My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Jalan bersama


__ADS_3

Siang itu Radit benar-benar di jamu makan siang oleh kedua orangtua Fika. Walaupun Fika merasa enggan namun ia tidak mempunyai alasan untuk menolak permintaan kedua orangtuanya.


Terlebih Radit malah menyetujuinya dengan mudah. Fika juga bukan orang yang begitu naif melihat perubahan sikap Radit saat ini.


Memang belakangan sebelum ia pindah ke kota pahlawan tersebut sikap Radit benar-benar manis padanya.


"Nak Radit menginap dimana? di hotel atau ada keluarga disini?" tanya ibu memulai percakapan sembari menyajikan buah semangka segar yang telah di potong.


"Saya tinggal di hotel Tante, gak jauh dari sini juga sih." jelas Radit.


"Kamu sendiri kesini? Liburan atau ada pekerjaan?" tanya ibu lagi.


"Liburan aja kok tan," jelas Radit mencoba untuk bersikap lebih santai.


"Oh seperti itu. Kalau gitu, kamu minta temenin Fika aja buat keliling kota ini. Fika tahu kok beberapa tempat wisata yang bagus disini." ucap ibu Fika dengan santai membuat Fika tersedak air liurnya sendiri.


Fika sibuk menahan kesal pada ibunya yang sepertinya sengaja ingin mendekatkannya dengan Radit.


Sementara Radit merasa benar-benar diberikan keberuntungan karena semuanya berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti.


Setidaknya ia tidak perlu bersaing dengan seorang brondong seperti Akmal. Ah, mengingat nama itu selalu membuat emosinya naik turun bagai rollercoaster.


Ia tidak membenci Akmal hanya saja, kehadirannya di hidup Fika telah benar-benar membuat Fika dan keluarganya menanggung kesulitan yang tidak seharusnya.


Baginya, laki-laki itu tidak pantas untuk Fikanya karena bahkan untuk melindungi gadis tersebut dari ayahnya saja ia tidak bisa.


Jika mungkin ia tak berjodoh dengan Fika setidaknya ia berdoa semoga ada laki-laki lain yang lebih pantas untuk Fika yang bisa melindungi Fika.


Ia akan merasa sangat tidak rela jika Akmal bisa kembali dalam hidup Fika lagi dengan mudah. Sebisa mungkin ia harus memanfaatkan kesempatan yang ada sekarang.


Karena kedua orangtuanya terus mendesak Fika untuk mengajak Radit berkeliling kota, akhirnya dengan sedikit terpaksa Fika melakukannya di hari berikutnya.


***


Radit menjemput Fika sekitar jam 9 pagi di rumahnya. Ia berbohong tentang ia yang tinggal di hotel.


Sebenarnya ia sudah membeli 1 unit apartemen yang berjarak hanya 20 menit dari rumah Fika.

__ADS_1


Ia benar-benar sudah mempersiapkan semuanya dengan matang sejak lama. Fika pun menjadi tour guide dadakan untuk Radit dan mengantarkannya untuk berkeliling kota.


Walaupun Fika tidak terlalu hapal dengan tempat wisata yang ada di kota tersebut, tapi sesekali ia pernah berjalan-jalan ke beberapa tempat yang bagus ketika dulu sedang pulang kampung.


Ibu dan ayahnya Fika memang lahir dan besar di kota tersebut. Sebelum akhirnya menikah dan pindah ke Jakarta untuk merantau bersama suaminya.


Karena semenjak kuliah di Jakarta, ayah Fika sudah menetap di Jakarta sampai akhirnya bekerja di kota metropolitan tersebut.


Mereka adalah teman ketika SMA dan terus berlanjut sampai akhirnya mereka menikah. Kakek dan neneknya pun masih ada hanya saja tinggal di daerah pedesaan.


Ayah dan ibu Fika memutuskan untuk membeli rumah jauh dari kampung halamannya karena tidak ingin ada keluarga mereka yang mengetahui situasi mereka yang sesungguhnya.


Mereka pergi menggunakan sepeda motor matic milik Fika, dan meninggalkan mobil Jeep yang Radit sewa selama ia tinggal di Surabaya.


Mereka berdua sangat menikmati waktu yang mereka habiskan sambil berkeliling kota membeli beberapa pernak-pernik yang lucu serta menikmati jajanan streetfood lokal yang terkenal.


Sesekali mereka mengambil foto berdua, tidak ada kecanggungan di antara mereka karena Radit benar-benar merubah sikapnya. Ia tidak ingin Fika merasa tidak nyaman ketika bersamanya.


Setelah puas berkeliling kota seharian, Radit mengajak Fika untuk mampir ke sebuah kedai ice cream. Karena Radit masih ingat jika Fika menyukai ice cream.


"tanya apa mas Radit?" tanya Fika sibuk melahap ice cream kesukaannya.


"Kenapa semua orang disini manggil kamu Kirana?"tanya Radit membuat Fika terdiam sesaat.


Fika merasa bingung bagaimana harus menjelaskan hal tersebut pada Radit. Haruskah ia menceritakan yang sejujurnya, pikirnya.


"Hem, aku cuma pengen ganti suasana baru aja mas." jelas Fika asal.


Ia merasa belum bisa menceritakan semua hal yang sebenarnya terjadi padanya dan keluarganya 1,5 tahun silam.


Radit merasa sedikit sedih melihat raut wajah Fika yang berubah murung. Padahal sejak mereka jalan-jalan, sikap Fika sudah sedikit mencair padanya.


Hari sudah berubah menjadi sore ketika mereka berdua sampai di rumah Fika. Icha yang mengetahui tentang Radit dari ibunya, merasa turut senang.


Ia berdoa dalam hati, supaya saudara satu-satunya itu bisa kembali membuka hatinya untuk orang lain.


Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin melihat kakaknya yang lebih dulu menikah. Ia tidak ingin sampai melangkahi kakaknya itu.

__ADS_1


Fika pun langsung mengenalkan Radit pada Icha karena memang Icha sedang menunggu kedatangan keduanya di teras rumah.


Setelah beberapa saat berbincang bersama Radit, Icha semakin yakin bahwa Radit adalah laki-laki yang baik.


Ia laki-laki yang pantas untuk menggantikan posisi Akmal di samping kakaknya, pikir Icha.


"Fika, aku pulang dulu ya udah sore. Dan terimakasih udah nemenin jalan hari ini." ucap Radit pamit .


"Iya, mas Radit sama-sama. Aku juga mau bilang terimakasih sama mas Radit untuk traktiran ice cream nya."ucap Fika.


Setelah itu Fika langsung memanggil kedua orangtuanya dan Icha karena Radit akan pamit untuk pulang.


"Pak, bu makasih yaa. Radit pamit pulang dulu, makasih udah ijinin Fika buat nemenin Radit hari ini." jelas Radit


"Nak Radit, kenapa buru-buru sekali? Bagaimana kalau makan malam disini. Anggap saja, kami keluarga. Tidak perlu sungkan." Ucap ibu Fika yang terlanjur menyukai Radit.


"Betul nak, lagi pula kamu hanya sebentar di sini dan tidak ada sanak saudara juga kan?" timpal ayah membuat Radit tampak berpikir.


Radit pun menatap ke arah Fika berharap Fika akan memberikan jawaban yang ia inginkan walaupun ia sendiri tidak yakin. Fika selalu memasang tembok penghalang yang tinggi antara mereka.


Di luar dugaan, Fika tersenyum menatap Radit menganggukkan kepalanya pelan. Yang membuat Radit langsung mengukir senyuman termanisnya.


"Baiklah." ucap Radit dengan senyum lebar.


Fika tertegun melihat Radit tersenyum seceria itu. Radit yang ada di hadapannya kini sudah tidak seperti Radit yang dulu terlihat kaku dan dingin.


Selama seharian bersama Radit ini, membuat Fika sadar jika Radit telah berubah sangat banyak. Ia lebih banyak tersenyum dan bersikap hangat.


Ayah Fika langsung mengajak Radit untuk ke halaman belakang rumah mereka untuk bermain catur.


Sementara Fika dan Icha membantu ibunya memasak di dapur untuk makan malam. Sementara semua orang sedang tertawa bersama sementara Akmal hanya bisa bersembunyi dan melihatnya dari jauh.


Selama seharian ini Akmal mengikuti Fika dan Radit kemanapun mereka pergi. Tak jarang ia memotret Fika diam-diam ketika sedang tersenyum bersama Radit.


Hatinya terasa perih melihat kebersamaan gadis yang ia cintai dengan laki-laki lain. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa, bagaimana pun semua yang terjadi bukan karena kesalahan Fika.


Tapi hatinya berdenyut sakit ketika melihat semua senyuman dan tawa Fika bukan untuknya tapi untuk laki-laki lain.

__ADS_1


__ADS_2