My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Kebenaran


__ADS_3

Malam itu juga Rey dan kelima anak buahnya segera kembali ke Jakarta untuk melaporkan kegalauannya pada tuannya.


Rendra yang sudah lebih dulu mengetahui kegagalan mereka sangat marah besar. Ia meminta Rey untuk langsung menemuinya malam itu juga.


Sudah lewat tengah malam ketika Rey sampai di rumah mewah Rendra Hutama. Begitu Rey sampai, ia segera menemui Rendra yang sedang minum dan mabuk-mabukan di meja barnya.


Di sampingnya terlihat ada 2 orang gadis cantik dan masih belia yang menemaninya. Mereka adalah wanita penghibur yang sengaja ia bayar untuk menemaninya minum.


"Tuan, saya kembali."ucap Rey memberikan laporan.


Tanpa ba-bi-bu Rendra yang mendengar suara sang tangan kanannya itu pun menjadi sedikit tersulut emosi. Dengan gerakan cepat ia lemparkan gelas berisi minuman itu tepat di kepalanya Rey.


Kedua gadis yang berada di sisi Rendra langsung menjerit karena terkejut dengan apa yang tuannya lakukan pada anak buahnya.


Darah segar langsung menetes dengan cepat namun Rey tetap diam tak bergeming sedikitpun. Ia sudah tahu jika Rendra akan seperti itu ketika ia datang.


Seumur hidupnya, ia tidak pernah mengecewakan tuannya seperti itu. Bahkan hal paling kotor sekali pun sudah ia lakukan dengan baik ketika Rendra memintanya.


"Bodoh ! Menghabisi jalang seperti itu saja kamu tidak becus!" teriak Rendra sambil menghampiri Rey dan menarik kerah kemejanya dengan penuh emosi.


"Maaf, tuan." ucap Rey hanya dua kata itu saja yang keluar dari mulutnya .


Ia tidak ingin beralasan apapun karena kenyataannya ia memang telah gagal.


"Kenapa kami bisa gagal? Jelaskan!" teriak Rendra sambil melepaskan genggaman kedua tangannya di kerah yang baju Rey kenakan.


"Saya berhasil menabrak mobilnya sampai mobilnya mengalami kecelakaan. Sayangnya ketika saya akan menghabisi gadis tersebut, banyak pengawal yang tiba-tiba datang dari semua penjuru arah." jelas Rey menunduk menyesali kegagalannya.


"Siapa mereka?!" tanya Rendra sedikit melunak.


"Mereka orang-orang tuan Mahendra, dan putra sulung tuan Randi adalah laki-laki yang sedang bersama perempuan itu di mobil dan mengalami kecelakaan." jelas Rey membuat Rendra melepas cengkramannya lolos begitu saja.


"Apa kamu yakin jalang itu bersama Radit?" tanya Rendra dengan suara rendahnya menahan emosi yang telah bercampur.


"Saya sangat yakin tuan, karena saya sendiri pernah bertemu dengan tuan muda Mahendra." jelas Rey .


"Sial !!" umpat Rendra sambil menendang sebuah meja kaca dan sebuah guci antik berukuran sedang di sudut ruangan.


"Apa kamu sempat memastikan bagaimana kondisi Radit sebelum pergi?" tanya Rendra lagi setelah sedikit lebih tenang.


"Maaf tuan." jawab Rey dengan penuh sesak.


Ia tidak hanya gagal melakukan misi, namun ia juga telah melakukan kesalahan besar karena tidak menyelidiki terlebih dahulu siapa laki-laki yang selalu ada di samping Fika.

__ADS_1


Jika saja sejak awal ia menyadarinya, maka ia akan membuat perencanaan yang matang hanya untuk melenyapkan Fika saja.


Karena mencelakai pewaris utama keluarga Mahendra sama saja dengan mengibarkan bendera perang antara 2 keluarga pemilik kerajaan bisnis terbesar di Indonesia.


Mendengar berita tersebut Rendra pun merasa sedikit khawatir jika Randi akan marah besar padanya dan memusuhinya.


Bagaimanapun juga permusuhan di antara mereka tidak akan baik untuk kerajaan bisnisnya. Mereka bukan hanya bekerjasama dalam bidang bisnis tapi mereka juga bersahabat baik sejak kuliah.


Radit bukan orang yang mudah tersulut permusuhan, tetapi mencelakai keluarganya sama dengan membuka jalan permusuhan itu sendiri.


***


Di Surabaya,


Randi dan istrinya nyonya Sarah sedang menunggui Radit di ruang tunggu ICU . Walaupun telah di operasi kondisi Radit yang cukup parah membuatnya koma.


Terhitung pagi harinya, Radit di pindahkan ke ruang ICU. Mama Sarah meminta suaminya untuk memindahkan putra tirinya tersebut ke rumah sakit terbaik di Jakarta.


Ia tidak ingin kondisi Radit terus menurun seperti itu disana. Namun ayah Radit tidak tergeming sedikitpun. Entah apa yang tengah ia pikirkan sehingga tidak menggubris permintaan istrinya tersebut.


"Pa, kenapa papa diam saja? Kita tidak bisa terus hanya diam menunggu disini. Kita harus memindahkan Radit ke Jakarta pa." ucap mama Sarah untuk ke sekian kalinya.


"Ma, tolong tunggu sebentar. Beri papa waktu, Papa yakin ma Radit akan baik-baik saja disini." jelas papa Randi meyakinkan istrinya.


"Saya, tuan besar."jawab Sandy langsung menghampiri tuannya.


"Bagaimana keadaan gadis itu? Apa dia sudah siuman?" tanya Randi membuat mama Sarah langsung tergeming menyimak percakapan suaminya dan Sandy.


"Sudah tuan, tapi kondisinya juga cukup parah."jelas Sandy.


"Bagaimana dengan orangtuanya? Tolong atur agar saya bisa berbicara dengan orangtuanya." perintah papa Randi.


"Baik tuan, saya permisi."jawab Sandy pamit untuk menemui orangtua Fika.


Sandy pun langsung memberitahukan maksud kedatangannya pada orangtua Afika yang kebetulan baru saja keluar untuk makan siang.


"Permisi tuan, nyonya perkenalkan saya asisten pribadi tuan Radit." ucap Sandy menyapa kedua orangtua Afika.


"Oh, iya. Panggil saja saya pak Angga dan istri saya Rena." jelas ayah Fika.


"Baiklah, kalau begitu. Maaf pak sebelumnya, apa saya bisa meminta waktu bapak dan ibu sebentar untuk bertemu dengan majikan saya tuan Randi." jelas Sandy memberitahukan maksud dan tujuannya.


Ibu dan ayah hanya saling bertukar pandang selama beberapa saat sebelum akhirnya menerima permintaan Sandy.

__ADS_1


Sandy pun menyuruh salah satu anak buahnya untuk membawa kedua orangtua Fika ke sebuah ruangan VIP dari restoran yang ada di seberang rumah sakit.


Setelah itu ia memberitahukan kepada tuan Randi jika ia sudah orangtua Fika sudah menunggunya di tempat yang sudah ia siapkan.


Tuan Randi pun mengikuti Sandy yang akan mengantarnya bertemu kedua orangtua Fika. Ia tidak mengajak istrinya karena ia ingin berbicara dengan leluasa pada orangtua Fika.


Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya tuan Randi sampai di restoran. Ia pun langsung memperkenalkan dirinya pada orangtua Fika dengan ramah.


"Selamat siang pak Angga, dan ibu Rena. Perkenalkan saya Randi papanya Radit." ucap Randi sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan ayah Fika dan ibu Fika bergantian.


"Selamat siang juga pak, kami orangtuanya Fika." jelas ayah.


"Silahkan duduk dulu pak, bu." ucap tuan Randi.


Ayah dan ibu pun menurut tanpa membantah duduk dengan posisi saling berhadapan dengan tuan Randi. Para pelayan restoran itu pun datang membawakan minuman yang sudah Sandy pesankan.


"Mari di minum dulu, sebelum kita bicara." tawar tuan Randi dengan ramah.


"Maaf pak, apa bisa kita langsung ke intinya saja. Keadaan putri saya masih belum terlalu baik, kami tidak bisa terlalu berlama-lama disini." ucap ayah yang sudah sangat penasaran.


"Bapak dan ibu pasti bingung kenapa saya meminta kita berbicara secara pribadi seperti ini. Saya ingin menjelaskan situasi yang sebenarnya tentang kecelakaan yang menimpa Radit dan Fika." tuan Randi mulai berbicara.


Degg,


"Maksud bapak bagaimana ? apa ada hal yang belum kami ketahui tentang kecelakaan mereka?" tanya ayah yang begitu terkejut.


"Ini bukan kecelakaan biasa, tapi ini adalah kecelakaan yang di sengaja." jelas tuan Randi dengan hati-hati.


"Apa maksud bapak ada yang sengaja mencelakai mereka?" tanya ibu tak kalah terkejut.


"Tepatnya, mereka ingin mencelakakan putri kalian." jelas tuan Randi membuat ayah dan ibu hampir tersedak dengan ludahnya sendiri.


Ayah dan ibu sangat terkejut dan tidak percaya dengan penjelasan yang di berikan oleh tuan Randi.


"Tapi siapa pak yang mau mencelakai putri kami? Putri kami tidak memiliki musuh, dan lagi pula kami belum terlalu lama menetap di kota ini. Tidak mungkin putri kami sudah mempunyai musuh, dia tidak pernah berhubungan dengan orang lain semenjak disini." bantah ibu dengan menitikkan air matanya dan masih merasa tidak percaya.


"Sabar, bu. ibu harus tenang dulu. Biarkan pak Randi menjelaskan semuanya sampai selesai." ucap ayah mencoba menenangkan ibu yang masih terisak.


"Tolong pak Randi, beritahukan pada kami tentang semua informasi yang anda ketahui." pinta ayah Fika .


Tuan Randi pun tampak menghela napas pelan sebelum memberikan jawaban yang sedang ayah dan ibu Fika tunggu .


"Rendra Hutama berada di balik kecelakaan yang menimpa Radit dan Fika." jelas tuan Randi semakin membuat kedua orangtua Fika shock dan tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2