
**Hai readers, Tolong dong kasih author dukungan agar author semangat buat up . Gak perlu bayar kok gratis, kamu cukup tinggali jejak like atau komen di setiap bab yang kamu baca. Dan juga, kalau kamu pngen baca terus kelanjutannya jangan lupa di favoritkan yaa ceritanya biar dapet motif terus pas update. Syukur-syukur kasih Vote nya yaa yang berkenaan.
Selamat membaca, Hatur thankyouu**
*****
Akhirnya Fika memutuskan untuk mengajak Akmal bicara, ia mengajak Akmal untuk masuk. Fika tidak mengajaknya ke dalam rumah melainkan ke taman depan rumahnya.
Terdapat sebuah ayunan besi di depan rumah Fika itu. Mereka pun duduk disana saling berhadapan, tidak ada yang memulai perbincangan selama beberapa saat.
Hingga akhirnya Akmal pun memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dengan Fika.
"Maaf atas kejadian tadi di danau." ucap Akmal penuh sesal
"Ya, aku juga minta maaf karena kediaman ku membuat kamu salah paham." jawab Fika dengan tenang
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan mas Radit. Bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana akhirnya dia bisa berada disana." lanjut Fika menjelaskan
"J..Jadi kalian tidak pergi bersama?" tanya Akmal terbata dengan perasaan semakin bersalah
"Ya, dia tiba-tiba datang seperti mu tanpa aku duga." ucap Fika memberikan sedikit sindiran untuk Akmal
"Aku benar-benar minta maaf sayang, aku hanya terlalu terbakar cemburu melihat kamu berdua tertawa bersama." jelas Akmal mencoba menggenggam tangan Fika menjelaskan
Kepalanya hanya menunduk dalam, ia bahkan tidak berani menatap Fika. Bagi Akmal ini adalah pertama kalinya sebagai laki-laki ia bisa dengan mudah mengeluarkan air matanya untuk seorang gadis.
Ia benar-benar dibuat takut seandainya jika ia harus kehilangan Fika karena kesalahannya.
Fika belum menyadari jika Akmal sebenarnya menunduk untuk menyembunyikan lelehan air mata yang tak sanggup lagi ia tahan sejak tadi.
Lama Fika terdiam Sebelum akhirnya menghembuskan nafas perlahan. Ia tatap dengan seksama lelaki yang selama 6 bulan terakhir ini telah bersamanya.
Waktu terasa berlalu begitu cepat, ia telah melewati hampir setiap hari selama 6 bulan ini dengan lelaki tersebut pikirnya.
Fika mencoba melepaskan tangan Akmal yang menggenggamnya membuat Akmal semakin takut dan mengeratkan pegangannya.
Fika pun meringis sedikit pelan berpura-pura kesakitan agar Akmal melepaskan tangannya.
__ADS_1
Sontak saja dengan refleks Akmal melepaskan genggamannya pada tangan Fika dan langsung mengangkat wajahnya menatap wajah Fika.
Akhirnya Fika bisa melihat guratan kesedihan tercetak jelas di wajah Akmal. Kedua tangan Fika terangkat tanpa sadar untuk menghapus lelehan air mata di pipi Akmal.
"Maafkan aku." ucap Fika sambil menatap ke dalam mata Akmal dan kedua tangannya masih bertahan di kedua pipi Akmal.
"Sudah membuatmu khawatir." lanjutnya lagi
Akmal pun langsung menarik Fika ke dalam pelukannya. Menumpahkan segala rasa yang sudah tak tahu bagaimana.
Fika pun membalas pelukan Akmal mengusap punggungnya dengan lembut berusaha memberikan ketenangan untuk laki-laki yang selalu terlihat ceria itu.
Setelah di rasa tenang, Fika pun melepaskan pelukannya dan mengajak Akmal untuk kembali berbicara.
"Kamu gak serius kan pengen kita putus?" tanya Akmal sendu
"Aku rasa itu yang terbaik saat ini untuk kita." jawab Fika setenang mungkin
"Apa udah gak ada sedikit pun perasaan kamu tersisa buat aku?" tanya Akmal menunduk
"Apa kamu gak bisa, kali ini aja kasih aku kesempatan untuk menyelesaikan semua masalahnya?" tanyanya lagi
Fika sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan ekspresi yang berlebihan. Ia berusaha bersikap setenang mungkin walaupun berbanding terbalik dengan yang hatinya rasakan saat itu.
"Aku harus tetap melakukan ini untuk kebaikan kita. Aku harap kita bisa menemukan kebahagiaan kita masing-masing si kemudian hari.
Aku tidak ingin suatu hari nanti ayah kamu akan mengusik kehidupan keluarga aku. Aku sangat tahu jika orang seperti beliau siap menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan keinginannya.
Aku sangat mencintai kamu sayang, terimakasih telah hadir sebagai yang pertama dalam hidup aku." batin Fika
Walaupun hatinya merasa tidak rela dengan perpisahan mereka itu, namun Fika berusaha sebisa mungkin untuk tidak menunjukkannya.
Fika tidak menjawab pertanyaan Akmal ia hanya mampu tersenyum lembut pada Akmal .
Ia tahu melanjutkan hubungan mereka saat ini hanya akan menyakiti keduanya. Bila memang mereka berjodoh Tuhan pasti akan menunjukkan jalannya untuk mereka kembali bersatu pikirnya.
"Apa terlalu menyakitkan?" tanya Akmal
__ADS_1
"Ya." jawab Fika singkat.
Di pandangnya lekat-lekat wajah Fika yang terlihat sangat teduh itu.
Wajah yang akan selalu ia rindukan dan impikan setiap malam.
"Apakah kita tak akan pernah bertemu lagi?" tanya Akmal.
"Tentu." jawab Fika singkat tersenyum tipis.
"Apakah kamu akan melupakan aku ? Selamanya?" tanya Akmal.
"Ya, karena aku tak ingin hanya bersedih ketika mengingat kamu." jawabnya lagi.
"Kalau begitu tidak bisa! Aku tak akan pernah putus sama kamu. Aku akan menempel seperti permen karet, Aku akan selalu mengikuti kamu kemanapun kamu pergi, Aku akan selalu menghibur kamu saat kamu sedang sedih, dan aku akan memeluk kamu ketika kamu sangat merindukan aku." jelas Akmal dengan tanpa ragu
"Akmal.. tolong ngerti." ucap Fika memelas
"Aku janji secepat mungkin masalah aku sama si tua Bangka itu pasti selesai. Aku gak akan pernah ngecewain kamu lagi, aku janji. Aku cuma butuh sedikit waktu." jawab Akmal santai
"Kenapa kamu bisa seegois ini sih? Aku cuma pengen kita selesai baik-baik." ucap Fika.
"Aku egois untuk kita berdua, karena aku sangat mencintai kamu begitupun sebaliknya." ucap Akmal percaya diri.
Raut wajahnya yang sendu berubah penuh semangat seketika. Akmal akan berusaha mempertahankan Fikanya, ia sudah menyiapkan diri untuk semua yang Fika katakan padanya.
Akmal sudah bertekad untuk menulikan pendengarannya ketika Fika mengatakan hal-hal yang menyakitkan baginya.
Bahkan ia akan langsung menghapuskan semua ingatannya tentang kata-kata menyakitkan yang di ucapkan oleh Fika .
Ia akan bersikap tidak tahu malu dan egois demi bisa mempertahankan keutuhan hubungan keduanya.
Fika hanya dibuat melongo melihat tingkah ajaib kekasihnya tersebut.
Susah payah ia menahan diri dan menata hatinya sebaik mungkin sejak memutuskan untuk menemui Akmal, namun yang terjadi malah sebaliknya.
Bukannya pergi, ia rasa Akmal akan malah semakin membawanya jauh pada hubungan mereka ke depannya.
__ADS_1
"Aku dengan segenap rasa cinta di hatiku menolak untuk putus denganmu." ucap Akmal
"Akmal ish!" jerit Fika kesal.