My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Terbakar Cemburu


__ADS_3

Di Jakarta,


Radit kini sudah menggantikan sang ayah menjadi seorang CEO di perusahaan tersebut. Semua orang nampak terkejut ketika pertama kali mengetahui pengangkatan Radit menjadi CEO .


Tidak ada yang tahu jika Radit adalah putra dari pemilik perusahaan. Semua orang mengenalnya sebagai karyawan biasa yang sangat kompeten dan bertanggung jawab.


Selama 1,5 tahun Radit tidak pernah bersantai dan selalu bekerja keras. Akhirnya tuan Mahendra pun yang melihat kesungguhan Radit merasa bangga dan yakin.


Jika saat inilah waktu yang pas untuk ia pensiun dan mempercayakan perusahaan yang ia bangun dari nol tersebut di tangan putra sulungnya.


Radit memutuskan untuk mengunjungi Fika di Surabaya. Awalnya Fika merasa terkejut dengan kedatangan Radit ke cafenya.


Karena tidak seorang pun di Jakarta yang ia beritahu jika ia membuka sebuah bisnis cafe di kota tersebut.


Bahkan ia tidak pernah memberitahukan kepada siapapun kemana ia akan pindah. Radit kini terlihat lebih santai dengan Fika, ia tidak sekaku dan sedingin dulu.


Radit memandangi tampak luar cafe yang sedang di rintis oleh perempuan yang ia cintai tersebut. Ia sedikit gugup sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk.


Radit pun langsung memilih tempat duduk yang kosong, karena hampir semua meja penuh karena itu adalah jam makan siang.


Tidak lama kemudian, seorang waiters terlihat menghampirinya untuk menanyakan pesanan Radit.


"Selamat siang, selamat datang di cafe Bintang." sapa waiters dengan ramah.


"Silahkan mas, di lihat daftar menunya." sambungnya lagi dengan sangat bersemangat.


Tentu saja ia sangat bersemangat, bagaimana mungkin ia melewatkan kesempatan untuk melayani tamu yang sangat tampan seperti Radit.


Dari penampilannya saja sudah bisa di tebak jika ia bukanlah orang biasa melainkan dari kalangan menengah ke atas.


"Siang mbak. Menu andalannya apa disini? Saya mau pesan itu aja.


"Yakin mas?" tanya indah salah satu waiters yang sedang melayani Radit.


"Iya." jawab Radit yakin.


"Minumnya apa mas?" tanya indah kembali.

__ADS_1


"Orange juice aja." jawab Radit sambil terus melihat kesana kemari mencari keberadaan Fika disana.


"Mas, lagi cari apa? Ada yang bisa di bantu?" tanya indah terheran.


"Oia, saya mau minta tolong sama kamu. Bisa panggilkan Afika?" tanya Radit.


"Afika? disini gak ada karyawan yang namanya Afika mas." sahut indah bingung.


Radit pun mengkerutkan keningnya bingung dengan yang indah sampaikan. Tidak mungkin ia salah masuk tempat, dan informannya pun tak mungkin salah pikirnya.


"Ini cafe Bintang kan?" tanya Radit kembali sambil melirik sekitarnya.


"Iya, betul mas." jawab indah.


"Pemilik cafe ini bukankah Afika? Fika?" tanya Radit mulai sedikit takut jika ia salah.


Indah pun nampak kebingungan mendengar pertanyaan dari Radit. Pasalnya pemilik cafe tersebut bukanlah seorang perempuan bernama Afika.


Ia pun menggeleng tanda bahwa Radit telah salah menebak. Radit pun langsung tertunduk lesu mengetahui kebenaran tersebut.


Bagaimana mungkin orang yang ia perintahkan selama ini untuk mengawasi dan menjaga Fika bisa salah memberikan alamat.


Ia pun terhanyut dengan pikirannya sendiri selama beberapa saat. Sampai sebuah suara menyadarkannya dari lamunan.


"Bim, Bimo.. sini." suara yang sangat dikenal oleh Radit tiba-tiba terdengar memanggil nama seseorang."


Radit pun menoleh ke arah belakangnya dimana Fika tengah menyiapkan beberapa box makanan untuk layanan pesan antar.


Ia tidak menyadari keberadaan Radit disana, karena ia begitu sibuk merapikan box makanan yang harus di antarkan siang itu.


"Nah, kalau itu pemilik cafe ini mas namanya bukan mbak siapa tadi saya lupa? itu namanya mbak Kirana." ucap indah menjelaskan.


Karena semenjak tiba disana, tidak ada yang pernah tahu nama aslinya. Fika memakai nama panggilan yang berbeda karena pernah ada beberapa orang suruhan ayah Rendra yang mencarinya.


Hanya keluarganya saja di rumah yang masih tetap memanggilnya dengan nama Fika. Semua karyawan bahkan tetangga di lingkungannya tahu bahwa namanya adalah Kirana.


Radit pun hanya tersenyum menatap Fika penuh kerinduan. Ia sudah dibuat takut jika ia akan gagal bertemu dengan Fika. Ia sudah 1,5 tahun menahan diri karena harus fokus dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Ia ingin bisa menjadi seseorang yang bisa melindungi Fika dari orang-orang seperti Rendra Hutama yang selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.


Fika yang hendak memanggil indah pun sangat terkejut melihat seorang laki-laki berwajah tampan, mengenakan pakaian kasual tengah menatapnya lembut.


"Mas Radit." gumam Fika pelan.


Radit pun tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya menyapa gadis yang sudah lama sangat ia rindukan kehadirannya.


Fika pun segera memanggil indah untuk menggantikannya merapikan box makanan untuk layanan pesan antar yang ia siapkan.


Ia segera bergegas menghampiri Radit yang tengah berdiri menunggunya sejak tadi. Radit pun langsung memeluk Fika dengan spontan ketika jarak di antara mereka tinggal selangkah.


Ia benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk Fika karena ia begitu merindukannya.


Fika pun dibuat tercengang dengan sikap Radit yang seperti itu. Setelah beberapa saat Fika pun menepuk punggung Radit pelan sebagai kode agar Radit mengurai pelukannya.


Radit pun langsung menyadari kesalahannya, ia benar-benar tidak bisa menahannya begitu melihat Fika ada di depannya.


Sementara di depan pintu masuk, ada Akmal yang tengah di penuhi api cemburu melihat Fikanya ada di pelukan laki-laki lain.


Dan ketika ia melihat wajah Radit ia semakin mengepalkan tangannya dengan kuat menahan segala amarah yang sudah bergemuruh di hatinya.


"Brengsek!! Dia lagi !!" batin Akmal


Ia benar-benar sangat tidak suka dengan Radit sejak dulu. Walaupun Fika selalu mengatakan jika Radit dan dirinya sering tidak akur entah kenapa ia selalu merasa cemburu.


Ia tidak pernah sekesal itu dengan Dafa tapi ketika melihat Radit entah kenapa ia merasa bahwa Radit adalah sebuah ancaman untuk hubungan mereka berdua.


Akmal selalu merasa Radit menyimpan perasaan untuk kekasihnya sejak dulu. Sayangnya kini hubungannya dengan Fika sedang tidak baik.


Jika tidak, maka kali ini ia akan kembali memberi pelajaran pada Radit tanpa ampun. Ia akan pastikan jika Radit akan tinggal di rumah sakit untuk waktu yang lama.


Bagaimanapun juga Fika itu hanya miliknya, Fika tidak boleh jadi milik orang lain apalagi sampai mencintai orang lain.


Hanya dirinya lah yang pantas untuk Fika. Tidak ada orang lain, dan tidak akan pernah ada.


Akmal pun langsung pergi meninggalkan cafe dengan hati yang panas dan terbakar cemburu. Ia tidak bisa lebih lama lagi berdiam diri disana atau ia akan benar-benar gelap mata.

__ADS_1


Dan itu tidak akan baik untuk hubungannya dengan Fika. Akmal harus bisa lebih menahan dirinya untuk mendapatkan Fika kembali.


Ia tidak akan kalah dengan Radit, dan ia juga yakin kalau hanya dirinya lah yang ada di hati Fika dan tak akan bisa tergantikan oleh siapapun.


__ADS_2