
Tak lama setelah dokter datang dan memeriksa keadaan Zahra, akhirnya ia pun sadar.
"Sayang, Alhamdulillah kamu sudah sadar?" ucap Adrian yang sejak tadi duduk di samping istrinya sambil menggenggam tangan istrinya sejak dokter pergi.
"Aku dimana mas?" tanya Zahra melihat sekeliling ruangan yang tampak asing.
"Kita di rumah bunda sayang." ucap Adrian sambil mengelus lembut pipi istrinya.
Setelah dokter selesai memeriksa Zahra semua orang memutuskan untuk menunggu diluar ruangan. Hanya Adrian yang menjaga dan menungguinya di dalam kamar.
Bunda Rania pun bermaksud membawakan secangkir teh hangat untuk menantunya. Namun ketika ia masuk, ia melihat putrinya telah sadar.
"Zahra sayang, kamu sudah sadar nak." ucap bunda tersenyum lembut menghampiri tempat Zahra berbaring.
"Bunda, maafin aku. Ini semua salah aku dan ibu kandung aku. Seharusnya kami berdua tidak pernah ada di hidup kalian." ucap Zahra dengan suara lemah sambil menangis terisak.
"Dasar cengeng." cibir Akmal yang entah sejak kapan tengah berdiri di ambang pintu bersama Akhtar yang memasang wajah dingin dan datarnya.
Zahra pun semakin menangis kencang mendengar cibiran dari adik laki-laki yang usianya hanya berjarak 1 tahun dengannya itu.
Setelah beberapa tahun, untuk pertama kalinya Akmal mau berbicara dengan santai lagi dengannya.
Jangankan berbicara, bahkan Akmal tidak pernah mau menemuinya. Bahkan di hari pernikahan Zahra pun Akmal tidak menunjukkan batang hidungnya di depan Zahra.
Bagaimana pun dulu mereka sangat dekat. Zahra sangat menyayangi Akmal, dan tidak perduli jika pun mereka terlahir tidak dari rahim yang sama, bagi Zahra bunda Rania adalah juga ibunya.
Sementara Akhtar seperti biasanya selalu bersikap acuh dan tampak tidak peduli. Karena sejak awal Akhtar mengetahui siapa Zahra sebenarnya, ia tidak bisa membiarkan dirinya dekat dengan Zahra.
Akhtar selalu menciptakan jarak dirinya dengan sang adik walaupun sebenarnya ia tahu jika Zahra adalah anak yang baik. Dia tidak bersalah apapun dalam hal ini.
Bahkan Zahra jauh lebih tidak beruntung karena tidak mengetahui bagaimana wajah ibu kandungnya sendiri. Zahra bahkan tidak pernah tahu jika dia adalah anak dari wanita lain yang di besarkan oleh bundanya.
"Abang, Akmal kemari nak. Sudah lama kalian tidak bertemu, kemarilah." ajak bunda memanggil keduanya untuk mendekat.
Zahra melihati raut wajah saudara laki-lakinya tersebut satu persatu untuk bisa menebak bagaimana pemikiran mereka saat ini terhadap dirinya.
Tapi sayangnya, baik Akhtar dan Akmal hanya menunjukkan wajah datar tanpa ekspresi sambil menatap ke arahnya.
Keduanya kini berdiri di samping bunda Rania yang duduk di pinggir ranjang. Adrian membantu Zahra untuk duduk bersandar pada kepala ranjang agar lebih nyaman ketika berbicara.
__ADS_1
"Gak usah drama terus, kasian keponakan gue yang ada di perut lo itu kalau lo terus-terusan nangis." ucap Akmal setelah hening beberapa saat.
Zahra pun langsung menoleh pada Akmal yang kini tengah menatapnya dengan senyuman yang seperti dulu.
Senyuman yang sama ketika mereka berdua belum mengetahui kebenaran tentang Zahra sebelumnya.
Akmal duduk di tempat dimana bunda duduk sebelumnya dan memberikan pelukan hangat untuk Zahra setelah bertahun-tahun ia memupuk kebencian di antara mereka.
Walaupun Akmal sadar jika semua yang telah terjadi pada keluarga mereka bukanlah salah dari Zahra, tapi ia malah terus menyimpan kebencian padanya.
Tanpa sadar hatinya mencari seseorang yang bisa ia jadikan sebagai tempat untuknya melepas semua kemarahan dan kekecewaannya.
Tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak pernah melupakan Zahra. Ia tidak pernah lupa bagaimana besarnya ia menyayangi kakak perempuannya tersebut.
Bunda Rania sangat bersyukur karena perlahan hubungan di antara anak-anaknya akhirnya bisa membaik.
Walaupun Akhtar terlihat datar-datar saja, tapi bunda sangat tahu jika kini Akhtar sudah tidak lagi menyimpan dendam dan kebencian untuk adiknya.
Akhtar hanya tidak terlalu pandai untuk menunjukkan perasaannya terhadap orang lain. Walaupun selalu terlihat dingin, tapi Akhtar adalah seorang kakak yang sangat penyayang.
Bunda sangat percaya jika putranya selalu seperti itu. Selain keluarga mereka yang akhirnya bersatu kembali, bunda juga sangat behagia mengetahui kabar kehamilan Zahra.
***
Di Jakarta,
Ayah Rendra telah merancang rencananya dengan matang. Walaupun setelah Fika dan keluarganya pergi dari Jakarta ayah Rendra tidak pernah mengusik mereka lagi.
Tapi percayalah, ayah Rendra selalu menempatkan seseorang untuk selalu memantau keberadaan Afika dan keluarganya.
Dia pun tahu jika Akmal sering kali datang secara diam-diam untuk melihat Afika tanpa sepengetahuan Afika sendiri.
Selama ini ia mencoba sedikit bersabar dan lebih berhati-hati karena ingin mengambil hati putra bungsunya itu untuk ia jodohkan dengan anak rekan bisnisnya.
Jika Akmal sampai tahu ayah Rendra melakukan sesuatu terhadap Afika dan keluarganya, sudah bisa di pastikan semua rencana yang telah ia susun akan hancur berantakan.
Ayah Rendra belum mengetahui keberadaan Radit yang kini bersama Fika. Ia tidak pernah mengetahui jika Radit pun telah jatuh hati pada gadis tersebut seperti putranya.
Ayah Rendra sudah mengirimkan beberapa orang suruhan untuk menghancurkan Afika sebagai tanda peringatan untuk putranya tersebut.
__ADS_1
Ia sudah tidak bisa bersabar lagi menghadapi pembangkangan dari kedua putranya. Ayah Rendra akan menggunakan Afika sebagai alat untuk menaklukkan dan membuat Akmal benar-benar patuh.
"Pergilah segera ke Surabaya, saya punya perintah khusus untuk perempuan jalang itu." ucap ayah Rendra pada salah satu orang kepercayaannya yang selalu mengurus hal diluar bisnis untuknya.
"Baik tuan, saya akan pergi malam ini juga bersama beberapa anak buah saya." jawab Rey sang tangan kanan Rendra yang bertugas menangani segala gangguan dalam hidup tuannya dengan caranya sendiri.
"Ingat, tidak perlu sampai mati. Pastikan hidup gadis itu akan benar-benar hancur sehingga putraku bahkan akan merasa jijik terhadapnya. Lakukan dengan rapi, jangan tinggalkan jejak." jelas Rendra kembali memerintah Rey.
Rey dan beberapa orang anak buahnya pun bergegas meninggalkan rumah utama yang kini tampak mencekam.
Ayah Rendra tersenyum menyeringai memikirkan rencana kotornya untuk menghancurkan gadis yang telah membuat hidupnya berantakan.
"Kita lihat saja nak, masih bisakah kamu mencintai gadis jalang seperti itu setelah semua ini." ucapnya sambil menuangkan botol minuman ke gelas dan meneguknya dengan 1 kali shoot saja.
Hidupnya kini hanya di isi dengan mabuk-mabukan dan bermain perempuan. Tak lama setelah kepergian Rey, datang seorang anak buahnya membawa jalang yang sudah ia pesan untuk malam ini.
Ayah Rendra yang melihat gadis tersebut pun tersenyum menyeringai sambil kembali meneguk gelas berisi minuman keras yang memabukkan itu.
"Kemarilah, aku adalah tempat untuk kamu bisa mendapatkan banyak uang. Jangan membuatku kecewa, malam ini. Puaskan aku !" ucap ayah Rendra memanggil gadis tersebut untuk memuaskannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Karena kemarin gak sempat buat up, jadi hari ini author crazy up ya. 3 bab dalam 1 hari, semoga kalian sukaaa😘 Jangan lupa di favoritkan yaa novel "My posesif husband" ini biar author lebih bersemangat buat lanjut.
Dukung karya author dengan like, komen dan vote karya ini . Thanks readersss 😍😘
__ADS_1