
Sudah beberapa hari Akmal tiba di Indonesia. Ia segera pulang ke Bandung segera setelah tiba di airport. Seluruh keluarganya kini sudah bermukim di Bandung, dan tak ada yang tersisa di Jakarta.
Selama di Bandung Akmal menghabiskan waktunya di rumah dan sesekali keluar untuk memotret pemandangan. Bunda merasa sedikit iba dengan putranya yang tak kunjung mempunyai pasangan.
Tidak seperti Akhtar yang bisa dengan mudah menyetujui perjodohan yang sudah bunda rancang, Akmal selalu menolaknya. Ia terus beralasan jika ia masih betah sendiri dan belum berniat untuk menikah.
Sebenarnya bunda sedih mendengarnya, hanya saja tidak ada yang bisa ia lakukan untuk memaksa putra bungsunya itu.
"Nak, bisakah kita berbicara sebentar?" tanya bunda pada Akmal yang sedang duduk di teras belakang rumah sembari membersihkan kameranya.
"Tentu, ada apa bunda?" tanya Akmal setelah meletakkan semua alat bantu untuk pekerjaannya.
Bunda pun tersenyum lalu mengambil tempat di samping putranya untuk duduk.
"Nak, apa rencana mu ke depannya?" tanya bunda lembut.
"Berapa lama kau akan ada di sini?" sambung bunda kembali setelah beberapa saat.
Akmal pun nampak terdiam sembari mencerna pertanyaan bundanya itu. Ia mengerti tentang kekhawatiran bundanya, hanya saja ia belum bisa melakukan apa yang bunda inginkan.
"Bunda, Aku disini cuma 10 hari. Setelah itu aku akan pergi Madrid karena ada pekerjaan di sana." jelas Akmal sembari menatap lamat wajah bunda nya yang sudah tampak menua.
"Nak, kau tahu jelas apa maksud dari pertanyaan bunda?" tanya bunda kembali membuat Akmal terdiam.
"Tidak adakah rencana kamu untuk menetap di sini? Bunda sudah semakin tua, dan suatu hari nanti bunda tidak ingin meninggalkan dunia ini tanpa melihat semua anak bunda. Bunda tidak ingin ketika bunda pergi, bunda bahkan tidak mengetahui dimana kamu berada." ujar bundanya begitu menusuk di hati Akmal.
Ia bahkan tidak pernah memikirkan bundanya tentang itu semua. Akmal menjadi sedikit merasa bersalah melihat air mata yang tiba-tiba saja sudah turun dengan deras di kedua mata ibunya.
"Bunda, maafkan aku karena tidak mengerti perasaan bunda. Tolong beri aku waktu buat mempertimbangkan apakah aku bisa menetap di sini." ujar Akmal sembari menghapus setiap bulir air mata di pipi ibunya.
"Baiklah, tolong pikirkan baik-baik permintaan bunda ini." ujar bunda Rania sembari menepuk bahu putra bungsunya itu sebelum akhirnya pergi.
Akmal terdiam beberapa saat memikirkan banyak hal. Ia terus mempertanyakan dirinya sendiri yang kenapa sampai saat ini begitu enggan untuk menetap di Indonesia.
Ia sudah tidak lagi begitu mengingat Fika walaupun sesekali ia terkadang merindukannya. Tapi hatinya sudah tak lagi merasakan sakit ketika memikirkan wanita yang telah menjadi istri orang lain.
__ADS_1
Ia akui, ia sempat tidak ingin kembali ke Indonesia karena terlalu patah hati. Tapi sekarang semuanya sudah berlalu dan baik-baik saja. Seharusnya tidak akan menjadi masalah jika ia tinggal di Indonesia dan ia akan baik-baik saja jika suatu hari Tuhan kembali mempertemukan mereka, pikirnya.
**
Setelah memikirkannya dengan baik selama seharian akhirnya Akmal memutuskan untuk tinggal di Indonesia. Tetapi karena pekerjaan mungkin ia harus tinggal di Jakarta. Bunda pun sangat senang mendengar keputusan Akmal.
Ia akan senang berkunjung sesekali ke Jakarta untuk mengurus putra bungsunya itu. Akmal pun segera mengurus semuanya namun tetap saja ia harus menyelesaikan pekerjaan yang sudah di jadwalkan selama beberapa bulan ke depan.
Akhirnya ke esok kan harinya dengan di antar Akhtar dan bundanya Akmal pergi untuk membeli sebuah apartemen sebagai tempat tinggalnya. Karena ia masih lajang, Akmal berpikir jika lebih baik jika ia membeli sebuah apartemen.
Setelah menyelesaikan semua administrasi dan pembayaran apartemennya Akmal pun terbang ke madrid untuk pekerjaannya. Untuk itu bunda yang mengurus dekorasi dan membeli barang-barang untuk apartemen Akmal.
Sementara bunda tinggal di unit lain yang telah Akmal sewakan untuk bundanya selama tahap renovasi. Awalnya Akmal menolak permintaan bunda untuk tinggal dan mengurusnya karena ia tidak ingin bundanya kelelahan karena mengurus apartemennya.
Tapi karena saking bahagianya bunda begitu bersemangat dan dengan yakin meminta tinggal di Jakarta. Sudah hampir 7 tahun lamanya bunda tidak pernah menginjakan kakinya di Jakarta.
Karena semua pekerjaannya berada di Bandung Akhtar terpaksa meninggalkan bundanya sendirian di Jakarta. Lagi pula kini ia sudah menikah dan memiliki seorang putra dari istri yang cantik.
Jadi ia tidak bisa terlalu lama di Jakarta, dan bunda pun memaklumi hal tersebut. Lagipula Akmal sudah menyiapkan seorang asisten rumah tangga untuk membantu dan menemani bunda nya selama di Jakarta.
~
Selama beberapa hari Hana tampak murung dan hanya melihat layar ponselnya menatap potret Akmal yang ia ambil dari profil salah satu aplikasi chatting nya.
Kenapa ia masih belum bisa di hubungi juga. Apakah ia tidak menetap di Australia dan hanya berkunjung selama beberapa hari saat itu. Apakah mungkin dia juga sudah kembali ke Indonesia, pikirnya bertanya-tanya dalam hati.
Ia sedikit putus asa karena lagi-lagi ia harus kehilangan jejak calon kekasih impiannya itu.
Hana mencoba berpikir bagaimana ia bisa mencari Akmal. Apakah ia harus datang ke Bandung? Karena di sana lah pertama kali ia bertemu dengan Akmal.
Tapi ia juga ingat jika dulu ketika Radit dan Fika menikah, ia sempat melihat Akmal berada di hotel yang sama. Ia bisa saja tinggal di Jakarta ataupun di tempat lainnya.
Memikirkan hal tersebut benar-benar membuatnya merasa depresi. Akhirnya Hana memutuskan untuk sejenak melupakannya dan mulai menikmati hari-hari barunya di Jakarta.
Hana memutuskan pergi ke sebuah mall di Jakarta untuk bersenang-senang. Setelah ia berjalan-jalan mengelilingi mall untuk berbelanja, ia melihat sebuah toko yang menjual berbagai macam kamera dengan merk berkualitas.
__ADS_1
Hana sejenak terdiam di depan toko tersebut dan teringat dengan Akmal yang setiap mereka bertemu selalu membawa sebuah Kamera. Ia pikir mungkin Akmal sangat menyukai dunia photography atau mungkin seorang fotografer profesional.
Tanpa sadar ia melangkahkan kakinya untuk memasuki toko tersebut. Matanya sibuk mencari sebuah kamera yang menurutnya terlihat bagus. Mungkin ia akan membelinya 1 yang akan ia hadiahkan suatu hari nanti jika mereka kembali bertemu.
Ketika melihat sebuah kamera DSLR yang di bandrol. dengan harga 35 juta. Ketika akan menyentuh kamera tersebut tak sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan orang lain. Ia adalah seorang wanita paruh baya yang terlihat begitu cantik dan anggun.
Tatapannya begitu teduh dan hangat membuat siapa saja melihat sosok seorang ibu sangat melekat pada dirinya. Ia adalah bunda Rania yang juga tengah berjalan-jalan di mall tersebut yang tengah berbelanja barang untuk kebutuhannya sehari-hari.
"Maaf tante." ujar Hana spontan sembari tersenyum ramah.
"Tidak apa-apa nak, apa kau mau membelinya?" tanya bunda dengan sopan.
"Ah, itu belum pasti tante. Saya baru lihat-lihat aja, kebetulan melihat yang ini."
"Apa tante mau membelinya?" ujar Hana bertanya balik.
"Ah tidak juga, tante hanya sedang melihat-lihat barang di toko ini karena teringat anak tante. Ia adalah seorang fotografer." jelas bunda sembari melihat kamera itu dengan mata yang berbinar.
"Oh gitu, emang anak tante nya gak ada? " tanya Hana polos membuat bunda tersenyum lembut sembari menatapnya.
" Eh, maaf ya tante aku gak bermaksud apa-apa kok." ujar Hana menyadari ketidak sopanan nya
"Tidak apa-apa nak, anak tante memang sedang tidak ada. Ia sedang pergi ke luar negeri untuk beberapa pekerjaan." jelas bunda membuat Hana menganggukkan kepalanya mengerti.
"Wah berarti anaknya tante udah punya jam terbang yang bagus dong hebat banget ya sampai bolak-balik ke luar negeri." ujar Hana polos membuat bunda tersenyum menatap Hana.
Bunda sangat menyukai Hana yang sangat ceria. Juga Hana sangatlah cantik dan ia adalah gadis yang sopan, bunda berpikir akan sangat menyenangkan memiliki menantu seperti Hana. Hana tiba-tiba mengingatkannya pada Fika.
"Nak, siapa nama kamu?" tanya bunda membuat Hana sedikit terkejut.
"Hana tante, namaku Farhanah biasa di panggil Hana." jawab Hana sembari tersenyum ceria.
"Nama yang sangat cantik, sama seperti orangnya. Senang berkenalan dengan kamu Hana." ujar bunda.
Karena pertemuan tanpa di sengaja itu mereka pun berkenalan. Bahkan mereka memutuskan untuk makan siang bersama di sebuah restoran favorit Hana yang ada di mall tersebut karena merasa cocok dan nyaman ketika berbicara.
__ADS_1