
Minggu pagi Fika terbangun dengan tubuh yang lebih segar. Rasanya sudah lama sekali ia tidak menghabiskan waktu sendiri tanpa di ganggu kekasih brondongnya.
Ayah dan ibu Fika juga tidak bertanya-tanya lagi setelah semalam bunda Rania menelpon ibunya Fika dan mengabari jika beliau dan kedua putranya tengah di Bandung.
Fika memutuskan untuk menghabiskan hari minggunya dengan bermalas-malasan di kasur. Ia akan menonton drakor sepuasnya.
Ia tidak akan keluar dari rumahnya untuk pergi kemanapun. Pagi-pagi sekali ia sudah memilih beberapa judul drama yang akan ia tonton secara maraton.
Sudah lama sekali sejak ia menghabiskan waktu untuk menonton drama kesukaannya tersebut. Biasanya setiap Minggu ia dan Nayla akan melakukan kegiatan tersebut jika Nayla tidak ada janji kencan dengan pacarnya.
"Aiiihh, jadi rindu Nayla ."batin Fika
Fika pun mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas. Sejak semalam ia menonaktifkan handphonenya karena tak ingin di ganggu oleh siapapun.
Yang pertama muncul adalah beberapa panggilan tak terjawab dari beberapa nomor. Ada nomor bunda Rania, kemudian Akmal, lalu satu nomor tak dikenal.
Dan tentu saja banyak pesan yang masuk ke handphonenya dari beberapa orang.
***
From : ♥️
Sayang, bisakah aku mendengar suaramu. Aku sangat rindu.
Kenapa tidak bisa di hubungi? Akmal
Kamu kemana?
26 panggilan tak terjawab 📲
Sayaaang 😟
Begitulah kira-kira yang tertulis dan tertera di whatsappnya.
***
From : bunda ♥️
Sayang, segera hubungi bunda ya jika kamu sudah membaca pesan ini☺️
***
From : Radit
Afika ?
***
__ADS_1
From : Sahabatku ♥️
Fika secepatnya hubungi gue kalau lo senggang 😘😘
***
Fika pun tersenyum lebar melihat pesan terakhir yang ternyata dari sahabatnya yang benar-benar sedang ia rindukan saat ini.
Ia segera menekan tombol panggilan ke nomor Nayla. Terdengar suara panggilan tunggu beberapa saat sampai akhirnya di angkat oleh bumil tersebut.
"Fika....." teriak Nayla kesenangan membuat Fika sekilas menjauhkan ponselnya dari telinga.
Ternyata setelah hamil pun sikap bar-bar dan hebohnya tidak berubah juga, pikir Fika.
"Ya ampun bumil, kalem dikit kenapa sih?" tanya Fika tersenyum menggoda.
"ah, elu tuh ! kangen gue Fik." rengek Nayla
"Iyah gue tahu, gue emang terlalu ngangenin." jawab Fika sekenanya
"ish, gitu ah." ucap Nayla mulai merajuk
"Eh, Iyah gue mau tanya sesuatu sama lu." sambungnya lagi dengan nada lebih serius.
"Kenapa nay?" tanya Fika
"em, Fik. Lu lagi ada masalah ya?" tanya Nayla
Seandainya Nayla ada disini, pasti ia akan menjadi tempat pertama yang Fika tuju. Ia tidak mempunyai sahabat lain selain Nayla selama ini.
Mereka sangat lengket bak saudara saking dekatnya. Fika pun akhirnya menceritakan semua duduk permasalahannya dan kondisi hubungannya dengan Akmal.
Nayla tampak mendengarkan satu persatu penjelasan yang di ucapkan oleh sahabatnya itu. Ia tidak menyela sampai Fika benar-benar selesai berbicara.
Itulah yang membuat Fika nyaman bersahabat dengan Nayla sejak dulu. Ia gadis yang ceria penuh semangat namun juga sosok yang sangat dewasa dan bijak.
Tidak heran banyak laki-laki yang begitu tergila-gila padanya sejak dulu, di tambah dengan penampilannya yang feminim membuat kecantikannya benar-benar terpancar.
"Fik, selama masa break ini lu pikirin dulu baik-baik semua keputusan yang akan ku ambil. Karena kenyataan memang gak semudah kayak di drama tv, gue sejujurnya mendukung lu buat mempertimbangkan masalah bokapnya Akmal ini." ucap Nayla dengan lembutnya.
"Karena kenyataannya keluarganya bukan keluarga biasa. Bokapnya itu pengusaha besar dan gue yakin jika keadaan gak seperti yang dia inginkan terus menerus mungkin dia bisa bertindak nekat. Dan hal yang bagusnya sampai sekarang adalah dia gak pernah ngapa-ngapain elu walaupun lu seberani itu. Gue akan selalu dukung apapun yang menurut lu terbaik." sambungnya lagi setelah menghela nafas cukup panjang.
"Iya, baiklah." jawab Fika sambil meremang membayangkan wajah keluarga Akmal satu persatu.
Fika dan Nayla sama-sama menutup telponnya tanpa berbicara apapun lagi. Fika kembali berbaring di ranjang dan menelungkupkan wajahnya di atas bantal.
Pikirannya mendadak di penuhi dengan banyak pertanyaan yang ia sendiri tidak tahu jawabannya.
__ADS_1
Tiba-tiba tersebut suara handphonenya bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Dengan malas, ia pun mengambil handphonenya yang ia letakkan sembarang di ranjang.
Matanya langsung terbelalak kaget melihat pesan yang masuk di handphonenya itu. Segera ia langkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk pergi.
1 jam kemudian Fika sampai di sebuah restoran Jepang yang kebetulan berada tidak jauh dari rumahnya.
Ia tampak duduk dengan tenang sambil menyesap greentea latte yang sudah ia pesan .
Tampak seorang gadis berwajah cantik oriental duduk di hadapannya dengan anggun. Ia adalah Risa yang merupakan mantan kekasih Akmal yang Fika tahu.
Risa tiba-tiba saja menghubunginya dan mengajaknya untuk bertemu. Tanpa pikir panjang Fika pun menyetujuinya hingga akhirnya mereka bisa saling duduk berhadapan seperti itu.
"Sepertinya di pertemuan kita yang terakhir, aku tidak membuat kamu nyaman. Apa kabar Fika ?" ucap Risa memulai pembicaraan.
"Sebetulnya apa yang ingin kamu bicarakan denganku ? Langsung pada intinya saja." jawab Fika tidak mau berbasa-basi.
Risa hanya tersenyum remeh mendengar apa yang Fika ucapkan.
"Baiklah, aku suka cara kamu. Mari kita saling berterus terang." ucap Risa.
"Aku minta kamu untuk ninggalin Akmal dan jangan pernah muncul lagi di depan dia." sambungnya dengan angkuh.
Fika pun tersenyum, sedikit berdecak kesal namun ia masih berusaha untuk tetap menahan diri agar ia bisa bersikap tetap tenang.
"Kalau aku tidak mau?" tanya Fika menantang.
"Jangan salahkan aku jika om Rendra bisa bersikap kejam sama kamu. Aku hanya berbaik hati untuk memberikan kamu peringatan." Jawabnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Hah, jadi kamu sudah tahu tentang masalah ku dengan ayahnya itu." ucap Fika tertawa sarkas.
"Tentu saja, sebagai calon menantunya aku harus bisa membantunya dengan baik." jawab Risa dengan percaya diri.
"Pertemuan pertama kita sangat berkesan bagiku karena aku bukan orang yang mudah untuk bermulut manis dengan orang lain. Jika saja kamu bukan kekasih dari laki-laki yang kelak akan ku nikahi, mungkin kita bisa menjadi sahabat baik." ucap Risa dengan jujur
Sejak awal ia memang sudah menyukai Fika, entah kenapa Risa merasa nyaman terlibat percakapan dengan Fika.
Dia adalah orang yang sangat sulit beradaptasi dengan seseorang. Maka dari itu, ia tidak pernah benar-benar memiliki seorang sahabat yang dekat.
Sehingga ia selalu pergi dengan laki-laki yang menemaninya menonton film di bioskop saat itu.
Dia adalah kakak kandung Risa yang juga adalah teman dari Radit dan Akhtar. Setelah pertemuan mereka di bioskop Risa meminta kakaknya untuk menyelidiki tentang hubunga. Akmal dengan Fika.
Saat itu, ia sudah mendengar jika ayahnya telah memutuskan akan menjodohkannya dengan Akmal. Ia sangat bahagia mendengarnya, karena sejak dulu ia masih menyimpan perasaan pada Akmal.
Hanya Akmal saja yang selalu mengacuhkannya. Risa tinggal di Australia selama beberapa tahun untuk menyelesaikan pendidikannya.
Baru sekitar 6 bulan ini ia berada di Jakarta dan begitu ia bertemu dengan Akmal untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ternyata ia sudah memiliki kekasih.
__ADS_1
Kakaknya yang sudah mengetahui tentang semua itu dari Akhtar sahabatnya memilih bungkam dan berpura-pura untuk tidak tahu ketika di bioskop saat itu.
Ia tidak sampai hati mengatakan sesuatu hal yang akan menyakiti hati adik satu-satunya itu.