
Malam hari pun tiba, setelah melaksanakan shalat Maghrib aku dan ibu menyiapkan makanan untuk di panaskan terlebih dahulu.
Tidak seperti kemarin, suasana rumah yang ramai kini terasa tenang kembali. Paman dan bibiku sudah pulang ke kampung dan berpamitan setelah acara pernikahan ku selesai.
Karena rumah kami kecil, nenek dan sanak saudara yang datang dari kampung sebagian menginap di rumah paman ku yang tidak terlalu jauh dari sini.
Dia adalah adik bungsu dari ibuku, dan kebetulan rumahnya berada tidak terlalu jauh dari rumah kami dan hanya berjarak sekitar setengah jam perjalanan.
Hanya ada nenek ku yang masih menginap di rumah kami. Sore tadi paman mengantarkan nenek ke rumah kami setelah mengambil semua barang-barangnya di rumah paman.
Rencananya setelah pernikahanku dan mas Radit ayah dan ibu berencana untuk meminta nenek tinggal dengan mereka.
Aku pun sangat senang dengan keputusan mereka. Selama ini, nenek tinggal dan di urus oleh paman dan bibiku. Ketika di Jakarta, nenek tidak pernah datang.
Karena alasan perjalanan yang terlalu jauh, beliau memilih untuk tetap tinggal di Surabaya. Tapi karena jarak rumah kami dengan rumah nenek hanya kurang dari 2 jam akhirnya nenek bersedia tinggal bersama kami.
"Icha sayang, tolong kamu panggilkan eyang ya nak di kamar. Bilang kalau makan malam sudah siap sekarang." ucap ibu.
"Baik bu, Icha panggil eyang dulu." ucap Icha mengehentikan kegiatannya membantu menyiapkan peralatan makan.
"Fika, kamu juga lebih baik panggilkan suami kamu sekarang. Ajak untuk makan, biar ibu yang siapkan semuanya sedikit lagi juga selesai." ucap ibu .
"Ya sudah, Fika ke kamar dulu ya Bu." ucapku pamit.
"Iyah, nak." jawabnya sambil tersenyum.
Ketika aku masuk ke kamar, ku lihat mas Radit tengah sibuk berbincang-bincang di telepon dengan seseorang. Ia terlihat cukup serius, sepertinya sesuatu hal penting yang menyangkut pekerjaan.
"San, tolong kamu handle semuanya. Kalau ada sesuatu segera hubungi saya." ucap mas Radit lalu memutus sambungan teleponnya menyadari kedatangan ku.
"Mas, aku ganggu kamu ya." ujar ku.
"Enggak kok sayang, Sandy cuma mau kasih laporan sama konfirmasi beberapa tugas yang aku kasih ke dia." jelas mas Radit.
"Oh , ya udah kita makan yuk. Aku sama ibu udah siapin makan malam." ajak ku .
"Ayo, aku juga udah laper nih." jawab mas Radit.
Kami pun berjalan beriringan menuju ruang makan yang tepat bersebelahan dengan dapur. Sudah ada ayah dan ibu di meja makan sedang menunggu.
"Dit, sini kamu duduk sebelah ayah." ucap ayah yang langsung di balas anggukan oleh mas Radit.
Tak lama kemudian Icha datang bersama eyang. Eyang ku adalah sosok yang energik meskipun di usianya yang sudah menginjak angka 72 tahun.
"Waah, eyang kalah cepat dengan pengantin baru ya." ucap eyang berseloroh.
__ADS_1
"Iyah dong eyang, kan lagi semangat-semangatnya mereka tuh." timpal Icha menggoda ku dan mas Radit.
"Dek, apaan sih kamu tuh!" ujar ku mencoba memperingati.
"Silahkan duduk eyang." ucap Radit sembari membantu eyang untuk duduk di kursinya.
"Fik, eyang bersyukur banget. Walaupun kamu dekil, item, mirip laki-laki penampilannya tapi setelah dewasa kamu bisa dapetin cucu menantu yang sempurna seperti ini." ujar eyang meledek ku membuat semua orang di meja makan tertawa.
"Eyang, jangan gitu dong. Aku kan cucu eyang gini-gini juga. Jangan di jelek-jelekin eyang." rengek ku membuat suasana semakin riuh.
"Eyang, nanti kapan-kapan ceritain ya Fika waktu kecil gimana? Radit jadi pengen tahu." timpal Radit turut serta menggodaku.
"Sudah, sudah. Lebih baik kita makan lebih dulu nanti keburu makanannya jadi dingin." ujar ayah menengahi.
Kami pun melanjutkan acara makan malam kami dengan suasana yang begitu hangat. Sesekali eyang dan ayah akan melempar candaan tentang masa kecilku yang begitu nakal dan membuat semua orang gemas.
Setelah makan malam selesai kami sempat duduk berkumpul di ruang keluarga untuk melanjutkan perbincangan kami di meja makan.
Setelah hampir 1 jam kami memutuskan untuk pergi ke kamar masing-masing karena acara hari ini cukup membuat kami kelelahan.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" batinku .
Sambil berjalan mengikutinya dari belakang, otak ku memikirkan banyak hal yang harus ku lakukan malam ini dengan mas Radit.
Bagaimana jika ia meminta hak nya sebagai seorang suami sekarang juga? Rasanya benar-benar canggung, berciuman saja kami tidak pernah.
Brugg,
Tanpa sadar tubuhku menabrak mas Radit yang tengah berdiri di depan pintu.
"Aduh." ucapku mengelus-elus keningku yang terbentur dengan punggung mas Radit yang kekar.
"Kamu kenapa melamun terus dari tadi? Sampai aku berhenti berjalan saja, kamu gak sadar? Apa yang kamu pikirkan?" tanya nya.
"Gak mikirin apa-apa kok mas, ayo kita masuk dulu." ajak ku menarik tangannya sambil membuka pintu kamar.
"Sabar dong sayang, kamu tuh gak sabaran banget sih?" ucapnya seketika membuat pikiran ku mulai berkelana kembali.
"Mas Radit ih!" ucapku kesal.
"Loh, jangan marah dong sayang. Iyah aku tahu kok ini malam apa. Tapi kamu harus sabar dulu dong, baru juga kita masuk ke kamar." ujar nya semakin menggoda ku yang sudah terlihat merah seperti kepiting rebus.
"Maksud aku kan bukan itu mas?" rengek ku lagi.
"Iyah aku tahu maksud kamu." ucapnya sambil tersenyum nakal.
__ADS_1
"Ah, udah ah sebel aku. Mending aku tidur duluan." ujar ku sambil bergegas mengambil sepasang piyama tidur bermotif bunga.
Sementara aku masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian, mas Radit malah tergelak karena berhasil membuatku kesal dan salah omtingkah.
"Menyebalkan!" ujar ku kesal.
Setelah selesai berganti pakaian dan hendak keluar dari kamar mandi tiba-tiba saja beberapa pesan masuk di ponselku.
Aku pun membaca pesan singkat tersebut lebih dulu, sebelum keluar dari kamar mandi. Dan ternyata itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Nayla dan Alana.
Alana
Fik, jangan terlalu bersemangat yaa pura-pura aja lah jadi gadis lugu 🙄🤭 Semangaaaat😍😘
"iiih, mbak Alana sumpah ya nyebelin banget." ujarku semakin kesal.
Ku lihat 1 pesan lainnya yang tak lain dari Alana.
Nayla
Fika, semangat yaa🤗 Awalnya doang kok sakit juga. Lama-lama nikmat juga, beuhh entar juga ketagihan Lo😂🤣
"Astaghfirullah ternyata yang ini lebih-lebih." ucapku menggerutu menghapus pesan-pesan tersebut tanpa membalasnya.
Ku lihati wajahku di cermin, Kedua pipiku benar-benar sudah merah lebih dari pada merona. Ah, memalukan.
"Bagaimana mungkin aku bisa keluar dari sini. Apa yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin menolak mas Radit jika ia menginginkannya, tapi rasanya aku belum benar-benar siap." batinku.
Tok, tok,tok.
"Sayang, kamu lama banget sih? Kamu gak apa-apa kan di dalem?" tanya mas Radit dari balik pintu.
"I..iya mas aku gak apa-apa kok, sebentar lagi aku keluar." ujar ku sambil merapikan penampilan ku sebelum membuka pintu.
Ceklek, pintu ku buka.
"Kamu ngapain mas depan pintu?" tanyaku kaget mas Radit masih berdiri disana.
"Aku nunggu kamu sayang, kan mau ganti juga."ujarnya menunjukkan sepasang piyama tidur yang ia pegang di tangannya.
"Oh gitu." ujar ku berusaha terlihat biasa saja dan tidak gugup.
"Tungguin aku ya jangan tidur." bisik mas Radit di telingaku kemudian ia pun masuk ke kamar mandi.
Sementara aku hanya terdiam layaknya patung disana.
__ADS_1
"Menyebalkan!" batinku .