My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Selamat malam


__ADS_3

Malam hari pukul 10.00 WIB tepat saat Fika dan Radit meninggalkan pesta. Para tamu masih terlihat memadati ballroom hotel. Namun Radit sudah tidak tahan melihat wajah istrinya yang terlihat lelah.


Radit dan Fika bergegas menuju kamar hotelnya dengan tubuh yang lelah. Ketika membuka pintu kamarnya, Fika begitu terkejut melihat kamarnya yang sudah tampak rapi dan juga terlihat sangat indah dan romantis.


Lantai kamar tersebut dipenuhi dengan taburan bunga mawar merah yang berlimpah.


Kamar tersebut terlihat begitu temaram karena hanya di terangi cahaya lilin.


"Sayang, kenapa bengong?" tanya Radit menyadarkan istrinya yang nampak tertegun melihat isi kamar yang sudah berubah drastis.


"Eh, gak apa-apa mas. Ayo masuk mas." jawab Fika sedikit gugup.


Fika dan Radit pun kini sudah berada di dalam kamar dengan suasana yang cukup canggung. Radit pun melepas satu persatu pakaian dan juga sepatu yang ia kenakan.


Sementara Radit tengah melepas dasinya, Fika sedang duduk di depan meja rias sambil membersihkan wajahnya dari make up.


"Mas, aku mandi duluan ya." ucap Fika memberanikan diri sambil membersihkan wajahnya dengan kapas yang sudah di lumuri cairan pembersih wajah.


"Ya, kamu duluan aja." ujar Radit sembari menghampiri Fika dan mencium puncak kepalanya sesaat.


Fika yang mendapat perlakuan manis dari suaminya tersebut merasa senang bercampur takut. Ia sangat gugup dan bingung dengan malam yang akan mereka lewatkan.


Akankah mereka bisa menjadi pasangan yang sesungguhnya, atau akan menjadi malam-malam seperti biasanya. Bagaimana jika suaminya meminta haknya? Haruskah ia memberikannya saat itu juga? pikirnya.


Setelah mengecup puncak kepala istrinya, Radit melangkah menuju sofa yang tidak jauh dari ranjang. Ia duduk di sana sambil memainkan ponselnya untuk mengalihkan pikirannya yang sudah bertebaran kemana-mana.


Tidak bisa ia pungkiri, jika malam itu menjadi malam yang paling menegangkan dalam hidupnya. Sebenarnya ia sangat gugup, namun ia berusaha untuk menyembunyikannya.


Tak lama setelah Fika masuk ke dalam kamar mandi, terdengar suara gemericik air yang artinya ia telah mulai membersihkan dirinya. Fika merasa sangat segar setelah selesai mandi, tubuhnya sudah sangat lengket sejak tadi.


Setelah memakai kimono handuknya, ia pun bergegas keluar untuk mengambil pakaian tidurnya yang lupa belum ia bawa.


Ceklek, pintu terbuka.

__ADS_1


Radit pun melirik ke arah istrinya yang kini hanya mengenakan kimono handuk dan belum berganti pakaian. Radit pun segera menghampirinya untuk bergantian ke kamar mandi.


"Sayang, kamu udah selesai?" tanya Radit sembari mengelus rambut Fika yang basah yang di tutupi selembar handuk kecil.


"Udah mas, tapi tunggu sebentar ya aku mau ganti dulu. Tadi aku lupa bawa pakaian gantinya." ujar Fika sambil tersenyum.


Fika pun menuju lemari dimana ia sudah menata pakaiannya disana sejak kemarin malam. Namun ia begitu terkejut melihat isi lemari yang mendadak kosong.


"Loh, mas ini kenapa kosong lemarinya? Ini baju aku semuanya kemana?" tanya Fika benar-benar terkejut dan panik.


"Kosong gimana sayang, jelas-jelas tadi sore aku ngambil dasi di lemari masih lengkap kok isinya." jelas Radit sembari membuka jam rolex asli di pergelangan tangannya.


"Mas, aku serius? ini baju-baju kita gak ada semua. Aku juga udah cek koper kita kosong." ujar Fika yang sudah benar-benar panik.


"Duh, kerjaan siapa lagi ini?" gumam Radit sambil melihati isi koper dan lemari yang kosong tanpa selembar kain pun.


"Mas, gimana dong ini?" tanya Fika.


Radit pun segera mengambil ponselnya dari atas nakas. Ia menelpon Sandy namun nomornya tidak bisa di hubungi. Sampai panggilan ke 3 masih tidak bisa membuat Fika kembali panik.


"kemana sih ini si Sandy?" gumam Radit berdecak kesal karena tidak bisa menghubungi asisten pribadinya tersebut.


"Mas, gimana?" tanya Fika lagi.


"Nomor Sandy gak aktif sayang, kamu sabar dulu ya." ujar Radit mencoba menenangkan istrinya sambil mencoba menelpon Devan.


Namun bukannya di jawab, Devan justru menolak panggilan tersebut membuat Radit jengkel. Sementara di tempat pesta masih ada Devan, Hana, Icha dan juga Reyhan pacar Icha.


Mereka berempat tengah duduk bersama sambil menertawakan Radit dan Fika yang tengah sibuk menelpon semua orang yang ada di sana.


"Duh nanti mas Radit marah gak ya ama kita?" tanya Icha membuat semua orang terdiam sesaat kemudian melanjutkan tawa mereka lagi.


"Kok malah pada ketawa lagi sih?" tanya Icha lagi semakin tidak enak hati.

__ADS_1


"Cha, tenang aja lagi. Radit gak akan marah kok malah dia bakal bilang terimakasih sama kita semua." seloroh Nayla sembari menarik sebuah kursi di sampingnya untuk duduk.


"Betul kata Nayla, Radit gak akan marah kok. Pura-pura aja kalau kita gak tahu apa-apa." timpal Devan yang di setujui oleh Hana membuat Icha dan pacarnya hanya bisa saling pandang terheran.


Ya , ide tersebut berasal dari otak jahilnya Nayla. Ia yang meminta Hana dan Icha untuk mengambil semua pakaian Radit dan Fika di kamar hotelnya ketika pesta berlangsung.


"Iyah kak, lagian bajunya mereka udah aku kirim ke rumah biar di taruh di lemari mereka." ujar Hana tergelak.


"Untuk malam ini, sepertinya sudah cukup lebih baik kalian semua kembali ke kamar masing-masing." jelas Nayla.


"Sekalian mbak mau pamit pulang ya soalnya Arsya udah tidur dari tadi." tambahnya lagi segera berpamitan sementara Arsya sudah dibawa oleh suaminya ke mobil lebih dulu.


"Ya, mbak hati-hati di jalan ya." ujar Icha. .


Dan akhirnya karena tidak bisa menghubungi siapapun, akhirnya Fika dan Radit pun menyerah. Radit segera bergegas untuk b membersihkan tubuhnya terlebih dahulu karena hari sudah semakin malam.


Waktu sudah menunjukkan pukul set 12 malam ketika Radit selesai dan baru saja keluar dari kamar mandi. Sama seperti Fika, Radit pun hanya mengenakan sebuah kimono handuk.


Setelah mengeringkan rambutnya Radit pun segera naik ke atas ranjang dimana Fika sudah tertidur pulas disana. Ia memperbaiki selimut yang membalut tubuh istrinya itu kemudian berbaring di sampingnya.


Radit tidak langsung tidur, karena tubuhnya terasa masih segar setelah mandi. Kantuk dan lelahnya hilang setelah terkena air dingin. Ia lihati wajah polos istrinya itu yang sedang tertidur.


Radit pun memberikan kecupan singkat di bibir Fika dan mengucapkan selamat tidur untuk istrinya itu.


"Selamat malam sayang, selamat tidur. Aku sayang kamu." ucap Radit setengah berbisik sambil memandangi wajah Fika sebelum akhirnya ia pun memejamkan matanya.


Setelah merasa Radit benar-benar tidur akhirnya Fika pun membuka kembali matanya yang terpejam. Sebenarnya ia tidak tidur dan hanya berpura-pura tidur saja sejak tadi.


Ia sangat terkejut saat Radit memberikan kecupan manis di bibirnya dan mengucapkan selamat malam untuknya, namun karena Fika bingung harus bagaimana akhirnya ia memilih untuk berpura-pura tidur saja.


"Maaf mas, kalau aku belum bisa jadi istri yang sesungguhnya untuk kamu. Aku akan berusaha mas untuk jadi istri yang baik buat kamu, aku harap kamu bisa menungguku sedikit lagi." gumamnya dalam hati.


Kembali Fika menutup matanya dan menelusupkan dirinya ke dalam pelukan suaminya. Dan mereka pun tidur dengan saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2