My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
pergi ke Bandung


__ADS_3

pukul 04.00 wib subuh Akmal sampai di apartemennya. Terlihat Akhtar tertidur di sofa masih mengenakan pakaian yang sama seperti sebelum Akmal pergi.


Akmal memutuskan untuk mandi lebih dulu, setelah ia masuk ke kamarnya. Tidak sampai 10 menit ia sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidurnya.


Matanya sudah terasa sangat lengket dan tubuhnya sudah merasa sangat lelah. Segera ia rebahkan tubuhnya di kasur yang empuk itu.


Tidak sampai 2 menit Akmal sudah berada di antara alam mimpinya. Tubuh yang lelah memang mampu membuat tidur seseorang menjadi lebih nyenyak.


Pagi harinya Akhtar terbangun pukul 07.00 wib. Ia segera melihat jam di tangannya dan bergegas masuk ke kamar Akmal.


Di lihatnya adiknya itu sedang tertidur pulas sekali bahkan ketika Akhtar mencoba membangunkannya Akmal hanya bergumam kecil tanpa membuka matanya.


Akhtar memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu lalu berganti pakaian yang lebih casual.


Hari ini ia akan menyusul bundanya ke Bandung yang sudah lebih dulu tiba disana tadi malam.


Setelah itu ia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Karena di kulkas hanya tersimpan sedikit bahan makanan, akhirnya Akhtar memutuskan untuk membuat sandwich sebagai menu sarapannya.


Ketika sedang menikmati sarapannya terdengar suara dering ponsel memecah hening disana. Terlihat nama bunda Rania yang menelpon, Akhtar pun langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Assalamualaikum bunda." ucap Akhtar


"Waalaikum salam, Abang. Sekarang abang dimana?" tanya bunda Rania


"Aku masih di apartemen Akmal bunda, nanti siang aku akan kesana menyusul bunda." ucap Akhtar


"Ya sudah, bunda tunggu yaa kalian hati-hati di jalan. Ingat pesan bunda, jangan bilang apa-apa dulu pada adikmu. Dia itu sangat keras, bunda takut ia akan bertindak macam-macam." pesan bunda


"iya, bunda abang ngerti. Tapi bun, semalem aku denger kalau ayah bikin masalah sama Fika. Akmal lagi kacau banget bunda dari semalam, karena dia bilang Fika minta putus." jelas Akmal hati-hati


Ia tahu, bundanya pasti sangat sedih jika mendengar kabar tersebut. Karena bunda sangat dekat dengan Fika dan sangat menyayanginya.


Tidak ada sahutan dari seberang sana, bunda Rania terdiam cukup lama terlarut dalam lamunannya.


"Hallo, bun. Bunda gak apa-apa? bunda masih disitu?" tanya Akhtar sedikit khawatir

__ADS_1


"I..iyaa nak, bunda gak apa-apa. Bunda cuma sedikit shock aja. Pasti adik kamu sekarang sangat sedih, dia sangat mencintai Fika. Bunda sangat tahu itu, bahkan dia sudah merencanakan banyak hal tentang pernikahannya. Ayah kamu memang sudah sangat keterlaluan." ucap bunda Rania panjang lebar


"Ya sudah bunda, aku mau lanjut sarapan dulu. Segera setelah Akmal bangun kita langsung nyusul bunda." ucap Akhtar


Bunda Rania pun mengakhiri panggilan teleponnya dengan hati yang tidak menentu.


Hatinya ikut merasa sedih mendengar kabar yang di sampaikan oleh putra sulungnya tersebut.


Bagaimana mungkin ayahnya sendiri yang selalu menjadi sumber penderitaannya.


Selama ini ia tahu jika putra bungsunya tersebut sangat menderita karena keegoisan suaminya.


Bunda Rania pun semakin yakin dan membulatkan tekadnya untuk segera bercerai dengan ayah Akmal.


Hanya itu jalan terbaik yang bisa ia lakukan saat ini. Hubungan yang sudah ia pertahankan dengan mengorbankan kebahagiaan banyak orang ternyata hanya sia-sia.


Seharusnya ia melakukan itu sudah sejak dulu. Suaminya tidak akan pernah berubah, sampai kapanpun ia hanya akan mementingkan dirinya sendiri, pikir bunda Rania.


Matahari mulai terlihat meninggi ketika Akmal membuka matanya. Karena kelelahan semalam dan kurang tidur ia jadi tidak bisa bangun pagi.


Di liriknya jam kecil yang ada di samping nanas sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


Perlahan ia mendudukan tubuhnya lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tidak bisa di pungkiri perutnya kini sudah mulai keroncongan. Entah kapan terakhir kali ia makan, sepertinya ketika ia makan siang dengan Fika.


"Ah ya ampun, pantas saja aku kelaparan."gerutunya setelah keluar dari kamar mandi


Ia sudah berganti pakaian casual namun tetap semi formal karena hari ini ia memutuskan untuk menemui ayah Rendra.


Keluar dari kamarnya ia melihat Akhtar tengah duduk santai di sofa sambil memainkan gawainya. Entah pekerjaan entah apa yang ia kerjakan ia terlihat sangat fokus.


"Lama banget." ucap Akhtar yang masih fokus pada gawainya


Akmal pun sedikit mengkerutkan dahinya mulai menengok kanan dan kiri namun tidak ada siapapun disana kecuali dirinya. Barulah ia sadar jika kakaknya itu berbicara padanya.

__ADS_1


"Bang ih mata masih fokus ke layar gitu kok tahu aja gue dateng."ucap Akmal santai berjalan ke arah dapur


Sudah tertata beberapa makanan yang Akhtar pesan 1 jam lalu. Ia merasa sedikit lapar karena hanya memakan 2 potong sandwich di pagi hari dan tanpa segelas susu.


Ia sangat jengkel karena tidak banyak bahan makanan di apartemen Akmal. Padahal dulu ketika ia tinggal sendiri di Bandung, dirinya selalu mempersiapkan persediaan bahan makanan yang cukup di apartemennya.


"Bang, elu pesen banyak makanan?" tanya Akmal sambil mencicipinya


"Udah sih makan aja, gak usah banyak komen !" ujar Akhtar


Setelah menyelesaikan sarapannya, Akmal bergabung bersama Akhtar yang terlihat sedang terlihat sibuk mengecek pekerjaannya di laptop.


"Ayo, kita ke bunda." ajak Akhtar sambil menutup laptopnya segera merapikan barang-barangnya


"Yaudah ayo, kebetulan gue mau bikin perhitungan sama si tua bangka itu." jawab Akmal lalu masuk ke kamarnya untuk mengambil jaket dan ponselnya


"Kita ke Bandung, jangan lupa lu bawa baju barang-barang yang kira-kira lu mau pakai buat disana." teriak Akhtar yang berdiri tidak jauh dari kamar


Akmal pun langsung keluar dari kamar untuk menanyakan maksud dari perkataan kakaknya itu.


"Kok ke Bandung bang?" tanya Akmal penasaran


"Bunda udah di Bandung dari semalem, lu jangan banyak tanya entar juga lu tahu kalau udah sampai disana." jelas Akhtar


"Tapi.." belum sempat Akmal berbicara lagi Akhtar sudah berjalan keluar meninggalkan Akmal


Akmal pun berdecak kesal langsung mengemas pakaian dengan cepat dan langsung berlari ke luar dari unit apartemennya menuju lift.


Sedangkan Akhtar sudah menunggu di mobil yang di parkir di basemant. 10 menit kemudian Akmal datang sambil menggerutu kecil karena tingkah Akhtar yang menurutnya selalu menjengkelkan itu.


Mereka berangkat ke Bandung sekitar pukul 11 siang. Tidak ada yang mereka bicarakan selama perjalanan karena keduanya di sibukkan dengan pikirannya masing-masing.


Akmal juga tidak bertanya apapun lagi karena tahu jika semuanya akan percuma. Jika Akhtar akan memberitahunya pasti sudah ia lakukan sejak sebelum mereka berangkat.


Hanya alunan musik sebuah band favorit Akhtar yang sengaja ia putar terdengar di sepanjang jalan menemani kedua kakak beradik tersebut.

__ADS_1


__ADS_2