
Sehari berselang setelah pesta pernikahan, mama Sarah dan papa Randi mengirim Radit dan Fika untuk berlibur ke sebuah pulau yang ada di Indonesia bagian timur.
Mereka sengaja menyiapkan acara bulan madu untuk keduanya sebagai salah satu hadiah untuk pernikahan mereka. Fika dan Radit tidak bisa menolak pemberian dari orangtuanya itu.
Awalnya mereka sepakat untuk menunda acara bulan madu mereka sampai waktu yang akan mereka sepakati bersama nanti. Sehari setelah pesta mereka sudah berada di Raja Ampat yang terletak di Papua barat.
Papa dan mama Radit sengaja mengirim mereka ke sana karena mengetahui jika keduanya sangat menyukai laut, dan pantai. Tidak ada yang lebih indah untuk menikmati pemandangan biota laut yang cantik.
Radit dan Fika sangat bersemangat untuk segera sampai di resort. Dari kota Sorong papa Randi sudah memberikan pengaturan agar ada yang akan menjemput dan mengantarkan mereka ke resort dengan menggunakan sebuah kapal Fery.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam akhirnya mereka sampai di sebuah resort yang terletak di pulau terpencil. Bangunannya bergaya tradisional terbuat dari kayu dan sengaja di desain mengapung di bibir pantai.
...Dari kamar pribadi, mereka bisa langsung melakukan diving ataupun snorkeling untuk melihat biota cantik yang ada di laut. Dan tentunya papa Randi sudah membooking pulau tersebut untuk anak dan menantunya....
Karena ia sudah tidak sabar untuk mendengar kabar bahagia dari keduanya. Papa Randi sudah sangat menginginkan seorang cucu. Karena setelah ia pensiun dan menyerahkan seluruh tanggung jawab perusahaan pada Radit dan Devan ia merasa kesepian.
Sandy menugaskan beberapa bodyguard terbaik untuk menjaga Radit dan istrinya itu selama bulan madu. Tentu saja para bodyguard tersebut tidak akan menampakkan dirinya bahkan bayangannya sekalipun.
Sesampainya mereka di resort, Fika langsung tertidur karena kelelahan. Ia bahkan tidak sempat membersihkan dirinya lebih dulu atau berganti pakaian.
Radit pun menggendong istrinya itu dan membawanya ke kamar mereka agar Fika bisa tidur lebih nyaman. Setelah itu Radit sibuk memberikan instruksi untuk para bodyguard yang menjaga mereka.
Setelah hari mulai akan berganti malam, Fika terbangun di sebuah ranjang yang asing. Ia lihat ke sekelilingnya mencari keberadaan suaminya tersebut dan ternyata Radit sedang berdiri di antara pintu kaca yang memperlihatkan pemandangan matahari yang akan segera tenggelam.
Fika segera turun dari ranjang sambil mengikat rambutnya asal. Ia menghampiri Radit yang masih belum menyadari jika ia sudah terbangun.
"Maaf, aku ketiduran." ucap Fika sembari menghampiri Radit dan masuk ke dalam pelukannya.
"Gak apa-apa sayang, kamu pasti capek banget kan? Gimana sekarang udah lebih enakan badannya abis tidur?" tanya Radit sembari membelai lembut sisi wajah sang istri.
"Em, enak banget. Badan aku lebih seger sekarang dan gak lemes lagi." jawab Fika.
"Aku udah masakin kamu nasi goreng seafood, belum ada 5 menit loh Mateng. Kamu bersih-bersih dulu gih sana, ganti baju terus kita makan. Kamu pasti laper kan baru makan tadi pagi aja." ujar Radit begitu memperhatikan istrinya.
__ADS_1
"Ya udah, aku bersih-bersih dulu." ujar Fika pamit .
Mereka pun menikmati makan malam bersama di balkon. Radit sudah menata meja mereka dengan begitu indah. Di tambah dengan suasana romantis di pinggir pantai.
Lampu-lampu kecil banyak menghiasi setiap sudut resort mereka menambah suasana romantis dan keindahan malam hari di resort tersebut.
"Ini masakan kamu enak loh mas." ujar Fika memuji masakan telah di buat oleh suaminya dengan susah payah.
"Bohong banget kamu, orang gak enak begini." jawab Radit setelah mencoba sendiri hasil masakannya.
"Enggak kok mas, ini enak. Aku pasti abisin deh ini masakan kamu." jelas Fika membuat senyuman di wajah Radit mengembang.
Setidaknya ia kini merasa sangat bahagia setelah menikahi satu-satunya wanita yang ia cintai itu. Walaupun mungkin Fika belum mencintainya tapi hubungan mereka berjalan semakin baik.
Fika menerimanya dengan sangat baik dan itu sudah lebih dari cukup bagi Radit. Ia tidak berani berharap begitu besar untuk Fika mencintainya. Baginya cukup dengan Fika menerimanya sebagai seorang suami ia sudah merasa bahagia.
Mereka berdua menikmati makan malam dengan hangat sambil bercerita banyak hal. Fika menjelaskan banyak hal tentang dirinya pada Radit yang mungkin tidak Radit ketahui selama ini.
Mengingat mereka tidak berpacaran dan belum saling mengenal dengan sangat baik. Fika tidak ingin ada kesalahpahaman yang akan membuat mereka terjebak dengan masalah tak berarti di kemudian hari.
Semakin malam udara semakin dingin Radit membawakan sebuah selimut dan secangkir kopi. Setelah Radit memakaikan selimut di tubuh istrinya ia duduk disebelahnya sambil menyesap kopi untuk sedikit menghangatkan tubuhnya.
Cuaca malam itu begitu cerah membuat pemandangan di atas langit begitu indah dan membuat siapa saja yang melihatnya enggan untuk pergi agar bisa terus menatapinya.
"Sayang, ini udah malam dan udaranya semakin dingin kita ke dalam ya." bujuk Radit untuk ke sekian kalinya.
"Tapi aku masih pengen liat itu, langitnya lagi indah banget mas." jelas Fika menunjuk ke arah bintang-bintang di langit yang bertebaran.
"Hem, tapi anginnya kenceng banget nanti kamu masuk angin. Kalau kamu sakit gimana?" bujuk Radit mencoba membuat istrinya mengerti.
"Hem, ya udah ayok kita masuk." jawab Fika akhirnya menyerah.
Sebenarnya Fika bukan tidak kedinginan hanya saja setelah masuk nanti ia bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. Ia merasa sedikit gugup, walaupun sudah beberapa hari menjadi seorang istri.
__ADS_1
Bahkan Radit tidak pernah meminta haknya, ia sudah mengatakan jika ia akan melakukannya ketika istrinya itu benar-benar sudah siap. Radit tidak ingin memaksakan kehendaknya begitu saja.
Sesampainya di kamar Fika duduk di atas ranjang sementara Radit menyalakan televisi dan kemudian duduk di sampingnya. Belum ada beberapa menit, terdengar suara dering ponsel Radit memecah kediaman keduanya.
"Siapa mas?"
"Papa, bentar ya aku angkat dulu."
"Halo pa assalamualaikum." ucap Radit sembari menekan tombol speaker agar istrinya bisa mendengar.
"Waalaikum salam, nak gimana kamu dan istri kamu suka dengan tempat yang papa siapkan?" tanya papa Randi.
"Ya, pa Radit sama Fika suka kok disini." jawab Radit tersenyum melirik ke arah istrinya.
"Jaga baik-baik menantu papa, jangan sampai ia pulang dalam keadaan kekurangan apapun. Malah kalau bisa bertambah ya kan ma." ujar papa Randi sambil tertawa kecil.
"Iyah Radit bener tuh kata papa. Kalian jangan tunda-tunda punya anak ya, papa sama Mama udah gak sabar pengen gendong cucu." ujar mama Sarah membuat Kedua pipinya bersemu merah.
Radit dan Fika pun hanya bisa tersenyum canggung sambil saling memandang.
"Ya udah papa sama mama gak mau ganggu waktu kalian disana. Semoga papa akan dengar kabar bahagia dari kalian secepatnya. Assalamualaikum." ujar papa Randi.
"Waalaikum salam." jawab mereka kompak dan tak lama telpon pun terputus.
Radit dan Fika pun menjadi sedikit salah tingkah. Radit memilih untuk pergi ke luar untuk mengindari suasana canggung seperti itu, tapi Fika langsung menahan tangannya dan meminta Radit untuk tidak pergi.
"Mas, kita bicara sebentar." ujar Fika.
"Ada apa sayang? Apa ini tentang permintaan papa tadi?" tanya Radit yang langsung di jawab dengan anggukan kecil oleh Fika.
"Kamu gak usah pikirkan permintaan papa dan mama sayang. Aku gak akan pernah memaksa kamu sampai kamu benar-benar siap." ucap Radit meyakinkan sembari membelai sisi wajah istrinya.
Fika pun tersenyum lalu dengan mencoba mengumpulkan keberaniannya ia memberikan kecupan di bibir sang suami. Radit yang mendapat perlakuan seperti itu sangat terkejut.
__ADS_1
Berciuman saja mereka baru satu kali ketika berlibur di Surabaya. Radit hanya bisa diam mematung, hatinya begitu bahagia sampai ia tidak bisa melakukan apa-apa selama sesaat.
"Mas, aku adalah istri kamu. Kamu berhak memperlakukan aku sebagaimana mestinya seorang suami kepada seorang istri."ujar Fika membuat Radit semakin terkejut.