My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Akmal dan Fika part 1


__ADS_3

Di Bandung.


Hampir tengah hari kedua kakak beradik itu baru sampai di kota Bandung. Di halaman rumah mereka yang terlihat begitu asri, ada bunda Rania sedang duduk sambil melukis.


Begitu mendengar suara mesin mobil berhenti di pekarangan rumah, bunda langsung menghentikan kegiatan melukisnya.


Ia pun meletakkan peralatan melukisnya bergegas menghampiri kedua putranya yang baru saja tiba. Matanya sudah berkaca-kaca melihat Akmal yang benar-benar kembali pulang.


"Akmal.." panggil bunda dengan haru bergegas menghampirinya.


"Bunda, maafin aku."ujar Akmal begitu mendekap tubuh ibu yang sudah melahirkannya ke dunia ini.


"Bunda yang harusnya minta maaf nak, kalau aja bunda memilih jalan ini sejak dulu kamu gak akan menderita seperti ini." ucap bunda bersamaan dengan luruh nya air mata dari kedua matanya.


Akmal menenggelamkan dirinya dan seluruh pedih di hatinya dalam dekapan wanita yang paling ia cintai di dunia itu. Tembok ketegarannya hancur begitu saja di depan ibunya.


Ia hanya bisa mencurahkan seluruh rasa sakit dan sesaknya di pelukan sang bunda. Ia hirup aroma tubuh sang bunda yang begitu menenangkan.


Jika orang bilang laki-laki tidak pantas menangis karena cinta, lalu ia pantas menangis untuk apa? pikirnya .


Biarlah hari ini, ia menangis sampai puas dan merasakan lega di hatinya. Ia tidak akan mempedulikan hal lain, karena hatinya sedang begitu terluka.


Flashback,


Sebelum ia menemui Fika, ayah Angga lebih dulu memintanya untuk berbicara empat mata.


"Bagaimana kabar keluarga kamu?" tanya ayah setelah cukup lama terdiam.


"Baik om, Kami sekeluarga sekarang menetap di Bandung. Setelah om dan keluarga pindah ke Surabaya, saya, ibu dan kakak saya juga pindah ke Bandung." jelas Akmal.


"Bagaimana dengan ayah kamu?" tanya ayah Angga yang memang tidak mengetahui perceraian bunda Rania dan suaminya.


"Ayah dan bunda sudah bercerai, semenjak kami tinggal di Bandung kami tidak pernah saling berhubungan kembali om." jelas Akmal dengan sejujurnya.

__ADS_1


"Bercerai?" tanya ayah Angga memastikan.


"Iyah om, sama seperti om dan keluarga saya dan keluarga saya juga mencoba memulai kehidupan kami yang baru di kota lain." jelas Akmal.


"Bagaimana kamu tahu tentang kecelakaan yang menimpa Fika?" tanya ayah langsung pada intinya.


"Saya menelpon Icha tadi, dan Icha bilang kalau Fika lagi di Jakarta karena menjalani perawatan pasca kecelakaan." jelas Akmal.


"Jadi kamu sering berhubungan dengan putri kedua saya?" tanya ayah Angga curiga.


"Enggak om, ini adalah pertama kali setelah 1,5 tahun ini." jawab Akmal menepis kecurigaan ayah Angga.


"Jika memang begitu, kenapa baru sekarang kamu menghubungi Icha? Dan untuk apa kamu menghubungi dia?" tanya ayah Angga lagi membuat Akmal sedikit tersentak.


Akmal terdiam beberapa saat sampai akhirnya ia menjawab pertanyaan dari ayah Angga.


"Sebenarnya, hari ini saya berencana untuk pergi ke Australia melanjutkan pendidikan saya yang tertunda om. Tapi, saya ingin memastikan keadaan Fika Lebih dahulu. Untuk terakhir kalinya. Dan Icha bilang.."


"Cukup." ucap ayah Angga memotong ucapan Akmal.


"kehidupan putri om sudah baik-baik saja, tapi kamu lihat begitu kamu datang diam-diam ke Surabaya saat itu juga hidupnya harus berada dalam bahaya."sambung ayah Angga membuat Akmal semakin merasa bersalah.


"Om tahu, aku datang?" tanya Akmal.


"Tentu saja, om dan tante melihat kamu mengawasi Fika dan Radit saat itu di depan rumah kami. Jadi om mohon dengan sangat untuk keselamatan Fika. Ayah kamu bisa berbuat apa saja untuk membayarkan hidupnya lagi." jawab ayah Angga dengan yakin.


Akmal semakin terperosok dalam rasa bersalah yang semakin dalam. Ia begitu mencintai Fika tapi ternyata selama ini, dirinyalah sendiri yang jadi penyebab kekacauan dan penderitaan di hidup Fika.


"Baiklah om, tapi tolong berikan saya kesempatan untuk menemuinya sekali saja untuk terakhir kalinya." ucap Akmal dengan mantap setelah merenung selama beberapa saat.


"Baiklah ." ucap ayah Angga setelah menghela nafas panjang.


"Om tahu kamu laki-laki yang baik, tapi ayah kamu terus menerus membuat hidup kami penuh dengan kesulitan." batin ayah Angga.

__ADS_1


Dan ketika ayah Angga membawanya masuk ke ruangan dimana Fika menjalani perawatan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Fika yang pucat dengan beberapa goresan dan luka jahitan di kepalanya.


Ingin rasanya Akmal berlari menghampiri Fika dan memeluknya untuk melampiaskan rindunya selama ini, namun ia tidak bisa. Akmal berusaha tersenyum menyapa Fika yang sedikit terkejut melihat kehadirannya.


Ayah Angga pun mengatakan pada Fika jika Akmal ingin menemuinya dan berbicara dengannya. Awalnya Fika ingin menolak, tapi Akmal sudah ada di hadapannya saat itu.


Mau tidak mau Fika pun menyetujuinya, ayah Angga pun membantunya untuk duduk di kursi roda dan mendorongnya ke arah Akmal.


Akmal pun berterima kasih pada ayah Angga karena telah memberinya kesempatan itu.


Akmal pun mengambil alih untuk mendorongnya kursi roda yang di duduki oleh Fika saat itu keluar dari kamar untuk menuju taman di bawah.


Fika dan Akmal masih sama-sama terdiam sampai akhirnya mereka sampai di taman. Akmal pun mengatur kursi roda Fika di depan sebuah kursi taman.


Ia pun duduk berhadapan dengan Fika yang terus terdiam dan menundukkan kepalanya tidak berani menatapnya. Akmal pun melihat dengan jelas tangan Fika yang menggunakan penyangga karena patah.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka pun memutuskan untuk mulai saling bicara dan tanpa sengaja mereka bicara secara bersamaan tanpa sengaja.


"Kamu." ucap mereka serempak.


"Kamu dulu saja." ucap Akmal yang sejak tadi tidak henti menatapi Fika.


"Tidak, kamu saja." ujar Fika dengan cepat karena menahan gugup.


Sudah 1,5 tahun sejak mereka berpisah dan ini adalah kali pertama ia melihat Akmal lagi. Fika sangat merasa bersalah karena dulu bahkan ia meninggalkan Akmal tanpa bisa mengucapkan salam perpisahan secara langsung.


Ia terlalu takut untuk menemui Akmal bahkan untuk mengucapkan kata perpisahan. Ia yang telah meninggalkan laki-laki yang kini ada di hadapannya.


Laki-laki pertama yang berhasil memasuki hidupnya. Laki-laki pertama yang ia impikan untuk jadi pendamping hidupnya sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya.


Laki-laki yang berhasil membuatnya begitu jatuh cinta sekaligus patah hati dalam waktu yang bersamaan. Ada sesuatu yang terus bergemuruh di dalam dadanya.


Semua perasaannya bercampur menjadi satu saat kini ia melihatnya berada di depan matanya. Fika bahkan terlalu malu untuk meminta maaf karena meninggalkan laki-laki tersebut tanpa satu patah kata pun.

__ADS_1


Mereka begitu canggung satu sama lain, tapi jauh di lubuk hatinya masing-masing mereka begitu saling merindukan.


__ADS_2