekerja di perusahaan papanya sebagai karyawan biasa tanpa ada satu orang pun yang tahu jika di adalah putra sang pemilik perusahaan sekaligus pewarisnya.
Radit bisa menyembunyikan identitasnya dengan baik selama 3 tahun belakangan ini.
Bahkan tidak ada satu orang pun yang tahu dari rekan setimnya tentang siapa ia sebenarnya.
"Siapa kamu sebenarnya mas Radit? banyak hal yang kamu sembunyikan sepertinya." tanya Fika memberanikan diri setelah cukup lama berpikir
"Dan, bagaimana saat itu mas tahu aku ada dimana?" tanya Fika lagi penasaran
Radit pun tampak tertegun mendengar pertanyaan yang Fika ucapkan. Ia sedang menimbang-nimbang apakah mungkin itu adalah waktu yang tepat untuk menceritakan segalanya.
Radit pun akhirnya memutuskan untuk berkata jujur pada Fika tentang semuanya. Ia sesekali menghela nafas pelan sebelum akhirnya mulai bercerita.
"Fika, jika kamu bertanya siapa aku baiklah akan ku katakan yang sebenarnya. Namaku Raditya Mahendra, putra dari Randi Mahendra pemilik perusahaan tempat kita bekerja saat ini." jelas Radit membuat Fika tersentak kaget
"M..maksud mas Radit jadi mas Radit anaknya direktur utama perusahaan kita ?" tanya Fika terbata
"Iya. Dan aku tahu kamu disana karena aku menyuruh orang-orang kepercayaan ku untuk mencari jejak kamu. Aku sangat mengkhawatirkan kamu, sebenarnya aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu dengan om Rendra di depan lift." jelas Radit yang kini membuat Fika semakin merasa shock
"Om? mas Radit kenal dengan ayahnya Akmal ?" tanya Fika tidak percaya
"Ya, kedua orangtua kami berteman cukup baik." jelas Radit lagi
"Tapi gimana bisa? kenapa Akmal gak pernah cerita soal mas Radit kalau gitu? Gak mungkin kan kalian gak saling kenal " ucap Fika mulai menyimpulkan
"Kami saling mengenal dulu, tapi kamu pun tahu bagaimana penampilan ku dulu dan sekarang yang sangat berbeda. Lagi pula, kami hanya pernah bertemu beberapa kali dalam beberapa kesempatan. Karena Akmal sudah lama pergi meninggalkan nama besar keluarga Hutama." jelas Radit
"Jadi Akmal juga belom sadar siapa mas Radit sebenarnya?" tanya Fika lagi
"Ya, aku hanya kenal cukup dekat dengan kakaknya Akhtar."jelas Radit lagi membuat kepala Fika mendadak berdenyut sakit
Tiba-tiba Fika tersadar dari lamunannya tentang hal yang ia bicarakan dengan Radit ketika menjenguknya di apartemen saat suara ibu Fika yang menggelegar telah berkali-kali memanggil namanya.
"Mas Radit benar-benar membuat hatiku ini penuh dengan kejutan." gumam Fika tertawa sarkas
__ADS_1
Sungguh ia benar-benar menjadi orang yang paling bodoh di dunia ini.