My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Belajar Melupakannya


__ADS_3

Hari itu Fika terburu-buru untuk berangkat menuju cafenya menggunakan sepeda motor matic kesayangannya yang ia beli 1 tahun lalu.


Semenjak ia pindah dan menetap di Surabaya, Fika memutuskan untuk membeli sebuah sepeda motor yang bisa ia gunakan sebagai alat transportasinya.


1,5 tahun berlalu begitu cepat, Fika bergegas membuka cafenya tersebut karena hari ini akan ada beberapa tamu yang membooking cafenya untuk beberapa acara.


Ya, dalam 1,5 tahun itu usaha yang ia buka bersama kedua orangtuanya berkembang cukup pesat.


Kini ayah dan ibunya tidak lagi membantunya di cafe karena Fika sudah bisa memperkerjakan 5 orang karyawan.


Ia sangat bersyukur karena bisa melewati masa-masa yang sulit itu dengan mudah. Tuhan berbaik hati melancarkan segala urusannya semenjak ia menginjakkan kakinya di kota tersebut.


Ketika ia sampai di cafe tampak 3 orang perempuan dan 2 laki-laki menghampirinya. Mereka adalah orang-orang yang Fika pekerjakan di cafenya sejak 6 bulan lalu.


Tidak salah jika ada pepatah yang mengatakan "Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil" 1 kalimat ajaib itu menjadi salah satu sumber keyakinan dari Fika .


Walaupun ia tidak mempunyai pengalaman apapun tentang berbisnis, nyatanya ia bisa membuat cafe yang ia rintis dari nol tersebut sekarang menjadi salah satu tempat terhits di pusat kota Surabaya yang wajib jadi salah satu tongkrongan anak muda.


Ia terpikirkan untuk membuat cafe yang nuansanya bisa membuat orang nyaman dan betah berlama-lama disana.


Tempat tersebut juga harus menjadi unik dan berbeda dengan cafe pada umumnya yang hanya di fungsikan sebagai tempat untuk makan dan minum.


Banyak mahasiswa dan mahasiswi yang betah duduk di cafenya selama berjam-jam walaupun hanya untuk nongkrong ataupun mengerjakan tugas.


Karena Fika menyediakan layanan free WiFi dan juga memberikan fasilitas untuk mengisi baterai ponsel atau gadget yang pelanggannya bawa di tiap meja di cafe tersebut.


Sementara untuk outdoornya ia buat seperti suasana Bali dan mendesain tempat tersebut mirip dengan salah satu cafe terkenal di Bali yang berada di pinggir pantai.


Jika malam hari suasana outdoornya akan terlihat indah dan romantis dengan banyak hiasan lampu-lampu kecil memenuhi setiap sudutnya.


Tak jarang ada pasangan yang sengaja membooking cafe Fika untuk acara lamaran ataupun pertunangan.


Dan ada salah satu spot untuk birthday party yang bisa di gunakan para pelanggan yang berulang tahun free tanpa membayar biaya tambahan apapun selain makanan dan minuman yang mereka pesan.


Icha banyak memberikan masukan-masukan tentang tempat nongkrong yang banyak di sukai anak muda jaman sekarang.


Icha juga seringkali melakukan siaran langsung di setiap akun social medianya, untuk ikut mempromosikan cafe Fika sebagai tempat yang nyaman untuk di kunjungi.


Walaupun bukan seorang vlogger atau selebgram namun ia mempunyai cukup banyak pengikut yang mencapai puluhan ribu di setiap akunnya.

__ADS_1


Baginya social media menjadi salah satu hiburan tersendiri sekaligus salah satu jalan tercepat untuk memviralkan usaha cafe kakaknya tersebut sehingga bisa lebih ramai lagi.


Setiap Sabtu-Minggu ataupun hari libur, Icha akan membantu Fika di cafe. Setelah mereka melalui masa-masa yang paling sulit, mereka hampir tidak pernah lagi bertengkar dan selalu terlihat kompak.


***


Malam hari sepulang dari cafe Fika memutuskan untuk berjalan-jalan mencari jajanan street food yang belum ia cicipi selama tinggal di kota tersebut.


Ia pergi sendiri karena Icha sudah pergi lebih dulu untuk pergi berkencan dengan kekasihnya.


Sudah 1 tahun belakangan kekasihnya ikut menetap di Surabaya dan kini sudah bekerja di salah satu perusahaan yang cukup besar di kota tersebut.


Hidup mereka berjalan cukup baik setelah mereka pindah dan menetap disana. Setelah membeli beberapa makanan yang ingin ia makan, Fika memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya.


Tak lupa ia membelikan beberapa makanan juga untuk ayah dan ibunya di rumah. Setelah sampai di rumah, Fika langsung memberikan oleh-oleh yang ia beli di jalan.


Setelah sampai di rumah ia segera memilih untuk berisitirahat di kamar setelah berbincang-bincang dengan kedua orangtuanya sebentar sambil memberikan makanan yang telah ia beli .


Fika memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Tidak sampai 5 menit air matanya mulai mengalir dengan derasnya.


Kedua bahunya bergetar naik turun di barengi dengan isakan kecil yang lolos dari bibirnya. Waktu berjalan dengan sangat cepat, sudah 1,5 tahun waktu berlalu.


Malam itu, ia menjadi semakin merindukan Akmal. Setelah kejadian tersebut, Fika tidak pernah kembali ke Jakarta sekali pun.


Ia tidak pernah menemui Akmal lagi dan memutuskan semua kontaknya yang berhubungan dengan Akmal.


Termasuk bunda Rania dan juga Akhtar. Fika juga tidak pernah menghubungi teman-teman kantornya.


Namun semenjak ia berada di Surabaya Fika tidak pernah mengenal orang lain. Kedua orangtuanya benar-benar khawatir melihat putri sulungnya yang seperti itu.


Ia tidak pernah mempunyai teman baru apalagi teman laki-laki. Maka dari itu ibu sangat mencemaskannya.


*Flashback,


"Assalamualaikum." seru Fika ketika memasuki rumah.


"Waalaikum salam."Jawab ayah dan ibu yang tengah menonton tv.


"Bu, Fika beliin martabak Bangka kesuka k0an ibu nih." ucap Fika setelah mencium punggung tangan ayah dan ibunya.

__ADS_1


"Masa ibu aja yang mbak beliin. Ayah enggak?" tanya ayah Fika menaik turunkan alisnya pura-pura kesal.


"Fika beliin ayah juga kok, nih sate klopo ondomohen favorit ayah." ucap Fika sembari menyerahkan bungkusan berwarna putih pada ayahnya.


"Duh, mbak emang terbaik deh." ucap sang ayah sumringah.


"Mbak, bisa duduk dulu gak sini." ucap ayah lembut namun raut wajahnya terlihat benar-benar serius.


"Ada apa yah?" Tanya Fika sedikit bertanya dalam hatinya.


"Ada hal yang perlu ayah dan ibu bicarakan sama kamu. sini nak, duduk." ucap ayah lembut.


Afika langsung menghampiri keduanya dan duduk di antara kedua orangtuanya tanpa menjawab apapun.


"Begini nak, kemarin nak Reihan datang kesini. Dia berniat untuk melamar adikmu untuk menjadi istrinya. Tapi adikmu belum memberikan jawaban karena ia tidak ingin melangkahi kamu sebagai kakaknya." jelas ayah Fika mencari kata-kata yang baik supaya tidak menyinggung hati putri sulungnya tersebut.


"Betul nak, ibu juga tidak bisa setuju adikmu harus melangkahi kamu terlebih dahulu." sambung ibunya sambil menggenggam tangan Fika dengan hangat.


Fika pun terdiam mencoba memikirkan kata-kata yang pantas. Ia takut saat berbicara dan berakhir menyakiti kedua orangtuanya.


Tetapi Fika juga tidak bisa membiarkan pembicaraan ini berlanjut karena ia tahu kemana akhirnya permasalahan ini akan bermuara.


"Sayang, ibu sangat memahami perasaan kamu. Tapi bukankah sudah terlalu lama jika mungkin kamu masih berharap Akmal akan kembali padamu." ucap ibu yang terasa mencubit hatinya ngilu.


Entah kenapa, aku selalu menyangkalnya walaupun dalam hatiku sebenarnya selalu seperti itu.


"Belajarlah untuk melupakannya nak." ucap ayah dengan sendu.


"Sungguh pemikiran yang jahat, aku yang meninggalkannya tapi aku juga yang mengharapkannya untuk datang padaku. Mungkinkah ini saatnya aku belajar melupakannya?" batin Fika.


****


Jatuh cinta mungkin tidak selalu berakhir dengan kata bahagia.


Namun, aku tidak pernah menyesali hari-hari dimana aku sedang jatuh cinta.


Lebih dari bahagia, jatuh cinta menjadi salah satu nikmat Tuhan yang tak pernah bisa terbantahkan.


Afika Sasi Kirana 💔

__ADS_1


__ADS_2