
Karena ini adalah weekend, maka kami pun memutuskan untuk menghabiskan 1 hari ini dengan bepergian. Di hari ulang tahunku ini , Akmal benar-benar memanjakan ku seperti seorang ratu.
Ia membawaku pergi kemanapun yang aku mau, kami menghabiskan waktu dengan pergi ke Seaworld setelah itu mengunjungi beberapa tempat makan yang sedang hits belakangan ini di jagat dunia Maya.
Kami menonaktifkan ponsel seharian ini dan itu sudah menjadi hal yang wajib ketika kami sedang berkencan. Tak terasa hari sudah berganti senja, kini kami sedang berada di perjalanan menuju apartemen Akmal untuk beristirahat sebentar sebelum akhirnya kami akan kembali ke rumahku.
Sebenarnya aku merasa sedikit tidak nyaman untuk berkunjung ke apartemen seorang laki-laki walaupun ia adalah pacarku saat ini. Namun Akmal bilang jika ia hanya ingin berganti pakaian dan beristirahat sebentar sebelum mengantarkan ku pulang.
Begitu sampai, aku memilih untuk duduk di ruang tamu. Aku duduk bersandar mencoba mensejajarkan kakiku di atas sofa sambil memejamkan mataku sejenak.
Lalu ku lihat Akmal langsung berjalan ke arah kamarnya untuk segera mandi, karena sudah merasa benar-benar tidak nyaman dengan tubuhnya yang terasa lengket.
Aku memilih untuk kembali memejamkan mataku mencoba membuat tubuhku sedikit rileks hingga akhirnya tanpa sadar membuatku tertidur.
Entah berapa lama aku tertidur di atas sofa yang nyaman, hingga akhirnya ketika ku mulai membuka mataku perlahan mulai menerawang setiap sudut ruangan itu.
Sekilas ku usap lembut kedua mataku, untuk memastikan dimana aku berada saat ini. Dan ternyata aku tak lagi ada di apartemen akmal melainkan di kamar tidurku sendiri.
Samar-samar terdengar suara ayah dan ibuku tertawa dan suasananya terasa cukup ramai. Aku bergegas turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamarku.
Aku benar-benar tidak tahu bagaimana aku bisa berakhir di kamar tidurku sendiri sementara yang ku ingat terakhir kali adalah ketika aku sedang menunggu akmal di apartemennya.
Setelah berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah terlihat ibu, ayah, adikku dan akmal tengah asik melakukan perbincangan yang seru.
Bahkan mereka tidak menyadari keberadaan ku yang tak begitu jauh dari ruang keluarga. Sampai akmal menoleh sekilas ke arahku lalu tersenyum lembut menganggukan kepalanya pelan seperti mengatakan "kemarilah ".
__ADS_1
“Ibu tuh mbak Fika baru bangun." ucap icha adikku yang membuat ayah dan ibuku menoleh seketika
"Fika, cuci muka dulu sana baru kesini. Ya ampun anak gadis kok berantakan gitu. Malu loh sama calon mantu ibu." sahut ibu begitu heboh seperti biasa
Sementara ayah hanya menggelengkan kepala pelan melihat ibu menegurku seperti itu. Ayahku memang tipe orang yang tenang dan tak terlalu banyak bicara, namun percayalah kelembutan ayahku itu tidak mengalahkan kedisiplinannya.
Beliau adalah sosok yang menjadi panutan, baik aku dan icha sangat menghormati ayah walaupun terkadang ayah bersikap lembut seperti memanjakan kami berdua tapi sesungguhnya ayahku selalu mengajarkan kepada kami bahwa kami harus hidup dengan mandiri, disiplin dan bertanggungjawab.
Karena tak mau mendengar ocehan ibuku yang akan bertambah menjadi panjang kali lebar tak berkesudahan, aku memilih untuk menuruti permintaan ibuku.
Ku langkahkan kakiku ke kamar mandi yang ada di lantai bawah untuk menyegarkan wajahku dan merapikan penampilanku yang sedikit berantakan berantakan.
Setelah mencuci wajah, aku pun merapikan pakaian ku juga mengikat rambutku tinggi model ekor kuda. Kini aku terlihat jauh lebih fresh dan dengan segera ku hampiri kembali semua orang yang tengah berbincang santai di ruang keluarga.
"kalian tuh dari tadi ngobrolin apa sih sampe seru banget kayanya ku denger dari tadi?" tanyaku sambil duduk di sofa di samping ayahku.
"mbak Fika, lain kali jangan terlalu kebo deh tidurnya. kasian tahu mas akmal susah payah tadi gendong mbak Fika sampai kamar kakak di atas." ucapnya protes yang membuatku sedikit terkejut dan membulatkan mataku tak percaya
"Kamu kenapa gak bangunin aku sih? kan jadi gak bikin kamu ribet. pantes aku tuh ingetnya tadi kita mampir ke apartemen kamu terus nunggu kamu mandi di sofa sampe ketiduran. eh tahunya pas bangun aku udah di kamar aja. " protesku panjang lebar pada akmal dengan nada sedikit kesal
"Kamu tuh, bukannya bilang makasih sama calon mantu ibu kok malah ngegas gitu sih." ucap ibuku membela akmal tidak terima
“ya tapi kan kalau akmal bangunin aku tadi, dia gak perlu susah-susah gendong aku. Apalagi bawa aku dari apartemen dia ke parkiran mobil juga kan lumayan jauh. " jelasku masih sedikit kesal
"Fika sayang, tidak baik berbicara dengan keras seperti itu sama calon suamimu. Jangan sampai hal seperti itu terbawa nanti sampai pernikahanmu nak. Bersikaplah dengan baik, jangan lupakan apa yang selalu ayah ajarkan padamu dan adikmu." jelas ayah dengan hati-hati sambil mengelus rambutku penuh kelembutan
__ADS_1
Nasehat ayah itu seketika mampu membungkam diriku untuk berkata-kata lagi karena malu. Sungguh ayahku adalah laki-laki yang sangat tegas walaupun penuh kelembutan dalam setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Maaf yah, Fika janji gak bakal kaya gitu lagi. " ucapku dengan penuh penyesalan .
“Jangan minta maaf sama ayah, minta maaf nya sama calon suami kamu nak. " jawab ayahku tersenyum penuh kasih sayang
"ah, baiklah. aku benar-benar minta maaf yaa. tadi aku tuh kebawa emosi sesaat, dan makasih udah anter aku dengan susah payah pulang ke rumah.“ lirih ku sambil menunduk tak enak hati padanya
" iyaaa gak apa-apa kok, gausah gaenak gitu kamu tuh, kalau udah sah kan entar gakan aku anterin pulang lagi kesini kalau kamu ketiduran." jawabnya sambil menggoda ku
Ahh, mungkin saat itu wajahku benar-benar memerah karena malu. Entah karena aku yang belum pernah berpacaran sebelumnya, atau mungkin karena akmal menggoda ku di depan keluargaku sendiri.
Rasanya aku benar-benar malu, dan ingin sekali menenggelamkan tubuhku ke dalam air yang dalam agar tak terlihat oleh mereka. Bukan hanya ayah ibuku tapi adikku icha, tak hentinya terus meledek kami agar secepatnya menikah.
Jauh di lubuk hatiku yang dalam, aku sangat berharap dan menantikan hari spesial itu. Namun sepertinya itu semua tidak akan terwujud dalam waktu dekat, mengingat masih banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Aku ingin menikah sekali seumur hidup dengan orang yang ku cintai tanpa keraguan sedikit pun.
Dan semoga Akmal memang adalah orang yang Tuhan pilihkan sebagai jodohku dunia akhirat. Semoga ia bisa sedikit bersabar menunggu kesiapanku dan keyakinanku untuk melangkah ke hubungan yang sakral.
Waktu sudah menunjukan pkl. 10 malam saat Akmal pamit kepadaku untuk pulang. Ayah dan ibuku sudah sejak tadi kembali ke kamarnya untuk beristirahat sedangkan icha memilih untuk mengerjakan tugas kuliahnya di kamar.
Aku mengantarkan Akmal sampai di depan pintu rumah, ia memelukku dengan erat lalu melepaskan banyak kecupan mesra di puncak kepalaku.
Sungguh pelukannya begitu terasa menghangatkan tubuhku dan aroma maskulin yang terhirup olehku membuatku terbuai. Sangat nyaman hingga rasanya aku sedikit tak rela untuk melepaskannya. Namun aku berusaha sebisa mungkin untuk tak menunjukkannya.
"Sayang, aku pulang. Gausah tunggu aku sampe rumah yaa, kamu capek banget hari ini jadi langsung masuk yaa terus tidur. Aku pasti nanti kasih kabar kalau udah sampe, awas nanti kalau kamu masih belum tidur dan bales chat aku." ucap akmal panjang lebar yang hanya ku tanggapi dengan anggukkan manis
__ADS_1
Aku tak ingin mendebatkan hal sepele seperti itu, pikirku lebih baik iya kan saja apapun yang ia minta. Perlahan ia melepaskanku dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman. Aku pun melambaikan tanganku lembut sambil tersenyum melihat ia mulai mengendarai mobilnya keluar dari halaman rumahku.