
Siang ini ketika beberapa pekerjaan ku selesai aku bergegas merapikan berkas-berkas di atas meja untuk di simpan dan di lanjutkan kembali setelah istirahat makan siang selesai. Akmal pun sudah mengirimi ku pesan chat bahwa dia sudah ada di depan kantor menungguku. Ketika aku hendak turun ke lobby menggunakan lift tiba-tiba saja ketua divisi keuangan yang baru ikut masuk.
Beberapa saat suasana di dalam lift terasa sangat canggung karena hanya ada kami berdua. Aku sangat terkejut ketika pagi di perkenalkan dengannya sebagai atasanku yang baru. Sungguh dunia begitu sempit.
“Apakah ia akan mengingatku.. " pikirku dalm hati
Namun tiba-tiba ia pun akhirnya bertanya padaku.
"Maaf Fika, dari semua karyawan di tim 1 entah kenapa saya merasa sangat familiar dengan kamu. Apa kita pernah bertemu? “ tanya nya dengan sopan
" umm, maaf Pak.. Mungkin perasaan bapak saja.. " jawabku
Ting,
Akhirnya pintu lift pun terbuka dan kami sudah sampai di lobby kantor. Seperti biasa dia selalu menjadi pusat perhatian dimana pun ia berada sejak dulu. Sebenarnya aku bahkan sangat mengenalnya, ia adalah kakak tingkat di kampusku. Aku dulu pernah sangat menggilai nya, aku selalu memperhatikannya dari kejauhan. Maka dari itu, dia tidak mungkin akan mengenaliku.
Aku adalah mahasiswi yang cukup tomboy, saat kuliah aku belum bisa menjaga penampilanku, jangankan dia sebagai kakak tingkat bahkan teman yang 1 kelas denganku pun tidak bisa mengenaliku jika kami bertemu sekarang ini. Penampilanku memang benar-benar telah berubah atas permintaan ibu dan tuntutan pekerjaanku yang mengharuskan aku agar terlihat rapi dan aku berusaha sebisa mungkin untuk mengikuti tampilan dari rekan-rekan ku di kantor sejak dulu.
Ketika aku melangkah keluar dari lift terlihat akmal tengah melambaikan tangannya tersenyum sumringah memanggilku. Namun senyumnya memudar seiring tatapannya yang beralih menatap pak Aksa ketua divisi keuangan yang baru. Entah kenapa hatiku berkata sepertinya keduanya saling mengenal, walaupun pak Aksa terlihat acuh melihat tatapan tidak suka dari akmal.
"Maaf Pak, saya permisi dulu.. " ucapku kemudian berlari kecil menghampiri akmal
Pak Aksa hanya menganggukan kepalanya sedikit dengan ekspresi datar namun tetap menatap tidak suka pada akmal. Kami pun akhirnya berjalan keluar dari lobby kantor menuju cafe yang ada di seberang kantor. Ku lihat sekilas wajah akmal yang sedikit masam melihat ke arah kantor.
"Kamu, kenapa sih? kok tiba-tiba cemberut gitu? " tanyaku
"ahh, gak apa-apa kok.. " ucapnya sembari mengeluarkan senyum lebarnya
Ia pun menggandeng tanganku untuk menyebrang jalan menuju cafe. Tapi entah kenapa aku sekarang lebih merasa nyaman berjalan seperti ini bersama akmal. Diam-diam aku mengulum senyuman menatap punggung akmal yang sedang melihat ke samping kanan dan kiri jalan untuk menyeberang.
Kami pun sampai di depan cafe tersebut dan memilih untuk duduk di dalam karena siang ini terasa sangat terik, panasnya sangat menyengat kulitku. Kami pun langsung memesan makanan dan minuman begitu duduk dan waiters menyerahkan daftar menunya. Siang ini kami menikmati makan siang sambil sesekali tertawa renyah bersama. Akmal terus memberikan lelucon yang lucu dan mengocok perut. Ia tau bagaimana cara membangun suasana yang membuat moodku membaik.
Setelah selesai makan siang kami berjalan-jalan sebentar di taman dekat kantor. Kami pun berpapasan dengan dafa, radit dan alana yang baru selesai makan siang.
__ADS_1
"waaaahhh, ternyata sudah gak Jones tohh.. pantas aja gamau di ajak makan bareng tadi.? " ucap mbak alana heboh sendiri
"apa si mba..? “ ucapku santai
" tau nih, bisa-bisanya punya pacar gak bilang ya kamu fik? kenalin ngapa“ ucap dafa
"ahh, yaa perkenalkan saya akmal mas.. mba.. " sambil menjabat tangan mas dafa dan mas alana bergantian
Sementara mas radit memilih untuk berjalan lebih dulu melewati kami ketika akmal mengulurkan tangannya. Dia bahkan tidak menengok sama sekali ketika dafa memanggilnya .
"loh dit,, sini dulu.. " panggil dafa namun tak di hiraukan oleh radit
Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuannya. Sungguh bukan yang aneh bagiku radit bersikap begitu, karena memang kami tidak pernah akur diluar pekerjaan.
“udah gak usah di hiraukan orang itu.. memang sudah dasarnya dia tuh ga pernah suka sama aku.. " ucapku
"loh fik, kok gitu.. hmm, mungkin radit lagi buru-buru aja masih ada kerjaan " ucap mbak alana menenangkan sambil tersenyum kaku
"yasudah kami duluan yaa Fika, akmal.. ayoo sayang " ucap dafa mengajak alana pergi
Aku hanya tersenyum tipis, sedangkan akmal yang menjawabnya.
" pasti mba, mas dafa.. nanti kita atur waktunya.. "ucap akmal
Mereka pun berjalan perlahan meninggalkan taman menuju kantor lagi, masih ada 15 menit untuk jam makan siang segera berakhir. Kami pun memutuskan untuk berjalan menuju kantor dan akmal mengantarkanku sampai di lobby kantor.
"Kamu bawa mobil ga? " tanya akmal
"ya, bawa kenapa? “ tanyaku balik
“ahh, kirain gak bawa.. mau aku jemput tadinya.. ucapnya lesu
" yaa kan kamu gak bilang,. trus gimana dong.? " tanya nya lagi
__ADS_1
“yasudah mulai besok aku antar jemput kamu ya.." ucap akmal sambil mengusap rambutku
"baiklah.. “ jawabku sambil tersenyum
"yesss.. " akhirnya akmal bersorak senang
"yaudah aku balik ke ruangan aku ya.. makasih buat makan siangnya.. " ucapku kemudian langsung berlalu menuju lift
Akmal pun hanya mengangguk pelan sambil tersenyum lebar melambaikan tangannya.
Aku pun membalasnya tepat sebelum pintu lift tertutup. Begitu sampai di ruanganku mas dafa dan mbak alana langsung heboh menyambutku dan memberondongku dengan banyak sekali pertanyaan. Hanya radit terlihat tenang duduk di mejanya sambil mengerjakan beberapa berkas di mejanya
"ahh, Fika diem-diem udah punya pacar aja.. " ucap mbak alana
"kirain saya Jones kamu abadi fik?“ ucap mas dafa menambahkan
" hmm, gimana bilangnya ya.. akmal itu belum jadi pacar aku sih? " ucap ku pelan
"lahh, terus? " tanya mbak alana penasaran
"yaaa dia emang udah nyatain perasaannya ke aku, mas mba.. cuma aku sih bilang sama dia kalau aku minta waktu untuk saling mengenal aja lebih dulu.. " ucapku menjelaskan
"yaa elah fik, kamu tuh nyari yang kaya gimana sih emang? dia kayanya cowok yang baik, dari penampilannya juga oke. keknya sih anak orang gedongan tuh " ucap mbak alana
"umm, masalahnya dia tuh lebih muda dari aku mba.. " ucapku
"yaelah jaman sekarang udah biasa kali cewek punya pacar cowoknya lebih muda? " ucap mbak alana
"yang penting dia baik, dewasa .. buat apa juga coba nanti kamu punya pacar lebih matang usianya tapi kelakuannya kekanak-kanakan.. menurutku sih lebih penting kepribadiannya.. " tambahnya lagi
"dewasa itu ga melulu berpatokan dengan usia lohh.. “ ucap mas dafa
Aku pun hanya menganggukkan kepala mencoba mencerna setiap perkataan mbak alana dan mas dafa.
__ADS_1
" yaudah aku pikir-pikir dulu yaa.. makasih loh mas, mbak buat sarannya." ucapku seraya tersenyum