
AUTHOR POV
Setibanya di Jakarta, mereka langsung dibawa ke rumah sakit pribadi milik keluarga Mahendra. Rumah sakit tersebut, baru di bangun sekitar 10 tahun oleh papa Randi.
Meskipun terbilang baru namun rumah sakit tersebut sudah berkembang dengan cukup pesat. Hingga akhirnya menjadi salah satu 2rumah sakit terbaik di Jakarta.
Tentu saja pencapaian tersebut atas bantuan sang istri yang membantu mengelola rumah sakit tersebut. Selain baik Sarah terkenal sangat dermawan, sebelum menikah dengan papa Randi mama Sarah adalah seorang dokter.
Papa Randi memilih untuk menempatkan Radit dan Fika dalam 1 ruangan agar membuat penjagaan mereka lebih mudah.
Ia juga sudah memerintahkan Sandy dan anak-anak buahnya untuk berjaga di sekitar rumah sakit dan lainnya di depan ruangan Radit dan Fika.
Ayah Angga pun menyetujuinya karena ia sendiri sangat mengkhawatirkan keselamatan putrinya. Apalagi setelah kecelakaan kemarin, ayah Angga ingin lebih berhati-hati selama mereka di Jakarta.
Sebelum meyakinkan Fika, papa Randi terlebih dulu meyakinkan ayah Angga untuk membawa Fika ke Jakarta.
Walaupun awalnya ayah sangat bersikeras jika ia tidak mengijinkan putrinya kembali ke Jakarta, namun papa Randi berjanji jika ia akan menjaga Fika sama ketatnya dengan bagaimana ia menjaga Radit.
Akhirnya setelah ayah dan ibu sepakat menyetujuinya, barulah papa Randi berusaha membujuk Fika.
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah sakit dan segera di bawa ke ruangan VVIP yang begitu luas dan mewah bak kamar hotel.
Ada 2 bed pasien dan 1 bed untuk penunggu pasien yang terletak di dalam ruangan. Selain TV ada juga kulkas dan sofa di pojok ruangan.
Sore harinya ketika Fika sedang beristirahat dan tertidur karena kelelahan setelah perjalanan, akhirnya Radit tampak membuka matanya.
Perlahan ia mengerjakan matanya dan melihat sekeliling ruangan dimana ia berada. Radit pun tersenyum penuh kelegaan melihat Fika yang tengah terbaring di ranjang lain tidak jauh darinya.
Sementara di ruangan tersebut hanya ada ayah yang sedang menunggui mereka. Tidak lama setelah Fika tertidur, papa Randi dan mama Sarah memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
Mereka belum berisitirahat barang sedikitpun semenjak di Surabaya, ayah Angga pun menyarankan mereka untuk pulang dulu dan kembali esok pagi setelah berisitirahat.
Papa Randi dan mama Sarah pun akhirnya menyetujui saran ayah karena memang tubuh mereka yang sudah menua mudah merasa lelah.
Lagi pula di rumah mereka meninggalkan putri mereka yang kini baru saja memasuki sekolah menengah atas.
Sejak di Surabaya putri mereka itu tidak berhenti menghubungi mereka dan menanyakan bagaimana keadaan Radit sang kakak.
__ADS_1
Sementara putra mamah Sarah dari pernikahannya terdahulu membantu menghandle urusan perusahaan selama Radit dan papanya tidak ada.
Ayah yang sedang berbalas pesan melalui handphone dan duduk di kursi yang terletak di antara kedua bed Radit dan Fika pun akhirnya tersadar melihat Radit yang kini sudah bangun.
Radit pun memberikan isyarat pada ayah untuk mendekat karena ia masih tidak punya cukup tenaga untuk bangun. Tubuhnya masih lemah setelah 3 hari mengalami koma.
Ayah pun langsung mendekati Radit lalu menekan tombol call nurse agar ada dokter yang bisa segera memeriksa keadaan Radit.
"Dit, kamu sudah bangun nak? Tunggu sebentar, dokter akan datang dan memeriksa kamu." ucap ayah yang langsung di angguki oleh Radit.
Ayah pun hendak membangunkan Fika dan memberitahukan keadaan Radit pada Fika namun di cegah oleh Radit. Ia tidak tega melihat Fika yang tampak tertidur pulas.
Setidaknya ia tahu jika Fika baik-baik saja. Melihat hanya ada satu selang infus yang tertancap di salah satu tangannya. Tidak seperti tubuhnya yang memakai banyak alat bantu.
Setelah dokter datang dan memeriksa keadaan Radit dan memastikan jika keadaan tubuh Radit sudah benar-benar sudah stabil.
Selang 1 jam pun 2 orang perawat pun membantu melepaskan beberapa alat yang tertempel di tubuhnya.
Seperti alat monitoring, selang makan, dan juga kateter yang menempel di tubuhnya. Ayah juga sudah menghubungi kedua orangtua Radit dan memberitahukan kondisi Radit yang sudah sadar.
Setelah 3 jam tertidur karena kelelahan dan efek obat akhirnya Fika pun terbangun karena mendengar suara tawa dan juga obrolan kedua lelaki yang sudah sangat ia kenal.
Walaupun awalnya Fika sangat terkejut tapi ia pun sangat senang dengan keadaan Radit yang semakin membaik. Ia juga melihat kini Radit sudah tidak memakai alat bantu.
Ayah pun meninggalkan mereka untuk berbicara berdua. Itupun setelah membantu Fika turun dari ranjangnya dan duduk di kursi tepat di samping Radit tengah terbaring.
Mereka terdiam beberapa lama dan tidak ada yang mencoba memulai pembicaraan. Radit hanya menatap Fika sambil tersenyum penuh arti.
Fika yang mendapat tatapan intens seperti itu pun merasa sangat tidak nyaman. Ia merasa sedikit gugup dan juga malu, tapi bagaimana pun juga ia pun merasa lega Radit baik-baik saja.
"Mas Radit kenapa liatin aku kayak gitu sih?" ucapku sedikit salah tingkah.
"Aku sangat merindukan kamu. Aku hanya ingin melihat kamu lebih lama." ucapnya tersenyum dengan wajah yang begitu terlihat teduh membuat kedua pipiku bersemu.
"Kenapa gunung es ini bisa secair ini?" ucapku dalam hati mencoba menetralisir kegugupanku yang terus menerus di tatapnya.
"Kenapa pipi kamu merah begitu?" ucap Radit menggoda Fika lagi.
__ADS_1
"Ah, enggak kok." kilah Fika sambil menyentuh pipinya sendiri dan mencoba tetap tenang dan lebih santai.
Radit hanya tersenyum menanggapi ucapan Fika. Kemudian ia pun meraih tangan Fika dan menggenggamnya dengan hangat.
"Aku sangat bersyukur kamu baik-baik saja. Saat kecelakaan itu, aku sangat takut jika terjadi sesuatu sama kamu." Ucap Radit sungguh-sungguh sambil mempererat genggamannya.
"Maaf mas, ini semua karena aku. Kalau saja aku gak memaksa kamu untuk pergi sore itu. Andai saja mas Radit gak pernah bertemu denganku di Surabaya, mungkin mas Radit tidak akan pernah mengalami hal seperti ini." ucap Fika yang sudah tidak mampu membendung airmata penyesalan dan juga rasa bersalahnya.
"Jangan menangis, aku belum sekuat itu untuk bangun dan menghapus airmata kamu." ucapnya terkekeh pelan.
Fika pun langsung menghapus airmata di pipinya karena tak ingin membuat Radit khawatir tentang dirinya.
Fika pun tersenyum kecil melihat Radit kembali memandangnya dengan tatapan penuh kerinduan. Membuatnya tidak tahu harus berkata apa lagi pada laki-laki yang duduk setengah berbaring di hadapannya itu.
Fika bukan tidak menyadari perasaan Radit ataupun mengacuhkannya. Namun ia sendiri belum yakin, apa ia sudah benar-benar melupakan masa lalunya atau tidak.
Ia hanya tidak ingin memberikan harapan palsu untuk laki-laki sebaik Radit. Ia tidak ingin jika Radit hanya menjadi pelampiasan sesaatnya saja.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf yaaa readers kalau akhir-akhir ini agak jarang up, karena seminggu ini lagi pulkam dan disini lagi susah sinyal.
Author juga lagi bingung banget nentuin buat alur ke endingnya.. 🙏
Please untuk selalu dukung karya author biar lebih semangat bikin cerita yang lebih bagus lagi dengan like, koment jangan lupa di favoritkan yaa cerita ini.. thankyouu 💃**
__ADS_1