
Akmal langsung berlari keluar dari pesawat bahkan ia melupakan barang-barangnya yang tertinggal di bagasi.
Ia berlarian seperti orang gila setelah mendengar bahwa Fika mengalami kecelakaan dan kini berada di Jakarta.
Awalnya Icha enggan mengatakan yang sesungguhnya, sampai akhirnya Akmal memohon-mohon kepadanya dengan begitu sedih dan putus asa.
Akhirnya Icha pun menceritakan bagaimana Fika bisa mengalami kecelakaan sampai akhirnya kini di rawat di Jakarta.
Icha juga sudah mengatakan bahwa kecelakaan tersebut di sengaja oleh orang-orang dari ayahnya sendiri.
Akmal yang mendengar hal tersebut benar-benar dibuat kehilangan akal sehatnya untuk beberapa waktu. Setelah keluar dari Bandara ia menyetop taksi untuk pergi ke rumah sakit.
"pak, Mahendra hospital." ucap Akmal sambil menutup pintu mobil dan mencoba untuk menghubungi Akhtar sang kakak.
"Duh, bang angkat dong."gumam Akmal sambil mendengarkan nada tunggu yang tidak juga berganti dengan suara Akhtar.
Sementara Akhtar sudah hampir sampai di rumah utama. Hpnya di silent dalam sakunya sehingga ia tidak menyadari jika sedang ada yang menelponnya.
Sementara di rumah sakit, kondisi Radit sudah semakin membaik hanya menunggu proses pemulihan karena operasi berjalan dengan baik dan tidak ada efek samping yang mengkhawatirkan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, ketika Akmal sampai di rumah sakit. Ia pun segera mendatangi tempat administrasi untuk menanyakan dimana ruangan tempat Fika dan Radit berada.
"Sore pak, ada yang bisa di bantu?" tanya seorang staf yang bertugas.
"Saya mau tanya ruangan atas nama Afika Sasi Kirana, dia pasien kecelakaan dari Surabaya." jelas Akmal mencoba untuk menenangkan diri mengatur deru nafasnya yang sudah tak beraturan.
"Bapak bisa ke lantai 12, ruangan VVIP nanti bisa di tanyakan lagi di meja perawat yang ada di atas ya pak." jelasnya dengan ramah setelah melakukan pengecekan di layar komputernya.
"Terimakasih." ucap Akmal singkat sambil berlarian menuju lift.
Tidak lama setelah menaiki lift akhirnya ia sampai di lantai 12 , begitu keluar Akmal berjalan setengah berlari menuju meja perawat untuk menanyakan ruangan Fika.
"Maaf sus ruangan atas nama Afika Sasi Kirana korban kecelakaan dari Surabaya sebelah mana ya?" tanya Akmal dengan terburu-buru.
"Bapak bisa lurus ke kanan ruangannya di pojok sebelah kanan." jelas perawat yang bertugas di lantai tersebut.
Akmal langsung berlari mencari ruangan yang di maksud oleh perawat tadi dan terlihat. Namun sebelum ia bisa masuk ke ruangan tersebut, tiba-tiba ada 2 orang laki-laki berpakaian hitam berpengawakan besar menghadangnya.
__ADS_1
"Maaf anda siapa?" tanya kedua orang tersebut.
"Ini ruangan Fika kan?"tanya Akmal mencoba sedikit bersabar menghadapi kedua orang bodyguard yang disiapkan oleh papa Randi.
"Iya, maaf tapi anda tidak bisa masuk tanpa izin dari tuan besar." ucap salah satu bodyguard sambil menahan Akmal yang hendak menerobos masuk.
"Gak masuk akal ! Saya harus masuk! Minggir !" teriak Akmal memberikan perlawanan hendak masuk.
Tentu saja suasana gaduh yang mereka timbulkan membuat Radit, Fika dan ayahnya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi diluar.
Samar-samar Fika mendengar suara Akmal yang memanggil-manggil namanya. Fika hanya bisa terdiam tak berani berujar. Jika memang Akmal yang datang, bagaimana ia harus bersikap padanya, pikirnya.
Ayah yang melihat wajah putrinya mendadak muram pun mengerti apa yang tengah putrinya pikirkan saat ini. Sementara Radit, ia ingin menemui Akmal lebih dulu namun tubuhnya masih lemah.
Dalam hatinya ia merasa sedikit takut jika Fika akan terpengaruh dengan kedatangan Akmal. Harusnya ia sudah bisa memperhitungkannya ketika ia sadari jika mereka sudah di Jakarta.
"Kalian diam dan tunggu saja, biar ayah yang menemuinya." jelas ayah tiba-tiba memecah hening di antara mereka bertiga.
"Bahkan ketakutan ku sudah menggunung hanya dengan kedatangannya. Mungkinkah aku bahkan tidak akan bisa bersaing dengannya."batin Radit sambil mengangguk tersenyum samar pada ayah Fika menyetujuinya.
"Fika please ini aku, biarin aku masuk." teriak Akmal sedikit frustasi sembari tidak berhenti mencoba menerobos kedua orang di hadapannya.
Akmal pun tersenyum senang melihat pintu yang ingin ia masuki sejak tadi akhirnya terbuka juga. Dan terlihat ayah Fika menghampirinya dengan senyuman hangat.
"Cukup ! saya mengenal dia. Lepaskan dia." ucap ayah Fika pada keduanya yang membuat mereka melepaskan cekalan tangannya dari tubuh Akmal.
"Om, aku boleh masuk kan? Aku mau lihat keadaan Fika sekarang. Bisa kan om?" tanya Akmal dengan antusias.
"Ayo ikut om, kita bicara dulu sebentar." ucap ayah Fika sembari berjalan melewati Akmal dan kedua bodyguard.
"Baik om." jawab Akmal melenguh pasrah.
Kedua matanya tak berhenti menatap pintu ruangan dimana Fika berada. Sampai akhirnya ia pun luluh mengikuti langkah ayah Fika yang kian menjauh.
Sementara dalam ruangan rawat inapnya Fika dan Radit tengah berbaring di ranjang masing-masing. Keduanya diam termenung semenjak ayah Fika keluar dari sana.
Keduanya seakan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Akhirnya hal yang paling Radit takutkan selama ini terjadi.
__ADS_1
Ia saja belum bisa mendapatkan hatinya Fika, tapi masa lalu nya datang kembali bahkan lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan Fika jika Akmal kembali ada di hidupnya. Fika mungkin akan segera melupakannya dan kembali ke pelukan Akmal.
Semua ketakutan di dalam hatinya semakin menguasainya seiring detik waktu yang berjalan. Sesekali Radit melirik ke arah Fika yang masih diam termenung.
"Apa yang sekarang begitu mengganggu pikiran kamu? Mungkinkah kamu akan meninggalkan aku bahkan sebelum aku bisa mendapatkan kamu? Tidak pernahkah aku ada di hati kamu Fika?" batin Radit sembari menatap Fika dengan hati yang di penuhi ketakutan.
Setengah jam berlalu begitu saja tanpa di sadari keduanya. Masih tidak ada pembicaraan di antara mereka, sampai akhirnya tiba-tiba pintu kembali terbuka.
Tampak Akmal berjalan di belakang ayah Fika dengan wajah yang terlihat sendu. Tatapannya tidak pernah beralih pada Fika semenjak ia melangkahkan kakinya di ruangan tersebut.
Radit merasakan hatinya berdenyut ngilu menahan sakit dan panas terbakar cemburu. Tatapan Akmal yang terlihat penuh kerinduan itu benar-benar menyiksanya dari detik ke detik yang berlalu.
Berbeda dengan Fika yang hanya menundukkan wajahnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Semakin dekat langkahnya menuju Fika semakin Akmal merasa begitu hancur.
Melihat gadis yang begitu ia cintai terbaring di ranjang rumah sakit dengan beberapa luka di wajah dan kepalanya. Ayah Fika pun sudah memberitahukan kondisi tangan Fika yang patah dan harus di operasi.
Ini semua terjadi karena seseorang yang harusnya ia panggil dengan sebutan ayah. Seseorang yang melindunginya dan memberikan rasa aman.
Seseorang yang seharusnya memberikan kebahagiaan bahkan seluruh dunianya untuk darah dagingnya sendiri, malah memberikan penderitaan yang tak berkesudahan.
Entah apa yang sebenarnya ada di pikiran ayahnya tersebut membuat Akmal marah dan benci dalam satu waktu yang bersamaan.
.
.
.
.
.
.
"Hatiku di penuhi rasa bersalah dan penyesalan saat ini, namun ada yang lebih besar dan sulit aku abaikan di dalam hatiku.
__ADS_1
Ada rindu dan cinta yang kini saling bersahutan memujamu di dalam jiwaku."
~Akmal Alfarizi Hutama~