My Posesif Boyfriend

My Posesif Boyfriend
Ancaman


__ADS_3

Akmal sudah jengah menatap pria paruh baya yang masih nyaman dengan kebisuan di antara mereka. 15 menit sudah berlalu namun tak ada tanda-tanda jika ayah Rendra akan memulai perbincangan.


Ayah Rendra masih menatap putranya dengan fokus entah tatapan seperti apa itu Akmal pun tak bisa menebaknya.


Raut wajah yang tegas dan datar masih tercetak jelas hanya perubahan waktu saja yang membuat wajah sang ayah terlihat sedikit meredup.


Namun tak menghilangkan paras rupawan yang ia wariskan juga kepada putra bungsunya itu. Aura dingin terlihat menyelimuti mereka berdua.


Akmal merasa sudah tak nyaman jika harus berhadapan dengan sosok ayah kandungnya tersebut lebih lama lagi. Rasanya seperti mengorek luka yang telah mengering di masa lalu.


Akhirnya ia memutuskan untuk berbicara terlebih dahulu karena melihat raut ayahnya itu seperti lebih berminat untuk membisu.


“Apa yang sebenarnya anda ingin bicarakan dengan saya? Tolong jangan membuang waktu saya dengan percuma, karena setiap detik dalam hidup saya sangat berarti daripada harus berada di sini." ucap Akmal datar dengan tatapan tegas dan tak kalah tajam.


"Jika anda tidak punya kepentingan, saya permisi."Sambungnya lagi sambil berdiri hendak pergi.


Akmal pun berbalik dan hendak mulai melangkah namun suara sang ayah menghentikan langkahnya yang sudah tak sabar ingin segera pergi menjauh.


“Kembalilah ke rumah." ucap ayah Rendra tiba-tiba dengan nada yang masih terdengar angkuh.


Akmal pun hanya tersenyum simpul mendengar ucapan ayahnya kemudian ia pun kembali duduk di kursinya semula.


“Kedatangan saya hari ini kesini tidak lain hanya untuk memenuhi permintaan bunda saya. Tidak kurang dan tidak lebih! Jika hanya itu yang ingin anda sampaikan, saya permisi." jelas akmal sambil memandang penuh kegelian melihat tingkah seseorang yang pernah ia panggil dengan sebutan ayah itu.


“Akmal, lebih baik kamu tidak membantah ayah lagi. Sudah cukup kamu bermain-main, lebih baik kamu segera kembali dan bantu kakakmu Akhtar! " seru ayah Rendra dengan tatapan mengintimidasi.


“Tolong, jangan lagi mencoba berperan sebagai ayah di hadapan saya. Bagi saya ayah saya sudah lama mati! " cibir Akmal tertawa remeh membuat seketika kedua bola mata ayah Rendra membulat dan memerah menahan emosi.


“Dasar anak kurang ajar! Sampai sejauh mana kamu akan bisa hidup tanpa nama besar ayah. Jika kamu memang tidak ingin kembali, maka jangan berharap kamu bisa menjalani hidup kamu dengan tenang." jelas ayah akmal dengan seringai licik di bibirnya.


“Maaf bapak Rendra Hutama yang terhormat, sebaiknya anda tidak melupakan jika saya tidak pernah akan sudi untuk kembali hidup bersama orang yang telah mengkhianati dan menyakiti bunda saya. Dengan bangganya anda membawa anak wanita lain ke dalam rumah anda dan menyuruh istri anda untuk merawat dan mengakuinya sebagai putri kandungnya sendiri. Dan bagi saya hidup susah terasa lebih terhormat dari pada harus menjalani hidup bersama orang yang tidak mempunyai hati seperti anda." jelas Akmal mencibir sang ayah dengan sesekali tersenyum singkat.

__ADS_1


“Baiklah jika kamu tetap keras kepala, ingat Akmal ayah bisa menghancurkan kamu sampai kamu sendiri datang ke ayah dan meminta bantuan dari ayah! “ ancam ayah Rendra yang membuat akmal tertawa terbahak karenanya.


“Baiklah, lakukan apapun yang anda mampu! sampai mati pun saya tidak akan sudi datang kepada anda untuk meminta bantuan ataupun mengakui anda lagi sebagai ayah saya." jawab Akmal dengan kata-kata yang menusuk membuat ayah Rendra semakin geram


“Baiklah, jangan salahkan jika hidup perempuan tidak tahu diri itu pun akan hancur bersamamu sebentar lagi.“ ancam ayah Rendra kembali membuat seketika darah akmal mendidih karenanya


"Jangan pernah berani anda menyentuh calon istri saya !" ucap Akmal dengan geram menunjukkan rasa benci yang semakin berlipat.


Sementara ayah Rendra hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Akmal sendiri di meja tersebut.


Ia sudah memperingatkan Fika untuk menjauh dari Akmal 1 bulan yang lalu namun ultimatumnya belum di gubris sama sekali oleh Fika.


“Kita lihat, seberapa jauh kamu mampu bertahan nak?" gumam ayah Rendra ketika sudah menaiki mobilnya.


Ia sebenarnya sangat menyesali kepergian Akmal beberapa tahun silam. Namun egonya terlalu besar bahkan untuk mengucapkan kata maaf.


Ia sangat sedih melihat suasana keluarganya sekarang yang tidak hangat seperti dulu. Bahkan sudah Hampir 4 tahun Akmal dan Zahra memutuskan untuk pergi dari rumah.


Bunda Rania sangat sedih dan merasa terpukul karenanya, ia kehilangan putra dan putrinya sekaligus dalam waktu yang bersamaan.


Zahra tidak pernah pulang 1 kalipun, hanya bunda Rania dan ayah Rendra yang berkunjung sesekali ke Bali untuk bertemu dengannya.


Namun sampai saat ini Zahra belum memaafkan ayah Rendra, ia merasa sangat malu dan merasa bersalah terhadap bunda Rania juga kakak dan adik laki-lakinya.


Semenjak kepergian Zahra dan Akmal, akhirnya akhtar pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan tinggal dengan kedua orangtuanya.


Namun walaupun begitu ia tidak pernah berbicara dengan ayah Rendra, Akhtar pun masih enggan memafkannya. Hingga akhirnya sibuk menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan.


Sesekali Akhtar mengunjungi Akmal, mereka berdua sering bertemu diluar. Dan sebisa mungkin Akhtar juga membantu Akmal yang kesulitan memulai hidupnya yang baru sebagai orang biasa.


Namun Akmal tidak pernah mau menerima bantuan Akhtar sekecil apapun.Ia berusaha dan bekerja sangat keras untuk bangkit dan bisa berdiri sendiri di atas kakinya.

__ADS_1


Sampai akhirnya ia mendapatkan jalan yang bagus menjadi seorang komikus.


Berawal dari komik online, sampai akhirnya karya nya bisa di cetak dan laku keras di pasaran.


Kini ia sudah mempunyai seseorang yang benar-benar sangat ia cintai. Kini ia sudah mampu untuk membeli mobil dan menyewa apartemen sendiri yang lebih layak.


Dan sekarang pun ia tengah merilis komik baru yang tahap pengerjaannya sudah berlangsung selama 6 bulan.


Ia sangat berharap komik terbarunya akan menjadi best seller lebih terkenal dari komik yang sebelumnya ia rilis.


Setelah bertemu ayahnya, Akmal langsung bergegas menuju kantor Fika untuk menjemputnya.


Khawatir jika ayahnya akan macam-macam terhadap kekasihnya di perjalanan ia memutuskan untuk menghubungi Akhtar.


“Hallo bang, kayanya sekarang gue benar-benar butuh bantuan lo. “ ucap Akmal langsung ketika panggilan terhubung.


“........................... ...............................? "


"Nanti gue jelasin, pokonya tadi gue abis ketemu sama ayah dan dia ngancem gue kalau dia gak bakal cuma ngancurin gue tapi justru Fika juga. “ jelas Akmal


“.......................................................... "


"Yah, baiklah nanti malam lebih baik lo ke apartemen gue langsung. “ jawab Akmal


Dan telepon pun ia matikan. Ia pun langsung melihat banyak panggilan tak terjawab dari kekasihnya sejak jam makan siang.


Ada beberapa pesan yang ia baca. Kedua sudut bibirnya tertarik melengkung sempurna membaca satu persatu pesan yang di kirimkan oleh Fika.


Ia pun memacu mobilnya lebih kencang lagi agar bisa cepat sampai di kantor Fika. Ia sudah benar-benar sangat merindukan Fika karena seharian ini mereka belum bertukar kabar sejak pagi.


"Maafkan aku sayang, kamu pasti sangat mencemaskan aku. " gumam Akmal tersenyum membayangkan wajah kekasihnya yang di penuhi senyum kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2