My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
ingin segera menikah


__ADS_3

Ketika sampai di rumah aku malah terjaga sepanjang malam. Beberapa hal terus berkelebat di kepalaku.


Saat ini kondisi Akmal belum cukup baik untuk membicarakan tentang hubungan kami. Di depannya aku tetap berusaha tersenyum ceria agar Akmal tidak mencemaskan aku.


Walau kenyataannya sangat berbanding terbalik. Aku merasa tidak siap untuk melepaskan Akmal tapi aku juga tidak tahu harus bagaimana menghadapi penolakan dari ayah Akmal.


Di tambah lagi, ayah Akmal bilang jika ia sudah memilih gadis yang pantas untuk bersanding bersama putranya.


Gadis yang jauh lebih baik dan lebih berkelas di bandingkan aku. Terlebih ayah Akmal sudah memperingatkan aku.


Ia bisa menghancurkan kehidupanku dalam sekejap saja bahkan sambil menutup matanya.


Ayah Akmal bukan seseorang yang terdengar hanya bisa menggertak dan mengancamku untuk membuatku pergi.


Ia punya kemampuan dan kekuasaan untuk membuatnya terjadi hanya dengan satu petikan jari.


Akmal adalah laki-laki yang pertama benar-benar membuatku mengerti tentang bagaimana rasanya jatuh cinta dan laki-laki yang benar-benar mencintai ku dengan tulus.


Aku sangat bahagia memilikinya, Ia benar-benar sangat menjagaku. Ia tidak pernah berbuat apapun diluar batas padaku.


Walaupun diluar terlihat sangat over protective dan juga pencemburu namun dia selalu bersikap lembut dan memanjakanku.


Flashback ketika di apartemen,


Akmal menarikku ke dalam pelukannya menyalurkan kehangatan.


Pelukan ternyaman, aroma tubuhnya yang khas seperti aroma terapi yang sangat menenangkan dan menyejukkan.


"Sayang, tidak bisakah kita segera menikah?" tanyanya membuatku menarik tubuhku sedikit menjauh untuk melihat wajahnya.


"Kenapa kamu tanya kaya gitu? Apa kamu bener-bener gak bisa nunggu? Aku, aku, jujur aku pengen dapet restu dari ayah kamu. Aku pengen kita menikah dengan restu kedua keluarga. Apa bisa?" tanyaku sangat berharap.


"Sayang, dia adalah orang yang sangat keras kepala. Tidak mudah untuk meluluhkannya. Aku harap, kamu bisa mengerti. Bagiku, keluarga ku hanya ada bunda dan bang Akhtar. Apa itu tidak cukup untuk kamu? Aku Gakan pernah bisa memaafkan seseorang yang tidak pernah berhenti menyakiti bunda. tolong mengerti." Jelasnya dengan suara berat seakan penuh kesedihan.

__ADS_1


"Maaf. " ucapku yang menyadari bahwa hatinya pasti sangat terluka karena ayahnya.


"Kamu tahu, ayah dan bunda memang 1 rumah. Tapi mereka tidak tinggal di kamar yang sama lagi, sejak aku dan dia pergi dari rumah. Ayah tidak pernah mengabulkan permintaan bunda untuk bercerai, namun ayah juga tidak pernah bisa membahagiakannya." jelasnya dengan mata yang mulai meneteskan air mata.


"Ia sudah menikah dengan wanita lain, dan ketika wanita itu meninggal karena kecelakaan ayah membawa anaknya dengan wanita tersebut untuk di akui sebagai anak bunda. Ayah membuat bunda harus mengurus anak dari wanita lain seperti anaknya sendiri, bahkan semua orang tidak ada yang mengetahuinya jika Zahra bukanlah anak kandung bunda. Setiap malam bunda selalu menangis diam-diam dan tak pernah menunjukannya di depan orang lain." jelasnya lagi dengan sorot mata meremang mengingat segalanya


Aku bisa merasakan kesedihan yang sangat dalam di setiap kata-katanya. Ku hapus air mata di pipinya dan ku benamkan kembali diriku di dadanya memeluknya mencoba memberikan ketenangan dan kekuatan untuk nya .


Sampai setengah jam kemudian ia mulai terlihat tenang. Aku pun mencoba mendongakkan kepalaku untuk melihat bagaimana wajahnya saat itu.


Ia terlihat sedang memejamkan matanya, ku usap lembut setiap inci wajahnya untuk menyusuri karya Tuhan paling sempurna itu.


Namun tiba-tiba tangan kanannya menghentikan gerakan tanganku dengan memegang erat pergelangannya tanganku.


Ia menarik tanganku kemudian mengecupnya mesra, lalu ia membuka matanya kembali dan menarik tubuhku agar lebih dekat lagi dengannya. Nyaris tidak ada jarak di antara kami.


Akmal semakin mendekati wajahku dan ******* bibirku dengan lembut. Aku pun mulai membalasnya, membuat kami saling menyesap dan memperdalam ciuman kami.


Tangannya sudah bergerak kesana kemari, memberikan sensasi dan gejolak yang aneh untukku.


"Manis, bibir kamu rasanya sangat manis." ucapnya kemudian memberikan kembali kecupan singkat di bibirku.


Entah sudah seperti apa rona di wajahku, aku sangat malu dan gugup. Tapi walau begitu, aku menikmatinya, aku tahu Akmal sangat menahan diri agar ia tak sampai berbuat hal lebih jauh lagi.


"Memalukan!! aku terus memikirkannya" batinku


Mengingatnya semakin membuatku tak bisa tertidur. Aku memutuskan untuk mendengarkan musik menggunakan earphone sambil membaca buku.


Biasanya ini akan membuatku cepat untuk mengantuk. Aku selalu melakukan hal tersebut ketika aku tidak bisa tidur.


Entah berapa lama aku terjaga, tanpa sadar ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.


Aku pun berusaha memejamkan mataku sampai akhirnya aku bisa benar-benar tertidur.

__ADS_1


Pukul 5 pagi aku sudah bangun dan selesai melaksanakan kewajiban ku untuk beribadah. Setelah itu aku berganti pakaian untuk berolah raga.


Karena ini akhir pekan, aku memutuskan untuk berolah raga di sekitar kompleks perumahanku.


Aku menyibukkan diriku dengan berbagai hal agar tidak berlarut-larut memikirkan ajakan Akmal untuk menikah.


Ayahnya beberapa kali mengirimkan pesan peringatan kepadaku, setelah kami bertemu.


Sangat tidak mungkin rasanya aku bisa di terima di keluarga mereka dengan baik. Terutama ayahnya, karena bagaimanapun beliau tetap ayah Akmal.


Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja seperti yang Akmal minta. Restu orangtua sangat penting untuk sebuah pernikahan.


Sejak malam itu pikiranku benar-benar di penuhi banyak pertanyaan yang jawabannya sendiri tidak bisa aku pecahkan.


Setelah berkeliling kompleks selama hampir 1 jam, aku memutuskan untuk berisitirahat di taman.


Disana banyak orang sedang berolahraga atau sekedar berjalan santai bersama pasangan atau keluarganya.


Dan ketika aku sedang minum, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku membuatku hampir tersedak karena kaget.


"Minum aja kayak bocah lo." ucap Radit yang tiba-tiba datang entah darimana dan duduk di sebelahku.


"Mas Radit ngapain disini?" tanyaku masih benar-benar terkejut.


"Menurut lo, gue lagi ngedayung apa lagi baca buku disini." jawabnya sinis lalu meneguk sebotol jus kemasan di tangannya.


"Ih, mas Radit kali-kali bisa kali rada manisan gitu ke gue." cebik ku kesal


"Lagian, tahu dong elo tuh liat penampilan gue ini kayak orang lagi ngapain?" tanyanya lagi.


"Olahraga." jawabku polos.


"Nah, udah pinter. Tumben banget !" ucapnya membuatku kesal.

__ADS_1


Tanpa menjawab aku pun meninggalkannya, bertemu dengannya di pagi hari benar-benar membuat mood ku semakin hancur.


"Lebih baik aku pulang." gumamku sambil berlari kecil untuk pulang kembali ke rumah.


__ADS_2