My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Tertidur


__ADS_3

Tak terasa hari berlalu dengan sangat cepat. Aku benar-benar sangat lelah, dengan pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya itu.


Aku baru tidur 2 jam saja malam tadi, rasanya benar-benar sangat melelahkan untuk menyelesaikan semua pekerjaan dalam waktu yang singkat.


Langit sudah mulai berubah menjadi jingga, dan sejak tadi Akmal sudah mengirimkan banyak pesan untuk segera ke apartemennya setelah pekerjaan ku selesai.


Mbak Alana dan mas Dafa sudah pulang sejak 10 menit lalu, hanya ada aku dan si manusia es disini.


"*M*enyebalkan!" batinku


Entah kenapa melihat wajahnya yang kaku dan sikapnya yang sedingin es batu membuat ku jengkel. Bahkan dia tidak mau membantuku sama sekali, ketika ada beberapa hal yang membuatku kesulitan.


Aku sangat lelah dan mengantuk, dan tanpa sadar tertidur di meja kerjaku saat itu. Sampai akhirnya aku baru terbangun itu pun karena perutku yang sudah keroncongan sejak tadi minta di isi.


Aku pun perlahan membuka mataku, lampu ruangan kantorku sudah menyala itu artinya aku sudah tertidur cukup lama dan hari pasti sudah malam.


Namun ketika aku menegakkan tubuh untuk meregangkan otot-otot ku dan tak sengaja menoleh ternyata si es batu itu masih ada.


Tapi ia sedang tidak mengerjakan apapun, dan hanya memainkan ponselnya. Entah apa yang ia lakukan, tidak mungkin kan dia sedang menungguiku pikirku.


"Loh mas Radit kok belum pulang?" tanyaku penasaran


"Iya, gue lagi nungguin orang yang tidurnya kayak orang mati."cetusnya dengan menyebalkan sambil masih memainkan ponselnya tanpa melirikku.


"*D*ia benar-benar menyebalkan" sungutku dalam hati


"Mas Radit kok tega bener ngatai gue gitu." ucapku sambil bersungut kesal merapikan barang-barang untuk pulang.


"Lagian kenapa gak bangunin gue aja sih dari tadi?" tanyaku lagi.


"Yah kan gue bilang tadi, elo tuh tidurnya kayak orang mati. Gak bisa di bangunin !" ucapnya dengan ketus.


"Loh, kok ini kerjaan aku udah selesai semua." gumamku pelan.


"Gak mungkin kan, gue ngerjain ini sambil tidur tapi gak mungkin juga kalau dia yang bantuin." batinku


"Ya udah, terserah deh gue balik aja !" ucapku sambil berlalu keluar dari ruangan tak mau ambil pusing.


"Yeee, dasar lo gak ada akhlak ya. Gue dari tadi sampe jamuran nunggui lo bangun disini dan sekarang malah lo mau tinggal lagi." sungutnya kesal sambil menyusul ku keluar dari ruangan


"Aku gak minta di tungguin, yak." jawabku acuh.

__ADS_1


"Gak tahu terimakasih." sindirnya membuatku mendelik tidak suka.


"Mas Radit bantuin kerjaan gue ya tadi?" tanyaku penasaran.


"Gak." jawabnya singkat.


"Ih, resek!" umpatku kesal.


Kantor sudah mulai sepi dan hanya ada beberapa orang yang masih lembur. Ketika aku menaiki lift, hanya ada aku dan mas Radit .


Aku masih malas berbicara dengannya karena setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu membuatku kesal.


Dan ketika sampai di lobi, ponselku kembali berdering yang sudah entah ke berapa kalinya Akmal meneleponku .


"Ahh, gawat! Apa yang harus aku katakan ?" gumam ku


"Ya tinggal bilang lo ketiduran sih? bingung amat jadi orang." ucap Radit nyinyir


Entah kenapa si Radit itu membuatku jengkel setengah mati. Biasanya dia sangat irit bicara entah kenapa saat itu dia menjadi sangat banyak bicara. Lebih menyebalkan dari pada biasanya .


Aku sudah malas menjawabnya memilih meninggalkannya dan menyetop taksi di depan.


Sekilas ku dengar dia seperti berkata sesuatu ketika aku menaiki taksi namun aku mengabaikannya dan langsung menjawab telepon dari Akmal.


"Baik non."jawab sopir taksi dengan ramah


"Ha..halo sayang." ucapku sedikit gugup


"Kemana aja kamu? Aku sudah telepon kamu puluhan kali tapi kamu gak angkat-angkat juga. Aku telpon Icha tadi katanya kamu juga belum pulang. Sebenernya kamu tuh ada dimana sekarang? Kalau kondisi kaki dan tangan aku gak kaya gini pasti aku udah cariin kamu kemana-mana dari tadi tahu nggak?" tanyanya beruntun tak berhenti dengan suara menahan kesal.


"Udah dong yang, aku mau jawab gimana kalau kamu ngomong terus. Aku tuh semalem ngerjain laporan sampai jam 3 pagi. Aku baru tidur 2 jam, jadi tadi sore aku ketiduran di ruangan ku. Pas aku bangun hari udah malem aja, udah kamu tenang aja aku udah di jalan kok 20 menit lagi sampai apartemen kamu." ucapku menjelaskan.


"Yaudah, aku tunggu kamu cepetan awas aja kalau lewat dari 20 menit kamu belum sampai juga!" ucapnya masih dengan kesal


"Iyaa yang, iyaa sabar dong! kamu udah makan belum? mau aku beliin makanan di jalan?" ucapku mencoba mengalihkan karena jika tidak ia akan terus mengomeliku sepanjang jalan


"Gak perlu, aku yang pesan makanan aja sekarang. Kamu gak usah kemana-mana lagi langsung kesini cepet !" jawabnya masih dengan mode marahnya


Ia pun langsung mematikan telepon tanpa mau menungguku menjawab terlebih dahulu.


"Pak, lebih cepet yaa." ucapku pada sopir taksi yang mengantarku

__ADS_1


Setelah sampai di apartemen, Belum sempat selesai menekan kode, pintu langsung terbuka. Artinya dia benar-benar menungguku di dekat pintu.


"Sayang, maaf." ucapku sambil memasang senyum dan wajah tak berdosa.


"Masuk !" jawabnya datar dan berjalan memunggungiku dengan langkah tertatih.


Akmal berjalan ke arah sofa dimana banyak makanan dan jus kemasan yang sudah tertata di meja.


"Duduk." ucapnya singkat.


Aku pun mengikuti perintahnya tanpa berminat untuk membantah karena tak ingin membuat suasana semakin memanas.


"Makanlah." ucapnya lagi melembut.


"Kamu masih marah sama aku?" mencoba menggenggam tangannya.


Sesaat Akmal menatapku lembut lalu tersenyum tipis menggelengkan kepalanya. Aku pun berhambur memeluknya dengan senang, karena tidak mudah untuk membujuknya.


"Jangan membuatku cemas lagi, jika saja aku tidak sedang seperti ini dan mobilku tidak sedang di bengkel aku pasti sudah mencari mu ke kantor atau kemanapun. Aku takut kamu kenapa-kenapa" ucapnya sambil mengecup puncak kepalaku sayang.


"Maaf." ucapku masih memeluknya erat.


"Sudah, sebaiknya kamu makan. Sepertinya kamu benar-benar sangat lelah dan lapar. Wajahmu sedikit pucat dan terlihat jelas kamu kurang istirahat." ucap Akmal melepaskan ku dan memberikan sendok untuk ku makan


Ia memesan nasi dengan sup iga kesukaanku tidak lupa tempe mendoan dan juga sambalnya. Aku yang memang sudah lapar sejak tadi langsung memakannya dengan penuh semangat.


Akmal hanya tersenyum melihat tingkahku yang seperti orang kelaparan.


"Pelan-pelan sayang." ucapnya lembut


"Iyaaa." ucapku di sela mengunyah makanan


Akmal pun ikut makan denganku, dan setelah makan aku membaringkan kepalaku di pahanya .


"Aduhh, kenyang banget. Aku jadi tambah ngantuk." ucapku


"Yaudah kamu tidur aja disini, nanti biar aku telepon ayah dan ibu kalau kamu nginap disini." ucap Akmal santai


"Ahh, jangaaan ! Nanti pasti gak di ijinin dan yang ada ayah bisa ngamuk nanti sama aku. Tunggu sebentar aja, kalau udah gak engap aku pulang aja." ucapku menatap wajahnya intens.


Kami menghabiskan waktu dengan membicarakan banyak hal. Akmal juga menceritakan jika ia tidak bisa bekerja sementara waktu sampai ia benar-benar pulih dari cedera.

__ADS_1


Sebenarnya melihat ia tinggal sendiri ketika sakit seperti ini membuatku sedikit tidak tega. Tapi ia menolak keras saranku untuk sementara tinggal di rumah bunda.


Pukul 10 malam aku memutuskan untuk pulang setelah memesan taksi online dan sesudah memastikan ia tertidur dengan cukup nyenyak.


__ADS_2